Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspiratif. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 April 2011

Bus Setan Itu Membuat Kami Ingat Kepada Tuhan

Kadang, bahkan sering kali, apa yang di sampaikan oleh orang orang alim itu, seolah cuma angin yang berlalu buat aku. Tiap minggu di rumah rumah ibadah, terasa cuma seperti rutinitas yang membosankan. Ritual keagamaan yang kadang aku ikuti hanya seperti rutinitas ke sekolah saja. Tidak ada yang berkesan, tidak ada yang memebekas. Kematian, surga, neraka, Tuhan, firman, malaikat, menjelma terkadang seperti kata makan, mandi, tidur, yang ada setiap hari, di lakukan tiap hari, tanpa ada yang bisa membekas di hati.

Tapi hari itu, sebuah pelajaran berharga aku dapatkan dari seorang sopir bus lintas kota. Berawal dari terminal Tawang Alun di jember, aku bersama seorang temanku berangkat untuk sebuah interview di sebuah pabrik di kota Pasuruan tepat pukul 4 dini hari. Seharusnya, perjalanan dari Jember ke Pasuruan di tempuh setidaknya 4 jam perjalanan. Jadi, bila kami berangkat pukul 4, kira kira pukul 8 pagi kami sudah berada di tempat interview. Masih akan ada waktu kira kira satu jam sebelum interview di mulai pukul 9 buat kami untuk menyegarkan badan dan pikiran.

Tapi yang terjadi sungguh di luar perkiraan kami. Bus yang kami tumpangi rupanya adalah bus setan. Bagaimana tidak, perjalanan kami di pagi buta itu, cuma butuh waktu 2,5 jam untuk di selesaikan. Terbayang bagaimana ngawurnya bus yang kami tumpangi? Bus yang kami tumpangi pagi itu seperti bus yang sedang di kejar oleh kematian itu sendiri. Dengan kecepatan yang ‘diatas normal’ itu, terbayang bagaimana kengerian yang di timbulkan. Suara klakson bus yang selalu menderu sepanjang jalan, di tambah pekikan tertahan dari para penumpang bus, menjadikan pagi itu benar benar seperti pagi di ambang kematian tiap penumpang bus. Bus bahkan mampu membuat truk-truk besar yang berpapasan dengan bus kami di jalur pantura menepi ke bahu jalan paling kanan. Berkali kali kendaraan kendaraan dan orang orang di pinggir jalan hampir menjadi korban dari bus yang kami tumpangi.

Tapi di balik kengerian itu, ada sebuah hikmah yang bisa kami ambil. Ternyata, saat saat di mana kami benar benar berada di ambang kematian seperti itu, kami benar benar bisa mengingat akan kematian itu sendiri, ingat akan Tuhan yang Maha Berkehendak. Kematian yang selama ini selalu jauh dari ingatan kami, selalu jauh dari pikiran kami. Tapi di pagi yang menyerempet maut itu, tak terasa, secara reflek, kami masing masing berdoa untuk keselamatan kami. Tiba tiba saja kami ingat akan Tuhan, ingat bagaimana memanjatkan doa doa yang selama ini kami lupakan.

Aku benar benar bernafas lega begitu turun dari bus maut itu. Pukul 6.30 kami sudah berada di tempat interview. Walaupun akhirnya aku tidak diterima di pabrik itu, tapi satu pelajaran bisa kami ambil. Pelajaran bahwa kematian itu bisa terjadi kapan saja, dengan apa saja, tanpa bisa kita ketahui sebelumnya. Juga pelajaran bahwa inspirasi itu bisa kita temukan di mana saja, kapan saja, dan dari siapa saja, asalkan kita bisa jeli melihat keadaan.

Mulai hari itu aku berjanji tidak akan pernah lagi naik bus yang sama. Tidak perduli siapa yang mengemudikannya. Aku pilih yang sedikit lambat, tapi bisa sampai di tempat tujuan dengan selamat.

READ MORE - Bus Setan Itu Membuat Kami Ingat Kepada Tuhan

Minggu, 06 Maret 2011

Arti Kemasan Mie Ayam Jamur Bagiku

“Sudah bu, berapa?” Tanyaku pada ibu pemilik warung.

” apa saja tadi?” Tanyanya, ramah sekali.

“ es teh dua gelas….” Jawabku,

“ empat ribu….” Celetuknya,

“ mie ayam jamur dua porsi. “

“ empat belas ribu, ada lagi?”

“ sudah itu saja bu…”

“ empat sama empat belas, delapan belas semuanya. “ jawab ibu itu. Keramahan belum juga hilang dari wajah dan dari bahasa tubuhnya. Senyuman yang menghiasi wajahnya tempak begitu diusahakan untuk terlihat setulus mungkin.

Kusodorkan dua lembar uang puluhan ribu rupiah kepadanya.

“ gak ajak pacarnya kesini….” Tanyanya beramah tamah. Ditanya seperti itu jujur sempat membuat aku sedikit terkejut. Sempat berfikir sejenak apakah aku memang sudah kenal sama ibu ini sebelumnya. Tapi rasanya tidak. Kecuali beberapa kali saja aku datang ke sini, dan itupun hanya untuk menikmati mie ayam jamurnya. Dia tidak banyak tau tentang aku, tentunya. Tapi kenapa ya dia terlihat sudah cukup dekat denganku?

“ ah, belum punya pacar kok bu, masih singgle ne saya…. “ jawabku dengan nada yang sedikit canggung, tapi dengan senyuman yang tiba tiba saja mengembang di sudut bibirku.

“ masak belum punya pacar,” godanya.

Aku nyengir lebih lebar lagi mendengar bagaimana cara dia mengucapkan kata kata itu. Sangat terasa kalau dia sedang berusaha terlihat ramah di depanku. Ada senyuman yang selalu tersungging di sudut bibirnya. “ cariin bu…” kataku tiba tiba, sambil nyengir kuda lebih lebar lagi di depannya.

“ mau emangnya…..”

Aku merasa semakin ada kedekatan yang unik diantara kami. Yang tercipta secara instan tapi menyenangkan. Kedekatan yang aneh.

Sesaat kemudian, bu pemilik warung itu menyodorkan kembaliannya, aku sadar kalau ini waktunya buatku untuk pergi.

“ makasih bu,”

“ sama sama….” Jawabnya.


***

Banyak motivasi kita melakukan sesuatu. Walaupun yang dikerjakan adalah hal yang sama, tapi belum tentu setiap orang yang berbuat sesuatu yang sama itu memiliki motivasi dan tujuan yang sama. Seperti halnya apa yang dilakukan oleh aku dan ibu pemilik warung mie ayam jamur itu. Dia tersenyum, sama seperti aku yang juga tersenyum di depannya. Tapi, harus aku sadari kalau tujuan kami tersenyum itu sangatlah berbeda.

Ibu pemilik warung itu tersenyum karena dia ingin menciptakan kedekatan antara aku sebagai pembeli diwarungnya dan dia sebagai pemilik warung. Harapannya tidak lain adalah agar aku tidak hanya menikmati lezatnya mie ayam jamur buatannya. Tapi lebih dari itu, dia berharap, dengan keramahtamahan yang dia ciptakan, dengan modal senyuman tulus di sudut bibirnya, aku akan bersedia kembali lagi kewarungnya lain waktu.

Ibu pemilik warung itu mungkin tidak pernah tau apa itu teori-teori perdagangan, bagaimana cara mencari pelanggan dengan cara cara yang tepat, atau dia mungkin tidak pernah tahu bahwa rahasia kelezatan mie ayamnya bukan cuma terletak pada racikan bumbu yang dia masukkan ke dalam semanggkuk mie ayamnya. Tapi ibu itu menyadari, bahwa keramah tamahannya akan menarik pengunjungnya untuk berkunjung kembali.

Teman teman, pernahkah kita sendiri menyadari, bahwa pada saat kita makan, seluruh indra di tubuh kita ini ikut menikmati lezatnya makanan itu? Mata kita menikmati bagaimana cara penyajian satu menu makanan itu di hidangkan. Hidung kita menikmati bau bauan yang di keluarkan oleh makanan itu, begitu juga indra peraba kita akan ikut merasakan apa saja yang bisa di sentuh. Sendok, media saji, dan lain yang bisa kita pegang, sadar atau tidak, akan memberikan persepsinya sendiri terhadap kelezatan makanan yang sendang kita hadapi. Ini yang bisa menjelaskan mengapa orang orang Jawa banyak yang suka makan lalapan dengan cara pulu’an (makan menggunakan tangan secara langsung, tanpa alat bantu seperti sendok dan sebagainya.)

Lalu di mana fungsi telinga? Nah itulah yang sebenarnya sedang dilakukan oleh ibu pemilik warung itu. Dia sedang membantu bangaimana kita menikmati makanan kita lewat indra pendengaran kita itu. Dengan kata kata yang ramah, dengan kata terimakasih yang tulus, akan ada kesan yang lebih mendalam pada makanan yang telah kita makan.

Seperti itu pula teknik yang dilakukan oleh minimarket minimarket yang sekarang banyak tesebar di pelosok negeri ini. Sadarkah kita bahwa ucapan selamat datang yang di serukan oleh pramuniaganya adalah usaha bagaimana indra pendengaran kita bisa menikmati indahnya berbelanja di minimarket tersebut. Di tambah alunan lagu lagu populer yang diputar membantu kita betah berlama lama di dalam minimarket tersebut. Dan efeknya, sebagaimana di harapkan pemilik minimarket tersebut, kita akan terlena untuk datang lagi, dan membeli lebih banyak lagi.

Teman teman, begitu banyak kemasan yang sering kita lihat. Kalau mau jujur, mungkin kita akan bilang kalau makanan di warung itu lebih mantab rasanya daripada di restoran cepat saji yang sering kita datangi. Tapi mengapa kita masih lebih sering makan di restoran cepat saji dari pada makan di warung lain yang bumbunya lebih mantab? Jawabannya adalah di samping membeli makanan untuk mengisi perut kita, kita juga membeli kemasan dan gengsi di restoran restoran cepat saji itu. Masalahnya, akankah kita mau jujur pada diri sendiri?

Begitu juga pada banyak hal lain dalam kehidupan kita. Termasuk mengapa kita memilih baju ini dan memilih menikmati lagu itu daripada baju dan lagu yang lain. Hal itu kemungkinan besar juga kerena kita melihat bagaimana sesuatu itu di kemas.

Teman teman, kalau ingin sesuatu yang kita usahakan bisa berhasil dan dapat diterima orang lain dengan baik, maka bungkuslah apa yang kita tawarkan itu dengan kemasan yang baik. kemasan yang baik akan memberikan kesan pertama yang baik, dan itu berarti, kita sudah menang satu langkah. Selanjutnya, tetap, jangan lupakan isinya. Kemasan yang berkualitas bagimanapun harus juga di ikuti dengan kualitas isi yang tinggi pula.

Coba kita sempatkan membuat kue yang sama dengan bentuk yang berbeda. Kemudian minta kepada teman kita untuk memilih kue yang mereka suka tanpa harus menyentuhnya. Hampir di pastikan mereka akan memilih kue dengan bentuk yang menyenangkan daripada kue dengan bentuk yang biasa saja walaupun kita sudah mati matian menjelaskan bahwa rasa kedua kue itu benar benar sama. Kalau bingung mengapa itu terjadi, sepertinya anda harus membaca artikel ini sekali lagi…..

Salam hangat.. ..

sumber gambar 
READ MORE - Arti Kemasan Mie Ayam Jamur Bagiku

Minggu, 27 Februari 2011

Aku, Abangku, dan Jodohnya


Siang ini, aku memutuskan untuk mampir sebentar di rumah makan sederhana di depan kantor abangku sebelum aku menemuinya. Lelah rasanya terguncang guncang dalam angkutan umum sejak tadi. Perjalanan 6 jam Bondowoso-Surabaya bukan perjalanan yang cukup menyenangkan.

Macet, panas, bedesakan, laju kendaraan yang tidak stabil, lagu lagu yang bising dari pengamen jalanan yang jumlahnya tidak bisa dihitung dengan jari, ditambah pedangang asongan yang tak terhitung jumlahnya. Aku berfikir mengapa angkutan umum di negeri ini sedemikian parahnya ya? Aku membayangkan seandainya saja aku punya kendaraan pribadi. Mungkin tidak seperti ini keadaannya. Mungkin aku bisa lebih tenang. Mungkin aku bisa lebih menghemat tenatidaku. Setidaknya, mungkin tidak perlu sebising itu.

Tapi segelas es degan yang menemani semangkok bakso panas di depanku sedikit membuatku bisa melupakan efek dari segala kebisingan itu. Sedikit menurunkan temperatur otakku. Membuatnya lebih bisa berfikir jernih. Sehingga nanti, aku bisa bertemu dengan abangku dengan keadaan yang lebih baik.

***

Ada dua wanita muda yang masuk ke dalam warung bakso sederhana ini saat teh di dalam gelasku tinggal separuh. Mulanya, cuwek aja aku dengan kehadiran mereka. Kenal juga tidak. Jadi aku tidak ambil pusing saja. Mereka juga pembeli di warung bakso ini bukan? Sama seperti aku dan orang orang lain yang penuh sesak di warung ini.

Tapi saat mereka mengambil tempat duduk tepat di depanku, kerena memang semua tempat duduk yang lain sudah penuh, mau tidak mau, aku harus jadi bagian dari pembicaran mereka. Setidaknya, aku harus jadi teman yang baik.

“ Panas bener ya siang ini” kata wanita muda yang pertama. Aku kira dia sekitar 24 tahun usianya. Dengan baju kerja warna biru tua dan lipstik yang natural. Dia cantik, juga manis. Dan aku suka melihat goresan wajahnya.

“ Namanya juga Surabaya. Kayak yang baru aja kamu di sini” kata wanita kedua. Yang ini berpakaian serba hitam dengan rambut hitam yang di sanggul kebagian atas kepalanya. Liptiknya merah membara, wajahnya tegas, mengingatkan aku pada istri-istri bawel yang matre. Ouh, semoga saja dia bukan jodohku. ( gagagagagagaga, tentu saja aku ngawur, ….. J )

Wanita pertama hanya mengulas senyum tipis mendengar jawaban teman sekantornya itu. Mungkin sudah terbiasa dia dengan karakternya. “ Ya mbak Ning. Tapi hari ini panas banget rasanya. Mungkin karena pekerjaanku yang numpuk kali ya…..” Timpalnya. Tapi wanita kedua, yang di panggil mbak Ning itu tampak tak begitu peduli, bahkan untuk menoleh dan memberi sedikit senyuman.

Sebentar kemudian, seorang pelayan datang membawa dua mangkok bakso porsi sedang segelas es teh, dan segelas es jeruk. Aku mencoba mengalihkan perhatianku ke layar telepon genggam di tangan kananku. Sebuah pesan aku kirim ke nomor abangku. Mengabarkan kalau aku sudah di warung didepan kantornya.

“ Mas,” kata wanita pertama ketika pelayan itu selesai meletakkan semua barang yang dia bawa keatas meja.

“ Ya..” Pelayan laki laki itu menjawab dengan santun.

“ Tolong, bungkus satu bakso porsi jumbo sama satu es teh di bungkus juga.”

“ Ya mbak.” Jawab pelayan itu “ Cuma itu saja?”

“ Ya mas, makasih ya. “

“ Sama sama mbak. “

Pelayan itu segera berlalu. Tapi belum juga dua langkah pelayan itu pergi, mbak Ning menoleh dengan ekspresi yang kaku kearah wanita  pertama. “ Buat siapa baksonya. Kok bungkus segala?”

Wanita pertama menyungging senyum, “ Buat mas Topek mbak, “ (hatiku berdegup mendengar nama itu di sebutkan, apa mungkin…..)

“ Topek?”

“ Tufik Rahmad Purnomo mbak, kasian dia” kali ini aku yang pasang telinga tetegak tegaknya. Itu nama abangku. Apakah…..

“ Ternyata benar ya yang di kantor selama ini. Kamu benar benar naksir dia kayaknya. Tidak salah ?” tanya mbak Ning. Tidak ada lembut di dalam tutur katanya. Buat telingakuku ini gatal saja rasanya.

Wanita pertama itu senyum saja mendengar komentar mbak Ning. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan tabiat teman sekarntornya itu. “ Biar sudah mbak Ning temen temen mau ngomong apa. Aku sudah dengar semuanya kok. “

“ Walah, Mala, Mala, jadi bener toh yang di omongin temen temen sekantor itu? Sayang kalau kamu memang bener bener jadian ma si Topek. Gitu kok orangnya kamu senengin.”

Aku hampir muntab mendengar kata kata orang yang di panggil mbak Ning ini. Busyet dah dia. Kok sampai segitunya sama abangku. Emang abangku seburuk apa di kantornya kok sampai di cap segitu jeleknya.

“ La kenapa toh mbak Ning, apa salah saya suka sama mas Topek?”

“ Topek itu lo orangnya kere,” timpal mbak Ning. Astaghfirullah, pengen tak jotos orang ini sama aku. Tapi aku masih penasaran, apa yang sebenarnya terjadi sama abangku di kantornya. Jadi aku putuskan untuk diam dulu. Dengarkan dulu.

“ Jangan bilang gitu mbak Ning, jangan pandang orang dari hartanya. “

“ Terus dari apanya? “

“ Dari hatinyalah mbak Ning, Topek orang yang baik. Dia beda sama yang lain. “

“ Halah, tak kasi tahu ya Mala. Sekarang ini, kalau cari calon suami itu yang ada duitnya. Mau makan apa kita kalau suami kita orang kere?”

“ Banyak duitnya tapi temperamennya jelek buat apa mbak Ning. Aku pengen orang yang bertanggung jawab saja kayak Topek itu. Dia itu loh selama ini kerja demi keluarganya. Dia itu kerjanya bagus. Kan kita semua sudah tahu kalau bulan ini dia di promosikan. “

“ Ya, aku tahu “ timpal mbak Ning.” Tapi dia itu lo tidak bisa ngatur uang. Masak tiap bulan uangnya abis terus. Sampe sampe di bela belain puasa segala buat ngirit. Emang kemana uangnya?”

“ Di kirim mbak Ning”

“ Dikirim?” wajah mbak Ning mengkerut kerut.

“ Ya, di kirim kerumahnya di Bondowoso. Buat ibu sama adeknya di sana. Bapaknya kan dah meninggal?”

“ Hah, beneran tah?” timpal mbak Ning dengan nada tidak percaya.

“ Bener mbak Ning. Aku tahu sendri kok. Bahkan pernah aku diminta tolong ma Topek buat transfer ke rekening adiknya di sana. Waktu itu, kalau tidak salah dia lupa bawa dompetnya waktu keluar sama aku. Padahal uangnya di butuhkan hari itu juga sama adiknya. Jadi aku tahu kira kira berapa yang dia kirim kerumahnya tiap bulan.”

“ Gitu tah? Banyak ya yang dia kirim ke rumahnya, sampai sampai dia tidak bisa beli celana sama kemeja baru. Perasaan tiap hari yang di pake itu itu saja.”

Mala tampak merenung. “ kasian dia mbak Ning. Pagi ini dia tidak sarapan. Katanya adiknya lagi butuh tambahan uang buat biaya kuliahnya di sana. Jadi dia harus lebih berhemat lagi. “ Mala menghela nafasnya. Jantungku berdegup kencang. Kali ini bukan karena amarah pada mbak Ning, tapi karena jengkel pada diriku sendiri! Aku jengkel dan marah pada diriku sendiri. Perlahan muncul kesadaran dalam diriku. Betapa selama ini aku sudah menjadi benalu buat abangku sendiri.

“ Siang ini, katanya adiknya mau datang ke sini” Mala melanjutkan kalimatnya.

“ Kenapa? “ tanya mbak Ning. Kali ini dengan nada yang lebih lembut.

“ Kartu ATM adiknya keblokir. Kemarin dia salah masukin pin”

Aku menundukkan wajah dalam dalam. Gemuruh dalam hatiku bertambah besar. Aku tahu, pasti wajahku sudah memerah sekarang. Betapa cerobohnya aku! Betapa malunya aku….

“ Kalau gitu, kasian sama Topek ya. Kalau adiknya ke sini, berarti butuh pengeluaran lagi buat ongkos perjalanannya. Gitu ongkosnya masih Topek juga yang kasi?”

“ Gak tahu aku mbak Ning. Makanya aku beliin bakso buat dia. Kasian kalau siang ini dia tidak makan lagi.”

“ Di tambah lontong aja mal, biar lebih ada isinya.” Timpal mbak Ning tiba tiba. Sekarang hatiku luruh. Ada setetes air mata yang mengambang di pelupuk mataku. Aku merasa sangat, sangat tidak berguna sekarang. Sangat bodoh, egois…..! aku benci diriku sendiri….!!! Aku benci…..!!! mbak Ning yang tadi sebegitu bencinya sama abangku saja bisa langsung luluh mendengar kebenaran ini.

“ Ya mbak Ning. Nanti aku pesenin. Kalau di bantu secara materi dia pasti nolak. Kalau gini, mungkin bisa lebih membantu.”

“ Nanti Malam ajak dia makan Malam di rumahku Mal. Aku juga jadi tidak tega dengernya. Emang adeknya itu cowok apa cewek sih.”

“ Cowok mbak.”

“ Sudah kuliah dia ya? Udah besar berarti. Sudah bisa cari uang sendiri seharusnya. Biar Topek bisa lebih mengatur keuangannya. Tidak mau nabung apa dia itu? Kalau mau nikah kan butuh uang.” Kalimat mbak Ning itu terdengar pedas di telingaku. Tapi aku cuma bisa diam saja. Aku sudah runtuh….. aku sudah hancur rasanya…..

“ Dulu Mal, biar aku cewek gini, aku gak pernah minta orang tua buat biaya kuliah. Aku kerja Mal. Nyuci piring di rumah makan. Boro boro mau minta orang tua. La yang mau buat orang tuaku makan sendri saja sudah repot setengah mati carinya. Gimana juga mau nanggung kuliahku…., ini adiknya cowok. Seharusnya Topek bisa kasi dia penjelasan ke adiknya. Emang dia mau nikah umur berapa?”

“ Ya mbak, itu yang juga jadi pikiranku. Topek belum bisa nerima aku katanya karena dia belum siap nanggung hidupku. Dia masih punya tanggungan di rumahnya. Padahal aku sudah bilang sama dia kalau aku mau belajar hidup sederhana. Belajar menerima dia apa adanya.”

“ Orang tua kamu sudah setuju ma hubungan kalian?”

“ Orang tuaku sebenarnya suka ma mas Topek mbak. Mereka bilang jarang ada orang kayak mas Topek jaman ini. Tapi ya itu mbak, mas Topeknya tidak bisa lepas tanggung jawabnya sekarang ini. …….”

Aku bangkit dari tempat dudukku. Ada air mata yang menetes dari mataku. Tapi aku sudah tidak lagi perduli.” CUKUP…..!!!” kataku tegas. Walau aku tahu. Suaraku tidak keluar dengan sempurna.

Kedua wanita itu menganga kaget. “Aku adek mas Topek…….!!!! berhenti bicara tentang aku!!!” Aku berteriak di depan wajah mereka. Tapi sebelum aku bertindak jauh diluar kendali, sebuah tangan dengan cicin yang aku kenali menarik tubuhku menjauh dari sana. Tangan itu, tangan mas Topek.

***

Surabaya sudah kutinggalkan tiga jam yang lalu. Sekarang bus yang aku tumpangi sedang parkir di terminal Probolinggo.

Aku duduk sendiri di salah satu kursi penumpang. Otakku memutar kembali memori tiga setengah jam yang lalu, saat aku sempat bertengkar hebat dengan abangku tadi. Kami bertengkar hebat tepat di depan warung bakso itu.

Aku benar benar kehilangan kendali. Aku merasa aku sangat tidak lagi berguna. Aku merasa kalau aku ini sebernarnya cuma sampah yang bisanya cuma jadi beban orang lain. Aku begitu frustasi tadi. Sampai sampai berusaha menabrakkan diri pada kendaraan yang lewat. Tapi untunglah. Abangku, pria sejati itu bisa mencegahku.

Amarahku mereda ketika  ibu tua pemilik warung bakso itu menyeretku ke dalam ruang tamunya yang berada tepat di belakang warung baksonya. Ada mbak Mala sama mbak Ning juga disana yang bantu abangku menenangkanku.

“ Bang, maafkan adikmu ini ya, aku janji bang, ini adalah uang terakhir yang aku terima dari abang. Bulan depan, cukup abang kirim buat ibu saja. Aku akan berusaha sendiri bang, aku akan jadi seorang lelaki sejati seperti abang.

Bang, makasih sudah jadi inspirasi terbesar dalam hidupku. Terima kasih sudah mengubah aku jadi lebih baik, mbak Mala dan mbak Ning. Tanpa percakapan itu, mungkin aku sekarang tetap jadi seorang pecundang.

Terima kasih Tuhan untuk kejadian hari ini. Terima kasih sudah menegurku. Sekarang aku tahu, tak selamanya menangis itu tanda cengeng. Sekarang aku tahu, kalau menangis itu manusiawi………. Terima kasih untuk hari yang mampu mengubah hidupku ini. Terima kasih untuk segalanya……”



sumber gambar :
READ MORE - Aku, Abangku, dan Jodohnya

Rabu, 16 Februari 2011

Seorang nenek, dan Ilmu Tuhan

Cuma ada beberapa orang panitia dan undangan yang datang waktu aku tiba di lokasi, sebuah gedung perkuliahan universitas ternama di kota ini. mulanya semua berjalan lancar saja. Setiap undangan yang datang mengisi buku tamu yang disediakan oleh panitia. Sebagian dari mereka mengisi buku tamu akademisi, dan sisanya, mengisi buku tamu non akademisi. Memang tidak bisa langsung di bedakan secara kasat mata yang mana yang tamu akademisi,  mana yang tamu non akademisi. Karena umumnya mereka adalah orang orang berada yang bisa datang ke salon untuk mengubah penampilan mereka guna menghadiri acara pengukuhan gelar doktor seperti ini.

Tapi satu tamu yang hadir sekitar lima belas menit sebelum acara pengukuhan di mulai, menyita cukup banyak perhatianku. Tak seperti tamu tamu yang lain, tamu yang satu ini berpenampilan sangat biasa, sangat bersahaja seperti kebanyakan nenek yang biasa bergelut dengan bawang dan  cabai di dapur sederhananya. Tinggi badannya tak lebih dari 145 cm saja. Dengan pakaian kurung sederhana tanpa motif apapun di padu dengan kerudung hitam tanpa corak. Di tangannya, sebuah tas hitam sederhana berwarna hitam semakin menguatkan kesan kesederhanaannya.

Hal kedua yang membuat aku kagum pada sosoknya adalah ketika aku sadar kalau ruang pertemuan ini berada di lantai tiga. Di gedung ini hanya ada tangga, tanpa lift. Jadi tentu saja nenek yang ini sudah bersusah payah sendiri menaiki tangga sampai lantai tiga. Tapi si nenek  tidak tampak kelelahan sewaktu tiba di tempat pertemuan. Penampilan seorang nenek, tapi tenaga seorang gadis!

Hal berikutnya yang membuat jantungku berdegub adalah ketika salah seorang pentia menyambut dan memanggilnya ‘Prof’. aku berharap telingaku salah mendengar apa yang baru saja aku dengar watku itu. Mungkin yang aku dengar hanyalah panitia itu memanggil nama si nenek yang pelafalannya yang mirip dengan pelafalan suku kata ‘prof’ (yang berasal dari kependekan sebutan untuk profesor). Tapi degub jantungku sedikit memburu dan mataku sedikit membelalak ketika si nenek sederhana itu mengisi buku tamu akademisi, yang berarti beliau berasal dari golongan terpelajar. Kali ini, masihkah aku harus berharap kalau telinga dan mataku salah mendengar dan melihat?

Apa lagi setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau nenek tua sederhana ini masuk ke ruangan 503, ruang di mana ujian terbuka untuk pengukuhan gelar doktor itu dilaksanakan. Sendangkan untuk tamu dari golongan non akademisi yang berasal dari keluarga dan orang dekat sang calon doktor ada di ruang aula A.

*** 

Semua membuat aku larut dalam renunganku. Manusia, seahli apapun, setinggi apapun ilmu dan kemampuannya, dia tetaplah seorang manusia. Manusia yang tingkatan tertinggi keahliannya hanyalah seorang spesialis. Dokter mungkin adalah bidang dengan sepesialisasi terbanyak. Spesialis anak, kandungan, neurologi, traumatologi dan orthopedi, urologi, dan mungkin masih banyak yang lain. Seorang ilmuan ternama kelas dunia, seperti Einstein misalnya, hanya akan menjadi ahli di satu bidang saja. Dia ‘hanya’ ahli dalam bidang fisika saja, tidak pernah dikabrkan kalau Einstein punya keahlian lebih di bidang biografi atau ketatanegaraan. Seorang Hitler di sisi lain adalah seorang negarawan, seperti halnya dia tidak pernah di beritakan membuat penemuan yang menakjubkan di bidang yang lain. Tidak di bidang fisika atau sastra.

Kalau kita mau mengurutkan kedalam sebuah daftar yang panjang tentang para ahli dan orang orang ternama yang pernah tercatat namanya dalam sejarah, rasanya tidak ada seorangpun yang akan punya tempat di seluruh bidang yang bisa di masukkan dalam daftar itu. Adakah seorang ahli matematika yang juga negarawan, kaligus filsuf, sekaligus ahli sastra, sekaligus ahli biologi, sekaligus seorang dokter, sekaligus seorang negarawan, sekaligus seorang arkeolog dan sekaligus sekaligus yang lain? Benar benar tidak ada rasanya.

Perenungan hari itu membuatku kembali pada sebuah kesimpulan bahwa betapa dahsyatnya ilmu Tuhan itu. Tuhan adalah maha segalanya. Dia adalah ahli di segala bidang. Tuhan yang menciptakan kehidupan yang dapat di telaah dari unsur fisika, yang menunjukkan kalau Tuhan adalah ahli dalam bidang fisika. Tuhan menciptakan isi alam raya yang dapat di jelaskan dalam teori teori matematika. Yang berarti Tuhan adalah seorang ahli matematika. Dalam bidang biologi, Tuhan juga adalah sang ahli. Tuhan juga ahli bukan hanya ahli dalam hal tatanegara, tetapi juga ahli dalam hal tata alam semesta.

Seperti kata pepatah yang hari itu juga aku ingat kembali, bahwa “ semakin tinggi ilmu seseorang, semakin sadar juga kalau dia semakin bodoh.” Seorang dokter spesialis saraf misalnya, seperti yang pernah aku tau saat aku berbicara dengan dia, kalau semakin hari dia semakin sadar, betapa minimnya ilmu yang dia tahu mengenai ginjal atau organ respirasi. Padahal syaraf dan ginjal serta organ respirasi itu masih berada dalam satu disiplin ilmu biologi, atau setidaknya kedokteran. Tapi mana pernah ada seorang ahli ginjal yang melakukan pengobatan sistim respirasi atau ginjal? Atau mana ada seorang guru fisika di smu yang bisa menjabarkan kesenian sebaik guru kesenian yang asli? Atau mana ada guru olahraga yang bisa mengerti detail tentang inti sel sebaik guru biologi? Kita bahkan tidak  pernah tau ada apa di dasar samudra terdalam, seperti kita juga tidak pernah tau berapa sebanarnya banyak bintang diangkasa. Kecuali dalam perkiraan menurut para ahli.

Bila kita mau sadar, betapa bodohnya kita, masihkah kita akan menghakimi seorang tua seperti pada awal tulisan ini dari sampul luarnya saja? Apa lagi, saat acara pengukuhan berlangsung, justru nenek tua yang bersahaja itu adalah salah satu pengujinya? Sungguh, hanya Tuhan yang berhak menilai kita dengan sebenarnya…..
READ MORE - Seorang nenek, dan Ilmu Tuhan

Selasa, 11 Januari 2011

Ibuku dan sepotong terong

Sepotong terong di atas nasiku siang ini serasa sulit sekali aku telan. Padahal, aku ini penggemar berat terong lo. Jangankan menelan, mau menyentuhnya saja rasanya aku gak sanggup. Tenggorokanku rasanya tersumbat seonggok spon kering yang menyerap seluaruh air liurku. Kering banget rasanya seluruh mulut sampai tenggorokanku. Dan efeknya, rasa laparku, rasa sakitku, dan semangatku untuk sembuh langsung memudar. Menghilang malah……

***

Ceritanya, hari ini aku lagi sakit. Dari tadi pagi aku mendekam saja di dalam kamar kosan aku ini. Sampai kira kira jam ibu kos yang baik hati itu masuk ke kamarku,

“kamu sakit di? “ tanyanya di ambang pintu kamarku.
“ya bu, saya sakit, “
“jadi gak kerja hari ini?”
“gak kerja bu, tadi saya sudah telepon ke kantor,…..”
“sudah minum obat?”
Aku ragu untuk menjawab pertanyaan ini. Ragu karena aku tau, ibu kos aku ini orangnya baik banget, dan sangat perhatian sama anak anak kosnya.
“sudah minum obat belum…..” tanya ibu kos lagi.
“belum bu,” jawabku.
“sudah makan?”
“belum…..” jawabku lagi  “ nanti saya mau minta tolong anton saja beli nasi sama obat…”
“oh, ya sudah kalau begitu, ibu tinggal masak dulu ya…., kamu gak apa kan ibu tinggal?”
Aku mengangguk. Ada perasaan seneng banget rasanya dapet perhatian seperti itu saat aku sakit. Setelah ibu kos pergi. Aku melanjutkan tidurku yang tertunda.

***

Siang harinya aku terbangun pukul 12.36. ada anton di di ranjangnya. Rupanya dia baru pulang dari kerjanya di stasiun radio.

“napa kamu, “ tanyanya. “ kata ibu kos kamu sakit ya?” aku nyengir kuda mendengarnya. “ aku gak pulang semalem aja kamu dah sakit, gimana kalau aku tinggal dua hari…. Gagagagagagaga…..” anton tertawa terbahak bahak. Anton memang begitu orangnya. Selalu saja ceria dan bisa membawa suasana menjadi menyenangkan. Maka itu, aku betah satu kamar kos sama dia.

“Tuh di meja ada nasi, sama ikan laut, sama….., sama terong penyet…..”
Mendengar kata terong penyet, aku langsung bernafsu untuk makan. Bagiamanapun, diolah seperti apapun, terong tetap jadi sayuran idolaku. Aku berusaha bangkit dari tidurku. Anton mendekat dan memberikan sepiring nasi yang dia bilang tadi. Gak lupa juga dia mendekatkan segelas air putih dan sebungkus obat ke arahku.

“Dari sapa sih ini?” tanyaku.
“ibu kos,” jawab anton pendek.

Tiba tiba ada keharuan menyerbak di dadaku. Terharu aku punya ibu kos sebaik dia. Perhatian banget walau kita bukan anaknya.

“eh ton,” panggilku saat aku lihat anton bergeges pergi kelaur kamar.
“mau kemana kamu…” tanyaku,
“mau ke toilet. Napa?
“ bilangin ya sama ibu kos. Makasih dah repot repot buat aku. Jadi terharu aku….”

Tapi anton malah mengurungkan langkahnya keluar kamar. Dia menghampiri aku. Dan sungguh, kata kata yang diucapkan, diluar dugaanku.

“aku Cuma mau ngomong ya, terserah kamu mau nanggepinnya gimana. Tapi coba kamu pikirkan. Kamu di kasi perhatian sama ibu kos, di masakin makanan kesukaanmu waktu sakit, di kasi obat, kamu dah sebegitu berterimakasihnya. Sampe sampe kamu terharu sagala. Tapi coba kamu ingat. Sudah berapa kali ibu kamu melakukan ini buat kamu. Berapa kali kamu sakit selama sama ibu kamu. Dan coba ingat, lebih besar mana perhatian yang kamu dapet, dari ibumu apa dari ibu kos? Dari ibu kos mungkin Cuma sewaktu waktu, tapi sadar gak kalau ibu kita sudah memperhatikan kita sepenjang hidup kita?

Yang jadi pertanyaan sebenarnya adalah, sudahkah kamu berterimakasih yang sesungguhnya sama ibu kamu……””

Dadaku berdesir, tenggorokanku terasa kering mendadak. Lalu tak terasa, ada setetes air mata kerinduan menetes tak terbendung melewati pipiku.

“ibu…., maafkan anakmu ini......aku kangen ibu…..”



READ MORE - Ibuku dan sepotong terong

Selasa, 04 Januari 2011

Tuhan memberiku Rp. 2.592.000.000,00 pertahun secara gratis

Suatu hari, aku sedang bersama temanku yang menderita penyakit asma. Waktu lagi asyik ngobrol, temenku itu tiba tiba mengeluarkan botol kecil dari dalam kantongnya.

"apa itu? Tanyaku,
" ini oksigen murni."
" oh, buat apa?"
" aku kan astma, ini membantu aku untuk tetap bertahan hidup....."

Entah kenapa, percakapan antara aku sama temen aku itu tetap membekas dalam ingatanku sampai sekarang. Iseng mulanya aku kemudian mencoba menghitung hitung berapa kiranya biaya yang kita butuhkan kalau seandainya, udara yang kita hirup ini tidak di berikan secara gratis oleh Tuhan. Satu botol oksigen murni itu harganya Rp.195.000,00 untuk pemakaian maksimal 30 menit. Kalau di hitung hitung mengnngunakan logika matematika, anggaplah Tuhan memberikan kita diskon untuk pembelian oksingen murni ini jadi Rp.150.000,00 untuk bernafas selama 30 menit. Alasannya, kita sudah lama berlangganan oksigen, sejak lahir malah gegegegegege....

Jadi untuk bernafas selama satu jam saja, setiap orang harus mengeluarkan biaya sebesar Rp. 300.000,00. Kalau kita dalam satu hari hidup selama dua puluh empat jam, maka, uang yang harus kita keluarkan untuk bernafas dalam satu hari adalah 24xRp.300.000,00 = Rp. 7.200.000,00, dengan cara yang sama, maka kita butuh biaya Rp. 50.400.000 untuk bernafas selama satu minggu, dan Rp. 216.000.000,00 untuk bernafas selama satu bulan. Untuk satu tahun kita harus mengeluarkan uang sebesar Rp. 2.592.000.000,00 Masyallah, tiba tiba saja pikiranku serasa berhenti untuk berfikir, gak mampu rasanya untuk menghitung lagi ketika aku mendapatkan angka Rp. 64.800.000.000,00. Itu adalah uang yang harus aku bayarkan untuk bernafas selama 25 tahun, selama masa hidup aku ini. Aku cuma bisa diam, terharu, kemudian mulai muncul bayangan segala dosa yang pernah aku lakukan. Tuhan sudah memberi aku Rp. 64.800.000.000,00 selama hidup 25 tahunku. Sedangkan aku? Aku telah membalasnya dengan melanggar banyak larangannya.

Tuhanku hanya meminta kita untuk solat lima kali sehari. Bila di setiap waktu solat kita butuh waktu 10 menit, maka dalam satu hari, kita hanya butuh waktu 5x10menit = 50 menit, atau seharga Rp. 250.000,00 dari nafas kita sehari. Padahal dalam satu hari, Tuhan sudah memberi kita Rp. 7.200.000,00 secara gratis untuk udara yang kita hirup. Ya Tuhan, betapa gak pantasnya aku. Betapa besarnya nikmat yang telah engkau berikan pada kami. Sedangkan untuk waktu solat yang sangat murah itu, hambamu ini masih enggan......

Kalau kita mau meneruskan menghitung hitung nikmat Tuhan yang diberikan secara gratis, cobalah lihat matahari. Setiap hari berapa energi yang dekeluarkannya untuk di pancarkan ke dalam kehidupan kita. Kalau matahari padam, tapi kita dan bumi ini masih utuh, maka dari mana kita akan mendapatkan energi yang kita butuhkan. Tanpa matahari, angin akan berhenti mengalir, yang berarti kita harus berpindah tempat setiap kali ingin bernafas. Tanpa matahari, tumbuhan tidak akan menghasilakan makanan, yang berarti, kita tinggal menghitung hari untuk menyambut kematian.....

Kemudian kita lihat jantung kita. Bila jantung ini mengalami gangguan, kita butuh dokter untuk memperbaikinya. Dan untuk perbaikan jantung ini (operasi jantung) kita harus membayar setidaknya Rp. 60juta sekali perbaikan. Itu biaya perbaikan kawan, bukan biaya pembuatan. Jadi berapakah yang sudah Tuhan gratiskan untuk kita untuk pembuatan jantung ini? Otakku yang lemah ini rasanya gak mampu untuk menghitungnnya.

Sekarang berapa biaya yang sudah di gratiskan Tuhan untuk nafas, untuk sinar matahari, untuk jantung? Kemudian untuk tangan kita, untuk mata…….

Aku cuma bisa tetunduk malu mengingat semua ini,
Malu mengigat setiap dosa yang sudah aku perbuat,
Malu untuk mengingat setiap solat yang aku tinggalkan,
Tergetar seluruh badan aku kita di bacakan untukku ayat yang terjemahannya

"maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?"
Ya Tuhan, maafkanlah kami....
READ MORE - Tuhan memberiku Rp. 2.592.000.000,00 pertahun secara gratis

Kamis, 30 Desember 2010

solat maghrib yang membuat aku merinding

Beberapa hari yang lalu aku sedang dalam perjalanan bersama seorang teman menuju satu tempat di daerah mojokerto. Dalam perjalanan itu, temanku bercerita tentang pembangunan musola di daerah perumahannya. Pembangunan musola itu dilakukan secara swadaya oleh masyarakat di kompleks perumahan itu. Mereka menyumbang sejumlah uang atau bahan bangunan seiklas mereka. Yang fantastis, pembangunan musola itu menelan dana sampai 300 juta rupiah. Aku jadi berfikir, kok bisa semahal itu ya untuk pembangunan sebuah musola saja. Padahal harga satu rumah di perumahan itu hanya berkisar 150-250 juta saja. Aku jadi penasaran ingin berkunjung kemusolah yang ‘mahal’ itu. Bagaimana jike mereka ingin membangun sebuah masjid di kompleks perumahan itu? Bisa bisa bilangannya sampai milyar rupiah biayanya. Tapi melihat siapa yang tinggal di perumahan itu, pantas juga kiranya musolah semahal itu. Pada umumnya mereka adalah orang orang kelas menengah keatas.


Tapi hal yang sesungguhnya mencengangkan dan membuat aku merinding adalah ketika kami sedang solat maghrib di sebuah masjid sepulang dari mojokerto. Masjid itu terletak di daerah Sepanjang. Jalan yang sangat padat penduduk dan ramai dilalui berbagai kendaraan dari berbagai arah. Muadzin masih mengumandangkan adzan maghrib ketika aku dan temanku masuk ke dalam masjid setelah selesai berwuduk. Kebetulan juga ada beberapa orang rombongan musafir yang masuk ke dalam masjid bersama kami. Kami berdiri menunggu muadzin muda itu selesai mengumandangkan adzan. Setelah adzan selesai di kumandangkan, aku dan temanku melaksanakan solat sunnah dua rokaat. Sedangkan sang muadzin langsung keluar meninggalakan masjid.


Aku dan teman aku duduk di dalam masjid menunggu jamaah lain yang akan solat magrib berjamaah di sana sambil berdzikir sebisa kami. Tapi semakin lama kami merasa semakin aneh. Anehnya, tidak ada satu pun warga yang datang kemasjid itu untuk melaksanakan solat magrib berjamaah. Muadzin yang tadi juga tidak menampakkan batang hidungnya. Hampir setengah jam kami kebingungan di dalam masjid itu, karena bagimanapun semua yang ada dalam masjid itu adalah pendatang (bukan orang asli sekitar masjid). Sampai akhirnya salah satu dari rombongan itu, melaksanakan solat magrib dengan imam dari mereka dan makmum yang seluruhnya adalah wanita. Aku dan temanku otomatis tidak bisa ikut melaksanakan solat berjamaah besama mereka karena sang imam berdiri di saf nomer dua dari belakang, dan seluruh jamaahnya berdiri di saf paling belakang. Otomatis aku dan teman aku makin kebingung. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk solat berjamaah berdua.


Selama solat hatiku miris bercampur aduk. Merinding rasanya bulu kudukku memikirkan semua yang terjadi. Baru kali ini aku berdiri untuk solat magrib berjamaah di sebuah masjid dengan lebih dari satu kelompok solat berjamaah. Bolehkah ini? inikah tanda akhir jaman? Benarkah aku sedang berada di akhir jaman? Dimana tempat ibadah (masjid) dibangun dengan mewah dan mereka berbangga bangga dengan itu, sedangkan mereka tidak lagi menghidupkan suasananya dengan solat berjamaah. Padahal tempat itu, adalah tempat yang padat penduduknya dan ramai lalu lintasnya. Terlebih, aku masih percaya bahwa mereka tercatat sebagai penduduk yang bergama islam


Teman teman, sungguh bulu kudukku berdiri sampai saat ini kalau aku lagi ingat kejadian hari itu…..


Inikah akhir jaman itu….
READ MORE - solat maghrib yang membuat aku merinding

Rabu, 12 Mei 2010

Catatan Mata Seorang Fotografer



Jum'at, 26 Maret 2010 kemarin aku bersama tim fotografi bama studio sedang berada di salah satu hotel nomer satu di surabaya yang memiliki cabang hampir di seluruh kota besar. terus terang ini adalah pengalaman pertamaku memasuki hotel semegah ini, karena aku tergolong masih baru bertugas di area Surabaya. Entah berapa lantai gedung hotel ini menjulang. Tinggi dan megah sekali dengan keamanan yang super ketat. Mungkin hal ini untuk mencegah terjadinya kembali pengeboman tak bertanggungjawab seperti pada salah satu cabangnya di Jakarta beberapa waktu lalu. 

Acaranya adalah anniversary salah satu perusahaan produser obat obatan yang cukup memiliki reputasi. Di ulang tahun yang ke 45 ini, hadir para kolega mereka dari surabaya dan sekitarnya. Acaranya juga cukup menarik untuk disimak. Tak terasa, tim kami mampu menghasilkan sampai degan 400 lebih gambar di akhir acara. Dan tak disangka juga, di sinilah aku mendapatkan pengalaman fotografi yang sangat berharga. sebuah ilham dan pengalaman berharga.
Waktu tepat menunjukkan pukul 23:10 malam ketika kami berada di area parkir hotel. Sambil menungu temanku mengambil motornya, aku menyempatkan diri menikmati pemandangan hotel ini di malam hari dari pelataran parkir. Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat rimbunnya tanaman di sebuah taman yang terletak di lantai atas hotel ini. Dari tempatku berdiri, taman itu terlihat begitu menakjubkan dengan tatanan tanaman dan lighting effect yang indah. Pemandangan malam ini, mengingatkan aku pada kebesaran taman bargantung Babilonia yang mahsyur sampai berabat abat lamanya. Bahkan sampai sekarang, rasanya, taman bergantung babilonia itu sulit dicari tandigan dalam hal kemahsyuran akan keindahannya. Aku menerka, bisa saja konsep taman di ketinggian hotel ini terinspirasi langsung dari taman bergantung babilonia, dari kejaaan, kemahsyuran, kebesaran dan keindahannya.
Sedetik kemudian, ketika kesadaran memeluk pikiranku kembali, perasaanku serasa terusik oleh sebuah rasa yang sanagat meyentuh. Aku merasakan saat itu, bahwa Allah sedang menunjukkan padaku kebesarannya lewat tanda tandanya. Kamera yang tersimpan rapi dalam tas cangklong yang kusematkan di pundakku ini sudah menjadi perantara datangnya kesadaran itu.
Aku sudah bergelut dengan dunia fotografi kurang lebih selama 4 tahun terakhir. Tapi baru kali ini aku menyadari, bahwa, bahkan tubuhku ini sudah dilengkapi dengan kamera alami dengan memori tanpa batas yang kita dapatkan serta merta begitu kita dilahirkan. Namun sadarkan kita akan hal ini? Sadarkah kita betapa nikmat yang satu ini bahkan sudah terlalu sering kita abaikan karena kita menganggapnya hal yang biasa saja?
Kamera kita itu adalah mata. Benda ciptaan Allah berupa kamera yang sempurna dengan otak sebagai pusat memori terbesarnya dan perasaan yang memberinya karya seni yang tak ada duanya. Mata kita melihat, dengan kesempurnaan melebihi kamera mutahir yang kupegang ini. Kamera ini mungkin saja mampu merekam apa yang aku lihat di malam ini dengan sempurna di tangan para ahlinya. Tapi bagi aku, yang masih dalam tahap belajar ini, aku belum bisa mengabadikan keindahan ini dalam sebuah jepretan kamera digital super modern ini seindah aslinya. Tapi mataku bisa! Bakan tanpa aku perlu belajar bagaimana menggunakan mataku ini untuk menatap keindahan sesempurna malam ini.
Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau seorang bayi yang baru lahir, seperti aku dulu, masih harus memperalajari cara untuk melihat. Aku butuh waktu satu tahun belajar untuk mengerti teori warna dalam fotografi, dan di tahun keempat ini, aku masih juga belajar bagaimana membidik dan mendapatkan posisi yang baik untuk menghasilkan sebuah foto yang enak dilihat. Tapi subhanallah, bahkan kita tidak perlu belajar bagaimana menggunakan mata ini untuk melihat. Kita tidak butuh banyak waktu untuk membuat otak kita ini bisa mengerti dan menyimpan memori hidup yang indah. Kita tak perlu bersusah payah mengasah perasaan kita untuk mengerti betapa indahnya ciptaan Yang Maha Kuasa. Allah sudah memberikan mata secara gratis untuk kita berikut cara menggunkannya juga. Secara gratis, semuanya gratis….!
Hatiku berdesir malam itu. Banyak perasaan berkelebat begitu cepatnya. Aku bersyukur dan berterimakasih kepada Allah secara mendalam untuk nikmat yang tak terhingga ini. Untuk mata yang sangat berharga ini. Tapi pada saat yang bersamaan, hatiku teriris pedih ketika begitu banyak bayangan dosa yang melintas di kepalaku, bayangan dosa yang sudah kuperbuat dengan mata ini. Ya Allah, maafkanlah aku, dan bimbinglah aku, serta semua orang yang telah dan akan kamu ciptakan dengan mata yang indah seperti ini untuk selalu melangkah di jalanmu. Ya Allah, terimakasih untuk kesadaran yang telah Engkau ajarkan malam ini kepadaku. Dan sekali lagi Ya Allah, terimakasih untuk mata yang maha sempurna ini….
READ MORE - Catatan Mata Seorang Fotografer