Kamis, 30 Desember 2010

solat maghrib yang membuat aku merinding

Beberapa hari yang lalu aku sedang dalam perjalanan bersama seorang teman menuju satu tempat di daerah mojokerto. Dalam perjalanan itu, temanku bercerita tentang pembangunan musola di daerah perumahannya. Pembangunan musola itu dilakukan secara swadaya oleh masyarakat di kompleks perumahan itu. Mereka menyumbang sejumlah uang atau bahan bangunan seiklas mereka. Yang fantastis, pembangunan musola itu menelan dana sampai 300 juta rupiah. Aku jadi berfikir, kok bisa semahal itu ya untuk pembangunan sebuah musola saja. Padahal harga satu rumah di perumahan itu hanya berkisar 150-250 juta saja. Aku jadi penasaran ingin berkunjung kemusolah yang ‘mahal’ itu. Bagaimana jike mereka ingin membangun sebuah masjid di kompleks perumahan itu? Bisa bisa bilangannya sampai milyar rupiah biayanya. Tapi melihat siapa yang tinggal di perumahan itu, pantas juga kiranya musolah semahal itu. Pada umumnya mereka adalah orang orang kelas menengah keatas.


Tapi hal yang sesungguhnya mencengangkan dan membuat aku merinding adalah ketika kami sedang solat maghrib di sebuah masjid sepulang dari mojokerto. Masjid itu terletak di daerah Sepanjang. Jalan yang sangat padat penduduk dan ramai dilalui berbagai kendaraan dari berbagai arah. Muadzin masih mengumandangkan adzan maghrib ketika aku dan temanku masuk ke dalam masjid setelah selesai berwuduk. Kebetulan juga ada beberapa orang rombongan musafir yang masuk ke dalam masjid bersama kami. Kami berdiri menunggu muadzin muda itu selesai mengumandangkan adzan. Setelah adzan selesai di kumandangkan, aku dan temanku melaksanakan solat sunnah dua rokaat. Sedangkan sang muadzin langsung keluar meninggalakan masjid.


Aku dan teman aku duduk di dalam masjid menunggu jamaah lain yang akan solat magrib berjamaah di sana sambil berdzikir sebisa kami. Tapi semakin lama kami merasa semakin aneh. Anehnya, tidak ada satu pun warga yang datang kemasjid itu untuk melaksanakan solat magrib berjamaah. Muadzin yang tadi juga tidak menampakkan batang hidungnya. Hampir setengah jam kami kebingungan di dalam masjid itu, karena bagimanapun semua yang ada dalam masjid itu adalah pendatang (bukan orang asli sekitar masjid). Sampai akhirnya salah satu dari rombongan itu, melaksanakan solat magrib dengan imam dari mereka dan makmum yang seluruhnya adalah wanita. Aku dan temanku otomatis tidak bisa ikut melaksanakan solat berjamaah besama mereka karena sang imam berdiri di saf nomer dua dari belakang, dan seluruh jamaahnya berdiri di saf paling belakang. Otomatis aku dan teman aku makin kebingung. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk solat berjamaah berdua.


Selama solat hatiku miris bercampur aduk. Merinding rasanya bulu kudukku memikirkan semua yang terjadi. Baru kali ini aku berdiri untuk solat magrib berjamaah di sebuah masjid dengan lebih dari satu kelompok solat berjamaah. Bolehkah ini? inikah tanda akhir jaman? Benarkah aku sedang berada di akhir jaman? Dimana tempat ibadah (masjid) dibangun dengan mewah dan mereka berbangga bangga dengan itu, sedangkan mereka tidak lagi menghidupkan suasananya dengan solat berjamaah. Padahal tempat itu, adalah tempat yang padat penduduknya dan ramai lalu lintasnya. Terlebih, aku masih percaya bahwa mereka tercatat sebagai penduduk yang bergama islam


Teman teman, sungguh bulu kudukku berdiri sampai saat ini kalau aku lagi ingat kejadian hari itu…..


Inikah akhir jaman itu….
READ MORE - solat maghrib yang membuat aku merinding

Rabu, 12 Mei 2010

Catatan Mata Seorang Fotografer



Jum'at, 26 Maret 2010 kemarin aku bersama tim fotografi bama studio sedang berada di salah satu hotel nomer satu di surabaya yang memiliki cabang hampir di seluruh kota besar. terus terang ini adalah pengalaman pertamaku memasuki hotel semegah ini, karena aku tergolong masih baru bertugas di area Surabaya. Entah berapa lantai gedung hotel ini menjulang. Tinggi dan megah sekali dengan keamanan yang super ketat. Mungkin hal ini untuk mencegah terjadinya kembali pengeboman tak bertanggungjawab seperti pada salah satu cabangnya di Jakarta beberapa waktu lalu. 

Acaranya adalah anniversary salah satu perusahaan produser obat obatan yang cukup memiliki reputasi. Di ulang tahun yang ke 45 ini, hadir para kolega mereka dari surabaya dan sekitarnya. Acaranya juga cukup menarik untuk disimak. Tak terasa, tim kami mampu menghasilkan sampai degan 400 lebih gambar di akhir acara. Dan tak disangka juga, di sinilah aku mendapatkan pengalaman fotografi yang sangat berharga. sebuah ilham dan pengalaman berharga.
Waktu tepat menunjukkan pukul 23:10 malam ketika kami berada di area parkir hotel. Sambil menungu temanku mengambil motornya, aku menyempatkan diri menikmati pemandangan hotel ini di malam hari dari pelataran parkir. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat rimbunnya tanaman di sebuah taman yang terletak di lantai atas hotel ini. Dari tempatku berdiri, taman itu terlihat begitu menakjubkan dengan tatanan tanaman dan lighting effect yang indah. Pemandangan malam ini, mengingatkan aku pada kebesaran taman bargantung Babilonia yang mahsyur sampai berabat abat lamanya. Bahkan sampai sekarang, rasanya, taman bergantung babilonia itu sulit dicari tandigan dalam hal kemahsyuran akan keindahannya. Aku menerka, bisa saja konsep taman di ketinggian hotel ini terinspirasi langsung dari taman bergantung babilonia, dari kejaaan, kemahsyuran, kebesaran dan keindahannya.
Sedetik kemudian, ketika kesadaran memeluk pikiranku kembali, perasaanku serasa terusik oleh sebuah rasa yang sanagat meyentuh. Aku merasakan saat itu, bahwa Allah sedang menunjukkan padaku kebesarannya lewat tanda tandanya. Kamera yang tersimpan rapi dalam tas cangklong yang kusematkan di pundakku ini sudah menjadi perantara datangnya kesadaran itu.
Aku sudah bergelut dengan dunia fotografi kurang lebih selama 4 tahun terakhir. Tapi baru kali ini aku menyadari, bahwa, bahkan tubuhku ini sudah dilengkapi dengan kamera alami dengan memori tanpa batas yang kita dapatkan serta merta begitu kita dilahirkan. Namun sadarkan kita akan hal ini? Sadarkah kita betapa nikmat yang satu ini bahkan sudah terlalu sering kita abaikan karena kita menganggapnya hal yang biasa saja?
Kamera kita itu adalah mata. Benda ciptaan Allah berupa kamera yang sempurna dengan otak sebagai pusat memori terbesarnya dan perasaan yang memberinya karya seni yang tak ada duanya. Mata kita melihat, dengan kesempurnaan melebihi kamera mutahir yang kupegang ini. Kamera ini mungkin saja mampu merekam apa yang aku lihat di malam ini dengan sempurna di tangan para ahlinya. Tapi bagi aku, yang masih dalam tahap belajar ini, aku belum bisa mengabadikan keindahan ini dalam sebuah jepretan kamera digital super modern ini seindah aslinya. Tapi mataku bisa! Bakan tanpa aku perlu belajar bagaimana menggunakan mataku ini untuk menatap keindahan sesempurna malam ini.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau seorang bayi yang baru lahir, seperti aku dulu, masih harus memperalajari cara untuk melihat. Aku butuh waktu satu tahun belajar untuk mengerti teori warna dalam fotografi, dan di tahun keempat ini, aku masih juga belajar bagaimana membidik dan mendapatkan posisi yang baik untuk menghasilkan sebuah foto yang enak dilihat. Tapi subhanallah, bahkan kita tidak perlu belajar bagaimana menggunakan mata ini untuk melihat. Kita tidak butuh banyak waktu untuk membuat otak kita ini bisa mengerti dan menyimpan memori hidup yang indah. Kita tak perlu bersusah payah mengasah perasaan kita untuk mengerti betapa indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa. Allah sudah memberikan mata secara gratis untuk kita berikut cara menggunkannya juga. Secara gratis, semuanya gratis….!
Hatiku berdesir malam itu. Banyak perasaan berkelebat begitu cepatnya. Aku bersyukur dan berterimakasih kepada Allah secara mendalam untuk nikmat yang tak terhingga ini. Untuk mata yang sangat berharga ini. Tapi pada saat yang bersamaan, hatiku teriris pedih ketika begitu banyak bayangan dosa yang melintas di kepalaku, bayangan dosa yang sudah kuperbuat dengan mata ini. Ya Allah, maafkanlah aku, dan bimbinglah aku, serta semua orang yang telah dan akan kamu ciptakan dengan mata yang indah seperti ini untuk selalu melangkah di jalanmu. Ya Allah, terimakasih untuk kesadaran yang telah Engkau ajarkan malam ini kepadaku. Dan sekali lagi Ya Allah, terimakasih untuk mata yang maha sempurna ini….
READ MORE - Catatan Mata Seorang Fotografer
Ada kesalahan di dalam gadget ini