Tampilkan postingan dengan label penulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label penulis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Juni 2012

RJK 2012 06 10, Minggu : Seorang Kakek Tua di Jum'at Malam dan Orang Orang Hebat di Minggu Siang.

Gambar diambil dari sini


Jum’at malam kemarin, saat berhenti di lampu merah di depan hotel Sahid, aku melihat seorang kakek sedang menjajakan koran. Kutaksir usianya tidak kurang dari 70 tahun, rambutnya sudah memutih semua, tubuhnya kurus ringkih dan berjalan dengan tertatih. Padahal saat itu sudah lebih dari pukul sembilan malam. Hatiku serasa perih melihat itu. Sebuah ironi dan gambaran jelas sebuah ketimpangan sosial dan mungkin juga matinya toleransi di kota besar seperti Surabaya ini. Kita semua pasti tahu daerah di sekitar sana. Sebuah persimpangan jalan besar yang di kelilingi dan berdekatan dengan tempat tempat dimana kemewahan di manjakan. Hotel Sahid, stasiun Gubeng, Grand City Mall, Surabaya Plasa (delta), WTC, Monkasel dan sederet perkantoran kelas atas berjarak tidak lebih dari lima ratus meter dari sana. Tapi mengapa masih ada seorang tua yang berjalan dengan tumpukan koran di jalanan di malam yang sudah hampir larut juga di tempat seperti itu? Mengapa juga anak anak jalanan masih saja setiap hari kita lihat ada di sana? Padahal, gedung pemerintahan tidak sampai satu kilometer jaraknya. Mobil mobil mewah juga bukan hanya satu dua yang lewat disana. Tapi ratusan setiap harinya. Dimana nurani? Aku ingin bertanya. Dimana kebijaksanaan pemerintah? Aku ingin menangih. Tapi pada siapa? Jujur, aku tak tahu.

UUD pasal 34 ayat (1) maka akan berbunyi “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh NEGARA.” Apakah ini berarti bahwa kemiskinan dan kefakiran itu sendiri yang dipelihara oleh negara agar tetap ada? Bukan malah untuk di entaskan? Maka mungkin benar apa yang dituliskan Soe Hok Gie dalam catatan hariannya. “Ya, dua kilometer dari pemakan kulit “paduka” kita mungkin lagi tertawa-tawa, makan makan dengan istri-istrinya yang cantik.”  (Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran kamis, 10 Desember 1969, halaman 69). Sebuah ironi, walkers, kalau boleh aku bilang. Dan bagaimanapun aku sadar, aku adalah bagian dari ironi itu. Aku melihat, aku merasakan adanya ketidakberesan, tapi aku tidak (bisa) berbuat apa apa. Bukankah membiarkan kesalahan itu berarti mendukung kesalahan itu sendiri? Kalau aku ingin mengutuk orang orang di sekelilingku, maka pasti kutukan itu berlaku pula buatku.

Melihat kondisi seperti itu, disisi lain aku jadi bertanya tanya. Mungkinkah aku akan seperti dia suatu saat nanti (aku berdoa dengan sangat untuk tidak pernah menjadi seperti itu, tapi tetap, sepenuhnya aku sadar, segala kemungkinan itu ada, bahkan yang terburuk sekalipun). Apakah di masa tuaku aku akan bernasib sama seperti kakek tua itu? Hidup (mungkin) sebatang kara, tanpa seorangpun yang mau perduli akan nasibnya. Di usia senja yang seharusnya seorang sudah duduk manis menikmati hasil jerih payahnya di masa muda, masih saja harus berjuang untuk bisa makan malam itu. Aku selalu berdoa kepada Tuhan untuk menolak garis takdir semacam itu. Tapi ketika Tuhan berkehendak untuk menguji hambanya, siapa tahu? Setidaknya sekarang aku ingin menolong, walau dengan sekeping limaratus rupiah yang ada di saku celanaku. Agar mungkin nanti saat aku butuh, Tuhan akan mengembalikan limaratus rupiahku itu dalam bentuk yang lain.

Walkers,

Belum lagi jauh dari sana, di perempatan sebelum THR, lagi lagi aku berjumpa dengan pedagang koran yang menjajakan sisa koran tadi pagi. Tapi kali ini adalah seorang anak perempuan yang belum juga genap enam tahun usianya. Dia mendekat kearahku, mulanya aku kira dia akan menawarkan koran yang dia bawa, tapi yang kemudian keluar dari mulutnya adalah “pak…, saya belum makan dari pagi pak, minta pak…”

 Ironis!

***



Minggu siang adalah cerita lain yang ingin aku bagikan dengan kalian, walkers. Minggu siang aku bertemu dengan orang orang hebat dalam sebuah acara kopdar yang diadakan di Kebun Bibit Bratang. Mereka adalah anggota grup penulis “Bonektim” (BONdo cEndol EKsklusif jawa TIMur). Di sana hadir bunda Titie Surya (penulis, pemilik penerbitan Prima Pustaka Publishing, ketua Bonektim dan koordinator acara), mbak Wahyu (penulis), Jacob Julian (penulis novel Pocong Galau dan Hitech, penulis cerpen di beberapa majalan dan buku antologi) Axia Paramitha (monologer), Citra (penulis puisi dan cerpen), Zahara Putri (penulis enam belas antologi cerpen) ibu Evi Suryati (penulis, penggemar buku, dan pegawai perpustakaan daerah Surabaya), pak Kartono (pengurus TBM Kawan Kami) dan sejumlah nama lainnya yang sudah memililiki karya. Di sana mereka sedang membicarakan peluncuran buku mereka yang selanjutnya. Sebuah buku yang bernuansa cinta dan berseting di Surabaya.

Berada di tengah tengah mereka, aku bagaikan burung gagak di tengah kerumunan burung merak. Bukan apa apa, bukan siapa siapa, tiada indah. Kalau di tanya apa alasan aku berada di tengah tengah mereka saat itu, jawabannya adalah karena aku yakin kata pepatah “seorang yang berkumpul dengan penjual minyak, pasti akan kecipratan harumnya juga” adalah benar. Seorang yang baik, yang benar dan yang indah, pasti suatu saat akan menyebarkan keindahan itu pada lingkungan sekitarnya. Mereka adalah insprasiku untuk terus berkaya dan terus belajar. Semoga suatu saat, aku akan bisa menjadi merak seperti mereka, merak merak yang indah dan berbagi keindahan.
READ MORE - RJK 2012 06 10, Minggu : Seorang Kakek Tua di Jum'at Malam dan Orang Orang Hebat di Minggu Siang.