Tampilkan postingan dengan label uks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uks. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 September 2013

I-1 : Raungan Tak Terjelaskan



I-1 tersenyum saja saat membaca dua posting pertama tentang dia yang aku posting di sini dan di sini. Bukan tentang apa yang aku tuliskan tentang dia sebenarnya, tapi lebih pada komentar-komentar yang menyertainya. Katanya, ternyata ada juga orang yang begitu antusias untuk tahu tentang dia. Padahal, dia sendiri adalah orang yang tidak yakin kalau kisah seperti itu pernah benar-benar terjadi. Apa lagi, dia sendiri yang mengalaminya.

“Benar kan apa aku bilang, mereka hanya akan menganggap semua ini kisah yang dibuat-buat. Gak ada yang akan percaya kalau ini real, Rd,” selorohnya.

“Lalu?”

“Berhentilah…!”

“Sudah terlambat, I-1…”

***

Teriakan keras itu membangunkan seisi sekolah. Derap langkah terdengar jelas diluar sana. Hanya butuh beberapa menit sebelum sebuah suara keras yang memekakakkan telinga membahana mengalahkan raungan i-1.

Pintu UKS terjelembab membuka. Beberapa orang guru berdiri dengan bingung di ambang pintu. Mereka terpana dengan apa yang sedang terjadi. I-1 sedang berguling dengan teriakan penuh kengerian di lantai ruangan, sedangkan satu teriakan lain yang meningkahinya berasal dari mulut siswi yang sejak tadi bersamanya di ruang UKS. Siswi itu rupanya ketakutan melihat apa yang terjadi. Ketika kesadaran mulai menguasai mereka kembali, seorang guru berhambur masuk memeluk siswi yang histeris itu dan membawanya keluar. Satu lagi masuk untuk membopong I-1 dari lantai. Entah energi besar dari mana, guru yang bertubuh besar itu tidak mampu mengangkat tubuh  I-1 yang kecil seorang diri.

“Bantu aku…!!” pintanya. Seorang guru lelaki yang lain datang untuk membantunya. Mereka berdua membopong I-1 yang masih saja dengan teriakannya yang menghentak itu.

“Ada apa?”

“Apa yang terjadi?”

“Sadar, sadar i-1, sadar…!”

Semua benar-benar kacau saat itu. Banyak guru dan siswa lain yang berkerumun di luar ruang UKS yang sempit itu. I-1 masih sempat melihat beberapa teman sekelasnya yang sedang memandangnya dengan wajah sedih penuh kebingungan dari kaca jendela UKS. Beberapa diantara mereka bahkan menangis. I-1 tahu, dia sedang menghadapi saat-saat irasional, namun sejuh ini dia masih belum kehilangan kesadaran. I-1 tahu apa yang terjadi, apa yang dialakukan, dan apa yang sedang mereka kerjakan di sekililingnya. Hanya saja dia tak punya jawaban untuk menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. I-1 hanya tidak mampu untuk mengendalikan dirinya sendiri. Ada kekuatan lain di sana, jauh di dalam dirinya. Dibagian mana? I-1 tak tahu.

Yang dia tahu hanya ada yang sedang mencoba menguasainya, tanpa tahu itu baik atau tidak untuknya. I-1 hanya ingin terus berteriak untuk mencapai kesembangan. Tubuhnya terus mengejang, menerjang kesana kemari. Peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ada energi luar biasa yang dia rasakan masuk. Ada energi luar biasa yang di rasakan keluar. Semua tak terjelaskan! Sementara itu tangan-tangan kekar para gurunya mencengkram seluruh tubuhnya. Menahan semua gerakan kacau yang dia perbuat.

***

“Berapa lama kamu meraung?” tanyaku.

I-1 tampak merenung mengenang bagian tak terjelaskan dalam kisah hidupnya itu. Tak ada jawaban yang aku dapatkan untuk beberapa saat. Dia tampak sedang sibuk dengan pikiran dan kenangannya. Aku biarkan dia dengan dirinya sendiri. Mungkin saat inipun, dia masih ingin mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi saat itu.

“I-1…”

I-1 mendesah. Sambil menggeser posisi duduknya, dia memandangku dengan kenangan itu masih melekat pada wajahnya. “Aku tak tahu,” jawabnya. “Tapi ketika semua berakhir, aku merasa lelah sekali…”


bersambung…>


READ MORE - I-1 : Raungan Tak Terjelaskan

Minggu, 08 September 2013

I-1 : The Beginning



Banyak yang bertanya siapa sebenarnya I-1, temanku yang berteman dengan peri itu. He or she? Cowok atau cewek? Lalu siapa peri yang menjadi temannya? Bagaimana bentuknya? Bagaimana kisah awalnya? Bukankah dalam Islam peri itu hanya jelmaan dari jin yang menyerupai suatu bentuk? Begitu banyak pertanyaan. Begitu banyak yang ingin tahu tentang dia, sosoknya dan kisahnya.

Tentang dia memang begitu banyak yang bisa diceritakan. Kalian boleh saja percaya atau tidak, itu terserah kalian. Kalian berhak berkata dia gila atau kerasukan, sudah tidak waras dan harus bertaubat. Yah, apapun itu, bagaimana hidup kadang bukan tentang hanya pilihan. Banyak, hidup itu komplit. Kadang kita tak bisa memilih. Pada tahap ini, apakah ini yang disebut sebagai ujian?

I-1, temanku itu tak ingin disebut siapa nama sebenarnya. Tak pula mempernenankan aku untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya. Dia hany a mengizinkan aku membagi kisah ajaibnya ini. Setelah perdebatan panjang yang tak berkesudahan, bahkan tentang bagian mana yang boleh dan tak boleh diceritakan.

Aku ingin semua bagian di tuliskan di sini dengan gamblang. Awalnya dia menolak. Dia begitu takut untuk dihakimi, takut untuk kembali pada masa lalunya yang di cap kafir (tapi dia juga takut pada kenyataan kalau saat ini dia bukan lagi orang beriman). Hidup dalam banyak ketakutan walau orang di sekelilingnya mengenalnya sebagai orang ‘normal’.

***

Hari itu adalah senin beberapa hari saja sebelum  puasa Ramadhan dimulai lebih dari sepuluh tahun silam. I-1 ada dalam barisan upacara bendera yang diadakan di sekolahnya. Saat itu dia masih seorang siswa lugu kelas dua sekolah menengah  atas.

Udara panas musim kemarau memanggang setiap kepala. I-1 sebenarnya bukan siswa yang bertubuh lemah. Sejauh dia bisa mengingat, dia tidak pernah jatuh pinsan dalam keadaan apapun. Hari itu, dia merasa berbeda. Kepalanya berdenyut saat upacara tengah berlangsung. Ada rasa gengsi yang menahan egonya untuk memanggil petugas PMR yang berbaris di bagian belakang. Kejadiannya yang dia rasa di kepala itu tak berlangsung lama, hanya sekejap saja. Sampai upacara selesai, tak ada apapun yang terjadi. I-1 tidak menyadari bahwa itulah awal dari semua kejadian ini, awal pertemannya dengan para peri, para raja, dan semua kejadian yang tak masuk akal yang dia alami.

Sakit kepala sejenak itulah yang menjadikan dia berubah. Dia bukan kemudian dia yang sebelumnya lagi. Kejadian sejenak yang membuatnya melarikan diri dari kenyataan hidupnya hingga lebih dari sepuluh tahun lamanya.

i-1 baru tahu itu setelah dia masuk kedalam kelas untuk pelajaran pertama. Pening kepalanya yang tadi dia rasakan, dia rasakan lagi dalam kelas. Ringan mulanya, kemudian bertambah berat. Kepalanya seakan berubah menjadi bentuk yang tidak dia kenali lagi. Dia meraba rambutnya, mencoba mencengkramnya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya itu, tapi tak ada hasil. Kepalanya makin berat, keseimbangannya makin hilang, kesadaran mulai menjauhinya.

Sadar ada yang tidak normal pada teman sebangkunya, Sukma yang duduk di sebelahnya menawarkan jasa untuk memapahnya ke ruang UKS. I-1 tidak menolak.

***

Sampai di ruang UKS, I-1 merebahkan tubuhnya di salah satu kasur yang ada. Di kasur yang lain, berbaring seorang siswi yang tidak dia kenal. Hanya seulas senyum yang menandakan keramah tamahan yang mereka perlihatkan. Sebelum meninggalkan teman baiknya di sana, Sukma memastikan kalau keadaan I-1 cukup kuat untuk ditinggal sendiri.

“Ada yang perlu aku siapkan?” tanyanya. I-1 hanya menggeleng seraya tersenyum untuk memastikan dia baik-baik saja.

Sukma baru saja berlalu saat tiba tiba i-1 merasa ada yang mendesak di dadanya. Dia sadar ada yang berubah dalam dirinya. I-1 berusaha menahannya. Menahan energi aneh yang menembus kedalam dadanya. Ada ketidak seimbangan aneh yang dia rasakan. Keringat dingin mulai keluar lewat pori porinya. I-1 sekuat tenaga berusaha bertahan, dia berusaha untuk tidak berteriak.

Tangannya kuat mencengkram sprai yang ada di bawah tubuhnya. Sesaat kemudian dia mulai mengejang. Ada kekuatan lain dalam tubuhnya yang tak mampu dia lawan. Nafasnya mulai tersengal. Ketika pertahanan terakhirnya jebol, I-1 berteriak sekuat tenaganya!

READ MORE - I-1 : The Beginning