Jumat, 28 Desember 2012

Postcard Fiction : Dear Laura

Dear Laura.
Mungkin ini adalah sepucuk surat edisi spesial untuk persahabatan kita. Kamu tahu
mengapa? Karena untuk pertama kalinya aku mengirimi kamu surat dalam bahasa
Indonesia di selembar kartu pos. Laura, aku tahu selama ini kamu sudah begitu giat
belajar bahasa Indonesia agar bahasa Indonesiamu selancar bahasa Inggrisku. Kamu
ingin untuk bisa menawar langsung harga gelang-gelang kayu itu bukan? Aku yakin
kamu bisa saat kamu berkunjung ke sini nanti.

Laura,
Tak banyak yang bisa aku ceritakan di selembar kartu pos. Hanya mungkin, aku sedang
ingin bercerita kepadamu tentang hadiah sederhana yang baru saja aku berikan kepada
adikku. Walau sederhana, tapi aku tahu dia suka sekali menerimanya.

Hadiah dariku itu berupa sebuah handphone SmartFren tipe lama, sebuah handphone online
pertama yang dikeluarkan oleh SmartFren. Memang sebuah handphone lama dengan fitur
yang sederhana juga, Laura. Tapi adikku luar biasa bahagianya. Dia sekarang bisa online
dengan fasilitas handphone lamaku itu. Sangat membantu baginya mencari bahan bahan
pelajaran secara online, Laura. Apalagi sinyal SmartFren mencakup daerah yabg luas.
Dimanapun adikku berada, dia bisa langsung online tanpa hambatan sinyal. Sekarang
kami bisa bertukar foto, sampai chating di Facebook dengan lebih lancar.

Laura,
Aku masih berharap bisa memberinya SmartFren Andromax agar dia bisa lebih terbantu
lagi untuk terus belajar. Itu akan jadi hadiah terindah buat dia, Laura, seindah pertemuan
kita nantinya.

Sampai jumpa di kopdar perdana kita Laura, di puncak Ijen, seperti gambar pada postcard
ini.





sumber gambar  dari sini
READ MORE - Postcard Fiction : Dear Laura

Selasa, 25 Desember 2012

Kalau Aku Memang Ndeso, Masalah Buat Lho?

Perpindahan tempat kerja, berarti juga perubahan banyak hal. Seperti juga perpindahanku dari studio lama di Situbondo ke studio baru di Surabaya. Di tempat lama aku bertugas sebagai operator cetak mesin pencetak foto, merangkap bagian design dan fotografer pengganti. Kadang juga jadi pramuniaga kalau dibutuhkan. Hampir semua pekerjaan sepertinya yang bisa aku kerjakan di sana. Cuma jadi kasir saja mungkin yang tidak pernah aku pelajari.

Pindah ke tempat baru, berarti suasana baru juga. Di tempat yang baru aku bekerja sebagai fotografer. Kadang, aku bertugas untuk meliput acara seminar dan pertemuan-pertemuan lain. Kebanyakan acara yang aku liput itu diselenggarakan di hotel-hotel berbintang. Hotel sekelas Sheraton, Shangri-La, Hyat, sudah biasa aku datangi.

Keren bukan? Seorang udik dari daerah yang jauh dari ibu kota profensi ini bisa keluar masuk hotel berbintang seperti itu. Saat pertama aku dilibatkan untuk job semacam ini, aku begitu bangga. Membayangkan betapa ekslusifnya masuk ke hotel terkenal dan disambut dengan hormat oleh petugas-petugasnya. Apa lagi makanannya. Aku membayangkan hidangan hidangan kelas internasional yang di buat oleh chef handal. Hmmmm, betapa lezat aku bayangkan.

Benar saja. Saat acara cooffe break berlangsung, hidangan kue aneka macam langsung menggoda seleraku untuk mencicipinya. Lezat sekali rasanya. Dipadu dengan kopi kental yang manis, pahit dan gurihnya bercampur sempurna. Terus terang, kali pertama kue-kue cantik itu masuk ke mulutku, rasanya aku ingin menyimpan sebagian untuk aku bawa pulang. Wagagagagagagagag .... Tapi tentu saja aku urungkan. Aku memang orang udik, tapi setidaknya aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri.

Suasana berbeda terjadi saat makan siang berlangsung. Sebelum antri untuk mengambil makan siang, aku sempatkan untuk memotret suasana makan siang itu. Aneka masakan yang belum pernah aku lihat tersaji di sana. Mulai dari yang beraneka warna dalam satu wadah sampai yang berwarna gelap kecoklatan. Wew! Aku tak sabar.

Aku ambil bagian dalam antrian. Kutambahkan sedikit sekali nasi dalam piringku yang terlihat begitu besar dari yang biasa aku pakai di rummah. Tujuannya, agar aku bisa meletakkan lebih banyak porsi dari setiap macam lauk yang disediakan oleh panitia. Maka jadilah piring yang aku bawa seperti gundukan lauk dan sayur saja. Dari sayuran beraneka warna sampai bagian besar potongan daging ayam dan sapi. Aku terlihat ndeso? Biarlah, yang penting aku puas .... [Nyengir]

Saat aku mulai menyuapkan beberapa potongan kecil dari aneka hidangan yang ada di piringku, satu kenaehan terjadi. Mulanya aku berfikir pasti ada yang tidak beres dengan lidahku. Masakan-masakan itu tidak seenak yang aku bayangkan. Apakah ini salah lidahku? Karena aku tahu, tidak mungkin chef yang ada di dapur sana sudah salah dalam memasukkan takaran bumbunya. Aku mulai kehilangan selera makan saat makanan di piringku tersisa separuhnya. Makanan itu rasanya benar-benar aneh. Hampir semua jenis yang ada tidak mampu menggugah selera makanku untuk menyantapnya sampai tandas. Apa yang salah?
Kejadian ini berulang lagi saat acara berlangsung di hotel yang lain. Aku kurang bisa merasakan dimana letak kelezatan makanan-makanan yang terhidang itu. Mungkin hanya karena rasa lapar yang benar-benar minta dipuaskanlah yang mendorongku untuk berusaha menikmmati hidangan yang ada. Selebihnya, yang ada hanya rasa hambar dan aneh.

Saat itu yang ada dalam benakku adalah betapa inginnya aku menyantap makanan-makanan yang biasa dihidangkan ibu di rummah. Tiba-tiba ada kerinduan yang mendalam akan campuran rempah sederhana dari bahan-bahan sederhana yang ibu racik. Sambal yang pedas, pepes yang harum asap, oseng kangkung yang segar, sop dengan lembaran daun kol, terong yang dimasak utuh, tiba-tiba mengisi dengan jelas ruang rinduku. Bahkan dengan membayangkan saja, selera makanku terbit.

Semua masalah di hotel itu ternyata bukan tentang kesalahan pada lidahku. Bolehlah makanan yang di sajikan disana sudah berkelas internasional, dibuat dengan chef handal dan harga selangit. Ternyata bukan itu yang aku maui untuk memanjakan lidahku. Aku sudah terbiasa dengan racikan bumbu yang ibuku biasa racik sejak aku kecil. Racikan yang sudah biasa aku kecap dan menjadikan karakter yang lezat di lidahku. Menjadikannya sebuah definisi 'lezat' menurut versiku sendiri.

Aku sekarang memang hidup di Surabaya, salah satu kota terbesar negeri ini. Tapi aku sama sekali tidak pernah merasa bersalah dengan selera makan yang aku punya. Selera makan yang boleh di bilang ndeso. Biarlah. Aku memang begitu. Aku justru bangga menjadi unik dan berbeda. Bukannya aku tidak mau makan makanan mewah itu, tapi makanan yang Indonesia banget itulah yang aku suka. Berpindah tempat hidup bukan berarti kita harus kehilangan jati diri bukan? Begitu juga dengan selera makan. Tidak juga harus berubah, menjadi latah dan ikut-ikutan hanya agar kita dibilang keren dan tidak ketinggalan zaman.


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone









READ MORE - Kalau Aku Memang Ndeso, Masalah Buat Lho?

Jumat, 21 Desember 2012

Shirat! Novel yang Menggelincirkan Hati

"Aku beristghfar atas apa yang baru saja kudengar. Mereka menyelenggarakan tahlillan untukku. Menyelenggarakan tahlil untuk orang yang masih hidup...."
***
Akhirnya, terkabul juga keinginanku untuk bisa membaca novel yang satu ini. "Shirat! Meniti Titian yang Mudah Menggelincirkan". Dari judulnya saja, mampu untuk menggoda rasa penasaranku untuk menyimak keseluruhan isinya. Aroma relijiusnya terasa sekali hanya dengan melihat judulnya saja, pun kalau di sampul novel itu tidak tertulis kalau ini adalah sebuah novel religi.

Dalam benakku waktu itu, kalau memang benar shirat yang dimaksud oleh sang penulis adalah jembatan Shiratal Mustaqim, betapa beraninya sang penulis menjadikan kata ini sebagai judul novelnya. Bagaimana tidak, setiap umat Islam pastinya tahu apa itu jembatan Shiratal Mustaqim. Jembatan yang hanya ada saat pengadilan maha dahsyat kelak ini, tidak ada seorangpun yang tahu pasti bagaimana bentuknya, keadaanya, sifat- sifatnya, tapi sang penulis begitu berani menggunakan namanya, atau setidaknya kata yang mirip dengan namanya untuk dijadikan judul novelnya. Apa lagi saat melihat desain sampulnya yang menggambarkan seorang lelaki berpakaian biasa yang sedang hendak menyebrang jembatan. Rasa penasaranku makin bertambah. Apa sih yang bisa diceritakan penulisnya dalam novel ini? Toh dia juga manusia biasa bukan? Yang masih hidup dan belum pernah tentunya, melihat jembatan itu?
Novel ini diawali dengan keadaan sulit yang dihadapi oleh tokoh utamanya, seorang pria paruh usia berbadan tambun. Diceritakan dalam novel ini, pria tersebut adalah kader sebuah partai, anggota dewan yang terhormat negeri ini. Tokoh utamanya ini digambarkan sebagaimana kebanyakan penggambaran tokoh seorang anggota partai yang juga anggota dewan di negeri ini. Tak jauh dari agenda rapat, pergi kesana ke sini dan berusaha asyik dengan kehidupannya sendiri. Apa lagi, apapun yang dia mau, Rahmat, asisten pribadinya yang setia, selalu ada untuk melayaninya. Masalah terjadi saat tiba-tiba pesawat terbang yang ditumpangi Muhammad El Faridz, sang anggota dewan itu mengalami kecelakaan hebat. Seluruh penumpang dinyatakan tidak selamat, kecuali satu orang penumpang yang dinyatakan masih hidup.
Dokter memperkirakan kalau jasad gosong yang selamat itu adalah Muhammad El Faridz sendiri. Tapi tidak ada satupun tanda pengenal yang bisa memastikan kalau jasad itu adalah jasad milik sang anggota dewan yang terhormat. Mereka memang masih berspekulasi tetang siapa sebenarnya orang tersebut, tapi pengobatan dan pemulihan terus dilakukan untuk keselamatannya. Dokter-dokter terbaik didatangkan untuk hasil yang terbaik. Di sisi lain, tanpa ada seorangpun yang tahu, perjalanan lain sedang dimulai. Perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad El Faridz sendiri!
Begitu seru mengikuti alur cerita yang disajikan dalam novel ini. Penuh dengan drama, perenungan, cinta, persahabatan, persaudaraan, ketaatan dan kerja keras. Begitu memotifasi kita sebagai pembaca untuk terus berjuang melalui setiap cobaan yang ada dalam hidup ini. Penggambaran yang di sajikan oleh penulisnya tentang jungkir balik kehidupan terasa begitu logis dan nyata. Penulisnya berhasil memberi gambaran cerita dengan alur yang menawan untuk menggambarkan betapa mudahnya kehidupan itu berputar balik seperti berputar baliknya telapak tangan. Sekarang jaya, besok bisa jadi manusia yang dipandang sebelah mata. Kehilangan, sifat tamak, lupa daratan, dan banyak hal lain digambarkan dengan begitu manusiawi dalam novel ini. Yang aku suka juga adalah, sang tokoh utama digambarkan sebagai manusia biasa juga. Yang punya dua sisi : baik dan buruk. Aku suka penggambaran semacam ini. Karena memang, tak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Siapapun dia. Dengan karakter tokoh utama ang seperti itu juga, rasanya novel ini menjadi begitu dekat dengan realita kehidupan, dengan pembacanya sendiri.
Seperti penggambaran sang tokoh utama yang tak sempurna, maka tak lengkap rasanya kalau tidak membahas juga apa yang aku rasa kurang dari novel ini. Tak ada satupun yang sempurna bukan? Salah satunya adalah aku merasa jenuh saat membaca bagian yang menceritakan jalan cinta Faridz dengan wanita-wanita pujaan hatinya. Terlalu bertele-tele menurutku. Terlalu ditonjolkan. Aku kira, kalau bagian ini dipersingkat, dan lebih menonjolkan lagi bagian-bagian yang menggambarkan perjuangan hidupnya, novel ini akan semakin singkron antara judul dan alur ceritanya. Selebihnya, sulit rasanya mencari kelemahan dari novel ini. Rasanya apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya bisa di sampaikan sengan baik.
Novel setebal 406 halama ini adalah salah satu novel yang bisa aku rekomendasikan untuk pembaca yang suka fiksi-fiksi islami, juga bagi mereka yang mencari pencari bacaan-bacaan pembangun jiwa. Novel yang cetakan pertamanya dilakukan di bulan Februari 2011 ini harusnya bisa menjadi koleksi pribadi yang membanggakan (sayangnya saya mendapat bukunya dari peminjaman di sebuah TBM, jadi belum bisa mengoleksinya secara pribadi). Jadi penasaran novel seperti apa lagi yang akan di sajikan seorang Riyanto el-Harist berikutnya.

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone






READ MORE - Shirat! Novel yang Menggelincirkan Hati

Rabu, 28 November 2012

Ketika Doa si Dekil Dikabulkan Tuhan



Artikel sebelumnya bisa di baca disini

Si korban akhirnya bisa kami jumpai dan minta datang ke polsek tempat masalah itu akan di selesaikan. Tapi pembicaraan sepertinya tidak semulus apa  yang ada dalam bayanganku. Benturan-benturan kepentingan bercampur dengan egoisme yang menyengat, membuat semua jalan sepertinya buntu. Hari itu, kami tidak bisa mendapatkan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah yang kami hadapi.

Beban dalam pikiranku bertambah. Bukan hanya tentang bagaimana menyelesaikan masalah ini dengan baik, tapi bagaimana caranya kami bisa menepati amanah dari custumer kami untuk mengantarkan Fair Lady tepat waktu. Karena dengan berlarut larutnya masalah ini, berarti semakin lama juga Fair Lady dan unit towing kami tertahan disini. Sementara itu, deadline waktu pengantaran Fair Lady sudah semakin dekat pula. Pameran yang akan melibatkannya, tinggal hitungan jam saja. Aku resah, semua terasa serba mendesak, sedang di sini tidak ada perkembangan yang berarti.

Seandainya Fair Lady tidak bisa kami antarkan tepat waktu, bukan hanya kerugian secara finansial yang akan kami alami, tapi juga nama baik perusahaan yang sudah kami bangun bertahun tahun lamanya akan tercoreng hanya dalam hitungan jam saja. Koordinasi dengan kantor pusat terus aku usahakan. Mencari kemungkinan kemungkinan terbaik yang bisa kami lakukan untuk memperkecil kerugian yang mungkin akan kami alami. Sementara itu, custumer mulai mengendus ada yang tidak beres dengan pengiriman mobilnya. Mereka mulai menelpon kami hampir setiap jam, dan setiap itu pula kami harus berusaha mencari alasan untuk menenangkan mereka. tapi sampai kapan kami bisa bertahan dalam keadaan begini? Rasa frustasi mulai menghinggapi dadaku. Begitu berat.

Dalam bayangan cermin, aku bisa dengan jelas melihat wajahku yang semakin saat semakin layu saja. Aku sadar aku butuh sesuatu untuk menyegarkan pikiranku lagi. Tapi dengan apa? Yang ada adalah keadaan yang semakin menekan saja. Aku tak bisa mandi selama ini, tidak ada air untuk menyegarkan badan, tidak ada satupun yang bisa meringankan pikiranku kecuali aku masih yakin bagaimanapun, seberat apapun, masalah pasti akan berlalu. Kata pepatah, saat satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka. ALLAH berfirman bahwa tidak akan di bebankan sebuah masalah kepada hambanya yang melebihi batas kemampuan hambanya itu.


***


Hari berikutnya satu kabar baik kembali aku terima. Satu unit towing kami yang lain sedang mengarah ke tempat kami dan akan tiba dengan waktu yang secepat cepatnya. Aku bisa bernafas sedikit lega. Setidaknya, akan ada harapan bahwa Fair Lady akan tiba di tempat tujuannya tepat waktu. Sementara itu juga, satu beban lagi untuk menggu Fair Lady 24 jam akan berkurang.

Custumer kami yang sudah tahu keadaan yang sebenarnya, tiba pada dini hari yang masih gelap tepat di hari di mana harusnya towing bantuan datang. Semua seperti sudah diatur dengan rapi oleh yang Maha Pengatur. Aku mendesah bersukur. Satu demi satu akhirnya beban yang ada di pundakku berkurang.

Siang yang terik bantuan itu datang. Fair Lady pindah dari towing lama ke towing bantuan. Dua jam kemudan, Fair Lady berlalu, membawa sebagian penat ini bersamanya.

“Fair Lady sudah di berangkatkan ke Jakarta, bu. Kalau tepat waktu, Fair Lady akan tiba dini hari sebelum pameran di mulai.” Aku laporkan keadaan yang melegakan itu pada manajer utama kami. Kami semua berucap sukur pada semua pertolonganNYA. Aku semakin yakin, bahwa sebenarnya pertolonganNYA itu begitu dekat, kadang tanpa dimintapun pertologan itu akan datang dengan cara yang unik sekalipun. Semua kemudian kembali pada kita, apakah kita akan bersukur atau tidak atas segala kemurahanNYA itu. Sekali lagi, semua kembali pada pribadi kita masing masing.

Lalu, apakah semua masalah berakhir di sini?


***

Fair Lady memang sudah diamankan, tapi bukan berarti masalah sudah sepenuhnya berakhir. Unit towing kami masih ada di sini, masih tertahan sebagai barang bukti di kantor polsek. Beban berat masih menggantung di pundakku ketika sekali lagi pembicaraan kami berakhir di jalan buntu.

Keadaan memang sudah tidak sepenuhnya lagi semencekam kemarin. Aku tidak lagi tinggal di musolah polsek, kami menyewa satu kamar hotel kecil di pinggiran kota untuk sekedar bernaung, berfikir, dan yang lebih penting lagi, kami bisa membersihkan tubuh kami yang sudah beberapa hari ini tidak tersentuh air sedikitpun. Hanya pakaian kami yang sama sekali tidak bisa kami ganti. Satu-satunya baju yang aku bawa adalah baju yang saat itu melekat di tubuhku. Bisa dibayangkan betapa gatal dan lengketnya.

Hari masih terus berlalu, usaha masih terus kami upayakan. Hingga hari itu, di satu Jum’at yang terik, aku melangkahkan kaki ke arah masjid untuk menunaikan kewajibanku sebagai lekaki muslim. Walau belum pernah aku membayangkan sekalipun dalam hidupku, kalau aku akan melangkahkan kakiku sekalipun ke ‘rumahNYA’ dalam keadaan seperti ini. Dekil, jorok, dengan baju yang sudah hampir seminggu tidak ternganti dengan yang lebih bersih. Aku tidak lagi perduli bagaimana tanggapan orang orang di sekelilingku, yang ada dalam pikiranku adalah bahwa aku harus melaksanakan kewajibanku. Itu saja. Tak ada yang lain selain memenuhi panggilanNYA.

Dalam hati ini aku merasa begitu kotor. Bukan hanya kotor oleh semua kotoran yang melekat di pakaian dan badanku, tapi juga kotor rasanya seluruh jiwa ini. Begitu hina rasanya aku saat itu, hingga Tuhanpun menjalankan aku ke ‘rumahNYA’ dalam keadaan sehina ini. Dengan bau yang mengusik orang di sekelilingku, dengan tubuh letih dan kuyu serta beban berat yang terus menggelayut di pundakku, menekan letih jiwa itu terus bertambah. Aku mendesah, aku menghela nafas panjang yang berat mengingat semua yang terjadi. Sempat terlintas dalam pikiranku, apakah ini teguran keras dariNYA atas segela yang aku lakukan selama ini?

Usai solat Jum’at, aku sempatkan sejenak bermunajad kepadaNYA. Meminta maaf atas segala ketololan yang pernah aku lakukan, memohon ampun untuk setiap saat yang aku lalui di lumpur kehinaan. Tak lupa juga aku mohon dengan sangat  kepadaNYA untuk membantu kami menghadapi masa masa sulit ini. Aku berkata kepadaNYA kalau aku ingin pulang, ingin segera membersihkan diri ini, bukan hanya dari kotoran yang melekat di badan, tapi juga dari seluruh lumpur kehinaan yang telah lama berkubang dalam jiwa lusuh ini. Aku memohon kepadaNYA dengan sangat, dengan ketulusan hati yang aku bisa, dengan menghadirkan seluruh pengharapan yang aku mampu, dan aku yakin, ALLAH tidak pernah tidur, ALLAH akan selalu mengabulkan doa hambanya.

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي. وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي. 

RABBISYAH LII SHADRII, WAYASSIRLII AMRII, WAHLUL ‘UQDATAN MILLISAANI YAFQAHUU QAULI.

 “Ya Allah ya Tuhanku! Lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mengerti perkataanku”. (Doa Nabi Musa AS dalam QS. Thaha 25-28)





***

Jum’at malam, tiba tiba saja semua pintu yang awalnya tertutup itu seakan membuka dengan mudahnya. Seperti mudahnya daun kering yang gugur oleh angin yang berhembuh perlahan. Tiba-tiba saja negoisasi berjalan seperti kereta di atas rel, seperti air dalam selang. Lancar tanpa hambatan.

Sabtu pagi kami bertemu lagi, membicarakan masalah ini untuk penyelesaiannya. Aku heran ketika semua berjalan begitu lancar. Sampai akhirnya di sabtu siang, nota kesepemahaman penyelesaian masalah itu kami tanda tangani dan kami bisa pulang dengan tenang.

Tubuhku bergidik di sepanjang jalan yang aku lalui dalam perjalanan pulang menuju Surabaya. Pikiranku seakan tidak pernah menjangkau apa yang telah terjadi. Mulanya masalah ini berjalan begitu sulitnya, butuh beberapa hari hingga Jum’at siang tapi semua berjalan seperti tidak akan pernah berakhir. Tapi mengapa di Jum’at malam dan Sabtu siang semua masalah ini berakhir dengan cepat seperti tidak ada apa apa sebelumnya? Apakah ini jawaban atas doa yang aku panjatkan? Doa yang aku panjatkan dalam keadaan yang begitu dekil? Aku begidik, hati ini sahdu bertasbih memujinya, mengucapkan segala terimakasih yang tak terhingga kehadiratNYA atas segala pertolongan yang telah ALLAH berikan.

Bukan diri ini aku merasa begitu bersih setelahnya, tapi merasa semakin kotor mengingat semua yang terjadi. Aku semakin sadar kalau Tuhan itu begitu dekat dengan kita, begitu mengerti kita, selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Tapi mengapa setiap saat kita selalu berbuat nista yang tak lain hanya menambahkan kenistaan diri sendiri dan tidak pernah sekalipun akan mengurangi kemulianNYA. Doaku yang aku panjatkan dalam keadaan sedekil itupun dikabulkanNYA, bagaimana lagi kalau aku berdoa dalam keadaan yang di sukai ALLAH?

Aku bergidik saat aku sadar, sampai saat ini aku masih dalam kubangan maksiat. Ya ALLAH, maafkan dosa kami ….


sumber gambar :dari sini
READ MORE - Ketika Doa si Dekil Dikabulkan Tuhan

Minggu, 25 November 2012

My Friend's Hero

Apa yang ada dalam pikiran kita bila kita berbicara tentang sosok seorang pahlawan? Dalam pikiran kita mungkin seorang pahlawan akan dibayangkan dalam bentuk dan sosok yang begitu sempurna. Dia baik hati, suka menolong, selalu ada saat kita butuh. Seorang pahlawan sangat mungkin akan kita gambarkan dalam sosok yang begitu gagah, tampan, atau cantik molek bila dia seorang wanita. Pahlawan punya keberanian yang lebih bila di bandingkan dengan orang orang kebanyakan. Yah, intinya, apapun gambaran kita, pahlawan hampir pasti adalah orang yang sempurna.

Walkers, posting ini memang tentang pahlawan, tapi bukan tentang pahlawan sempurna yang selama ini ada dalam pikiran kita itu. Pahlawan itu, kali ini hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana dari apa yang ada dalam bayangan kita selama ini. Dia hadir, dari satu golongan yang selama ini mungkin kita pandang sebelah mata, atau bahkan mungkin saat dia menyapa kita di pinggir jalan, kita banyak mengacuhkannya. Alasannya sederhana : kita tidak butuh dia (saat itu).

Pahlawan kita itu hadir pada suatu siang yang terik di Bandara Internasional  Juanda Surabaya untuk menjumpai seorang teman kita yang sedang duduk termenung di emperan masjid bandara. Dengan langkahnya yang pelan tapi mantab, dia datang kearah teman kita awalnya dengan satu misi sama dengan apa yang dia lakukan pada orang orang lain yang dia temui di sana : menawarkan jasanya.

“Mau kemana, Mas?” sapanya pada teman kita.

“Mau ke Rungkut mas,”

Pembicaraan kemudian mengalir antara mereka berdua. Si tukang ojek, pahlawan kita kali ini itu menawarkan jasanya ojeknya kepada teman kita dengan pendekatan yang mantab. Tapi apa daya, teman kita itu baru saja kehilangan seluruh uang yang ada di dalam dompetnya. Dia baru saja kecopetan di bandara. Seluruh uangnya hilang, hanya dompet dan surat surat pentingnya saja yang tertinggal dalam dompetnya yang ada di ruang informasi. Batrai hapenya juga sudah habis tak bersisa. Apa yang bisa di lakukan orang dalam keadaan seperti itu? Tanpa uang, tanpa alat komunikasi sama sekali. Teman kita itu terlihat begitu putus asa.

Pembicaraan antara keduanya kemudian berlanjut. Kali ini bukan lagi tentang tawar menawar berapa harga jasa ojek dari bandara ke Rungkut, tapi tentang tawar menawar untuk jasa ojek gratis. Bukan teman kita itu yang mengiba untuk diantarkan ke Rungkut tanpa membayar, tapi justru tukan ojek yang baik hati itulah yang menawarkan jasanya dengan sangat kepada teman kita itu untuk mengantarkannya ke tempat yang dia mau. Semuanya gratis!

Teman kita itu tidak langsung mengiyakan tawaran menggiurkan yang di sampaikan si tukang ojek itu. Teman kita itu masih curiga, tanpa menuduh, apa motif sebenarnya orang itu menawarkan jasa ojeknya secara gratis. Zaman sekarang, kita dituntut lebih banyak hati hati dalam menerima tawaran dari orang lain, apa lagi orang itu baru saja kita kenal. Tapi setelah pembicaraan berlangsung lebih lama lagi, perlahan teman kita itu mulai yakin dengan tawaran yang di berikan oleh tukang ojek yang budiman itu. Maka, tak lama setelahnya, teman kita yang sedang putus asa itu diantarkan si tukang ojek ke tempat yang dia mau. Plus gratis satu gelas es jus pula!

***



Walkers, kisah nyata ini terlihat begitu sederhana. Tapi di balik kesederhanaannya, ada satu pelajaran berharga yang dapat kita petik. Di zaman sekarang ini, di mana egoisme individu sudah begitu tinggi, ternyata masih ada orang yang dengan begitu suka rela mau menjadi pahlawan bagi orang lain dengan mengorbankan apa yang dia punya. Dalam kisah ini, si tukang ojek yang budiman itu berkorban tenaga, waktu, dan harta (bensin dan sepeda) bahkan untuk orang yang baru saja dia kenal. Mereka itu seperti lilin, rela menerangi sekelilingnya dengan mengorbankan apa yang mereka punya.

Walkers, pertanyaannya bukan kapan kita bisa bertemu dengan orang yang budiman seperti itu, tapi sudahkah kita mampu untuk menjadi orang budiman seperti dia? Yang mampu menolong tanpa mengharapkan apapun selain dari keridoan sang Ilahi? Mari siapkan diri untuk menjadi orang yang tulus itu, walkers, sang pahlawan sejati itu. Kerena Tuhan sudah berjanji, Tuhan tidak akan membiarkan orang yang mau meringankan beban saudaranya hidup dalam gundah gulana.

Walkers, dua hari kemudian, teman kita itu memberi pahlawannya satu bingkisan yang istimewa. Sederhana tapi sangat mengesankan. Kalau kalian mau tahu apa yang dia berikan sebagai ungkapan terima kasihnya yang medalam, coba klik di sini.




gambar dari sini 



.
READ MORE - My Friend's Hero

Sabtu, 10 November 2012

Bukan Artis Itu yang Ibu Mau, Anakku


Waktu liburan kemarin, saat senggang aku bercerita pada ibu kalau beberapa saat yang lalu salah satu unit towing perusahaanku dipercaya untuk membawa satu unit Lamborghini dari Jakarta ke Surabaya. Mungkin ibuku tidak tahu apa itu mobil Lamborghini dan tidak tahu betapa hebatnya mobil ini. Beliau baru bedecak kagum saat aku menyebutkan nominal harga satu unit mobil itu. Harganya bisa sampai hitungan di atas lima milyar! Sebelumnya, unit towing kami yang lain juga pernah dipercaya untuk membawa mobil Ferrari yang harganya tidak kalah dengan satu unit Lamborghini. Yang lebih mengagumkan lagi, ternyata pemilik Ferrari itu tidak hanya punya satu unit mobil Ferrari di rumahnya. Dia punya dua sekaligus! Ibuku berdecak kagum membayangkan betapa kayanya pemilik mobil mobil itu.

Sepanjang jalan yang dilalui, tak jarang pengguna jalan lain yang rela mengimbangi kecepatan unit towing kami hanya untuk mendapatkan foto mobil yang kami angkut itu menggunakan kamera handphonenya. Sopir towing juga bercerita kalau saat dia berhenti di sebuah mini market untuk membeli beberapa botol minuman, tiba tiba hampir semua karyawan yang ada di sana, termasuk beberapa pengunjung berhamburan keluar hanya untuk berfoto bersama mobil mewah itu. Serasa bawa artis kata sopir perusahaan kami itu.


Tapi tak lama berselang ibuku terlihat begitu kecewa saat aku bercerita lebih jauh tentang mobil fantastis yang berlabel Ferrari itu. Apa pasal? Bukan karena kemudian ibu sadar kalau anak kesayangannya ini tidak akan mampu membelikannya satu unit mobil itu dalam waktu dekat. Bukan itu. Ibu kecewa karena dengan harga tinggi itu, mobil tersebut hanya punya dua seat di setiap unitnya. Satu tempat duduk untuk driver, satu lagi tempat duduk untuk orang yang duduk di sebelah drivernya.

“Tidak ada tempat duduk lain?” tanya ibuku berusaha meyakinkan.

“Tidak ada.” Tegasku.

“Lalu buat apa?”

“Untuk gengsi aja, bu.”

Ibu lebih tidak berminat lagi pada mobil mewah itu saat aku menjelaskan kalau mobil yang berlabel Ferrari itu kecil kemungkinan untuk bisa di bawa ke desa. Di jalan jalan desa, biasanya banyak polisi tidur yang sengaja di pasang untuk memperlambat laju kendaraan. Banyak debu juga di sana, banyak batu batu jalan yang bisa menghalangi mobil ini untuk melaju dengan mulus. Ferrari memiliki bentuk body yang ceper, yang mana itu artinya, jarak antara body mobil dan tempanya melintas kurang dari 20cm. kalau mobil ini dipaksa melewati jalan jalan yang penuh dengan polisi tidur dan batu batu lepas, itu akan berakibat buruk untuk mobil itu sendiri.

“Lalu untuk apa?” tanya ibuku penuh kecewa. Ibu berfikir untuk apa membeli barang barang yang begitu mahal hanya untuk kebutuhan gengsi pribadi semata. Bukan itu yang ibuku inginkan. Yang ibuku inginkan, mungkin juga seperti kebanyakan ibu ibu kita yang lain, bukan gengsi yang harus kita beli. Sesuatu yang bisa dinikmati bersama, sesuatu yang bisa di buat untuk kebahagiaan bersama, itulah yang beliau inginkan.

Ibu lalu bercerita kalau tetangga sebelah baru saja membeli mobil bekas yang bisa memuat hampir semua anggota keluarganya. Mobil keluarga besar keluaran hampir sepuluh tahun yang lalu. Harganya juga jauh sekali kalau di bandingkan dengan harga satu unit Ferrari. Tapi yang seperti itulah yang ibu mau kalau seandainya suatu saat nanti aku mampu untuk membeli satu unit mobil.

“Jadi jangan pernah bawa artis itu kerumah ini, nak, walau itu artis muda yang mempesona. Janda lama yang bisa membuat bahagia mungkin lebih bisa ibu terima di hati. Bukan duduk berdua bersamamu dalam satu mobil mewah yang ibu mau, tapi ibu ingin pergi bersama seluruh keluarga dalam satu mobil untuk menghabiskan satu hari yang indah.” Mungkin rangkaian kata itu yang ingin ibuku ucapkan kalau dia bisa sedikit berbahasa puitis.

Doakan saja aku bu, semoga Tuhan memberikan jalan yang mudah untukku.


READ MORE - Bukan Artis Itu yang Ibu Mau, Anakku

Jumat, 09 November 2012

The Liebster Award Untuk La-RanTa




Malam ini sebenarnya aku pengen nulis buat posting di blog ini. Tapi eh gak taunya dapet The Liebster Award, dari Hafshah. Makasih dah mau sebut namaku sebagai “korban” berikutnya. Biar gak kelamaan ngendap juga, akhirnya niat untuk nulis posting yang sudah terlintas di otakku, aku pending dulu sampai besok. Maksudnya, sampai ada niat lagi buat nulisnya <nyengirlebar>. Katanya sih, yang dapet ini harus melakukan hal hal yang sudah di tentukan sama pembuat award ini. Apa saja itu? Nih daftar pe-er yang harus di selsesaikan.



a. Tiap orang yang kena tag harus nulis 11 hal mengenai dirinya sendiri
b. Jawab pertanyaan yang diajukan oleh orang yang nge-tag kamu
c. Bikin 11 pertanyaan baru untuk orang yang ingin kamu tag
d. Tentuin 11 orang untuk mendapatkan blog ini dan link-kan ke post-mu
e. Pergi ke halaman blog mereka dan kasih tau klo mereka dapat award ini. Tidak bisa nge tag balik



Kalau ditanya tentang 11 hal mengenai diriku, kira kita ini yang bisa aku sebutkan :
          1.   Positif thinking sudah pasti.
          2.   Melupakan dan memafkan kesalahan orang lain harus di usahakan.
          3.   Membanggakan orang yang aku kenal harus adalah tujuan
          4.   Menjadi ciptaan yang dekat dengan Penciptanya adalah keharusan.
          5.   Moody, Pemalas. Dua hal yang sedang berusaha di buang.
          6.   Suka kembung kalau minum kopi tidak pada waktu yang tepat.
          7.   Es teh di setiap warung.
          8.   Mie ayam tidak akan pernah di sia siakan.
          9.   Jangan sampai ada kecap netes di dalam makananku.
         10. Berani nanggung, berani jawab.
         11. Punya hayalan tingkat tinggi.


Kalau pertanyaan pertanyaan dari Hafshah, jawabannya kira kira begini :
1. Tulis 2 nama orang (lawan jenis) dan 3 nama (Lk/Pr) siapa ajah yang kamu kenal dan masing-masing diberi angka 1-5, kerjakan !
2. Tulis 3 kata yg mencerminkan hati anda dan masing-masing diberi angka 6-8, kerjakan ! bahagia (8), positif tinking (8), lapang (8)
3.  Apa arti masa lalu bagimu? Ingatan (bukan kenangan) dan pembelajaran
4.  Kamu pernah pacaran gak? Kapan? Pernah, beberapa tahun yang lalu.
5.  Siapa yang paling kamu cintai didunia ini? Ibu, pastinya (kalau bicara tetang “manusia biasa”)
6.  Kapan target kamu nikah? Umut 26, dan itu berarti saat ini target itu sudah lewat.
7.  Apa impian terbesarmu? Ciptaan yang dekat dengan Penciptanya.
8. Kalau kamu punya uang 1 Milyar apa yang akan kamu lakukan dengan uang itu? Modal usaha, selebihnya, aku bawa mati aja. Sebelum mati, aku titipkan sama orang yang membutuhkan.
9. Apa arti kebahagiaan buatmu? Saat melihat orang lain bahagia karena kebahagian yang Tuhan berikan untuknya lewat kita sebagai perantaranya.
10.  Apa makanan Favoritmu? Mie ayam tanpa kecap, pastinya.
11.  Tulis satu kata untukkku....!! makasih awardnya …



11 pertanyaan untuk penerima award selanjutnya
          1.   Apa arti hidup bagimu?
          2.   Apa yang bisa membuatmu bertahan dalam keadaan tersulit sekalipun?
          3.   Seberapa pantaskah kamu untuk dijadikan seorang sahabat?
          4.   Seberapa pentingkah arti blogmu untuk dirimu?
          5.   Kepada siapakah tempatmu biasa mencurahkan segala keluh kesah?
          6.   Apa yang kamu lakukan jika keadaan tidak seperti yang kamu harapkan?
          7.   Hal apa yang benar benar kamu ingin wujudkan?
          8.   Bagaimana kriteria teman yang bisa dijadikan teman buat kamu?
          9.   Keadaan apa yang paling membuatmu kecewa?
         10.Apa yang benar benar ingin kamu ubah saat ini?
         11.Apa yang bisa kamu banggakan dari dirimu saat ini?




11 penerima award berikutnya adalah  
           1.   Bunda Lahfy
           2.   Niar ningrum
           3.   Beck Ahmad
           4.   Muhammad Ratodi
           5.   Ujek Brewok
           6.   Selvy betharia
           7.   Bundanya Fiqtiya
           8.   Edi kurniawan
           9.   Insanul Arifin
          10. Rahma Noerahma
          11. Keven Keppi



Selamat bersenang senang …. 









READ MORE - The Liebster Award Untuk La-RanTa

Jumat, 12 Oktober 2012

Teman Pedas


Pernahkah walkers menjadi teman yang pedas? Atau punya teman yang pedas? Atau ada yang tahu gak lirik lagu Friend or Foe-nya Tatu? Lagu yang sangat terkenal karena penyanyinya yang fenomenal, iramanya yang enak di dengar dan juga isi liriknya yang ‘kita banget’ itu?

Di dalam lagu ini dipertanyakan tentang kedudukan seseorang bagi teman dekatnya. Apakah dia benar-benar teman atau malah dia seorang musuh? Are you friend or foe? Dalam satu liriknya dituliskan, We used to love one another, Give to each other, Lie under covers so, are you friend or foe, Love one another, Live for each other, So, are you friend or foe, Cause I used to know.

Ok walkers, itu tadi sekilas masalah Tatu dan temannya yang gak jelas. Sekarang kita kembali kepada judul tulisan ini, teman pedas. Apa maksudku menggangkat judul ini? Sebenarnya juga masih gak jauh-jauh amat sama lagunya Tatu itu. Tapi bedanya, yang aku maksud di sini adalah teman yang bagaimana sebenarnya yang bisa kita sebut teman?

Banyak definisi mungkin buat walkers di sini apa itu sebenarnya teman sejati, sahabat jiwa. Banyak pula pepatah dan ungkapan yang berusaha menggambarkan definisi teman sejati ini. Misal sebut saja, “ketika kamu berhasil, temanmu akan tahu siapa dirimu, tapi ketika kamu gagal, kamu akan tahu siapa temanmu.” Atau ungkapan lain yang selama ini sangat aku gemari, “kebahagiaan mendatangkan teman, tapi kesedihan akan menunjukkan siapa teman kita sebenarnya.”

Masih ada sisi lain sebenarnya menurutku siapa teman sejati itu sebenarnya. Salah satunya adalah bukan orang yang “yes-man”. Seorang teman yang yes-man menurutku sebenarnya bukan orang yang patut kita jadikan teman dekat. Dia akan selalu berkata “ya” untuk setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil. Tidak pernah perduli apakah keputusan yang kita ambil itu benar atau salah, dia akan selalu mendukung kita asalkan kita senang.

Kalau dipikir secara sekilas, sepertinya teman seperti ini adalah teman yang asik, yang ada selalu untuk mendukung kita. Tapi coba kita telaah lebih jauh tentang teman macam ini. Karena sifatnya yang selalu ingin membiarkan kita bahagia, teman macam ini justru patut dicurigai. Apa motifasi dia berteman dengan kita? Apakah sebuah ketulusan? Atau hanya ada maksud tertentu di balik itu? Bisa jadi kita adalah orang yang lebih dari beberapa teman kita. Kelebihan yang kita miliki itu, misal dalam hal kepandaian, harta, atau semacamnya bisa menjadi daya tarik kita untuk punya banyak teman. Ingat, kebahagiaan (dalam hal ini juga kelebihan pribadi) membuat banyak teman, bukan?

Dari maksud tersembunyi itu bisa menjadi motifasi buat dia untuk berteman dengan kita dan mendukung semua tindakan kita. Dia mungkin saja akan mendukung kita walaupun yang kita lalukan itu salah. Misalnya, saat kita frustasi dan memutuskan untuk mencoba narkoba, dia justru mendukung. Atau saat kita sedang membutuhkan sesuatu dan kita nekad mencuri untuk mendapatkan barang yang kita butuhkan itu, dia juga mendukung. Atau juga hal kecil yang jarang kita sadari. Contohnya, saat kita membenci sesuatu atau seseorang tanpa alasan yang jelas, dia juga mendukung. Lalu apa jadinya kita? Kita akan semakin membenci lebih dalam pada hal yang kita benci itu. Padahal, bisa jadi kebencian kita itu tidak beralasan sama sekali. Contoh yang lain adalah, karena kita tidak bisa mengendalikan hawa nafsu kita, kita jatuh pada liang perzinaan, naudzubillah. Teman dengan tipe ‘yes-man’ ini akan tetap memandang apa yang kita lakukan itu sebagai tindakan yang benar. Yah…, asal kita senang saja. Apakah itu teman yang layak buat kita?

Menurutku, walkers, bukan teman yang seperti itu yang kita butuhkan. Sekali lagi bukan. Orang semacam itu hanya untuk kita kenal saja, bukan untuk kita jadikan teman apalagi seorang sahabat. Jauh –jauh deh rasanya.

Teman yang kita butuhkan, sahabat yang kita perlukan sebenarnya adalah sahabat yang pedas. Dia yang mampu berkata ‘tidak’ untuk setiap hal buruk yang kita lakukan. Dia yang mampu memberi kita masukan untuk setiap tindakan yang kita ambil. Seorang sahabat yang baik adalah sahabat yang mampu mengkritik kita dan mampu menyadarkan kita dari jalan ‘nikmat tapi sesat’ yang kita pilih. Dia seorang teman yang pedas mungkin bagi kita. Tapi ingatlah, dibalik rasa pedasnya, justru dia bisa mampu mendukung langkah kita untuk menjadi lebih baik. Kalau ada yang suka film Harry Poter, pasti tahu kalau di salah satu film Dombledore pernah memberikan skor tambahan untuk asrama Harry karena tindakan teman semacam ini. Ucapannya yang sampai sekarang kadang masih terngiang adalah “butuh banyak keberanian untuk menghadapai musuh, tapi butuh lebih banyak lagi keberanian untuk menghadapi teman yang akan berbuat salah”

Nah, walkers, jadi sekarang silahkan renungkan, apakah seorang ‘yes-man’ atau teman yang pedas yang kita butuhkan untuk menjadi seorang sahabat? Putuskan juga, kepada siapa kita akan menjadi teman yang pedas dan menjadi sahabatnya selamanya. Pikirkan juga, apakah kita akan menjadi seorang ‘yes-man’ dan siap untuk mendapat julukan ‘si penjilat’ untuk teman teman kita. Keputusan ada di tangan kita, walkers.

Yap, walaupun nantinya kita memutuskan untuk berteman dengan teman yang pedas ini, atau kita sendiri yang berusaha menjadi teman yang pedas itu, jangan lupa satu hal : persahabatan itu abadi bila masih ada ruang pribadi antara keduanya. Kapan-kapan kita bahas tentang ini juga, Ok?


“ Jadilah seorang ‘yes-man’ dan jangan pernah sebut aku sahabatmu. “




sumber gambar dari sini
READ MORE - Teman Pedas
Ada kesalahan di dalam gadget ini