Tampilkan postingan dengan label cerita mengharukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita mengharukan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 Februari 2011

Aku, Abangku, dan Jodohnya


Siang ini, aku memutuskan untuk mampir sebentar di rumah makan sederhana di depan kantor abangku sebelum aku menemuinya. Lelah rasanya terguncang guncang dalam angkutan umum sejak tadi. Perjalanan 6 jam Bondowoso-Surabaya bukan perjalanan yang cukup menyenangkan.

Macet, panas, bedesakan, laju kendaraan yang tidak stabil, lagu lagu yang bising dari pengamen jalanan yang jumlahnya tidak bisa dihitung dengan jari, ditambah pedangang asongan yang tak terhitung jumlahnya. Aku berfikir mengapa angkutan umum di negeri ini sedemikian parahnya ya? Aku membayangkan seandainya saja aku punya kendaraan pribadi. Mungkin tidak seperti ini keadaannya. Mungkin aku bisa lebih tenang. Mungkin aku bisa lebih menghemat tenatidaku. Setidaknya, mungkin tidak perlu sebising itu.

Tapi segelas es degan yang menemani semangkok bakso panas di depanku sedikit membuatku bisa melupakan efek dari segala kebisingan itu. Sedikit menurunkan temperatur otakku. Membuatnya lebih bisa berfikir jernih. Sehingga nanti, aku bisa bertemu dengan abangku dengan keadaan yang lebih baik.

***

Ada dua wanita muda yang masuk ke dalam warung bakso sederhana ini saat teh di dalam gelasku tinggal separuh. Mulanya, cuwek aja aku dengan kehadiran mereka. Kenal juga tidak. Jadi aku tidak ambil pusing saja. Mereka juga pembeli di warung bakso ini bukan? Sama seperti aku dan orang orang lain yang penuh sesak di warung ini.

Tapi saat mereka mengambil tempat duduk tepat di depanku, kerena memang semua tempat duduk yang lain sudah penuh, mau tidak mau, aku harus jadi bagian dari pembicaran mereka. Setidaknya, aku harus jadi teman yang baik.

“ Panas bener ya siang ini” kata wanita muda yang pertama. Aku kira dia sekitar 24 tahun usianya. Dengan baju kerja warna biru tua dan lipstik yang natural. Dia cantik, juga manis. Dan aku suka melihat goresan wajahnya.

“ Namanya juga Surabaya. Kayak yang baru aja kamu di sini” kata wanita kedua. Yang ini berpakaian serba hitam dengan rambut hitam yang di sanggul kebagian atas kepalanya. Liptiknya merah membara, wajahnya tegas, mengingatkan aku pada istri-istri bawel yang matre. Ouh, semoga saja dia bukan jodohku. ( gagagagagagaga, tentu saja aku ngawur, ….. J )

Wanita pertama hanya mengulas senyum tipis mendengar jawaban teman sekantornya itu. Mungkin sudah terbiasa dia dengan karakternya. “ Ya mbak Ning. Tapi hari ini panas banget rasanya. Mungkin karena pekerjaanku yang numpuk kali ya…..” Timpalnya. Tapi wanita kedua, yang di panggil mbak Ning itu tampak tak begitu peduli, bahkan untuk menoleh dan memberi sedikit senyuman.

Sebentar kemudian, seorang pelayan datang membawa dua mangkok bakso porsi sedang segelas es teh, dan segelas es jeruk. Aku mencoba mengalihkan perhatianku ke layar telepon genggam di tangan kananku. Sebuah pesan aku kirim ke nomor abangku. Mengabarkan kalau aku sudah di warung didepan kantornya.

“ Mas,” kata wanita pertama ketika pelayan itu selesai meletakkan semua barang yang dia bawa keatas meja.

“ Ya..” Pelayan laki laki itu menjawab dengan santun.

“ Tolong, bungkus satu bakso porsi jumbo sama satu es teh di bungkus juga.”

“ Ya mbak.” Jawab pelayan itu “ Cuma itu saja?”

“ Ya mas, makasih ya. “

“ Sama sama mbak. “

Pelayan itu segera berlalu. Tapi belum juga dua langkah pelayan itu pergi, mbak Ning menoleh dengan ekspresi yang kaku kearah wanita  pertama. “ Buat siapa baksonya. Kok bungkus segala?”

Wanita pertama menyungging senyum, “ Buat mas Topek mbak, “ (hatiku berdegup mendengar nama itu di sebutkan, apa mungkin…..)

“ Topek?”

“ Tufik Rahmad Purnomo mbak, kasian dia” kali ini aku yang pasang telinga tetegak tegaknya. Itu nama abangku. Apakah…..

“ Ternyata benar ya yang di kantor selama ini. Kamu benar benar naksir dia kayaknya. Tidak salah ?” tanya mbak Ning. Tidak ada lembut di dalam tutur katanya. Buat telingakuku ini gatal saja rasanya.

Wanita pertama itu senyum saja mendengar komentar mbak Ning. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan tabiat teman sekarntornya itu. “ Biar sudah mbak Ning temen temen mau ngomong apa. Aku sudah dengar semuanya kok. “

“ Walah, Mala, Mala, jadi bener toh yang di omongin temen temen sekantor itu? Sayang kalau kamu memang bener bener jadian ma si Topek. Gitu kok orangnya kamu senengin.”

Aku hampir muntab mendengar kata kata orang yang di panggil mbak Ning ini. Busyet dah dia. Kok sampai segitunya sama abangku. Emang abangku seburuk apa di kantornya kok sampai di cap segitu jeleknya.

“ La kenapa toh mbak Ning, apa salah saya suka sama mas Topek?”

“ Topek itu lo orangnya kere,” timpal mbak Ning. Astaghfirullah, pengen tak jotos orang ini sama aku. Tapi aku masih penasaran, apa yang sebenarnya terjadi sama abangku di kantornya. Jadi aku putuskan untuk diam dulu. Dengarkan dulu.

“ Jangan bilang gitu mbak Ning, jangan pandang orang dari hartanya. “

“ Terus dari apanya? “

“ Dari hatinyalah mbak Ning, Topek orang yang baik. Dia beda sama yang lain. “

“ Halah, tak kasi tahu ya Mala. Sekarang ini, kalau cari calon suami itu yang ada duitnya. Mau makan apa kita kalau suami kita orang kere?”

“ Banyak duitnya tapi temperamennya jelek buat apa mbak Ning. Aku pengen orang yang bertanggung jawab saja kayak Topek itu. Dia itu loh selama ini kerja demi keluarganya. Dia itu kerjanya bagus. Kan kita semua sudah tahu kalau bulan ini dia di promosikan. “

“ Ya, aku tahu “ timpal mbak Ning.” Tapi dia itu lo tidak bisa ngatur uang. Masak tiap bulan uangnya abis terus. Sampe sampe di bela belain puasa segala buat ngirit. Emang kemana uangnya?”

“ Di kirim mbak Ning”

“ Dikirim?” wajah mbak Ning mengkerut kerut.

“ Ya, di kirim kerumahnya di Bondowoso. Buat ibu sama adeknya di sana. Bapaknya kan dah meninggal?”

“ Hah, beneran tah?” timpal mbak Ning dengan nada tidak percaya.

“ Bener mbak Ning. Aku tahu sendri kok. Bahkan pernah aku diminta tolong ma Topek buat transfer ke rekening adiknya di sana. Waktu itu, kalau tidak salah dia lupa bawa dompetnya waktu keluar sama aku. Padahal uangnya di butuhkan hari itu juga sama adiknya. Jadi aku tahu kira kira berapa yang dia kirim kerumahnya tiap bulan.”

“ Gitu tah? Banyak ya yang dia kirim ke rumahnya, sampai sampai dia tidak bisa beli celana sama kemeja baru. Perasaan tiap hari yang di pake itu itu saja.”

Mala tampak merenung. “ kasian dia mbak Ning. Pagi ini dia tidak sarapan. Katanya adiknya lagi butuh tambahan uang buat biaya kuliahnya di sana. Jadi dia harus lebih berhemat lagi. “ Mala menghela nafasnya. Jantungku berdegup kencang. Kali ini bukan karena amarah pada mbak Ning, tapi karena jengkel pada diriku sendiri! Aku jengkel dan marah pada diriku sendiri. Perlahan muncul kesadaran dalam diriku. Betapa selama ini aku sudah menjadi benalu buat abangku sendiri.

“ Siang ini, katanya adiknya mau datang ke sini” Mala melanjutkan kalimatnya.

“ Kenapa? “ tanya mbak Ning. Kali ini dengan nada yang lebih lembut.

“ Kartu ATM adiknya keblokir. Kemarin dia salah masukin pin”

Aku menundukkan wajah dalam dalam. Gemuruh dalam hatiku bertambah besar. Aku tahu, pasti wajahku sudah memerah sekarang. Betapa cerobohnya aku! Betapa malunya aku….

“ Kalau gitu, kasian sama Topek ya. Kalau adiknya ke sini, berarti butuh pengeluaran lagi buat ongkos perjalanannya. Gitu ongkosnya masih Topek juga yang kasi?”

“ Gak tahu aku mbak Ning. Makanya aku beliin bakso buat dia. Kasian kalau siang ini dia tidak makan lagi.”

“ Di tambah lontong aja mal, biar lebih ada isinya.” Timpal mbak Ning tiba tiba. Sekarang hatiku luruh. Ada setetes air mata yang mengambang di pelupuk mataku. Aku merasa sangat, sangat tidak berguna sekarang. Sangat bodoh, egois…..! aku benci diriku sendiri….!!! Aku benci…..!!! mbak Ning yang tadi sebegitu bencinya sama abangku saja bisa langsung luluh mendengar kebenaran ini.

“ Ya mbak Ning. Nanti aku pesenin. Kalau di bantu secara materi dia pasti nolak. Kalau gini, mungkin bisa lebih membantu.”

“ Nanti Malam ajak dia makan Malam di rumahku Mal. Aku juga jadi tidak tega dengernya. Emang adeknya itu cowok apa cewek sih.”

“ Cowok mbak.”

“ Sudah kuliah dia ya? Udah besar berarti. Sudah bisa cari uang sendiri seharusnya. Biar Topek bisa lebih mengatur keuangannya. Tidak mau nabung apa dia itu? Kalau mau nikah kan butuh uang.” Kalimat mbak Ning itu terdengar pedas di telingaku. Tapi aku cuma bisa diam saja. Aku sudah runtuh….. aku sudah hancur rasanya…..

“ Dulu Mal, biar aku cewek gini, aku gak pernah minta orang tua buat biaya kuliah. Aku kerja Mal. Nyuci piring di rumah makan. Boro boro mau minta orang tua. La yang mau buat orang tuaku makan sendri saja sudah repot setengah mati carinya. Gimana juga mau nanggung kuliahku…., ini adiknya cowok. Seharusnya Topek bisa kasi dia penjelasan ke adiknya. Emang dia mau nikah umur berapa?”

“ Ya mbak, itu yang juga jadi pikiranku. Topek belum bisa nerima aku katanya karena dia belum siap nanggung hidupku. Dia masih punya tanggungan di rumahnya. Padahal aku sudah bilang sama dia kalau aku mau belajar hidup sederhana. Belajar menerima dia apa adanya.”

“ Orang tua kamu sudah setuju ma hubungan kalian?”

“ Orang tuaku sebenarnya suka ma mas Topek mbak. Mereka bilang jarang ada orang kayak mas Topek jaman ini. Tapi ya itu mbak, mas Topeknya tidak bisa lepas tanggung jawabnya sekarang ini. …….”

Aku bangkit dari tempat dudukku. Ada air mata yang menetes dari mataku. Tapi aku sudah tidak lagi perduli.” CUKUP…..!!!” kataku tegas. Walau aku tahu. Suaraku tidak keluar dengan sempurna.

Kedua wanita itu menganga kaget. “Aku adek mas Topek…….!!!! berhenti bicara tentang aku!!!” Aku berteriak di depan wajah mereka. Tapi sebelum aku bertindak jauh diluar kendali, sebuah tangan dengan cicin yang aku kenali menarik tubuhku menjauh dari sana. Tangan itu, tangan mas Topek.

***

Surabaya sudah kutinggalkan tiga jam yang lalu. Sekarang bus yang aku tumpangi sedang parkir di terminal Probolinggo.

Aku duduk sendiri di salah satu kursi penumpang. Otakku memutar kembali memori tiga setengah jam yang lalu, saat aku sempat bertengkar hebat dengan abangku tadi. Kami bertengkar hebat tepat di depan warung bakso itu.

Aku benar benar kehilangan kendali. Aku merasa aku sangat tidak lagi berguna. Aku merasa kalau aku ini sebernarnya cuma sampah yang bisanya cuma jadi beban orang lain. Aku begitu frustasi tadi. Sampai sampai berusaha menabrakkan diri pada kendaraan yang lewat. Tapi untunglah. Abangku, pria sejati itu bisa mencegahku.

Amarahku mereda ketika  ibu tua pemilik warung bakso itu menyeretku ke dalam ruang tamunya yang berada tepat di belakang warung baksonya. Ada mbak Mala sama mbak Ning juga disana yang bantu abangku menenangkanku.

“ Bang, maafkan adikmu ini ya, aku janji bang, ini adalah uang terakhir yang aku terima dari abang. Bulan depan, cukup abang kirim buat ibu saja. Aku akan berusaha sendiri bang, aku akan jadi seorang lelaki sejati seperti abang.

Bang, makasih sudah jadi inspirasi terbesar dalam hidupku. Terima kasih sudah mengubah aku jadi lebih baik, mbak Mala dan mbak Ning. Tanpa percakapan itu, mungkin aku sekarang tetap jadi seorang pecundang.

Terima kasih Tuhan untuk kejadian hari ini. Terima kasih sudah menegurku. Sekarang aku tahu, tak selamanya menangis itu tanda cengeng. Sekarang aku tahu, kalau menangis itu manusiawi………. Terima kasih untuk hari yang mampu mengubah hidupku ini. Terima kasih untuk segalanya……”



sumber gambar :
READ MORE - Aku, Abangku, dan Jodohnya

Minggu, 20 Februari 2011

Cicak di Dinding : Awal Kegagalanku


Aku adalah sang juara, tak ada yang meragukan itu! Di lintasan hitam di malam yang pekat seperti ini, dari tiga tahun yang lalu, akulah rajanya. Dan belum ada yang bisa membantah dengan bukti yang nyata akan hal ini. Tidak! Tentu saja, sampai seokor cicak di langit langit kamarku yang sedang menggoda pasangannya malam itu mengubah arah hidupku seratus delapan puluh derajat tepat. Dari sang raja, sang juara, menjadi pecundang yang meninggalkan arena perang untuk selamanya. Aku meninggalkan gelanggang ini hanya dengan satu kekalahan yang sangat sangat memalukan (sekaligus membanggakan).

Untuk kalian para sahabat mudaku, kutulis ini agar menjadi ilham buat kita semua. Kisah ini terjadi sembilan tahun lalu, ketika aku beru saja lepas dari bangku SMU.

***

“ Tidak ada kebut kebutan lagi malam ini!!!” ibuku berteriak tepat di mukaku malam itu. Ayah berkacak pinggang dua meter di belakang ibuku. Wajahnya yang mengeras, tak bisa aku lawan lagi.

“ Sekarang masuk ke dalam kamar. Tidur!” ultimatum itu masih terus berlanjut. “ Ibu akan mengunci kamar kamu sampai besok pagi. Dan ingat, kalau kamu gak mau juga berubah dari kebiasaanmu ini, setiap malam kamu akan tidur dengan kamar terkunci dari luar…!!!”

“ Bu, aku…..” aku mencoba membela diriku, tapi satu suara keras dari ibuku, menutup mulutku lagi sebelum aku sempat mengucapkan sepatah katapun juga.

“ Tidak ada pembelaan diri malam ini. Kita akan membicarakannya besok pagi, dengan kepala dingin….” Suara ibu masih saja meninggi. Tapi tak pernah aku sadari, bahwa itulah suara ibu yang terakhir aku dengar.

“ Tapi bu…..”

“ Arif…. !” itu suara ayah, pelan, datar, tapi penuh tenaga dan wibawa. Suara yang belum pernah aku bantah selama ini. Bukan karena aku takut pada ayahku. Tapi lebih dari itu, sikap ayah yang tegas dengan sedikit kata katalah yang membuat jiwaku tunduk setunduk tunduknya pada setiap perkataannya. Dan janjinya untuk memblokir seluruh fasilitas yang di berikannya tadi siang kalau aku gak bisa bersikap baik di depan mereka aku sadari betul bukanlah janji yang sekedar diucapkan saja. Ayah selalu melakukan apa yang beliau ucapkan.

“ Arif, masuk kamar kamu sekarang. Besok kita akan bicara hal ini setelah sarapan.” Kata ayah.

Aku menghela nafas berat. Tidak ada celah aku rasa untuk malam ini. Aku berusaha menurunkan egoku sambil berfikir keras bagaimana caranya aku bisa keluar malam ini tanpa harus ayah dan ibuku tahu. Aku dalah sang juara. Dan aku tidak akan terkalahkan oleh siapapun hanya dengan alasan bodoh seperti ini. Aku harus hadir  di sana. Harus!

***

Aku menghempaskan badan di kasur kingsize-ku begitu pintu di kunci dari luar. Otakku berputar putar memikirkan rencana apa dan bagaimana caranya aku bisa keluar dari kamar ini.

Hal pertama yang aku pikirkan adalah menghubungi teman temanku di luar sana. Setidaknya aku harus mengulur waktu agar aku bisa berfikir cara untuk bisa keluar.

“ Dua jam lagi, “ janjiku pada mereka. Dan sukurlah mereka setuju pertandingan malam ini diundur dua jam.

Tapi apa yang harus aku lakukan selama dua jam waktu yang tesisa ini. Aku berputar putar didalam kamar. Mencari setiap celah dan kemungkinan yang bisa aku lakukan untuk kabur. Jendela bukanlah jalan yang bisa diandalkan. Walaupun aku bisa membuka daun jendelanya, tapi aku tidak mungkin bisa untuk menjebol teralis besi yang terpasang kokoh di bagian dalamnya.

Sh***t……!!!

Aku mengumpat dalam perasaanku yang bercampur baur. Benci, gelisah, marah, dengan adrenalin jiwa mudaku yang terus membuncah. Tangan ini rasanya gatal untuk mencenkram pedal gas dalam dalam. Badan ini rasanya meriang tak karuan. Hanya angin malam yang dingin yang bisa membuat jiwaku tenang malam ini. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana…….

Aku terus berpikir, terus berputar putar. Melolong dan mengiba agar diizinkan keluar malam ini pada ayah dan ibuku sungguh adalah hal bodoh yang bisa aku lakukan. Tapi itu tidak mungkin. Mereka tidak akan bergeming dari keputusannya.

Telapak tanganku mulai mengeluarkan keringat dingin saat waktu menunjukkan pukul 23.16 menit, itu artinya, hanya ada 44 menit sebelum pertandingan dimulai. Ini adalah pertandingan penentuan bagiku. Seorang jagoan lapangan trek dari kota lawan datang malam  ini untuk menentukan aku atau dia yang benar benar pantas untuk menyandang gelar sang raja, sang juara!.

Kuhempaskan sekali lagi badanku ke atas ranjangku. Pukul 23.21 ketika itu, dan pikiranku makin buntu, makin mustahil rasanya aku bisa kabur. Kupejamkan mataku, tapi pikiranku tetap buntu. Tatap tidak ada jalam keluar. Jiwaku mendidih rasanya, badanku panas dan dingin secara bersamaan. Tak terasa, ada setetes air mata yang menggenangi sudut sudut mataku.

Hah…..!!!

Apa ini? Mana ada sang juara sepertiku menangis! Memalukan sekali. Perlahan kubuka mataku. Dengan napas yang berdengus, kucengkram sprai yang menutupi kasurku ini, ingin rasanya kulampiaskan seluruh kemarahanku malam ini.

Ck… ck… ck ck ck … ck…. Dua ekor cicak melinta di dinding tak jauh dari tempatku berbaring.

Buset, dua ekor cicak itu sepeti mengejekku. Mereka berlari lari riang berkejar kejaran di tembok kamarku. Tidakkah mereka tahu kalau aku lagi dalam keadaan kacau balau sepeti ini?

Kuraih penggaris besiku di meja belajarku. Plak..!! plak… !!! kuhajar mereka. Tapi keduanya lincah benar. Mereka bisa lolos dari setiap pukulanku. Plak…!! Plak…!!! Mereka terus berlari di sepanjang dinding berusaha meloloskan diri dari pukulan pukulan penggaris besiku.

Cicak cicak itu terus berlari keatas, dan…..

Twing…!!!

Mereka menghilang di balik lubang langit langit kamarku. Dan bersamaan dengan itu pula muncul ide cemerlangku. Mengapa aku melupakan lubang buatan di langit langit kamar itu. Bukankah aku bisa kabur dari sana?

Sedetik kemudian, seluruh kekesalanku tiba tiba sirna. Berganti harapan dan kegembiraan yang amat sangat. Terimakasih cicak cicak yang budiman. Suatu hari nanti, aku pasti membalas kebaikan kalian…..

***

Tepat tiga menit sebelum petandingan dimulai aku sudah tiba di arena. Wajah tengang teman teman satu geng motorku perlahan mengendur waktu mereka melihat kedatanganku. Tanpa banyak bicara, aku mempersiapkan diri di atas sepeda motorku. Sepeda motor ini sengaja aku titipkan di rumah salah satu temanku. Buat jaga jaga kalau kalau aku gak bisa bawa motor ini langsung dari rumah. Dan sukurlah, malam ini terbukti analisaku itu tepat.

Lawanku kali ini rupanya bukan orang sembarangan. Dari penampilan dan gaya bicaranya, aku bisa menebak orang ini kira kira berusia 5-6 tahun lebih tua dari aku. Kalau aku sekarang berusia dua puluh tahun, berarti dia berusia setidaknya 25 tahun.

Usia yang cukup matang untuk berdiri di arena trek malam ini. Cukup berpengalaman tentunya. Menyadari kenyataan seperti itu sempat membuatku merasa down beberapa saat. Tapi naluri mudaku berbicara lain. Naluri keegoanku terus menyiramkan racun adrenalin kedalam darahku. Membuat semangat yang sempat meredup itu timbul kembali.

“ Perlintasan malam ini panjangnya lima ratus meter” kata salah seorang diantara kami. “ Tidak boleh menyalaka lampu, tidak boleh menyenggol motor lawan. Ok, kalau sudah siap sekarang hitung mundur dimulai, 4……. 3 …….. 2 …….. 1……… GOOOOOOO……..!!!!”

Motorku dan motornya berderum keras. Sesaat kemudian, aku sudah berada di atas angin rasanya. Tuhuhku serasa terbang bersama laju motor yang aku kendarai ini. Ada perasaan senang, ada perasaan puas, ada jiwa yang serasa terpuaskan. Ada debaran di jantungku, ada adrenalin yang berpacu di aliaran darahku. Aku sangat, sangat menikmati saat saat seperti ini.

Lampu jalanan yang mati setelah ditimpuki teman temanku, lampu motor yang tidak menyala. Ditambah awan gelap yang menutupi gugusan bintang gemintang dan bulan semakin membuat suasana malam ini semakin sempurna. Kegelapan yang sempurna. Tidak pekat benar sebenarnya. Tapi cukup untuk membuat sensasi perlombaan malam ini tak terjabarkan.

Tapi malam ini, rupanya takdir berkata lain padaku.  Saat sedang melaju dengan kecepatan diatas angin, tepat beberapa meter setelah belokan pertama yang mengarah ke pusat industri di kota ini, tiba tiba sebuah raungan panjang di sertai cahaya yang membutakan mata menyambut kami. Aku mendengar pekikan, ada suara keras logam beradu di jalanan. Tapi aku cepat menyadari itu. Aku sadar ada sebuah truk proyek berukuran raksasa yang mejaju lambat di depan kami. Cepat cepat aku banting stir kearah kanan. Arah motorku tak lagi bisa di kendalikan, terus merengsek dengan laju yang sempoyongan. Aku masih sempat melihat pembatas jalan itu sebelum benturan keras antara pembatas jalan dan motorku terjadi. Tapi entah bagaimana tepatnya. Tiba tiba saja, aku sudah merasa tubuhku melayang bebas di udara tanpa beban. Dan sesaat kemudian, semuanya jadi gelap yang sempurna……

***

Hari ini adalah hari ke tujuh setelah kejadian di malam itu. Semua yang ada, yang bisa di ketahui dan diingat tiba tiba jadi begitu pahitnya. Bukan hanya kematian lawan balapan motor liarku yang membuat hatiku miris. Tapi lebih dari itu, dua hari yang lalu, ketika aku terbangun dari komaku selama lima hari, sebuah berita duka yang mendalam yang tak pernah aku kira menghujam telingaku. Ibuku meninggal! Ibuku meninggal akibat serangan jantung mendengar kecelakaan yang aku alami……

Tuhan, andaikan aku engkau perbolehkan untuk kembali ke malam itu, aku ingin meminta padamu : jangan pernah Engkau kirimkan dua ekor cicak itu padaku. Biarlah saja aku tidak menyadari keberadaan lubang di langit langit kamarku. Tuhan, hari ini aku menyadari, bahwa aku kalah, aku lemah, aku gagal. Aku gagal mengukuhkan diriku sebagai sang juara di arena balap liar. Aku gagal menjadi raja jalanan seperti impianku. Tapi di balik semua kegagalanku kali ini, ada hikmah besar yang bisa aku ambil. Tuhan, aku sedih, tapi terima kasih sudah memberiku gagalan dan kesedihan ini…….
READ MORE - Cicak di Dinding : Awal Kegagalanku

Senin, 24 Januari 2011

The smallest, the strongest, the conqueror

Malam itu, pertengahan Desember 2009 pukul 00.02 ketika aku memutuskan pulang dari rumah nenek. Bukan tanpa alasan sebenarnya aku nekad pulang jam segitu. Tapi sungguh, rumah nenek bukan tempat di mana aku bisa tidur dengan nyenyak. Udara dinginnya yang menusuk tulang itu yang membuat aku selalu terjaga sepanjang malam. Walaupun sudah merangkap selimut dan jaket, tapi rasa dingin itu tetap saja seolah olah merasuk dalam tulangku. Lagi pula tidak bebas rasanya kalau harus tidur dengan pakaian setebal ini. Maka itu, pulang mungkin adalah keputusan terbaik buat aku malam ini.

Untunglah ada temanku yang juga hendak pulang dari tempat kerjanya malam itu. Kebetulan juga dia biasanya melintas di depan rumah nenek sekitar tengah malam seperti ini. Jadi aku gak perlu buat pinjam sepeda motor paman untuk pulang, cukup membonceng aja di belakang temanku itu. Badannya yang lebih tinggi dan lebih besar dari aku, bisa jadi tameng buat sedikit menetralkan dinginnya udara malam ini. Ditambah jaket tebal yang aku pinjam dari paman, dan sepeda motor yang di pacu dalam kecepatan tinggi, malam ini jadi sebuah petualangan seru buat aku.

Sepanjang jalan, udara dingin, dan kabut yang turun menambah serunya perjalanan malam ini. Di kanan kiri jalan, jarang ada lampu penerang jalan. Yang ada cuma kegelapan sempurna yang seolah membutakan mata. Jarak antar sekumpulan rumah dan rumah yang lain juga sangat jauh. Dalam perjalanan dengan kecepatan tinggi seperti ini saja, butuh waktu sekitar 3-5 menit untuk menemukan sekumpulan rumah lagi setelah melewati sekumpulan rumah yang lain. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas di kiri kanan jalan malam itu. Di tambah lebar jalan yang memadai, jadilah malam ini kami seolah sedang dalam road race malam yang menantang dan mendebarkan. Naluri lelaki yang mana yang tidak akan tertantang dalam suasana seperti ini! Adrenalin seolah mengucur seperti darah yang terus mengalir dari jantungku yang berdegup kencang.

Motor yang kami tunggangi benar benar seperti kuda besi yang menderu mendesing memecah kesunyian malam. Seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Jalanan yang selalu berbelok belok, memaksa sesekali motor ini seperti hendak rebah ke tanah ketika kami melewati tikungan. Benar benar sebuah sensasi liar luar biasa yang seperti menyentak alam bawah sadarku untuk terus terjaga menikmati seluruh perjalanan ini. Benar benar seperti pertandingan road race yang dengan sensasi luar biasa. Dalam medan yang yang super ekstrim.

Tapi seluruh sensasi itu tiba tiba saja sirna ketika kami memasuki sebuah perkampungan penduduk. Tiba tiba saja temanku itu membelokkan motornya dengan sangat sangat mendadak. Tiba tiba saja malam yang tadinya sepi sunyi, dengan hanya suara motor inilah satu satunya yang mampu memecah kesunyian itu, jadi hingar bingar dengan puluhan orang tumpah ruah di jalan. Malam itu tiba tiba saja berwarna merah kelam. Malam itu, dinginnya entah bagaimana tiba tiba berubah jadi sangat panas, panas sekali. Malam itu, gelapnya tiba tiba sirna, tergantikan dengan dengan ribuan nyala api yang datang dalam jumlah besar!

Sebenarnya aku bingung dengan semua perubahan ini. Tapi ketika aku bisa meraih kesadaranku lagi, semua di sekitarku terlihat putih. Putih dan pucat. Dan ketika aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua menangis pilu…..

***

Subuh menjelang siang ketika aku duduk merenung di musolah kecil itu seorang diri. Dalam keremangan hari yang belum juga sempurna merekah ini, aku berusaha memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Flash back ingatanku, membuat aku meneskan air mata penuh penyesalan.

“tiga hari kamu gak sadarkan diri,” kata ibuku di sela sela tangisannya pagi itu. Ibu bercerita kalau malam itu aku di tolong penduduk desa yang aku lintasi ketika motor yang kami kendari tiba tiba oleng tanpa sebab. Mereka bercerita pada ibuku kalau kami beruda terseret setidaknya 20 meter lebih, sebelum sebuah pohon di pinggir jalan menghentikan laju motor kami.

“tapi kenapa?” tanyaku,

“seekor serangga kecil masuk di mata temanmu. Dia kehilangan matanya sekarang,” ibuku menangis sesenggukan. Aku tahu, dia bukan sekedar temanku, tapi dia sahabatku, sahabat dari masa kecil, dia tetangga kami, anak satu satunya dari keluarga sederhana itu.

Hatiku menangis pilu, air mataku menetes dan terus mengalir. Pilu rasanya seluruh jiwaku. Badanku seperti melayang entah kemana. Yang terbayang di pelupuk mataku, hanyalah raut wajah temanku yang sangat aku sayangi itu. Tapi hanya raut wajah penuh kesedihan, pucat dan pilu tanpa masa depan.

Aku berusaha beristighfar. Menenangkan pikiranku. Aku mengingat Tuhanku. Meminta dalam batinku dengan sangat untuk memberiku sebuah ketabahan, ketabahan buat kami semua. Ketabahan dan kebesaran hati buat temanku, buat keluarganya, buat ibuku, dan hati yang lapang untuk bisa menerima ini.

Tuhan seolah sedang berbicara pada kami semua dengan caranya sendiri. Dia seolah menegur kami dengan kesombongan kami selama ini. Dia seolah ingin berbicara pada kami kalau kami bukanlah mahluknya yang terkuat. Masih ada yang lain yang lebih kuat walaupun mereka di ciptakan tidak sesempurna kami. Serangga kecil yang masuk kedalam mata temanku itu adalah contohnya. Bagaimana dia yang gagah, tampan, dan sehat bisa berubah seketika hanya oleh serangga malam yang tidak pernah di perhitungkan di peradaban manapun itu.

Tuhan sudah berbicara pada kita bahkan lewat ciptaannya yang paling sederhana. Kita menyebut ciptaan tuhan yang setengah hidup itu ‘virus’. Mahluk yang hanya hidup dengan menumpang di kehidupan yang lain.

Tapi bisakah kita mengalahkan mahluk terkecil itu dengan ilmu yang kita miliki sekarang? Bahkan dengan tekhnologi tercanggih sekalipun, kita belum bisa benar benar terbebas dari HIV. Bahkan perlu diingat ketika kita membakar sesama kita hanya untuk menghilangkan virus ebola. Lalu di mana kekuatan dan kesombongan manusia kalau untuk mengalahkan ciptaanNYA saja tidak mampu. Lalu di manakah akal sehat kita ketika kita dengan beraninya menantang Sang Pemberi Kehidupan?

Hatiku kacau, air mataku berderai derai mengingat segala dosa yang sudah aku lakukan. Dalam sesenggukan yang mendalam, kuutarakan kenginginanku pada ibuku, “ bu, aku masih punya dua mata, bolehkah aku berbagi mata dengan dia kalau dokter bisa mengusahakannya? Aku ingin memberikan mata kananku buat dia, yang kiri, aku masih membutuhkannnya.”

Tak ada jawaban dari ibuku. Selain hanya pelukan dan raungannya yang semakin menjadi….

Hari ini, satu bulan setelah kejadian itu, aku beringsut meninggalkan musola kecil ini ketika matahari mulai beranjak meninggi. Aku siap menemui dokter ahli yang bisa memindahkan mata kananku, buat sahabatku yang baik…….


Hikmah :
  1. Kesombongan itu hanya milik Tuhan, sama sekali tidak alasan bagi kita untuk menyombongkan diri, kalau untuk mengalahkan makhluk serendah virus aja gak bisa, bagaimana kita bisa menyombongkan diri?
  2. Persahabatan itu bukan cuma di kala senang saja. Penderitaan akan jadi ujian bagi ketulusan sebuah persahabatan.
  3. Relalah berkorban, untuk siapapun, selama itu berkorban untuk kebaikan….

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.

READ MORE - The smallest, the strongest, the conqueror

Selasa, 11 Januari 2011

Ibuku dan sepotong terong

Sepotong terong di atas nasiku siang ini serasa sulit sekali aku telan. Padahal, aku ini penggemar berat terong lo. Jangankan menelan, mau menyentuhnya saja rasanya aku gak sanggup. Tenggorokanku rasanya tersumbat seonggok spon kering yang menyerap seluaruh air liurku. Kering banget rasanya seluruh mulut sampai tenggorokanku. Dan efeknya, rasa laparku, rasa sakitku, dan semangatku untuk sembuh langsung memudar. Menghilang malah……

***

Ceritanya, hari ini aku lagi sakit. Dari tadi pagi aku mendekam saja di dalam kamar kosan aku ini. Sampai kira kira jam ibu kos yang baik hati itu masuk ke kamarku,

“kamu sakit di? “ tanyanya di ambang pintu kamarku.
“ya bu, saya sakit, “
“jadi gak kerja hari ini?”
“gak kerja bu, tadi saya sudah telepon ke kantor,…..”
“sudah minum obat?”
Aku ragu untuk menjawab pertanyaan ini. Ragu karena aku tau, ibu kos aku ini orangnya baik banget, dan sangat perhatian sama anak anak kosnya.
“sudah minum obat belum…..” tanya ibu kos lagi.
“belum bu,” jawabku.
“sudah makan?”
“belum…..” jawabku lagi  “ nanti saya mau minta tolong anton saja beli nasi sama obat…”
“oh, ya sudah kalau begitu, ibu tinggal masak dulu ya…., kamu gak apa kan ibu tinggal?”
Aku mengangguk. Ada perasaan seneng banget rasanya dapet perhatian seperti itu saat aku sakit. Setelah ibu kos pergi. Aku melanjutkan tidurku yang tertunda.

***

Siang harinya aku terbangun pukul 12.36. ada anton di di ranjangnya. Rupanya dia baru pulang dari kerjanya di stasiun radio.

“napa kamu, “ tanyanya. “ kata ibu kos kamu sakit ya?” aku nyengir kuda mendengarnya. “ aku gak pulang semalem aja kamu dah sakit, gimana kalau aku tinggal dua hari…. Gagagagagagaga…..” anton tertawa terbahak bahak. Anton memang begitu orangnya. Selalu saja ceria dan bisa membawa suasana menjadi menyenangkan. Maka itu, aku betah satu kamar kos sama dia.

“Tuh di meja ada nasi, sama ikan laut, sama….., sama terong penyet…..”
Mendengar kata terong penyet, aku langsung bernafsu untuk makan. Bagiamanapun, diolah seperti apapun, terong tetap jadi sayuran idolaku. Aku berusaha bangkit dari tidurku. Anton mendekat dan memberikan sepiring nasi yang dia bilang tadi. Gak lupa juga dia mendekatkan segelas air putih dan sebungkus obat ke arahku.

“Dari sapa sih ini?” tanyaku.
“ibu kos,” jawab anton pendek.

Tiba tiba ada keharuan menyerbak di dadaku. Terharu aku punya ibu kos sebaik dia. Perhatian banget walau kita bukan anaknya.

“eh ton,” panggilku saat aku lihat anton bergeges pergi kelaur kamar.
“mau kemana kamu…” tanyaku,
“mau ke toilet. Napa?
“ bilangin ya sama ibu kos. Makasih dah repot repot buat aku. Jadi terharu aku….”

Tapi anton malah mengurungkan langkahnya keluar kamar. Dia menghampiri aku. Dan sungguh, kata kata yang diucapkan, diluar dugaanku.

“aku Cuma mau ngomong ya, terserah kamu mau nanggepinnya gimana. Tapi coba kamu pikirkan. Kamu di kasi perhatian sama ibu kos, di masakin makanan kesukaanmu waktu sakit, di kasi obat, kamu dah sebegitu berterimakasihnya. Sampe sampe kamu terharu sagala. Tapi coba kamu ingat. Sudah berapa kali ibu kamu melakukan ini buat kamu. Berapa kali kamu sakit selama sama ibu kamu. Dan coba ingat, lebih besar mana perhatian yang kamu dapet, dari ibumu apa dari ibu kos? Dari ibu kos mungkin Cuma sewaktu waktu, tapi sadar gak kalau ibu kita sudah memperhatikan kita sepenjang hidup kita?

Yang jadi pertanyaan sebenarnya adalah, sudahkah kamu berterimakasih yang sesungguhnya sama ibu kamu……””

Dadaku berdesir, tenggorokanku terasa kering mendadak. Lalu tak terasa, ada setetes air mata kerinduan menetes tak terbendung melewati pipiku.

“ibu…., maafkan anakmu ini......aku kangen ibu…..”



READ MORE - Ibuku dan sepotong terong