Senin, 24 Januari 2011

The smallest, the strongest, the conqueror

Malam itu, pertengahan Desember 2009 pukul 00.02 ketika aku memutuskan pulang dari rumah nenek. Bukan tanpa alasan sebenarnya aku nekad pulang jam segitu. Tapi sungguh, rumah nenek bukan tempat di mana aku bisa tidur dengan nyenyak. Udara dinginnya yang menusuk tulang itu yang membuat aku selalu terjaga sepanjang malam. Walaupun sudah merangkap selimut dan jaket, tapi rasa dingin itu tetap saja seolah olah merasuk dalam tulangku. Lagi pula tidak bebas rasanya kalau harus tidur dengan pakaian setebal ini. Maka itu, pulang mungkin adalah keputusan terbaik buat aku malam ini.

Untunglah ada temanku yang juga hendak pulang dari tempat kerjanya malam itu. Kebetulan juga dia biasanya melintas di depan rumah nenek sekitar tengah malam seperti ini. Jadi aku gak perlu buat pinjam sepeda motor paman untuk pulang, cukup membonceng aja di belakang temanku itu. Badannya yang lebih tinggi dan lebih besar dari aku, bisa jadi tameng buat sedikit menetralkan dinginnya udara malam ini. Ditambah jaket tebal yang aku pinjam dari paman, dan sepeda motor yang di pacu dalam kecepatan tinggi, malam ini jadi sebuah petualangan seru buat aku.

Sepanjang jalan, udara dingin, dan kabut yang turun menambah serunya perjalanan malam ini. Di kanan kiri jalan, jarang ada lampu penerang jalan. Yang ada cuma kegelapan sempurna yang seolah membutakan mata. Jarak antar sekumpulan rumah dan rumah yang lain juga sangat jauh. Dalam perjalanan dengan kecepatan tinggi seperti ini saja, butuh waktu sekitar 3-5 menit untuk menemukan sekumpulan rumah lagi setelah melewati sekumpulan rumah yang lain. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas di kiri kanan jalan malam itu. Di tambah lebar jalan yang memadai, jadilah malam ini kami seolah sedang dalam road race malam yang menantang dan mendebarkan. Naluri lelaki yang mana yang tidak akan tertantang dalam suasana seperti ini! Adrenalin seolah mengucur seperti darah yang terus mengalir dari jantungku yang berdegup kencang.

Motor yang kami tunggangi benar benar seperti kuda besi yang menderu mendesing memecah kesunyian malam. Seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Jalanan yang selalu berbelok belok, memaksa sesekali motor ini seperti hendak rebah ke tanah ketika kami melewati tikungan. Benar benar sebuah sensasi liar luar biasa yang seperti menyentak alam bawah sadarku untuk terus terjaga menikmati seluruh perjalanan ini. Benar benar seperti pertandingan road race yang dengan sensasi luar biasa. Dalam medan yang yang super ekstrim.

Tapi seluruh sensasi itu tiba tiba saja sirna ketika kami memasuki sebuah perkampungan penduduk. Tiba tiba saja temanku itu membelokkan motornya dengan sangat sangat mendadak. Tiba tiba saja malam yang tadinya sepi sunyi, dengan hanya suara motor inilah satu satunya yang mampu memecah kesunyian itu, jadi hingar bingar dengan puluhan orang tumpah ruah di jalan. Malam itu tiba tiba saja berwarna merah kelam. Malam itu, dinginnya entah bagaimana tiba tiba berubah jadi sangat panas, panas sekali. Malam itu, gelapnya tiba tiba sirna, tergantikan dengan dengan ribuan nyala api yang datang dalam jumlah besar!

Sebenarnya aku bingung dengan semua perubahan ini. Tapi ketika aku bisa meraih kesadaranku lagi, semua di sekitarku terlihat putih. Putih dan pucat. Dan ketika aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua menangis pilu…..

***

Subuh menjelang siang ketika aku duduk merenung di musolah kecil itu seorang diri. Dalam keremangan hari yang belum juga sempurna merekah ini, aku berusaha memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Flash back ingatanku, membuat aku meneskan air mata penuh penyesalan.

“tiga hari kamu gak sadarkan diri,” kata ibuku di sela sela tangisannya pagi itu. Ibu bercerita kalau malam itu aku di tolong penduduk desa yang aku lintasi ketika motor yang kami kendari tiba tiba oleng tanpa sebab. Mereka bercerita pada ibuku kalau kami beruda terseret setidaknya 20 meter lebih, sebelum sebuah pohon di pinggir jalan menghentikan laju motor kami.

“tapi kenapa?” tanyaku,

“seekor serangga kecil masuk di mata temanmu. Dia kehilangan matanya sekarang,” ibuku menangis sesenggukan. Aku tahu, dia bukan sekedar temanku, tapi dia sahabatku, sahabat dari masa kecil, dia tetangga kami, anak satu satunya dari keluarga sederhana itu.

Hatiku menangis pilu, air mataku menetes dan terus mengalir. Pilu rasanya seluruh jiwaku. Badanku seperti melayang entah kemana. Yang terbayang di pelupuk mataku, hanyalah raut wajah temanku yang sangat aku sayangi itu. Tapi hanya raut wajah penuh kesedihan, pucat dan pilu tanpa masa depan.

Aku berusaha beristighfar. Menenangkan pikiranku. Aku mengingat Tuhanku. Meminta dalam batinku dengan sangat untuk memberiku sebuah ketabahan, ketabahan buat kami semua. Ketabahan dan kebesaran hati buat temanku, buat keluarganya, buat ibuku, dan hati yang lapang untuk bisa menerima ini.

Tuhan seolah sedang berbicara pada kami semua dengan caranya sendiri. Dia seolah menegur kami dengan kesombongan kami selama ini. Dia seolah ingin berbicara pada kami kalau kami bukanlah mahluknya yang terkuat. Masih ada yang lain yang lebih kuat walaupun mereka di ciptakan tidak sesempurna kami. Serangga kecil yang masuk kedalam mata temanku itu adalah contohnya. Bagaimana dia yang gagah, tampan, dan sehat bisa berubah seketika hanya oleh serangga malam yang tidak pernah di perhitungkan di peradaban manapun itu.

Tuhan sudah berbicara pada kita bahkan lewat ciptaannya yang paling sederhana. Kita menyebut ciptaan tuhan yang setengah hidup itu ‘virus’. Mahluk yang hanya hidup dengan menumpang di kehidupan yang lain.

Tapi bisakah kita mengalahkan mahluk terkecil itu dengan ilmu yang kita miliki sekarang? Bahkan dengan tekhnologi tercanggih sekalipun, kita belum bisa benar benar terbebas dari HIV. Bahkan perlu diingat ketika kita membakar sesama kita hanya untuk menghilangkan virus ebola. Lalu di mana kekuatan dan kesombongan manusia kalau untuk mengalahkan ciptaanNYA saja tidak mampu. Lalu di manakah akal sehat kita ketika kita dengan beraninya menantang Sang Pemberi Kehidupan?

Hatiku kacau, air mataku berderai derai mengingat segala dosa yang sudah aku lakukan. Dalam sesenggukan yang mendalam, kuutarakan kenginginanku pada ibuku, “ bu, aku masih punya dua mata, bolehkah aku berbagi mata dengan dia kalau dokter bisa mengusahakannya? Aku ingin memberikan mata kananku buat dia, yang kiri, aku masih membutuhkannnya.”

Tak ada jawaban dari ibuku. Selain hanya pelukan dan raungannya yang semakin menjadi….

Hari ini, satu bulan setelah kejadian itu, aku beringsut meninggalkan musola kecil ini ketika matahari mulai beranjak meninggi. Aku siap menemui dokter ahli yang bisa memindahkan mata kananku, buat sahabatku yang baik…….


Hikmah :
  1. Kesombongan itu hanya milik Tuhan, sama sekali tidak alasan bagi kita untuk menyombongkan diri, kalau untuk mengalahkan makhluk serendah virus aja gak bisa, bagaimana kita bisa menyombongkan diri?
  2. Persahabatan itu bukan cuma di kala senang saja. Penderitaan akan jadi ujian bagi ketulusan sebuah persahabatan.
  3. Relalah berkorban, untuk siapapun, selama itu berkorban untuk kebaikan….

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.

READ MORE - The smallest, the strongest, the conqueror

Selasa, 11 Januari 2011

Ibuku dan sepotong terong

Sepotong terong di atas nasiku siang ini serasa sulit sekali aku telan. Padahal, aku ini penggemar berat terong lo. Jangankan menelan, mau menyentuhnya saja rasanya aku gak sanggup. Tenggorokanku rasanya tersumbat seonggok spon kering yang menyerap seluaruh air liurku. Kering banget rasanya seluruh mulut sampai tenggorokanku. Dan efeknya, rasa laparku, rasa sakitku, dan semangatku untuk sembuh langsung memudar. Menghilang malah……

***

Ceritanya, hari ini aku lagi sakit. Dari tadi pagi aku mendekam saja di dalam kamar kosan aku ini. Sampai kira kira jam ibu kos yang baik hati itu masuk ke kamarku,

“kamu sakit di? “ tanyanya di ambang pintu kamarku.
“ya bu, saya sakit, “
“jadi gak kerja hari ini?”
“gak kerja bu, tadi saya sudah telepon ke kantor,…..”
“sudah minum obat?”
Aku ragu untuk menjawab pertanyaan ini. Ragu karena aku tau, ibu kos aku ini orangnya baik banget, dan sangat perhatian sama anak anak kosnya.
“sudah minum obat belum…..” tanya ibu kos lagi.
“belum bu,” jawabku.
“sudah makan?”
“belum…..” jawabku lagi  “ nanti saya mau minta tolong anton saja beli nasi sama obat…”
“oh, ya sudah kalau begitu, ibu tinggal masak dulu ya…., kamu gak apa kan ibu tinggal?”
Aku mengangguk. Ada perasaan seneng banget rasanya dapet perhatian seperti itu saat aku sakit. Setelah ibu kos pergi. Aku melanjutkan tidurku yang tertunda.

***

Siang harinya aku terbangun pukul 12.36. ada anton di di ranjangnya. Rupanya dia baru pulang dari kerjanya di stasiun radio.

“napa kamu, “ tanyanya. “ kata ibu kos kamu sakit ya?” aku nyengir kuda mendengarnya. “ aku gak pulang semalem aja kamu dah sakit, gimana kalau aku tinggal dua hari…. Gagagagagagaga…..” anton tertawa terbahak bahak. Anton memang begitu orangnya. Selalu saja ceria dan bisa membawa suasana menjadi menyenangkan. Maka itu, aku betah satu kamar kos sama dia.

“Tuh di meja ada nasi, sama ikan laut, sama….., sama terong penyet…..”
Mendengar kata terong penyet, aku langsung bernafsu untuk makan. Bagiamanapun, diolah seperti apapun, terong tetap jadi sayuran idolaku. Aku berusaha bangkit dari tidurku. Anton mendekat dan memberikan sepiring nasi yang dia bilang tadi. Gak lupa juga dia mendekatkan segelas air putih dan sebungkus obat ke arahku.

“Dari sapa sih ini?” tanyaku.
“ibu kos,” jawab anton pendek.

Tiba tiba ada keharuan menyerbak di dadaku. Terharu aku punya ibu kos sebaik dia. Perhatian banget walau kita bukan anaknya.

“eh ton,” panggilku saat aku lihat anton bergeges pergi kelaur kamar.
“mau kemana kamu…” tanyaku,
“mau ke toilet. Napa?
“ bilangin ya sama ibu kos. Makasih dah repot repot buat aku. Jadi terharu aku….”

Tapi anton malah mengurungkan langkahnya keluar kamar. Dia menghampiri aku. Dan sungguh, kata kata yang diucapkan, diluar dugaanku.

“aku Cuma mau ngomong ya, terserah kamu mau nanggepinnya gimana. Tapi coba kamu pikirkan. Kamu di kasi perhatian sama ibu kos, di masakin makanan kesukaanmu waktu sakit, di kasi obat, kamu dah sebegitu berterimakasihnya. Sampe sampe kamu terharu sagala. Tapi coba kamu ingat. Sudah berapa kali ibu kamu melakukan ini buat kamu. Berapa kali kamu sakit selama sama ibu kamu. Dan coba ingat, lebih besar mana perhatian yang kamu dapet, dari ibumu apa dari ibu kos? Dari ibu kos mungkin Cuma sewaktu waktu, tapi sadar gak kalau ibu kita sudah memperhatikan kita sepenjang hidup kita?

Yang jadi pertanyaan sebenarnya adalah, sudahkah kamu berterimakasih yang sesungguhnya sama ibu kamu……””

Dadaku berdesir, tenggorokanku terasa kering mendadak. Lalu tak terasa, ada setetes air mata kerinduan menetes tak terbendung melewati pipiku.

“ibu…., maafkan anakmu ini......aku kangen ibu…..”



READ MORE - Ibuku dan sepotong terong

Jumat, 07 Januari 2011

Cinta terlarang

Dia adalah orang kelima yang datang ke dalam hidupku untuk menawarkan diri sebagai orang yang spesial bagiku. Dia, adalah orang kelima dalam hidupku yang datang untuk mengatakan aku pantas untuk dicintai. Atau mungkin hanya untuk sekedar bilang bahwa, aku patut untuk dipuaskan. Bahwa hasrat yang telah lama aku pendam ini, harus dipuaskan, dengan cintannya.

Seperti orang pertama yang datang dalam hidupku, diapun datang dari sebuah dunia yang tak nyata, dari dunia maya yang mereka namakan internet. Seperti orang pertama, dia juga datang padaku, ketika kami hanya sempat berbincang dalam beberapa baris kalimat saja. Dia juga seperti orang kedua, yang datang kedalam hidupku, seperti datangnya tikus kedalam liang gerombolannya, hanya karena memiliki satu hal yang sama : kami sama sama berbau busuk. Dan bahwa kami juga sama sama memiliki sebuah urusan yang perlu untuk dituntaskan, urusan yang hanya bisa dituntaskan dengan mengatas namakan ‘cinta’, Cinta yang terlarang!

Dia juga masih sama seperti orang ketiga yang hadir dalam hidupku. Hadir karena dia mencari pengganti orang yang bisa memberi dia apa yang dia butuhkan. Penganti orang yang di masa lalu sudah memberi mereka sebuah kepuasan, sebuah kedamaian, sebuah gengaman tangan yang erat. Pundak yang kokoh tempat mereka bersandar saat tiba tiba kepala meraka terasa begitu berat. Mereka membutuhkan dada yang bidang, tempat mereka meregut kehangatan di dalamnya. Yang dia kira, dada itu adalah dadaku. Ya, bahkan sebelum pertemuan pertama kami.

Dia datang, untuk hanya sekedar berkata kalau dia butuh seseorang yang sungguh setia, yang bisa mengerti dia apa adanya. Yang selama ini aku temui adalah orang yang hanya membutuhkan tubuhku, hartaku, padahal mereka tau aku tak berharta sesenpun, keluhmu di malam perkenalan kita. Malam dimana kita berbincang tanpa saling memandang. Berbicara tanpa saling menatap dan bersuara. Malam dimana kita bertukar informasi hanya dengan menarikan jemari kita diatas tombol tombol kibot. Bahkan sebelum dia tau, orang seperti apakah aku ini, dia sudah yakin kalau akulah yang sungguh mereka cari.

Dia masih juga sama saja seperti orang keempat yang hadir dalam hidupku. Yang hadir karena kita memiliki masa lalu yang sama, asal yang sama. Masa lalu dan asal yang sama sekali bukan untuk dibanggakan. Kami, sama sama dari lumbung buaya. Dari kubangan lumpur babi yang sama sekali tak indah untuk ditunjukkan pada orang lain. Kami berasal dari dunia hitam kelam yang bahkan para penghuninyapun takut untuk mengakui bahwa meraka adalah bagian dari dunia hitam kelam itu.

Dia datang malam ini, masih dengan alasan klise seperti alasan orang orang sebelumnya. Yang juga datang di malam hari untukku, dari tempat yang jauh di tepian kota ini hanya untuk memuaskan rasa penasarannya akan sosok tubuhku. Sosok yang hanya dia ketahui lewat seberapa tinggi aku, berapa berat badanku dan berapa usiaku. Sosok yang hanya dia tau lewat foto yang aku pasang di jejaring sosial. Foto yang sudah aku olah sedemikian rupa sehingga tampak menarik. Yang tentu saja, itu adalah perangkapku untuk menjebakmu, karena aku, tak seindah fotoku….

***

“ kamu di mana?” tanyaku setelah sekian lama aku menunggunya di dalam udara malam yang menusuk kulit.

“ aku masih di pertigaan keempat, kemana ini arahnya” terdengar suaranya di seberang sana, kecil dan lembut, namun tegas sekali rasanya.

“oh ya, belok ke kiri, nanti setelah perempatan kedua, belok kekanan lalu putar balik di depan restoran. Setelah pom bensin pertama, kamu belok kiri, aku tepat di kiri jalan di bawah lampu merah.”

“oh, ok, nanti aku hubungi kamu kalau aku bingung ya….”

“ya”

Hubungan telepon terputus, meninggalkan aku sendirian di sini, berteman dengan kesepian dan kepulan asap kenadaraan bermotor yang tak pernah tertidur di kota neraka ini.

Yah…, hatiku mendesah….

Ada perasaan berat yang mengantung di sana. Ada perasaan yang tidak bisa aku definisikan sebagai perasaan apa. Entahkah aku harus senang ataukah aku harus bersedih. Entahkah aku harus melompat tinggi tinggi untuk menyatakan kebahagiaaku ataukah aku harus bersujut menyesali keputusan ini.

Aku tau ini adalah keputusan yang terlarang. Aku tau ini adalah dosa besar yang mungkin tak termaafkan, karena akupun tak bisa memastikan bila aku sanggup untuk meninggalkan dosa ini. karena ketika kenikmatan itu sudah membuncah ke ubun ubun kepalaku, ketika kepuasan itu sudah membuncah mencengkram seluruh ragaku, sanggupkah aku untuk berpaling dan meninggakan kehidupan seperti ini selamanya? Aku tak yakin. Maka itulah akupun tak yakin kalau dosaku ini akan termaafkan. Karena aku tak yakin aku bisa bertaubat dengan taubat yang sebenarnya. Dan untuk itu, harusnya aku bersedih.

Tapi dalam waktu yang bersamaan, aku merasakan kebahagian yang tak terperikan. Betapa tidak, setelah orang ke empat, entah sudah berapa lama waktu berlalu. Sudah berapa malam yang aku lalui dengan kesendirian, sudah berapa hari aku buang waktuku untuk kuhabiskan tanpa seorang yang spesial di dekatku? Aku sudah tak mampu menghitung rasanya. 

Saat ini, ketika ada orang yang bersedia mengisi kekosongan ini, bukankah pantas kalau aku berbahagia? Bukankah pantas kalau hatiku berbunga bunga? Aku juga manusia yang butuh dan haus akan kasih sayang….

Tapi lamunanku bubar saat sebuah sepeda motor berhenti tak jauh dari tempat aku berdiri. Pengendaranya adalah seorang dengan gaya yang trendi, rambutnya pirang pendek dengan jaket kulit hitam yang memberi kesan mendalam pada penampilannya. Dia memandang sejenak padaku. Tapi aku tetap diam mematung. Inikah orang yang aku tunggu tunggu? Orang yang terlalu sempurna untuk aku!

Dia merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebuah hape keluaran terbaru. Setelah menekan beberapa tombol, dia medekatkan hapenya ke arah telinganya. 

Ada yang bergetar di saku celanaku. Itu hapeku. Ada telepon masuk. Aku angkat. terdengar suara berat di seberang sana, suara yang orang yang aku tunggu tunggu.

“kamukah itu?” tanyanya. Seiring dengan gerakan bibir orang di depanku.

“ya ini aku,” jawabku. 

Kumatikan hapeku, kumasukkan kedalam kantung celanaku, lau mendekat kearahnya. Sambil mengulurkan tangan kusebutkan namaku. Dia menyambutnya dengan seulas senyuman hangat yang membuat hatiku berdesir. Ada kegairahan yang hangat menggelayut mesrah di nadiku,

“ayo, ketempatku,” 

“yap…” balasnya.

Hatiku, perasaanku, pikiranku kemudian melesat bersama laju sepeda motorku. Ada perasaan yang saling berkelebatan di sana. pesaan senang yang tak terperikan, juga perasaan bersalah yang mendalam. Aku bimbang, tapi aku tak berhenti untuk memintanya membatalkan perjanjian kita malam ini. sampai akhirnya, malam ini kami lalui sebagai malam terindah yang pernah kita lewati. Malam ini, satu kenyataan lagi aku sadari dari dirinya. Karena ternyata, dialah tipe orang yang aku cari selama ini

***

Sudah hampir seminggu dia tak ada kabar. Tak bisa aku hubungi dan dia tak membalas sms aku. Sudah aku coba bermalam malam, sudah aku harap hari demi hari kabar darinya, bahkan setiap pesan yang masuk dalam hapeku aku harap itulah kabar darinya.

Tapi ketika mejelang hari kesepuluh tak ada kabar darinya, keresahan dalam hati ini mulai menghilang secara ajaib. Ada perasaan pasrah dan hampa yang kemudian menyerang. Seperti sebuah perasaan tulus akan sebuah kehilangan. Ada perasaan ganjil dari keputusan untuk melupakan dia selamanya. Ya, aku mulai merasakan perasaan yang sama ketika aku tidak bisa menghubungi lagi orang orang sebelum dia.

Aku hanya ingin tidur aja malam ini. Cuma ingin meletakkan kepalaku sejenak di atas bantal kesayanganku. Memendam semua kesedihan ini di dunia mimpiku. Mengikatnya erat dan tak akan aku biarkan dia hadir lagi dalam kehidupan nyataku. Bagiku, malam itu adalah malam yang indah, malam yang harus aku sukuri dan aku sesali. Malam di mana seharusnya aku merasa manusia paling bodoh sekaligus paling beruntung telah berkenalan dengannya. 

Malam ini masih sama dengan seperti malam yang sebelum-sebelumnya. Masih juga sama dengan malam ketika aku belum bertemu dengannya, malam dimana aku bersanding bersamanya atau pun malam malam setelah itu. Malam ini masih juga malam yang gelap. Malam dengan bintang dan bulan yang sahdu di musim kemarau yang kering. 

Seperti juga yang aku lakukan di malam malam itu, malam inipun aku berusaha keras menutup mataku. Mengheningkan seluruh ciptaku. Berusaha untuk beralih dari dunia nyataku ke dalam dunia mimpiku. Dan juga tentunya masih sama bagiku, seperti setiap detik jam yang terbuang berlalu dalam malam malam kesedirian aku. Aku masih saja sulit memejamkan mata. Insomnia tingkat tinggi!

Bayangan malam, banyangan kesedihan, banyangan kerinduan silih berganti menghampiri alam sadar dan alam bawah sadarku. Ada bayangan setiap orang yang hadir di sana. ada banyangan orang pertama yang pendek dan tambun. Tapi mampu mengerti aku apa adanya. Ada selintas siluet gambaran orang kedua, yang berkulit hitam dengan tubuh yang tangguh. Dengan tenaganya yang seperti selalu terpacu. Kemudian orang ketiga hadir dalam mimpiku. Orang yang kurus dengan postur yang tinggi dan wajah yang bersih. Dia selalu tersenyum dengan bentuk bibirnya yang begitu manis. Lalu orang keempat yang bertubuh besar, yang bergumam dengan dialek yang sama degan dialekku. Dia datang dengan kata yang berapi api dan pergi dengan kabar yang segelap malam yang muram.

Lau hadirlah dia, orang kelimaku. Orang termanis dalam hidupku. Orang terindah dalam mimpiku. Orang yang ada dalam anganku. Dia, ya hanya dia yang bisa mengimbangi aku di setiap malam basahku. Malam malam terkutuk yang selalu aku runtuki. Malam bernoda kelam yang selalu aku sesali pernah aku lalui dalam hidupku. Tapi bersama dia, malam itupun benar benar aku sukuri. Manusia pujaan setiap insan ada di sampingku. Menempelkan bahunya di bahuku. Meneteskan setiap tetes air matanya di dadaku, menguburkan setiap asanya di dalam damainya hatiku. Dia, ya, dia adalah yang aku cari selama ini. dia adalah hal terindah yang pantas saku kagumi. 

Aku mengaguminya setiap jengkal lukisan wajahnya. Lukisan alam yang maha kaya. Pahatan yang membuat setiap detak jantung insan manusia yang memandangnnya berhenti berdetak, untuk kemudian bernyanyi indah memujinya. Aku menghayati setiap inci dari lekukan tubuhnya. Tubuh yang seperti porselen yang indah, indah terpahat dengan kokohnya. Aku memuja setiap detail dari kakinya, dari tangannya, dari setiap goresan halus di kuku kukunya. Aku memujanya, ya, aku memujanya malam itu. Aku menelannya dalam sukmaku sampai tak bersisa di kala fajar datang dan dia minta aku untuk mengantarkannya pergi.

“aku akan kembali, aku janji….” Ucapmu kala itu. matamu yang berbicara, tapi suaranya aku dengar dengan hati beningku.

“aku akan menunggumu, aku tidak akan mencari penggantimu sebelum kau benar benar ingin melupakan aku…..”

Ada sentuhan lembut perpisahan, ada goresan tajam awal kehilangan. Di pagi itu, pagi yang basah di wajah kita. Pagi yang harum oleh wewangian alami yang di ciptakan alam untuk setiap kita…..

Aku masih ingat, selekat ingatan yang kemaren, seulas senyum perpisahanmu yang aku lekatkan erat di hatiku. Inginku teriakkan kata aku sayang kamu sejak jejak pertama langkahmu pergi meninggalkan tempat terkutuk itu, tempat terindah yang pernah aku kunjungi.

Tapi, wahai manusia terindahku, kemanakah kau sampai sejauh ini? bagaimana kabarmu di hari kedua puluh ini? mungkin inilah saat yang tepat bagiku untuk melupakanmu, mengiklaskanmu dan mencari penggantimu untuk mengobati hatiku. Walau sebenarnya aku ragu, adakah yang lebih indah darimu untukku….?

Baru saja kuketikkan sebuah nickname di MIRC ketika sekelebat bayangmu tiba tiba kembali melintas di nadiku. Tapi aku harus tegar. Aku harus bisa melupakanmu. Aku harus dan akan bisa untuk mencari penggantimu…

Ada yang menyapaku di chatroom yang baru aku masuki ketika hapeku bergetar, lalu sebuah nada yang aku setting khusus untukmu berkumandang. Aku menoleh, memandang sorot sedih di layar hapeku. Hatiku, sekali lagi berdesir.

“ pa kbr ms, maf lm aq g mnghub ms. Hapeq yg lm kmaren bru aq ambil dr service center. ni jg bru aq pkai lgi, jdix slma bbrapa hr ni, aq pake hape cdngan. No ms da di hape yang di service i2 ms. Jdi s-X lg ma2f klau aq g da kbar bbrpa hr ni. Aq jg g mau trima tlpn msk dri orng g knal”

Aku mendesah, lalu masuk pesan kedua, masih dari dia

“ms, aq syang km. ms maukah ms jd milik aq slamanya? Kita bs menikh ms, wlau di negara ni cinta qt tak bsa ber1, tp di ngra lain, qt msh bsa mjdi spasang suami istri. Aq ingn jdi istrimu ms. Lz…”

Hatiku hancur rasanya. Aku ingin berteriak untuk melukiskan isi hatiku. Inikah anugrah? Atau inikah musibah. Inikah sanjungan ataukah aku sudah sedemikian terkutuk dicintai orang seperti dia setulus hatinya?

Pesan ketiga masuk sepuluh menit kemudian,

“ms, koq g da blesan? Dah tdurkah? Ms q dah b-X-x skt hti ms. Lau ms g bs menerima aq, aq mungkn dah gk bs hdup lebh lma lgi…..

Aq syng kmu mas….”

Nadiku mendidih, otakku menegang. Mataku terpejam, tubuhku bergetar. Aku sama sekali tidak mengira akan seperti ini jadinya. Akankah aku menerima permintaanya? Cinta ini, perasaan ini, aku tau adalah cinta dan perasaan terlarang. Aku harus menerima kenyataan kalau akhirnya aku jadi sampah masyarakat bila aku menerima cintanya dan menjadikan dia istriku. Tapi sungguh, sungguh lelaki sepertinyalah yang aku maui. Ya, dia adalah lelaki terindah untuk lelaki tangguh sepertiku! Cinta ini terlarang karena aku, mencintai sorang lelaki. Rinduku terlarang karena aku merindukan kemesraan dari orang yang sejenis. 

Inikah kutukan ataukah ini anugrah? Inikah berkah ataukah ini kutukan? Haruskah aku terima dan berbahagia hanya bersamanya walau dunia dan Tuhan sekalipun adalah musuhku? Atau haruskah aku tolak cintanya dan rela melihat jenazahnya tak lama setelah ini? padahal dialah orang yang benar benar aku cintai dan aku rindukan selama ini? 

rinduku telarang, cintaku tak terestui, hidupku adalah buah simalakama yang sebenarnya…..



http://www.facebook.com/note.php?note_id=414398717434
READ MORE - Cinta terlarang

Lotus

Aku mengenalnya saat aku lagi cari cari artikel di internet, pesanan luna, keponaan aku yang masih kelas tiga sltp. Mulanya bersemangat aja aku carinya, tapi kayaknya susah ne, gak segampang yang aku kira tadi. Jaman sekarang ini, cari artikel yang bener bener pas buat tugas anak kelas tiga sltp aja cukup bikin bosen juga ternyata. Untunglah aku hidup dan sekolah di jaman komputer sama internet masih belum ngetop kayak sekarang ini. Kalau gak, mungkin aku bisa jadi anak yang paling banyak nunggak tugas, atau malah jadi yang paling banyak ngopi kerjaan temen aku ya.....:)

Dari pada aku bete, coba coba mulanya aku buka pesbuk aku. Baca baca status temen temen yang gak karu karuan, gak tau juga apa yang sebenarnya merekan pikirkan. Cukup kasi jempol saja kalau ada status yang cukup menarik. Kalau berminat, aku kasi komen dah seperlunya. Itu kalau status mereka termasuk status yang ringan ringan aja. Kalau status mereka lumayan berat, aku tinggalin aja, malas bacanya. Bikin kepala puyeng aja harus mikir segala. Lain kali mungkin, kalau aku lagi lebih fres dari sekarang, aku bakalan berdebat sama meraka....... ** wagagagagagagaga, kayak orang yang filsuf aja aku ini, pake pengen ngomentari status status yang butuh pemikiran, sejak kapan????

Pesbuk dah aku buka buka, gak ada lagi bahan-bahan seger ne, semua udah aku liat, sudah aku kasi jempol, sudah aku kasi komen komen walau gak nyambung, gegegegegege, biarlah..... :)

Sekarang waktunya kerja lagi, cari artikel lagi buat luna, keponaanku tercinta. Tapi kayaknya, kalau cuma cari artike aja, bakalan ngebosenin ne, buka mirc aja juga kali ya, sekalian chating, sapa tau ada yang nyantol, gegegegegege, ngarep.com dah jadinya aku......

Aku buka mirc, terus masuk ke chatroom Surabaya tercinta. Tapi kok gak ada nick yang menarik buat aku sapa ya, yah, payah! Aku  tinggalin dah mirc kebuka. Lanjutin cari artikel aja dulu dah,

Mulai tanya tanya lagi ma om google. Om google kasi aku daftar hasil terawangannya. Klik tautannya, gak cocok, klik lagi, baca lagi, sekilas, tapi kok kurang ngepas, tutup lagi, buka lagi, ubah kata kunci di mbah google lagi, klik lagi, buka lagi, tapi lagi lagi gak ngepas. Payah! Tambah boring aku ne

Tapi, gak berapa lama kemudian...,
Twing.... Twing....twing.... Icon mirc di task bar kedip kedip. Ada yang sapa aku ne. Coba liat dulu sapa yang sapa aku. Moga aja bukan iklan.

> halo....
Dia tulis di sana. Aku lihat nicknya. Aldila,
Ouh, untunglah bukan iklan. Nick namenya cakep juga, moga aja orangnya sebagus nicknamenya...

> halo juga...
Aku balas dia

> boleh gabungan?
Tanya dia

> boleh lah.., sapa ini???
Tanya aku...

> <-------- nama aku
Jawabnya

> Aldila?

> ya bener

> nak mana?
Tanyaku

> sby, kamu?

> sby juga, sby mana kamu?
Tanyaku

> aku di daerah itc, kamu di mana?

Aku nyengir, daerah itc? Lumayan lah, gak kejauhan....
> aku di rungkut, kamu kerja? Tau kuliah? Tau masih sekolah?

> aku dah kerja kok,

> oh, kerja di mana?

> di itc mas,
   boleh kan aku panggil kamu mas?

>boleh lah, hehehehehehe....
  emang kamu umur berapa?
Tanya aku. Enak juga anak ini diajak ngobrol, pikirku

> udah tua aku...

> tua? Tuanya umur berapa?

> 26, hahahahhahahahhah,
   kamu sendiri?

> halah, masih tua aku non, aku dah 27 sekarang
Jawabku, wah masih muda ne tenyata. Semoga aja bisa nyantol ma aku. Gegegegegege

> hahahahhaha7x
   mas bisa bisa aja, segitu

> kamu juga ada ada saja, masak baru 26 bilang tua

> kalau di desa aku mungkin dah beranak lima mas...

> wahahahhahahhahahah....
   kalau di desa kamu bisa jadi kebang desa non....
   :))
   jadi kamu masih singgle?


Chating aku terus berlanjut sama dia, semakin lama semakin menyenangkan aja ngobrol sama dia. Orangya terbuka untuk hal hal yang memang wajar untuk di bicarakan. Tapi dia gak mau terlalu membuka hal hal yang gak pantas di bicarakan. Termasuk dia tidak bersedia untuk berbicara hal hal yang fulgar. Cewek seperti ini tergolong langka di dunia per-chating-an. Biasanya cewek cewek yang ada di sini cuma cewek cewek yang mencari sensasi aja. Cewek cewek yang cuma pengen exiz aja dan gak mau di bilang ketinggalan jaman. Juga bukan rahasia, kalau di sini, banyak cewek yang chating dengan tujuan materi. Hem...., bukan cewek aja kayaknya, cowok yang chating untuk cuma having fun, yang mau cari kesenangan semata, yang maunya cari dunia, cari biaya kuliah, semuanya ada. Nah, kalau aku ini, aku  termasuk yang tipe apa ya dalam dunia per-chating-an? Kalau ada tipe gak jelas, mungkin aku bisa masuk di dalamnya. Hehehehehehehehehe, tapi biarlah.... Yang penting aku gak terlalu boring sekarang,

Hape aku berdering, ada sms masuk. Sms dari luna, keponakannku tercinta. Hoh...,!! Astaga, kok bisa sampe lupa aku ya kalau aku di warnet buat bantuin keponaan aku cari artikel. Waktunya serius ne. Chatinggnya di tutup aja dulu. Lanjutin cari artikelnya. Tapi sebelum cabut, sayang rasanya lau perkenalan aku sama cewek ini berakhir di sini aja.

> Dila
Sapaku

> ya mas,

> aku harus out ne, boleh minta alamat pesbuk kamu, kalau ada ym lah juga gak apa...
   hehehehehhehehehhehehe......

> hoho,
   alamat pesbuk aku Aldila ***** (sensor)
   ym aku ***** Aldila @ yahoo.com
   kamu...????

Aku kasi alamat pesbuk sama ym aku, kasi nomer hape aku juga walau dia gak minta. Kali aja dia mau iseng iseng sms aku, sukur sukur kalau dia mau telepon aku. Hah....., ngarep.com lagi ne aku jadinya. Aku bilang terimakasih dan nutup akun mirc aku.

Setengah jam setelahnya, akhirnya aku dapet dua artikel yang setidaknya cukup pas buat tugas luna. Aku tutup semua jendela browser yang aku buka. Terakhir, tinggal halaman pesbuk aku. Aku liat liat sebentar di halaman pesbuk aku. Ada dua pemberitahuan baru, ada satu pesan baru dan satu permintaan pertemanan baru.

Dua pemberitahuan tentang komen temen temen aku. Satu permintaan pertemanan dari.....,

Oh,
Aku terlonjak gembira.....
Dari Aldila.....!!!!!

Tanpa pikir panjang aku buka konfirmasi dia. Buka halaman infonya, terus buka koleksi fotonya. Hem...., menarik juga garis wajah Aldila. Dia mungkin gak cukup cantik kalau di bandingin sama temen temen aku yang lain. Tapi ada aura teduh yang terpancar dari rona wajahnya. Wajah yang ceria sekaligus tegas. Wajah yang ......

Ah sudahlah, aku gak ingin menggambarkan dia. Yang aku ingin sekarang adalah mengatur strategi sebisa mungkin agar aku bisa ketemuan sama dia di dunia nyata. Kopdar istilahnya..... :p

Terakhir aku lihat pesan masuknya, aku sekali lagi terlonjak gembira. Dari Aldila juga ternyata!

"mas, makasih dah mau ngobrol ma Dila. Jarang ada orang di mirc yang kayak mas. Gak marah walau aku gak mau bicara hal hal yang tabu. Kadang kadang mereka itu cuma lelaki buaya darat yang cari kesenangan dari cewek cewek kesepian. Tapi mas bisa menghargai aku. Kalau mas mau konfirmasi permintaan pertemanan dari Dila, Dila ucapin makasih sama mas. Semoga jadi sahabat yang bisa saling mengerti ya mas....."

Entah kenapa hati aku berbunga bunga baca pesan masuk dari Aldila. Dari Dila! Begitu dia memanggil dirinya sendiri. Nama yang bagus. Semoga saja orangnya, tarutama hatinya, sebagus namanya, sehalus tutur katanya. 

***

Mulai saat itu komunikasi aku dan Aldila samakin intens. Mulanya hanya saling komentar status di pesbuk. Terus lanjut chating di e buddy dengan akun pesbuk masing masing. Komunikasi semakin menjadi saat dia konfirmasi aku di yahoo mesengernya. Sampai akhinya, hari itu, setelah tiga bulan lamanya sebuah sms masuk di hape aku,

>> halo lotus,
Ah, aku langsung tau dari siapa sms ini. Ini dari Aldila, aku tau. Di dunia ini hanya dia yang panggil aku lotus. Nama yang gak lazim mungkin buat cowok sekeren aku ( wagagagagagaga......). Tapi dia suka sekali panggil aku pake nama itu. Katanya, aku ini seindah bunga lotus, oh......

'Bunga lotus itu ada di tengah ke suburan mas, dia selalu memberikan warna di setiap pergantian waktu dengan warnanya yang pekat. Bagi Dila, mas sama seperti itu, seperti lotus dengan warna yang pekat. Lotus yang tumbuh di hati....

Mulai hari ini, bolehkah aku panggil mas, lotus?"

Aku tersentuh sekali waktu dia kirim dua paragraf pendek itu di pesan masuk pesbuk aku. Sudah lama sekali rasanya setelah semua berlalu bersama nina, kekasih kecilku itu memutuskan pergi. Dila seperti membawa kenangan dan perasaan bersama nina itu kembali buat aku. Kalau aku lotus, kaulah airnya dilla, kaulah kolamnya, bahkan kau danauku, tempat di mana lotus ini bisa tumbuh dengan subur.....

>> halo juga, Dila, akhirnya kamu sms aku juga ya, ada apa ne gerangan telaga sms si lotus....

Dua menit kemudian sms balasan dari Dila masuk,
>> lotus, mau gak nanti malam nemenin Dila
Douuugggg.......
Hatiku berdegup kencang sekali, lalu serasa berhenti saat membaca sms dari Dila. Mimpikah aku?

>> kamu gak lagi bercanda kan? Atau aku gak lagi mengigau kan?

>> hahahahhaha....,
    kenapa pula lotus? Biasa aja lagi .....
    beneren. Dila minta lotus nemenin Dila nanti malam, ke tempat souvenir ya, Dila mau beli kado buat ulang tahun temen   Dila.

Aku diam karena masih belum bisa sepenuhnya percaya apa yang terjadi. Beneran ne Dila ngajakin aku keluar nanti malam? Kayaknya aku masih belum siap untuk pertemuan ini. Selama ini, image Dila di hati aku begitu sempurna. Walau mungkin memang dia gak sesempurna gambarannya selama ini di hati aku. Atau mungkin memang aku yang berlebihan menilai dia selama ini. Tapi, sungguh aku belum siap untuk menemuinya. Belum ada persiapan sama sekali rasanya,

>> lotus kenapa gak bales sms aku?
     lotus gak mau ya nemenin aku nanti malam? Apa kamu lagi sibuk nanti malam?

Aku terkesiap. Aku timbang timbang lagi permintaan Dila, aku bimbang, ini adalah pertemuan pertama aku sama Dila. Dan bukankah selama ini aku sudah menaruh harapan besar padanya? Ini kesempatan berharga. Haruskah aku lewatkan begitu saja..., ah...., bagaimana ini....

>> ya dilla, aku bisa kok,
     Dila kan sahabat terbaik aku selama ini. (gegegegegegege), btw ketemuan di mana ne nanti malam?
Akhirnya kata kata itu yang aku ketik sebagai balasan sms aku. Ada rasa lega, tapi jantungku berdegup makin kencang,

Dan setelah sms balasan dari dia masuk, sisa hariku jadi sibuk banget. Sibuk beneran atau sekedar terasa sangat sibuk ya? Jadi banyak yang harus aku lakukan. Memang aku gak buka buka lemari baju buat cari cari baju yang cocok buat nanti malam. Tapi pikiran aku yang kerja, mesti pake apa? Pake kemeja atau kaos? Pake celana jeans atau celana kain biasa ya, pake sepatu atau pake sandal aja? Ah ruwet. Aku gak pernah gini sejak dua setengah tahun yang lalu, sejak nina pamit pergi dari kehidupan aku.... Apa nanti Dila gak kecewa kalau ketemu sama aku. Semoga aja aku gak grogi nanti malem. Tapi, huh...., suasananya kok jadi panas dingin kayak gini.

>> dil, nanti enaknya pake baju apa ya :)
Akhirnya aku kirim sms ke dia, satu jam sebelum adzan maghrib berkumandang. Koyol sekali rasanya. Tapi gak apalah, udah terlanjur di kirimin kok... :p

***

Satu minggu sudah berlalu sejak malam itu. Dan entah kenapa, malam ini aku kangen ma dia. Rasanya, kejadian itu sudah setahun berlalu. Sudah lama sekali.

Malam ini, aku buka lagi profil dia di pesbuk sekedar untuk menghilangkan rasa kangen saja. Aku buka buka album fotonya. Ada album foto yang diberi judul "aku dan sahabat2 aku". Ada foto kami di sana. Diantara banyak foto foto dia berama temen temennya yang gak aku kenal. Aku cuma kenal beberapa saja. Itupun baru satu kali bertemu. Tepatnya, di pesta ulang tahun temannya itu. Karena memang, malam itu, Dila juga meminta aku untuk menemaninya ke pesta ulang tahun temannya esok malamnya.

Sudah kelar semua aku buka foto fotonya. Jam sudah lewat tengah malam sekarang. Sebelum di tutup, aku cek dulu dah halaman pesbuk aku. Dan kembali, sebuah kejutan!, Dila ulang tahun!!

Dan akibatnya,  beginilah jadinya. Malam aku gak bisa memejamkan mata sampai lama sekali. Malam panjang sekali rasanya. Dan pikiranku gak mau bersatu sama badanku. Dia berkelana. Jauh kesana, ke tempat di mana kira kira Aldila sedang memjamkan matanya. Terbesit dalam bayanganku bagaimana kiranya mata dengan bingkai wajah yang menawan itu tertutup dengan lembut. Bagaimana kedamaian datang dan bersemayam dalam pahatan wajahnya yang teduh.
Aku membayangkan, memikirkan malam ini apa yang kiranya aku jebak dalam kotak kadoku untuknya besok pagi, sehingga aku bisa melihat senyuman paling menawan dalam wajah itu esok pagi.

Aldila, sungguh, kamu sudah merusak tidurku malam ini. Besok, akan aku pastikan kamu membayarnya dengan memberiku senyuman terindah, dan sebuah jawaban mantab dari lembutnya jiwamu bahwa kamu…..,

Mencintaiku…….

***

Maka, disinilah aku sore ini. Pukul 15.17 menit tepat  ketika aku duduk si sini untuk menunggunya. Aldila pulang sore ini pukul 16.00, masih sekitar 43 menit lagi memang. Tapi untuk urusan yang satu ini aku benar benar gak pengen telat. Aku harus memastikan bahwa keadaan akan berjalan dengan baik baik saja. Aku harus memastikan tempat yang aku booking ini adalah tempat yang paling stategis untuk menyambutnya begitu dia keluar dari toko kontak lens itu. Ada segelas teh telor dan roti panggang khas bandungyang nemenin aku,

Aldila, hem….
Baru kali ini aku merasakan besarnya getaran hati ini  lagi setelah sekian lama aku memutuskan untuk meninggalkan tambatan hatiku yang dulu. Dia, punya hampir semua yang aku inginkan dari seorang wanita. Kecuali satu, Aldila tidak berkerudung. Tapi itu bukan masalah yang serius. Kalau aku bisa membimbignnya dan memberinya pengertian yang baik, aku yakin dia akan bisa aku arahkan untuk bukan hanya sekedar menjilbabi rambutnya, tapi juga menghijapi hatinya. Ya allah, aku mohon bimbinganmu untuk yang satu ini. Bila seandainya aldilla adalah jodohku, maka mudahkanlah kami, bila memang Aldila bukan jodohu, maka jodohkanlah ya allah. Gagagagagagaa, gak gak, bukan begitu maksudku ya tuhan, kalau memang dia bukan jodohku, makan segeralah beri aku alasan untuk meninggalkannya, dan menjadikan dia sebatas teman baikku. Tapi tolong, jangan putuskan tali silaturahmi kami…..

Aku tersentak ketika ada tepukan di punggung aku. Secara reflek aku menoleh kearah tepukan itu. Seorang pria muda yang tampak bersahaja berdiri di dekat punggung kananku. Aku tersenyum, cukup jadi kejutan sebenarnya buat aku bertemu dengan dia di sini. Nando namanya, teman baikku dulu, teman berbagi segalanya dalam masa masa sulit sebagai anak kos,

“wah kamu do, jadi kejutan kita bisa ketemu di sini, gimana kabar ne…..”

Nando tersenyum, dia duduk di kursi tepat di seberangku. “aku baik, lihat…..”

Dia masih begitu, setidaknya begitu kesan pertamaku setelah salam perpisahan terakhir kami tiga tahun yang lalu. Dia tetap bersahaja, dia tetap saja sebagai Nando yang beda di luar, beda di dalamnya. Di luar dia tampak sebagai manusia biasa saja, tapi jauh di dasar otaknya, di relung dalam otaknya yang tidak pernah bisa diselami orang lain, dia menyimpan kecerdasan yang luar biasa. Nando masih sama seperti dulu. Masih Nando yang diam seperti padi yang menyimpan sejuta misteri dengan pemikiran yang berkelebat setiap detik di kepalanya. Nando masih sama seperti Nando yang dulu, yang setiap ucapan dari mulutnya, seperti serangakaian kata kata yang sudah terprogram dan terpikirkan ratusan tahun lamanya. Tapi, tidak ada sama kali kesan sok tau dan sok menggurui dalam bahasa tubuhnya. Nando, seperti baskom ilmu dan kesahajaan alami yang sengaja sudah disiapkan oleh alam untuk hidup di tengah carut marutnya pola pemikiran orang jaman sekarang. Dia, mungkin sudah disiapkan untuk hadir memukau secara alami untuk menunjukkan kepada orang di sekitarnya, bahwa masih ada orang yang bisa benar benar diharapkan. Dan jaDilah, empat puluh satu menit kemudian, Nando jadi orang yang menemani aku menanti pukul 16.00. Seperti dulu, dialah orang yang selama empat tahun menemani aku  menunggu saat saat wisuda.

16.01,
Hatiku berkebit, inilah waktu yang seharusnya Aldila keluar dari pintu itu. Aku mulai gelisah, tapi berusaha menyembunyikannya dari Nando.

16.05,
Ada rasa menyumbat diperut bagian bawahku. Serasa ada dorongan kuat untuk apel ke toilet. Tapi aku tau, ini sebenarnya adalah efek dari gelisahku, dari nervous yang aku rasakan.

16.30
Aldila belum juga tampak tanda tanda akan menampakkan dirinya. Rasanya aku pengen berhambur ke arah pintu itu. Mengintipnya di sana, masihkan dia di sana? Atau adakah pintu lain yang bisa mengantarkannya ke arah lain utuk keluar dari gedung ini?

16.32
Pintu terdorong, Aldila melangkah keluar, berhenti sejenak di ambang pintu, lalu menoleh ke arah arah tertentu seperti sedang mencari seseorang atau sesuatu yang dia nantikan. Jantungku serasa melesat keluar saat itu. Aldila tampak begitu anggun saat dia melangkah dengan senyumannya yang merekah ke tempat aku duduk. Aku tidak bisa mendengar lagi apa yang dikatakan Nando. Semua suara Nando seperti sebuah seuara flash back dari masa lalu. Tapi bukan Nando namanya kalau dia tidak tanggap  keadaan. Nando ikut menoleh kearah belakangnya. Kearah mana pandangan nistaku tertuju.

“lotus?.... Kamu di sini, wah surprise banget ini jadinya…..”

Aku tersenyum, ada kata yang ingin terlontar. Tapi kenapa hanya deraman kecil yang muncul dari tenggorokanku. Aku hanya bisa tersenyum. Aku ingin memberinya senyuman terhangat yang aku punya. Tapi aku yakin, yang muncul hanyalah senyum kecil penuh kegetiran….

Aldila berhenti, anggun berdiri tepat di kanan Nando. Lalu secara ringan, dia menempelkan tubuhnya di sisi Nando. Senyumnya, tatapan matanya, begitu hangat saat tatapan mata mereka bertemu. Aldila melingkarkan tangannya di pundak Nando.

Tiba tiba saja seluruh jiwaku serasa terenggut. Tiba tiba saja, setelah sekian lama aku memandang apa yang Dilakukan Nando selalu adalah hal paling logis di dunia, yang selalu bisa dijelaskan dengan alasan yang kuat, sekarang, untuk pertama kalinya aku tidak menemukan semua itu. Jiwaku memberontak. Otakkku perih, ada rongga yang tak tejelaskan di sana. Di lubuknya yang terdalam,

“lotus, sebenarnya ada kejutan yang ingin aku ceritakan sama kamu selama ini. Kayaknya saat inilah yang paling tepat,…..” Aldila tersenyum padaku.

***

Pukul 00.34 ketika aku tersadar bahwa malam ini akan jadi malam yang panjang lagi dalam hidupku. Malam ini, mungkin untuk pertama kalinya aku tidak bisa menerima kenyataan dari apa yang aku yakini selama ini. Aku dulu yakin, semua akan berakhir dengan baik bila awalnya di mulai dengan sesuatu yang baik. Dulu aku yakin, Nando adalah orang terlogis di dunia, yang bisa di mengerti dengan segala hukum sebab akibat. Dulu aku yakin, bahwa keyakinanku adalah ……

Tapi malam ini semua menyentakku. Malam ini aku tersadar dari mimpi indah selama tiga bulan ini. Mimpi untuk mepersunting Aldila. Malam ini, Aldila telah berubah dalam pikiranku. Malam ini, Aldila sudah mampu mengubahku, menyadarkanku. Aku ini siapa yang berani mengharapkan Aldila yang nyaris sempurna. Malam ini, aku tersadar, kalau sebenarnya Aldila bagiku hanyalah putri kaca. Seperi pajangan di etalase panjang di mall mall mewah yang biasa aku pandang seraya berlalu. Atau terkadang aku hanya berhenti sebentar di depan kacanya, memandang sejenak ke arah benda mengagumkan di hadapanku, meneliti label harganya lalu berlalu sambil bergumam ‘kau terlalu mahal untukku’ dan menanggalkan impianku untuk memilikinya.

“lotus,…” kata Aldila sore tadi, pukul 16. 44 waktu itu, “ sebenarnya aku dari dulu pengen sharing sama kamu tentang tunanganku ini. Aku tau kalau kalau lotus sama mas Nando adalah sahabat erat. Lotus tentu tau banyak tentang mas Nando. Tapi, selalu gak ada waktu yang tepat untuk bicara banyak empat mata sama kamu, lotus……”

Lotus?
Masih pantaskah panggilan itu buat aku…….
READ MORE - Lotus
Ada kesalahan di dalam gadget ini