Kamis, 21 Juni 2012

Amanah


Gambar Dari Sini
Amanah. Satu dari empat sifat wajib bagi seorang rasul ini adalah elemen yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah hal kecil dan remeh temeh. Tapi tahukah kita kalau sebenarnya amanah adalah satu hal yang sangat tidak bisa diabaikan?

Kalau kita lihat dilayar kaca, di media cetak, atau bahkan mungkin kita menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri tentang demonstrasi yang dilakukan oleh sekelompok orang, kita pasti akan berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi dan diinginkan para demonstran itu. Tidak hanya demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa untuk satu tujuan yang bertingkat nasional, bahkan di desa, di kampung sekalipun, sering kita dengar sedang di gelar demonstrasi. Mereka yang sedang berdemonstrasi itu menyerukan berbagai tuntutan mereka. Mulai dari penurunan harga BBM, misalnya, sampai pada hal-hal lain seperti menuntut keadilan akan suatu peristiwa, bahkan pemaksaan kepada orang-orang yang berkuasa untuk turun. Nah, mengapa begitu? Bukankah para pemimpin itu, semisal presiden atau kepala desa, adalah orang yang dipilih oleh rakyatnya sendiri untuk menduduki jabatan itu? Lalu mengapa mereka harus di minta turun dengan paksa sementara masa jabatannya belum waktunya berakhir? Jawabnnya, ya, karena ‘amanah’ yang mereka ingkari.

Dulu sewaktu masa pemilihan, para calon pemimpin itu beryel-yel dan berseru-seru tentang program-program unggulan mereka. Begitu meyakinkan. Membuat yang mendengarnya begitu terpesona dan percaya penuh akan janji-janji manis mereka. Tapi setelah mereka memangku jabatan itu apa yang mereka lakukan? Mereka seakan lupa akan apa yang mereka janjikan dulu. Bukan lagi rahasia umum kalau sebagaian besar dari mereka berlomba-lomba untuk memperkaya diri sendiri dan melupakan rakyatnya. Mereka melupakan posisi mereka sebagai pemimpin. Mereka melupakan amanah yang sudah disematkan di pundak mereka.

Rakyat yang dipimpin mulai tidak puas. Mereka mulai resah dan menuntut, sampai terjadilah hal itu. Demonstrasi penurunan pemimpin dari tampuk kepemimpinannya. Lalu setelah itu mereka bisa apa? Apa mereka akan bertindak seperti Soeharto yang dengan terpaksa (?) menyerahkan kursi kepridenannya atau akan berbuat seperti Qadafi yang menyatakan itu tindakan makar dan memerangi raknyatnya sendiri? Apapun tindakan yang akan mereka lakukan, toh semua akan kembali lagi pada suatu kesimpulan : mereka bukan orang-orang yang memengang teguh amanah yang seharusnya mereka jaga. Lalu setelah itu apa jadinya mereka? mereka menjadi orang-orang yang dikutuki dan tidak lagi dipercaya oleh banyak orang.

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ الْأَعْظَمُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ، وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia adalah ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Seorang lelaki/suami adalah ra’in bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli bait suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya."

(HR. Al-Bukhari no. 5200, 7138 dan Muslim no. 4701 dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma). Makna ra’in adalah seorang penjaga, yang diberi amanah, yang harus memegangi perkara yang dapat membaikkan amanah yang ada dalam penjagaannya. (sumber : http://www.ikhwanmuslim.or.id/?content=hadits_detail&idb=27)

Kalau merujuk pada hadits di atas, bahkan setiap diri adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Yang berarti setiap kita adalah pemengang amanah untuk diri kita sendiri. Mau di bawa kemana diri kita ini, adalah menjadi tanggungan kita kelak di hadapanNYA. Jangan sampai kita yang diberi kepercayaan oleh yang Maha Agung malah menghianati kepercayaan itu. Kalau sampai itu terjadi, adzab besar akan menanti kita disana kelak. Berat sesungguhnya menjadi seorang pemimpin yang diberi kepercayaan untuk memimpin ini. Kelak mereka akan dimintai pertangungjawabannya akan apa yang mereka pimpin. Apa lagi kalau sampai mereka berkhianat akan apa yang mereka pimpin. Tidak terbayangkan bertapa besarnya pertanggungjawaban yang harus mereka lakukan.

Ibuku sejak kecil sudah mendidikku dengan pendidikan tentang sifat amanah yang ketat. Pernah suatau ketika, seorang tetangga yang baru datang dari  Surabaya datang kerumah tanpa dia masuk dulu kerumahnya. Tujuannya hanya satu, yaitu menyampaikan titipan seorang keluarga jauhku di Surabaya untuk ibuku. Saat itu ibuku berkata, “Contohlah orang itu, begitu seharusnya orang yang memangang amanah dengan kuat.” Jadi jangan coba-coba aku pulang dengan keadaan masih memegang titipan dari orang lain untuk disampaikan kepada seseorang. Pernah juga ibuku menitipkan sepucuk surat untuk disampaikan kepada seseorang, dengan pesan untuk tidak sekali kali melihat apa yang tertulis di sana. Padahal amplop surat yang aku bawa itu sama sekali tidak bersegel. Tidak di lem atau direkatkan dengan cara apapun. Ibu mendidik kami untuk menjaga kepercayaan dari orang lain kepada kami dengan cara beliau sendiri. “Sekali kalian ketahauan tidak bisa dipercaya, maka akan selamanya orang tidak akan lagi percaya pada kalian. Mahal harga kepercayaan itu. Tidak bisa di beli, tidak di perjual belikan, tapi harus dibuktikan.”

Keluargaku memang bukan keluarga yang berkecukupan. Setiap ibu memasak sesuatu, pasti beliau sudah menghitunya dengan cermat. Misalnya saat beliau memasak dadar jagung. Dadar jagung itu pasti sudah di sesuaikan dengan jumlah anggota keluarga  yang ada. Kami, misalnya, hanya boleh mengambil dua dadar jagung untuk makan siang, dan dua lagi untuk makan malam. Maka jangan coba coba untuk berbuat curang. Ibu pasti tahu. Kalaupun ada yang berbuat curang, konsekuensinya adalah makan malam tanpa lauk sama sekali. Terdengar sedikit kejam mungkin untuk anak kecil. Tapi sungguh, ini adalah cara yang sangat efektif. Dari sana kami belajar untuk memengang amanah dari ibu . belajar jujur untuk diri sendiri. Belajar bagaimana untuk bisa menjaga kepercayaan yang disandangkan pada kami dengan baik. Bagiku ibuku adalah segalanya. Wanita terbaik yang pernah aku temui dalam mendidik kami, sebagai titipan Tuhan yang dipercayakan kepadanya. 

“Ujian untuk kejujuran itu seumur hidup, tapi ujian untuk sebuah dusta adalah sekali saja.”

Mari mulai untuk bisa menjadi pemimpin untuk diri sendiri, mari mulai belajar untuk menjadi orang yang bisa di percaya dari lingkungan yang kecil dulu. Mari berbenah mulai dari diri sendiri. Bukankah sesuatu yang besar itu dimuai dari sesuatu yang kecil? Kalau kita sudah berani berdusta pada diri sendiri, berani curang pada diri sendiri, berani tidak jujur pada diri sendiri, bagaimana lalu kita bisa berbuat baik kepada orang lain? Bagaimana lalu kita bisa dipercaya oleh orang lain?

Mari berbenah bersama kawan, mari jadikan diri kita orang yang pantas di percaya. Aku yakin kita bisa!



Artikel  ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul Kepercayaan itu Mahal 
tanggal 21 Juni 2012.


11 komentar:

  1. Sahabat tercinta,
    Saya telah membaca artikel anda dengan cermat.
    Artikel anda segera didaftar.
    Terima kasih atas partisipasi sahabat.
    Salam hangat dari Surabaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih. semoga berkenan untuk memilih saya sebagai salah satu pemenangnya ... :)

      Hapus
  2. Kalau kita sudah berani berdusta pada diri sendiri, berani curang pada diri sendiri, berani tidak jujur pada diri sendiri, bagaimana lalu kita bisa berbuat baik kepada orang lain?..

    nasehat yang bagus kang, hayo belajar memulai dari diri sendiri...

    moga sukses...

    BalasHapus
    Balasan
    1. amin kang, semoga kita maju bersama ....

      Hapus
  3. Amanah hari gini mah sulit banget om ridwan buat di temukan atasan2 gitu, hhmmm.........

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang begitu, maka itu kejujuran makin mahal harganya. tapi sulit bukan berarti tidak ada atau tidak bisa bukan? maka itu, mari optimis ....

      Hapus
  4. bukan senang memegang amanah tapi kita harus selalu berusaha untuk bisa,entri ini sudah memberikan saya banyak motivasi yang bagus,thanks :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih juga sudah berkunjung dan meninggalkan jejaknya ... :)

      Hapus
  5. Kunci keberhasilan adalah menanamkan kebiasaan sepanjang hidup Anda untuk melakukan hal - hal yang Anda takuti.
    tetap semangat tinggi untuk jalani hari ini ya gan ! ditunggu kunjungannya :D

    BalasHapus
  6. kadang... ingin rasanya ga pernah nerima amanah apapun, takut juga!apkah nantinya bakal jadi penyelamat kita kelak atau malah sebaliknya, amanah diri paling utama, menjaga diri dari segala dosa... betul g ya?

    BalasHapus
  7. Makin cocok sama ibunya mas Rd... Andai diberi kesempatan untuk berkenalan... #pengen cium tangan beliau...

    BalasHapus

.
..
Buktikan kunjungan kamu ke blog ini dengan meninggalkan komentar sebagai jejak kunjungan.
..
.

Ada kesalahan di dalam gadget ini