Tampilkan postingan dengan label tuhan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tuhan. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Oktober 2014

Tuhan, Aku Minta Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah Tunai

Suatu malam, seorang teman memintaku datang menemuinya di 'tempat biasa'. 

"Ada yang ingin aku bicarakan," katanya. "Ini penting. Makanya kamu harus datang."

Apa yang sekiranya begitu penting dan belum pernah dia ceritakan padaku? Sahabat baiknya yang hampir tiap malam bertemu? Itulah yang membuat aku penasaran. Dia mungkin seorang pemendam rahasia yang ulung, tapi biasanya tidak padaku. Apa yang terjadi padanya, seperti lebaran buku harian yang selalu terbuka untuk aku baca.

"Jadi ada apa?" Tanyaku, penasaran.

"Ini tentang keimanan, tentang seberapa kamu yakin akan doamu. Seberapa yakin kamu sedang berbicara padaNya saat berdoa."

Aku memandangnya lurus pada kedua bola matanya.  Mencari teka teki yang dia sembunyikan di sana. biasanya, bila dia berbohong, aku akan segera menemukan kejanggalan itu. Namun kali ini tidak, dia sedang serius.

"Oke," jawabku. "Jadi apa yang mau kamu ceritakan?"

"Kamu ingat saat dua bulan yang lalu aku bilang ke kamu kalau aku pengen sepeda motor baru?"

"Ya, terus?"

"Aku sudah dapat. Diam dan dengarkan saja sampai aku selesai. Setelah itu kamu baru boleh komen."

Aku mengangguk mengiyakan.

"Dua bulan yang lalu aku berencana untuk ambil kredit sepeda motor baru. Kamu tahu  itu. Kamu juga pasti masih ingat saat aku mondar mandir kesana ke sini cari info tentang kredit sepeda motor. Semua jawaban sama. Uang muka rata-rata dua juta rupiah dengan angsuran perbulan sekitar lima ratus lima puluh ribu rupiah. Setelah aku hitung hitung, ternyata aku baru bisa angsur motor itu awal bulan ini. benar? Kamu juga pasti ingat kalau alasannya adalah uangku masih ada di orang. Ada sejumlah satu juta tiga ratus ribu rupiah uangku yang sedang dipinjam orang. Kalau semua uang itu bisa aku tarik, maka aku masih punya kekurangan tujuh ratus ribu rupiah untuk uang mukanya. Itu bisa aku tutup dengan gajianku bulan berikutnya.
Oke, kawan. Kamu tahu itu rencana yang sempurna.

Rencana yang sempurna. Ya, untuk ukuran kepala manusia itu sempurna. Secara matematika itu sempurna. Tapi apakah Tuhan juga memberikan jalan agar rencana sempurna itu bisa berjalan? Akui tidak melupakanNya. Aku ajukan proposal rencana sempurnaku itu padaNya saat aku berdoa. Memohon kepadaNya untuk kelancaran kembalinya uangku dan meminta padaNya tujuh ratus ribu rupiah untuk menggenapinya. Begitu kira kira.

Apakah Dia mengiakan proposal sempurnaku?

Ternyata tidak. Dia berkehendak beda, kawan. Rencana sempurnaku hanya jadi rencana sempurna di atas kertas. Ketika aku tagih di orang pertama, dia hanya mampu mencicil yang separuhnya. Yang separuhnya lagi dia akan bayarkan bulan depannya. Oke. Aku bisa terima. Toh kita memberi pinjaman bukan untuk menambah berat beban peminjamnya bukan? Aku bisa tolerir, dengan konsekwensi aku harus mengundur jadwal pengambilan kreditku. Bukan masalah besar.

Orang kedua memberi berita yang mengejutkan. Kamu pasti tahu siapa dia. Dia teman kita juga. Kamu tahu kan dia baru saja kena PHK? Bagaimana aku bisa menagih hutangnya? Untuk makan saja dia masih harus berfikir keras sekarang. Bukan masalahnya pada dia teman kita, kawan, kamu pasti tahu itu. Tapi lebih pada masalah kemanusiaan. Memberi kesempatan kedua pada seorang manusia aku pikir adalah cara yang sangat manusiawi untuk memanusiakan seorang manusia. Halah! Bahasaku sudah seperti pujangga saja.

Hanya itu intinya. Bagaimana kita akan menagih hutang pada orang yang belum tahu besok akan makan apa. Oke kawan. Satu harapan pupus. Itu berarti satu bulan lebih lama lagi untuk menggumpullkan uang buat uang muka. Oke, aku terima. Aku pasrah.

Kabar beda lagi aku dapat dari orang ketiga. Yang terakhir. Kamu tahu? dia sudah menghilang entah kemana. Bagaimana uangku itu bisa aku tagih kalau empunya saja aku tak tahu ada di mana. Saat itu aku berteriak. OKE...!! AKU PASRAH...!!

Aku pasrah pada keadaan. Aku pasrah pada pembuat hidup dan pembuat skenario kehidupan ini. Dan seperti biasa, seperti awalnya dulu, aku kebalikan semuanya padaNya. Aku kembalikan keputusan dan skenario hidup ini padaNya. Proposalku yang sempurna ternyata tidak sempurna bagiNya. Saat itu, aku hanya bisa berkata lirih dalam hatiku.

Oke, Tuhan, aku pasrah, aku ikut semua skenariomu. Engkaulah yang lebih tahu apa yang lebih baik untukku saat ini. Tapi sungguh, aku ingin motor baru.

Dan kamu tahu bagaimana Tuhan menjawab doaku? Aku di pertemukannya dengan kawan lama, tak lama setelahnya. Teman lama kita itu. Lewat obrolan menjelang tengah malamlah jalan itu dibuka. Berawal dari dia, kemudian diteruskan pada temannya lagi. Kemudian pada temannya lagi dan pada orang yang bahkan belum aku kenal. Tahu wajahnya saja aku tidak.

Lewat mereka itu aku di perkenankan untuk bisa kredit motor baru dengan uang muka yang super ringan. Hanya tujuh ratus lima puluh ribu rupiah saja. Kamu dengar? Kredit motor baruku itu cuma tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Dengan uang cicilan perbulan lebih ringan dari lima ratus lima puluh ribu rupiah. Kalau tujuh ratus lima puluh ribu rupiah saja, bisa aku sisihkan dari gajianku satu bulan. Kamu tahu itu.

Jadi begitulah kawan. Malam ini motor itu sudah ditanganku. Dengan dimudahkan juga proses administrasinya. Awalnya aku memang merasa aku sudah punya satu juta tiga ratus ribu rupiah untuk uang muka motor. Akan genap dua juta bila ditambahkan tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Kemudian aku putus asa dengan semua keadaan ini. Saat aku serahkan semua kembali padaNya. Jalan lain yang bahkan tidak pernah aku bayangkan terbuka lebar.

Oke. Itu ceritaku. Mungkin kamu anggap ini lebay. Tapi aku tidak. Aku yakin, kejadian sekecil apapun pasti ada hikmahnya. Ada peranNya."

Dia mengakhiri ceritanya di sana. Aku hanya bisa diam di sampingnya. Mencerna ceritanya. Kemudian, dalam hati terkecilku aku bisikkan sebaris doa, sebaris harapan yang aku ucapkan dari lubuk hati terdalam. Di telingaku, masih bening terdengar sebaris kalimat itu.

Ini tentang keimanan, tentang seberapa kamu yakin akan doamu. Seberapa yakin kamu sedang berbicara padaNya saat berdoa.


Terimakasih Tuhan, Engkau perkenankan aku untuk mendengar satu kisah sederhana ini.

READ MORE - Tuhan, Aku Minta Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah Tunai

Kamis, 24 Oktober 2013

I-1 : Hari Pertama Aku Dipandang Sebelah Mata



“Mereka merebahkanku di UKS itu sewaktu aku sudah bisa mengendalikan tubuhku lagi. Aku capek, Rid, capek sekali. Seperti aku sudah berlari beberapa kilo pagi itu.
Ah…, sudahlah. Kadang berat harus mengenang semua lagi dari awal. Bisakah kita berhenti?”

“Berhenti? “ tanyaku. “ Setelah sejauh ini?”

i-1 memandangku dalam-dalam, seolah mencari titik keseriusan dalam diriku. Kesunyian turun, mengisi ruang diantara kami. Desahan nafas kami tedengar jelas di udara yang kering, sementara senja mulai turun di kaki cakrawala.

“Kalau begitu aku akan menuliskannya sendiri.” Ujarnya. Tiba tiba dan spontan. Sekarang aku yang memandang kedalam matanya yang cekung. “Aku serius!” katanya lagi. “Kamu boleh mengeditnya dulu sebelum kamu posting di blogmu.”

Ada binar senang yang aku rasakan. Harapan untuk bisa berkisah tentang dia sampai tuntas sepertinya menemukan titik terangnya.

***

gambar dari sini


Namaku sebenarnya bukan nama yang tertulis di sini. Tapi si pemilik blog ini, teman baikku, memberiku nama itu. I-1, dibaca aiwan, bukan I satu. Nama itu dekat dengan namaku yang sebenarnya. Nama yang aku dapat ketika dia memaksa untuk menulis kisahku ini.

Semalam tadi aku sudah berusaha sebenarnya untuk menulis sebaik mungkin apa yang aku alami, tapi sepertinya aku memang bukan orang yang ahli dalam bidang ini. Maka itu hari ini aku datang pada pemilik blog ini, berbicara padanya dan memintanya mengetikkan semua kata yang aku ucapkan. Dia lebih tahu pastinya apa yang harus dia tuliskan. Oleh karena itu, sejak posting ini, aku menggunakan kata ‘aku’ untuk mendiskripsikan diriku sendiri.

Walkers, siang itu aku tak dibiarkan sendiri merenung di ruang UKS. Ada seorang guru yang menemaniku. Pak guru ini, mengajar bahasa Indonesia. Kalau kamu pernah duduk di bangku sekolah, pastinya kamu tahu, kalau guru yang belum sepenuhnya kita kenal, kita akan memanggilnya bukan dengan namanya yang sebenarnya, tapi dengan nama mata pelajaran yang dia ajarkan. Maka itu, walkers, kita sebut saja guru ini dengan bapak bahasa Indonesia, atau pak bahasa kelas tiga, karena dia mengajar bahasa Indonesia untuk kelas tiga.

Pak bahasa kelas tiga itu menemaniku berbincang bincang. Cukup lama. Dia berspekulasi tentang apa yang baru saja aku alami. Menurut beliau, yang sedikit banyak tahu tentang dunia supranatural, apa yang aku alami baru saja itu cukup aneh. Beliau ingin mendiskripsikan ini sebagai kesurupan, tapi janggalnya, mengapa aku bisa pulih dengan cepat tanpa bantuan siapapun, tanpa diusir dia yang bersemayam dalam badanku. Dalam kasus kesurupan, seharusnya mereka yang menempati diri kita, tidak akan pergi tanpa dipaksa untuk berehenti.

Kalau ini tidak didefinisikan sebagai kesurupan, lalu apa? Sepertinya tidak ada penjelasan logis yang bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Pembicaraan kami berakhir saat bel tanda pergantian pelajaran berdentang. Pak bahasa kelas tiga mengizinkan aku untuk kembali ke dalam kelas.

Setelahnya aku mengikuti pelajaran sebagaimana biasanya. Tak ada yang berubah. Semua berjalan seolah hari itu tak pernah terjadi apapun. Hanya dalam pikiranku, aku belum bisa mencerna apa yang terjadi pagi itu.

Walau begitu, kabar sudah terlanjur menyebar. Kabar tentang aku yang kesurupan waktu itu sudah merebak ke seluruh siswa di sekolah. Mereka yang bertemu denganku di lorong-lorong sekolah memandangku dengan pandangan yang aneh. Beberapa malah menghindar, seolah apa yang aku alami tadi adalah penyakit yang bisa menular memalui udara. Aku belum bisa menerima keadaan yang berubah drastis itu. Ada penolakan yang terjadi dalam diriku. Aku merasa sakit hati diperlakukan begitu, sebuah perasaan protes yang tersirat pelan, tapi pada entah siapa aku bisa mengungkapkannya.

Siang saat aku sedang menunggu Rai, teman yang selalu memberi tumpangan padaku saat pulang sekolah, pikiranku masih belum juga bebas dari apa yang terjadi pagi itu. Dari apa yang terjadi sepanjang pagi sampai siang itu. Rasa sakit dan belum bisa menerima keadaan ini masih saja menggantung di dadaku. Perlahan ada marah yang tersulut. Semacam api yang tumbuh dengan perlahan, hangat dan siap membakar.

Siang itu aku memanjatkan doa dalam dudukku dengan sepenuh hati tanpa ada yang tahu, kecuali aku dan Dia Yang Maha Tahu. Dalam hati yang terdalam, aku berseru,


“Tuhan, aku tak mau ini terjadi hanya pada diriku sendiri, semua ini tak adil,
Aku mau yang lain juga merasakan apa yang aku rasakan,
Agar mereka tak lagi memandangku sebelah mata.”


Tak disangka, satu bulan kemudian, doaku terkabul. Saat itu, bukan hanya aku, seisi sekolahpun menjerit histeris!


Bersambung-à








READ MORE - I-1 : Hari Pertama Aku Dipandang Sebelah Mata

Senin, 07 Oktober 2013

Anak Istimewa Untuk Orang Tua Istimewa


Gambar dari sini.


Aku pernah membaca dalam satu artikel di internet, tapi aku lupa dimana. Ketika aku cari menggunakan beberapa kata kunci juga belum ditemukan sejak tadi. Aku pikir biarlah.

Sebenarnya itu artikel lama yang pernah aku baca, beberapa tahun yang lalu mungkin. Kalau kalian bertanya dan penasaran apa yang membuat aku masih ingat apa yang dituliskan di sana walau sudah lewat bertahun tahun lamanya, aku jawab, pasti sesuatu yang istimewa. Artikel yang membuka pikiranku untuk berfikir berbeda. Kalau orang barat sana bilang, pola pikirku jadi ‘up side down’. Berbolak balik.

Dalam artikel itu diceritakan ada sepasang suami istri yang sedang menuju dokter untuk pemeriksaan rutin anak mereka. Saat itu mereka di sebuah lift yang akan mengantarkan mereka kelantai rumah sakit dimana dokter tersebut sedang praktik. Mereka murung dan sedih. Ada beban berat yang menyelimuti mereka ketika memikirkan nasib anak mereka.

Secara kebetulan, di dalam lift itu mereka juga bertemu dengan seorang pasangan muda yang membawa anak dengan kondisi sama dengan anak mereka. Keduanya, anak anak mereka itu, tergolek lemas di dalam kereta dorongnya masing masing. Usianya juga relatif sama. Mereka nyaris dalam kondisi yang sama. Yang membedakan justru adalah keadaan kedua orang tua mereka. Orang tua pertama dengan muka yang penuh beban, sedangkan yang kedua dengan wajah yang tetap berseri. Penasaran dengan bagaimana kedua orang tua yang kedua itu bisa tetap bahagia walaupun anak yang mereka miliki tak sempurna, orang tua pertama bertanya pada mereka dengan canggung tentang apa yang membuat mereka begitu besar hati menerima anak mereka yang tak sempurna itu. Jawabannya singkat dan sungguh telak.

“Well,” jawab mereka. “Anak yang istimewa hanya akan diberikan kepada orang tua yang istimewa. Tuhan tak pernah salah. Semua hanya tentang bagaimana kita menanggapinya.”

Subahanallah!

Sebuah jawaban yang cerdas dan seratus persen benar. Semua hanya tentang bagaimana kita menanggapinya. Selama ini, kebanyakan dari mereka yang dikarunia anak dengan kebutuhan khusus banyak yang mengeluh. Mereka sedih dan menyalahkan keadaan. Tak sedikit kisah yang menunjukkan kalau kemudian mereka menghujat Tuhan. Ahai, manusia! Siapakah dirimu yang berani menghujat Sang Maha Pencipta?

Manusia yang lemah bukan mahluk yang sempurna. Tuhanlah yang sempurna. Tuhan tahu dimana batas kemampuan kita. Tuhan tahu dimana tempat kita harusnya berhenti diberi cobaan. Saat cobaan datang kepada kita, saat itu Tuhan juga sudah tahu kalau kita mampu untuk melewatinya. Tinggal bagaimana kita sendiri untuk melewati ujian itu.

Walkers, ungkapan “Semua hanya tentang bagaimana kita menanggapinya” tidak hanya bisa digunakan dalam kisah yang pernah aku baca diatas. Sebenarnya hal itu bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari. Bahagia, duka, susah, sedih, berat, ringan, gembira, sebenarnya adalah kondisi kejiwaan yang bisa kita atur secara sadar. Pernah bukan kita mendengar ungkapan “berbahagialah maka hati kita akan menjadi riang, bukan karena hati kita riang kita jadi bahagia”. Banyak ungkapan sejenis dengan maksud yang nyaris sama. Ungkapan yang indah akan tetap menjadi ungkapan indah yang pernah kita baca, tak akan berarti sampai kita bisa menerap maknanya dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari hari.



لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir"







READ MORE - Anak Istimewa Untuk Orang Tua Istimewa

Selasa, 10 Juli 2012

RJK 2012 07 10, Selasa : Dari Kecelakaan Itulah Kisah Ini Berawal

Tafakur


 Handphone Saprud yang duduk di sebelahku berdering. Sejenak kemudian, dia tampak berbicara dengan orang di seberang sana. Entah siapa. Yang bisa aku lihat hanya perubahan ekspresi wajah Saprud. Perlahan-lahan, ekpresi wajahnya yang tadi ceria sekarang berubah menjadi lesu.

“Siapa?” Tanyaku penasaran.

“Pak Yus.”

“Ada apa?”

“Sebentar lagi Pak Yus telepon bapak.”

Selang beberapa detik kemudian, handphone kerjaku berdering. Yus ht memanggil.

“Halo …. “

“Halo … halo …” suara pak Yus di seberang sana tampak gelisah sekali. Membuat aku bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Pak Yus adalah tipe orang yang periang. Jarang sekali dia terlihat murung dan gelisah kalau tidak ada masalah besar yang sedang dihadapinya.

“Ada apa pak Yus?”

“Saya kecelakaan, pak.”

***

Aku bekerja di perusahaan towing sudah empat bulan terakhir ini. Towing adalah mobil pengangkut mobil untuk berbagai keperluan. Misalnya untuk memindahkan mobil dari satu bengkel ke bengkel yang lain, dari satu kota ke kota yang lain bahkan sampai mobil yang sedang mogok dimanapun. Towing ini adalah sistem pemindahan mobil baru yang akan menggantikan fungsi dari mobil penderek mobil.

Selama empat bulan aku bekerja di perusahaan ini, semua aktifitas berjalan lancar. Pengiriman mobil dalam dan luar kota berjalan lancar. Sampai akhirnya, di hari Senin, tanggal 2 Juli 2012 kemarin, sebuah kabar mengejutkan menyentak zona nyamanku itu. Satu unit towing kami yang sedang membawa muatan Nissan Fair Lady dari arah Malang menuju Jakarta mengalami kecelakaan. Ini adalah kecelakaan pertama dalam tujuh tahun beroprasinya perusahaan kami yang menimbulkan kerusakan material ‘cukup’ parah.

Aku sempat panik mendengar kabar ini. Sebagai operator towing daerah Surabaya dan sekitarnya, aku tahu ini kemudian akan menjadi tanggungjawabku untuk menyelesaikannya sampai tuntas. Apa lagi, kecelakaan itu terjadi masih di wilayah Jawa Timur. Aku tidak tahu bagaimana tepatnya kronologi kecelakaan itu terjadi. Yang jelas, mobil towing kamilah yang menabrak mobil di depannya. Sebuah keadaan yang tidak menguntungkan pihak kami.

Aku melupakan makan malamku hanya untuk secepatnya tiba di tempat kejadian. Tapi kemacetan panjang yang terjadi di jalan Dupak dan pintu keluar tol Kebomas di Gresik, membuat perjalanan kami ke tempat kejadian mejadi begitu lama. Ditambah lagi kami tersesat saat akan menuju ke polsek tempat mobil towing kami ditahan. Maka jadilah, perjalanan yang harusnya kami tempuh setidaknya dalam waktu dua jam, menjadi lebih dari empat jam lamanya. Pukul 10 malam lebih beberapa menit akhirnya untuk pertama kalinya aku bisa melihat keadaan mobil yang kecelakaan itu.

Nissan Fair Lady
Fair Lady yang kami angkut dalam keadaan baik baik saja. Ini poin pertama yang membuat aku setidaknya bisa bernafas lega. Bisa di bayangkan kalau sesuatu terjadi pada mobil rekanan kami itu. Nissan Fair Lady berharga sampai diatas 1 milyar rupiah. Siapa yang hendak bertanggungjawab apa bila satu goresan saja melintang di badan mobil ini? Apa lagi ini adalah mobil modifikasi milik salah satu perusahaan rokok yang akan ikut kontes mobil di Jakarta pada tanggal enam Juli.

Poin kedua yang sedikit melegakanku adalah mobil towing kami yang tidak mengalami kerusakan yang berarti. Mobil towing kami hanya mengalami pesok di bagian depan. Itupun tidak parah, hanya terlihat sedikit bergelombang saja. Aku pikir, tidak akan membutuhkan waktu lama untuk memperbaiki kerusakannya.

Hal ketiga yang masih membuatku sedikit senang adalah tidak ada korban jiwa dari pihak manapun. Bahkan patah tulang dan luka gores yang kecilpun tidak ada. Semua awak kedua mobil dalam keadaan sehat.

Kehadiran si masalah besar aku sadari saat aku melihat mobil yang ditabrak oleh towing kami. Honda CRV merah marun itu pesok cukup parah pintu belakannya. Kap mesin dan beberapa bagian mesin depan serta kaca rusak serius. Bererapa kaca juga pecah. Dalam pikiranku saat itu, ada satu pertanya besar : kapan ini akan selesai? Sepertinya tidak akan mudah jalan yang harus di tempuh untuk mencari titik temu antara dua pihak.

***

Saat itu malam sudah sangat  larut, sebentar lagi sudah akan berganti hari. Aku duduk tepekur di warung tak jauh dari polsek tempat mobil-mobil bermasalah itu di tahan. Di depanku, nasi goreng yang aku pesan tadi serasa hambar di lidahku. Malam ini, aku gagal menemui pemilik CRV yang mobilnya ditabrak kru kami. Entah di mana dia, padahal aku dan kru yang ada sebagai ‘tersangka’ sudah berusaha mencarinya kerumahnya dengan diantar seorang yang tahu duduk masalah ini. Tapi nihil. Dia tak di sana.

“Jadi bagaimana selanjutnya?” tanyaku. Tapi tak ada jawaban selain dari kata menunggu. Menunggu pemilik CRV itu datang dan membicarakan ini secara kekeluargaan. Aku hanya berharap kalau besok pagi pagi sekali dia akan datang dan masalah akan cepat selesai.

Sebenarnya keadaan ini cukup aneh bagi siapa saja yang mendengarnya. Dalam banyak kasus, bahkan hampir keseluruhan kasus yang ada, yang ada adalah istilah tabrak lari. Dimana yang menjadi ‘tersangka’ yang kabur meninggalkan lokasi kejadian. Tapi ini malah sebaliknya. ‘Korban’lah yang ‘melarikan diri’ dan ‘tersangka’ yang mencari ‘korban’ untuk menyelesaikan masalah ini. Entah apa yang ada dalam pikiran pemilik CRV itu.

Berbagai dugaan kemudian muncul. Salah satu yang paling kuat adalah mungkin mobil yang dikendarai korban adalah mobil curian yang tidak ada surat surat resminya. Sehingga dia takut untuk berurusan dengan kepolisian. Cukup masuk akal kalau di pikir-pikir. Tapi apa benar begitu? Karena kalau melihat rumah tempat tinggalnya yang kami datangi tadi, rumahnya termasuk dalam golongan rumah mewah walau berada di daerah yang jauh dari kota. Dugaan dugaan lain yang mencuat adalah dugaan yang berbau tahayul. Tidak masuk akal aku kira, tapi orang orang yang berhasil kami jumpai di kampungnya sepertinya begitu percaya hal tahayul itu. Entalah, yang pasti malam itu aku pusing sekali. Pusing menerka nerka apa yang akan terjadi besok. Satu yang pasti, besok akan menjadi hari yang melelahkan.

Hari sudah berganti menjadi selasa dengan cepatnya. Kami melangkah gontai kembali kearah polsek. Malam itu kami memutuskan untuk menumpang tidur di musolah polsek sambil menjaga Fair Lady yang anggun dan angkuh itu. Dalam hati kami masing masing, berbagai harapan dan doa mencuat. Berharap semoga ketika matahari terbit, sinar harapan juga akan terbit dan Tuhan berada di pihak kami.

***

Matahari bersinar dengan sangar di hari selasa tangal 3 Juli. Dari pagi, aku dan kru yang ada sudah menunggu kedatangan dari pihak korban. Harap harap cemas. Walau sebenarnya aku tidak tahu apa yang pertama kali harus aku katakan padanya, tapi keinginan untuk bertemu dengan dia begitu besar di dadaku ini. Aku hanya ingin masalah ini cepat selesai. Itu saja.

Dari pihak perusahaanku, menejer utama sudah berkali kali telepon kami. Beliau memberikan arahan-arahan akan tindakan-tindakan dan arah pembicaraan yang seharusnya kami ambil sebagai wakil perusahaan di lapangan. Cukup melegakan buatku yang awam sekali dalam urusan yang seperti ini. Karena sebagai warga negara yang baik, ini kali pertama aku barurusan dengan pihak kepolisian seperti ini.

Jam terus berdetak, menggantikan detik dengan detik berikutnya, menjadikannya menit, kemudian genap menjadi hitungan jam. Matahari bertambah tinggi, tapi yang kami tunggu tunggu belum juga datang. Aku harus bagaimana? Kemana harus aku cari dia? Aku ingin sekali lagi berkunjung kerumahnya. Tapi dengan apa? Disini aku tidak tahu arah. Tidak ada kendaraan pribadi yang bisa aku bawa kesana. Kalau harus naik angkot atau angkutan umum lainnya, aku juga tidak yakin akan sampai ke tempat tujuan dengan benar. Aku tidak tahu apa nama desa pemilik CRV itu tinggal, tapi aku tahu arah dan jalan menuju kesana.

Aku mendesah, berjalan bingung kesana kemari. Dalam hati aku berdoa, menanti sebuah keajaiban. Aku berdoa kepada Tuhan untuk segera mengirimkan si korban ke sini atau memperjalankan aku kesana. Entah bagaimana caranya. Yang aku tahu, Tuhan pasti tahu segala hal. Termasuk dalam urusan ini.

Tak perlu lama bagi Tuhan untuk menunjukkan kekuasaanNYA. Belum juga selesai hati ini berdoa padaNYA, jawaban atas doaku tiba tiba melintas begitu saja di depanku. Jawaban itu bernama Hanafi.

Mas Hanafi adalah teman akrabku di Surabaya. Dia adalah penjual bakwan yang setiap hari melintas di depan tempatku bekerja. Keakraban kami terjalin seiring dengan seringnya aku membeli bakwan dagangannya. Mulai dari hal kecil itu sampai hang out bersama di waktu waktu senggang kami. Pertemanan kami berubah menjadi persahabatan yang kental. Saling curhat dan saling memberi semangat satu sama lainnya layaknya sahabat yang sudah kenal bertahun tahun lamanya.

Hari ini, melalui dia pulalah Tuhan menjawab doaku. Secara ‘kebetulan’ dia lewat di depan polsek tempat aku menunggu si korban datang. Kami sempat sama sama terkejut ketika menyadari kami bertemu tidak pada tempat yang ‘seharusnya’. Ada apa dan mengapa?

“Aku asli daerah sini mas, tapi dari desa sebelah. Masih jauh dari sini sebenarnya,” jawabnya padaku waktu itu. “dan sekarang anakku sedang di rawat di rumah sakit.” Mendengarnya membuat hatiku terenyuh rasanya. Rumah sakit yang dia maksud hanya berjarak sekitar lima puluh meter dari polsek yang mengurusi masalahku ini. Betapa kuasanya Tuhan. Betapa Maha Pengaturnya Dia. Sewaktu aku balik menceritakan apa yang terjadi padaku dan apa yang aku butuhkan, mas Hanafi langsung menawarkan jasanya untuk mengantarkanku ke rumah si korban. Dengan berbekal ingatanku yang remang remang semalam, akhirnya aku meluncur juga ke rumah si korban.

Lihatlah walkers, betapa sebenarnya Tuhan itu ada tidak jauh dari kita. Tuhan itu ada dan selalu mendengarkan apa yang kita ungkapkan. Bagaimanapun caranya kita mengungkapkan itu. Dengan berteriak ataupun berbisik, bahkan ketika kita menggungkapkannya hanya dalam hati saja. Tuhan selalu hadir dan selalu akan menjawab apa yang kita butuhkan dengan caraNYA sendiri. Dengan keajaiban keajaiban kecil yang dipersiapkannnya untuk kita.

Masihkah kita akan mengingkarinya?


















READ MORE - RJK 2012 07 10, Selasa : Dari Kecelakaan Itulah Kisah Ini Berawal

Minggu, 10 Juni 2012

RJK 2012 06 10, Minggu : Seorang Kakek Tua di Jum'at Malam dan Orang Orang Hebat di Minggu Siang.

Gambar diambil dari sini


Jum’at malam kemarin, saat berhenti di lampu merah di depan hotel Sahid, aku melihat seorang kakek sedang menjajakan koran. Kutaksir usianya tidak kurang dari 70 tahun, rambutnya sudah memutih semua, tubuhnya kurus ringkih dan berjalan dengan tertatih. Padahal saat itu sudah lebih dari pukul sembilan malam. Hatiku serasa perih melihat itu. Sebuah ironi dan gambaran jelas sebuah ketimpangan sosial dan mungkin juga matinya toleransi di kota besar seperti Surabaya ini. Kita semua pasti tahu daerah di sekitar sana. Sebuah persimpangan jalan besar yang di kelilingi dan berdekatan dengan tempat tempat dimana kemewahan di manjakan. Hotel Sahid, stasiun Gubeng, Grand City Mall, Surabaya Plasa (delta), WTC, Monkasel dan sederet perkantoran kelas atas berjarak tidak lebih dari lima ratus meter dari sana. Tapi mengapa masih ada seorang tua yang berjalan dengan tumpukan koran di jalanan di malam yang sudah hampir larut juga di tempat seperti itu? Mengapa juga anak anak jalanan masih saja setiap hari kita lihat ada di sana? Padahal, gedung pemerintahan tidak sampai satu kilometer jaraknya. Mobil mobil mewah juga bukan hanya satu dua yang lewat disana. Tapi ratusan setiap harinya. Dimana nurani? Aku ingin bertanya. Dimana kebijaksanaan pemerintah? Aku ingin menangih. Tapi pada siapa? Jujur, aku tak tahu.

UUD pasal 34 ayat (1) maka akan berbunyi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh NEGARA.” Apakah ini berarti bahwa kemiskinan dan kefakiran itu sendiri yang dipelihara oleh negara agar tetap ada? Bukan malah untuk di entaskan? Maka mungkin benar apa yang dituliskan Soe Hok Gie dalam catatan hariannya. “Ya, dua kilometer dari pemakan kulit “paduka” kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan makan dengan istri-istrinya yang cantik.”  (Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran kamis, 10 Desember 1969, halaman 69). Sebuah ironi, walkers, kalau boleh aku bilang. Dan bagaimanapun aku sadar, aku adalah bagian dari ironi itu. Aku melihat, aku merasakan adanya ketidakberesan, tapi aku tidak (bisa) berbuat apa apa. Bukankah membiarkan kesalahan itu berarti mendukung kesalahan itu sendiri? Kalau aku ingin mengutuk orang orang di sekelilingku, maka pasti kutukan itu berlaku pula buatku.

Melihat kondisi seperti itu, disisi lain aku jadi bertanya tanya. Mungkinkah aku akan seperti dia suatu saat nanti (aku berdoa dengan sangat untuk tidak pernah menjadi seperti itu, tapi tetap, sepenuhnya aku sadar, segala kemungkinan itu ada, bahkan yang terburuk sekalipun). Apakah di masa tuaku aku akan bernasib sama seperti kakek tua itu? Hidup (mungkin) sebatang kara, tanpa seorangpun yang mau perduli akan nasibnya. Di usia senja yang seharusnya seorang sudah duduk manis menikmati hasil jerih payahnya di masa muda, masih saja harus berjuang untuk bisa makan malam itu. Aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk menolak garis takdir semacam itu. Tapi ketika Tuhan berkehendak untuk menguji hambanya, siapa tahu? Setidaknya sekarang aku ingin menolong, walau dengan sekeping limaratus rupiah yang ada di saku celanaku. Agar mungkin nanti saat aku butuh, Tuhan akan mengembalikan limaratus rupiahku itu dalam bentuk yang lain.

Walkers,

Belum lagi jauh dari sana, di perempatan sebelum THR, lagi lagi aku berjumpa dengan pedagang koran yang menjajakan sisa koran tadi pagi. Tapi kali ini adalah seorang anak perempuan yang belum juga genap enam tahun usianya. Dia mendekat kearahku, mulanya aku kira dia akan menawarkan koran yang dia bawa, tapi yang kemudian keluar dari mulutnya adalah “pak…, saya belum makan dari pagi pak, minta pak…”

 Ironis!

***



Minggu siang adalah cerita lain yang ingin aku bagikan dengan kalian, walkers. Minggu siang aku bertemu dengan orang orang hebat dalam sebuah acara kopdar yang diadakan di Kebun Bibit Bratang. Mereka adalah anggota grup penulis “Bonektim” (BONdo cEndol EKsklusif jawa TIMur). Di sana hadir bunda Titie Surya (penulis, pemilik penerbitan Prima Pustaka Publishing, ketua Bonektim dan koordinator acara), mbak Wahyu (penulis), Jacob Julian (penulis novel Pocong Galau dan Hitech, penulis cerpen di beberapa majalan dan buku antologi) Axia Paramitha (monologer), Citra (penulis puisi dan cerpen), Zahara Putri (penulis enam belas antologi cerpen) ibu Evi Suryati (penulis, penggemar buku, dan pegawai perpustakaan daerah Surabaya), pak Kartono (pengurus TBM Kawan Kami) dan sejumlah nama lainnya yang sudah memililiki karya. Di sana mereka sedang membicarakan peluncuran buku mereka yang selanjutnya. Sebuah buku yang bernuansa cinta dan berseting di Surabaya.

Berada di tengah tengah mereka, aku bagaikan burung gagak di tengah kerumunan burung merak. Bukan apa apa, bukan siapa siapa, tiada indah. Kalau di tanya apa alasan aku berada di tengah tengah mereka saat itu, jawabannya adalah karena aku yakin kata pepatah “seorang yang berkumpul dengan penjual minyak, pasti akan kecipratan harumnya juga” adalah benar. Seorang yang baik, yang benar dan yang indah, pasti suatu saat akan menyebarkan keindahan itu pada lingkungan sekitarnya. Mereka adalah insprasiku untuk terus berkaya dan terus belajar. Semoga suatu saat, aku akan bisa menjadi merak seperti mereka, merak merak yang indah dan berbagi keindahan.
READ MORE - RJK 2012 06 10, Minggu : Seorang Kakek Tua di Jum'at Malam dan Orang Orang Hebat di Minggu Siang.

Rabu, 06 Juni 2012

RJK 2012 06 06





Hari ini aku membaca buku Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demontran, pada bagian akhir akhir masa sekolahnya di SMP sampai masa masa awal remajanya. Sekitar tahun 1960 (dia lahir tahun 1942). Kesan awal tentang sosok Gie yang kesepian seperti  penggambaran orang selama ini atas dirinya aku ragukan. Benarkah dia merasa begitu kesepian dalam awal awal kehidupannya? Aku rasa juga tidak. Dia punya banyak teman, walau dia sendiri adalah orang yang vokal dalam hal hal tertentu. Aku membaca catatanya tentang perdebatannya dengan guru sastranya di sekolah yang berujung pada pengusirannya dari kelas. Tapi dia tidak keluar.


Hal lain yang baru aku tahu tentang dia, adalah bahwa dia adalah tipikal orang yang tidak percaya adanya tuhan, adanya doa. Tapi dalam beberapa bagian dari catatanya, aku rasa pendapat dan keyakinannya ini begitu ambigu. Tipikal persis pemuda di usia segitu. Ini bisa aku lihat dari catatannya tentang pertemuannya dengan seorang pemuda kriten yang tenang dengan kerejiusannya yang secara langsung di ikuti dengan penghujatannya pada pastur pastur. Dia mengecam mereka sebagai kelas baru kaum borjuis yang hidup bermewah mewahan dan memonopoli kebenaran. Benar benar tipikal seorang yang radikal dan pemberontak.

Aku yakin tipe orang seperti Gie banyak di negeri ini. Apa lagi mereka yang sedang dalam usia segitu, usia remaja yang masih sangat labil dengan gejolak yang melonjak lonjak. Bukan hanya dari mereka yang menganut agama Kristen atau Protestan seperti Gie, bahkan mereka yang mengaku muslimpun bisa saja mempunyai jalan pikiran yang sama dengannya. Aku juga punya teman muslim yang mengumpati adzan dan asik ber-sms ria saat mendengarkan khutbah jum’at. Merekakah para atheis yang tidak percaya pada Tuhan? Tapi toh mereka juga masih juga melakukan segala hal yang diajarkan agama mereka. Yang Kristen dan Protestan masih juga ke Gereja setiap minggu, yang muslim juga masih saja solat dan pergi ke Masjid. Tapi hati mereka tidak yakin, bahkan berusaha berdalil mengubah apa yang Tuhan ajarkan pada mereka. Entahlah. Untuk yang satu ini, andai dia ada, aku ingin bertukar pikiran habis habisan dengan Gie. “Gie, Tuhan itu ada bukan? Kamu sendiri sekarang sudah membuktikannya sendiri disana bukan? Beri tahu aku.”

Hal aneh lain tentang sosok yang satu ini adalah ketidak percayaanya pada cinta yang suci. Dia berpendapat, bahkan sejak masih duduk di bangku SMP, kalau pernikahan itu cuma atas nafsu belaka. “… sebab kalau aku kawin aku tak tega menyetubuhinya, paling banyak aku mencium. … dia tidak mungkin mengadakan hubunga kelamin sebab baginya “ubermensh”-nya suci dan mau dikotori. Aku yakin inilah cinta sejati. … Kalau aku jatuh cinta, aku tidak akan mengawininya” (Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, halaman 72) tulisnya dalam buku hariannya yang juga diikuti dengan kutipan langsung dari seorang temannya. Entah mengapa aku melihat di sinilah bekerja untuk dia pengaruh pengaruh dari keagamaan, dimana pastor pastor tidak menikah, padahal Gie sendiri adalah seorang yang tidak percaya adanya Tuhan.

Gie juga menghujat orang yang kebanyakan oleh orang lain di puja puji. Seperti Soekarno misalnya, orang yang menjadi tokoh utama dalam kemerdekaan negeri ini, bahkan dianggapnya sebagai penghianat kemerdekaan dan tujuan kemerdekaan itu sendiri. Bisa kita lihat dalam catatan catatan hariannya yang bertahun 1959 – 1960. Ditulisnya disana “ ya, dua kilometer dari pemakan kulit “paduka” kita mungkin lagi tertawa tawa, makan makan dengan istri isitrinya yang cantik. Dan kalau melihat gejala pemakan kulit itu, alangkah bangga hatiku. “Kita, generasi kita, ditugaskan untuk memberantas generasi tua yang pengacau … “”. Dia juga menulis tentang penolakan presiden Soekarno atas permintaan ampunan dari seorang yang di fonis hukuman mati. “Lihatlah Gandhi, pembunuhnya dimaafkan. Aku kita moral Presiden Soekarno itu tidak lebih dari moral tukang becak.” Tulisnya di catatan hariannya yang bertangal 12 Juni 1960.

Kita mungkin terperangah dengan apa yang di tuliskan oleh Gie. Tapi bagiku itu adalah hal yang normal. Mengingat gejolak masa mudanya, mengingat radikalnya dia, itu lumrah. Dimana kekuasaan, disana juga pasti ada pertentangan dan ketidakpuasan atas kekuasaan itu. Sejarah adalah menurut siapa yang menyampaikan, begitu juga dengan seseorang, tergantung siapa yang menggambarkan tentang dia. Bagi kita mungkin Soekarno adalah pahlawan dan bapak bangsa, tapi bagi Gie, dia adalah penghianat. Bagi bangsa kita orang seperti Deandles adalah musuh dan penjajah yang harus di berantas, tapi bagi bangsanya, mungkin dia adalah orang yang berjasa besar. 

Gie juga menuis tentang guru gurunya, tentang pemotongan nilainya –entah karena apa- juga tentang perdebatannya tentang sastra yang berjung pada kalimat “Guru model gituan. Yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa dan selalu benar. Dan murid bukan kerbau” (Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran halaman 65).

Masih tebal buku yang harus aku baca. Masih ratusan halaman lagi. Tapi aku suka untuk membacanya. Aku suka membaca buah pemikiran orang lain. Bagiku, itu adalah jalan terbaik untuk mengenali banyaknya jalan pemikiran orang dan keberagaman ciptaan yang Maha Kuasa. Suatu hari, aku yakin harus membaca catatan dari Anne Frank.

READ MORE - RJK 2012 06 06