Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Allah. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Oktober 2013

Anak Istimewa Untuk Orang Tua Istimewa


Gambar dari sini.


Aku pernah membaca dalam satu artikel di internet, tapi aku lupa dimana. Ketika aku cari menggunakan beberapa kata kunci juga belum ditemukan sejak tadi. Aku pikir biarlah.

Sebenarnya itu artikel lama yang pernah aku baca, beberapa tahun yang lalu mungkin. Kalau kalian bertanya dan penasaran apa yang membuat aku masih ingat apa yang dituliskan di sana walau sudah lewat bertahun tahun lamanya, aku jawab, pasti sesuatu yang istimewa. Artikel yang membuka pikiranku untuk berfikir berbeda. Kalau orang barat sana bilang, pola pikirku jadi ‘up side down’. Berbolak balik.

Dalam artikel itu diceritakan ada sepasang suami istri yang sedang menuju dokter untuk pemeriksaan rutin anak mereka. Saat itu mereka di sebuah lift yang akan mengantarkan mereka kelantai rumah sakit dimana dokter tersebut sedang praktik. Mereka murung dan sedih. Ada beban berat yang menyelimuti mereka ketika memikirkan nasib anak mereka.

Secara kebetulan, di dalam lift itu mereka juga bertemu dengan seorang pasangan muda yang membawa anak dengan kondisi sama dengan anak mereka. Keduanya, anak anak mereka itu, tergolek lemas di dalam kereta dorongnya masing masing. Usianya juga relatif sama. Mereka nyaris dalam kondisi yang sama. Yang membedakan justru adalah keadaan kedua orang tua mereka. Orang tua pertama dengan muka yang penuh beban, sedangkan yang kedua dengan wajah yang tetap berseri. Penasaran dengan bagaimana kedua orang tua yang kedua itu bisa tetap bahagia walaupun anak yang mereka miliki tak sempurna, orang tua pertama bertanya pada mereka dengan canggung tentang apa yang membuat mereka begitu besar hati menerima anak mereka yang tak sempurna itu. Jawabannya singkat dan sungguh telak.

“Well,” jawab mereka. “Anak yang istimewa hanya akan diberikan kepada orang tua yang istimewa. Tuhan tak pernah salah. Semua hanya tentang bagaimana kita menanggapinya.”

Subahanallah!

Sebuah jawaban yang cerdas dan seratus persen benar. Semua hanya tentang bagaimana kita menanggapinya. Selama ini, kebanyakan dari mereka yang dikarunia anak dengan kebutuhan khusus banyak yang mengeluh. Mereka sedih dan menyalahkan keadaan. Tak sedikit kisah yang menunjukkan kalau kemudian mereka menghujat Tuhan. Ahai, manusia! Siapakah dirimu yang berani menghujat Sang Maha Pencipta?

Manusia yang lemah bukan mahluk yang sempurna. Tuhanlah yang sempurna. Tuhan tahu dimana batas kemampuan kita. Tuhan tahu dimana tempat kita harusnya berhenti diberi cobaan. Saat cobaan datang kepada kita, saat itu Tuhan juga sudah tahu kalau kita mampu untuk melewatinya. Tinggal bagaimana kita sendiri untuk melewati ujian itu.

Walkers, ungkapan “Semua hanya tentang bagaimana kita menanggapinya” tidak hanya bisa digunakan dalam kisah yang pernah aku baca diatas. Sebenarnya hal itu bisa kita terapkan dalam kehidupan sehari hari. Bahagia, duka, susah, sedih, berat, ringan, gembira, sebenarnya adalah kondisi kejiwaan yang bisa kita atur secara sadar. Pernah bukan kita mendengar ungkapan “berbahagialah maka hati kita akan menjadi riang, bukan karena hati kita riang kita jadi bahagia”. Banyak ungkapan sejenis dengan maksud yang nyaris sama. Ungkapan yang indah akan tetap menjadi ungkapan indah yang pernah kita baca, tak akan berarti sampai kita bisa menerap maknanya dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari hari.



لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ


Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir"







READ MORE - Anak Istimewa Untuk Orang Tua Istimewa