Tampilkan postingan dengan label negeri 5 menara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label negeri 5 menara. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 Juli 2012

RJK 2012 07 01, Minggu : Sohibul Menara, Gie dan Segumpal Komitmen


Salmon




Hari ini aku baru saja selesai membaca novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Tapi buku Soe hok Gie : Catatan Seorang Demonstran yang lebih dulu mulai aku baca belum juga kelar. Ada satu daya hipnotis yang kuat yang bisa membuatku betah untuk menyelesaikan novel Negeri 5 Menara ini. Entahlah. Yang sudah pernah membacanya pasti tahu bagaimana rasanya terhipnotis oleh buku ini. Bahasanya yang mengalir, diksinya yang tepat, penjabarannya yang indah dan aliran semangatnya yang luar biasa itu, seolah mampu untuk membuatku menatapnya sampai di titik paling akhir.


Banyak buku dan karya yang ditulis dengan kalimat-kalimat yang luar biasa. Kalimat-kalimat yang kadang untuk memahaminya, kita harus membacanya berlulang kali. Menelaah lagi dan lagi. Kadang, bahkan kita harus membuka kamus yang tebal atau datang kepada om Google untuk mencari referensinya. Menurutku itu baik. Membuat kita jadi mau belajar dan mau berfikir lebih dalam. Tapi sejak aku membaca novel Negeri 5 Menara ini, aku malah semakin yakin akan pilihanku untuk menulis segala sesuatu dengan bahasa yang lebih ‘mudah’. Bahasa yang terlihat santai, mudah di cerna dan dengan kalimat kalimat yang sederhana. 

Menurutku bahasa bahasa seperti ini justru lebih bisa dinikmati oleh siapa saja. Mampu memberikan pengertian yang lebih mendalam kepada siapa saja. Seperti Negeri 5 Menara, atau novel novel karya Andrea Hirata, tak bisa dipungkiri kalau peminat dan pembacanya datang dari semua golongan. Dari mereka yang masih belia sekali, sampai ibu rumah tangga yang sibuk dengan urusan keluarganya seharian penuh. Aku kira tulisan jenis ini juga aku kira cocok buat mereka yang lelah seharian bekerja di kantor dan butuh sesuatu yang bisa menyegarkan pikiran mereka sembari pulang kantor dan menghadapi kemacetan di jalan. Aku ingin membacanya sekali lagi. Tapi Ranah 3 Warna, buku kedua dari trilogi menara sudah di tanganku dan sudah mengetuk ngetuk dinding nafsu membacaku untuk segera membuka halaman demi halamannya.

Lalu kapan giliran Gie untuk kusimak bagian akhirnya? Sekali lagi, entahlah. Mungkin setelah ini, atau mungkin setelah aku puas membaca Ranah 3 Warna sampai tamat. Ada satu perasaan yang janggal saat aku membaca bagian akhir dari catatan Gie. Rasanya aku tak ingin berhenti untuk terus membaca dan mengikuti rekam jejak hidupnya. Rasanya aku tidak pernah akan rela kalau catatan itu sampai pada akhir. Aku ingin catatan kehidupannya itu tidak pernah akan berakhir. Maka itu aku tidak ingin untuk menuntaskannya, karena membaca bagian akhir dan menutup sampul akhirnya, berarti aku sudah sampai pada bagian akhir dari perjalanan hidupnya. Dan setelah itu aku harus tahu kalau dia sudah mati. Sesuatu yang sampai saat ini belum bisa aku terima.

Orang seperti dia itu, adalah orang yang seperti disampaikan oleh khotib solat Jum’at kemarin. “Ada sebagian orang yang tetap hidup, padahal alangkah lebih baiknya kalau mereka mati. Tapi juga ada sebagian dari orang yang sudah mati, padahal seharusnya mereka itu masih ada ditengah tengah kita untuk menebarkan kebaikan”. Seperti cerpen Fase yang kutulis. Orang seperti Gie, walau dia bukan seorang muslim, adalah seekor kupu kupu dalam imajiku. Dia adalah salmon yang berani menentang arus sungai untuk satu tujuan mulia. Itulah sosok Gie di mataku. Besar dan akan tetap saja harum sampai kapanpun. Dia bukan hanya orang yang besar secara pemikiran, tapi juga orang yang besar karena dia berani bertindak.  Memperjuangkan apa yang menjadi keyakinan dalam hidupnya.

Satu pertanyaanku, apakah saat ini ada orang semacam dia yang masih hidup? Aku ingin tahu. Tapi lebih jauh lagi, aku ingin tahu, apa aku bisa menjadi orang yang, minimal, seperti dia. 

Ah, sudahlah. Aku tidak ingin larut dalam pengandaian andaian. Karena berandai andai itu datangnya dari setan yang ingin melenakan dan menjauhkan kita dari tujuan kita semula. Aku ingin mulai saat ini aku bisa berbuat lebih dari yang dilakukan oleh orang lain di sekitarku. Seperti nasihat Said kepada Sohibul Menara. Berbuat sedikit lebih banyak itu sepertinya tidak sulit. Aku hanya butuh untuk lebih disiplin lagi seperti apa yang ibuku ajarkan padaku sejak kecil. Menjadwalkan semuanya dan mematuhi jadwal yang aku buat itu. Tidak perlu jadwal secara tertulis. Hanya sebuah komitmen yang kuat yang aku butuhkan untuk itu.

“Novelmu kapan selesai? Pastikan aku jadi pembeli pertamanya.” Kata kata dari seorang teman itu terus terngiang di telingaku. Aku sudah mulai menuliskannya memang, tapi tanpa komitmen yang kuat dan kedisiplinan yang terus terjaga, kapan pertanyaan itu akan berhenti di pertanyakan kepadaku?

Dari dulu aku sudah yakin memang, kalau kesuksesan itu dapat diraih hanya dengan dua langkah mudah. Memulai dan berkomitmen sampai akhir. Tapi inilah yang sulit aku lakukan. Aku ingin melakukan apa yang dinasihatkan Kyai saat Alif di tahun pertamanya di PM. “Kalau kalian akan menyerah pada bulan pertama, cobalah bertahan sampai bulan kedua. Kalau kalian bosan pada tahun pertama, cobalah bertahan sampai tahun kedua. Kalau kalian ingin pulang di tahun ketiga, cobalah untuk bertahan sampai tahun keempat.” Kurang lebih begitu bunyinya. Sebuah percobaan yang sempurna istilahnya. Sebuah komitmen yang terus harus diperjuangkan. Semoga aku bisa.

Bang A. Fuadi, terimakasih sudah mau berbagi dengan kami tentang semangat Man Jadda Wa Jadda ini. Aku ingin tahu apa yang dia simpan untuk dibagikan di Ranah 3 Warna. Mari mulai membaca.

READ MORE - RJK 2012 07 01, Minggu : Sohibul Menara, Gie dan Segumpal Komitmen

Jumat, 08 Juni 2012

RJK 2012 06 08, Jum'at : Berburu Gie

Halo walkers,






Sejak semalam sampai hari ini aku melanjutkan membaca buku Catatan Seorang Demonstran, membaca jejak kehidupan seorang Soe Hok Gie. Pada masa sekitar tahun 1962, saat dia berumur 20 tahun, dia sudah menjadi orang yang berbeda dari pemuda pemuda sebayanya. Di usia segitu, pemikirannya sangat berbeda dengan teman teman di sekitarnya. Dalam usianya yang masih sangat muda itu, dia sudah menunjukkan kegigighannya dalam mempertahankan pendapatnya. Mungkin, bila Gie hidup pada tahun tahun belakangan ini, dia berhak bergelar anak indigo (sebuah fenomena pseudoscience yang begitu ambigu) dan membuat orang tuanya bangga akan sebutan itu.


Pada bagian bagian ini aku juga sempat bertanya tanya, apa sebenarnya rahasia Tuhan sehingga memanggil sosok seperti Gie dalam usia yang masih sangat muda, 27 tahun. Apakah Tuhan beranggapan ini adalah cara dan jalan yang terbaik? Mungkin yang terbaik bukan cuma buat Gie secara pribadi saja, tapi untuk seluruh bangsa ini. Mungkin Tuhan tidak ingin suatu saat akan ada hambanya yang menghujatnya karena membiarkan Gie hidup lama. Maka itu juga mungkin, Tuhan telah mengizinkan catatan harian Gie untuk dibaca begitu banyak orang, begitu di cari cari, hanya untuk memberikan alasan kepada kita mengapa Tuhan memanggilnya cepat cepat. Dia, seorang yang terlalu berpotensi untuk menumbuhkan pro dan kontra, tapi mungkin, sekali lagi mungkin bukan pemberi solusi yang baik. Semua tentang Gie sampai detik ini adalah kemungkinan dalam otakku. Bukan hanya satu kemungkinan, tapi begitu banyak kemungkinan.

Sebenarnya buku yang ada padaku saat ini adalah milik seorang teman yang merelakan aku bawa bukunya ke kontrakan. Begitu inginnya aku untuk memiliki buku ini  sampai sampai tadi siang aku keluyuran di Kampung Ilmu jalan Semarang untuk memburu buku ini. Tapi hasilnya nihil. Jawaban paling mendekati yang aku dapat dari pemilik lapak disana adalah “itu memang buku yang di cari cari mas, banyak yang cari, tapi stok kosong.” Oh ya sudahlah, aku berlalu dari sana tanpa mendapatkan buku yang aku inginkan. Sebagai gantinya, aku membawa pulang dua buku karya A. Fuadi : Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna. Lumayan. Ya, walau tidak serta merta menghapus rasa inginku untuk memiliki buku Catatan Seorang Demonstran. Aku tetap ingin punya, satu saja. Jadi kalau ada walkers yang ingin membantuku untuk mendapatkan buku yang satu ini, aku akan berterimakasih sekali. Apa lagi kalau aku di kasi gratisan… <smile>



Walkers,

Semalam di tengah asik membaca buku Soe Hok Gie, sebuah pesan pendek masuk di hapeku. Dari Rizal. Dia ada di Ampel dan menanyakan apakah aku bisa menemaninya di sana. Tentu saja aku jawab aku bisa dan akan segera meluncur ke sana.

Ampel memang salah satu tempat favoritku. Salah satu tempat yang bisa membuatku tenang dan banyak berfikir, juga tempatku  bertemu dengan begitu banyak macam manusia. Di sana, aku bisa duduk berjam jam untuk merenung, berfikir dengan caraku sendiri. Membiarkan segala imaji yang ada dalam otakku ini untuk mencari jalannya sendiri. Di Ampel, segala imaji itu seraca lancar keluar, berkutat dan mencari jalannya sendiri pada semua simpulan simpulan yang aku buat sendiri.

Otakku ini seperti otak yang tak pernah tidur, otak yang selalu berputar dan berbicara pada dirinya sendiri setiap saat. Setiap apa yang aku lihat, bisa menjadi suatu bahan untuk aku pikirkan, menjadi sebuah bahan untuk wacana yang entah kepada siapa aku bisa membicarakannya. Aku ingin punya teman untuk berbagi, tentang jalan pikiran yang kusut ini, tentang segala yang aku rasakan dan segala yang aku lihat, apa yang manjadi kontroversi dalam otakku dan segala pendapat pendapat pribadiku. Tapi kepada siapa? Aku tak tahu.




READ MORE - RJK 2012 06 08, Jum'at : Berburu Gie