Tampilkan postingan dengan label merenung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label merenung. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Juni 2012

RJK 2012 06 08, Jum'at : Berburu Gie

Halo walkers,






Sejak semalam sampai hari ini aku melanjutkan membaca buku Catatan Seorang Demonstran, membaca jejak kehidupan seorang Soe Hok Gie. Pada masa sekitar tahun 1962, saat dia berumur 20 tahun, dia sudah menjadi orang yang berbeda dari pemuda pemuda sebayanya. Di usia segitu, pemikirannya sangat berbeda dengan teman teman di sekitarnya. Dalam usianya yang masih sangat muda itu, dia sudah menunjukkan kegigighannya dalam mempertahankan pendapatnya. Mungkin, bila Gie hidup pada tahun tahun belakangan ini, dia berhak bergelar anak indigo (sebuah fenomena pseudoscience yang begitu ambigu) dan membuat orang tuanya bangga akan sebutan itu.


Pada bagian bagian ini aku juga sempat bertanya tanya, apa sebenarnya rahasia Tuhan sehingga memanggil sosok seperti Gie dalam usia yang masih sangat muda, 27 tahun. Apakah Tuhan beranggapan ini adalah cara dan jalan yang terbaik? Mungkin yang terbaik bukan cuma buat Gie secara pribadi saja, tapi untuk seluruh bangsa ini. Mungkin Tuhan tidak ingin suatu saat akan ada hambanya yang menghujatnya karena membiarkan Gie hidup lama. Maka itu juga mungkin, Tuhan telah mengizinkan catatan harian Gie untuk dibaca begitu banyak orang, begitu di cari cari, hanya untuk memberikan alasan kepada kita mengapa Tuhan memanggilnya cepat cepat. Dia, seorang yang terlalu berpotensi untuk menumbuhkan pro dan kontra, tapi mungkin, sekali lagi mungkin bukan pemberi solusi yang baik. Semua tentang Gie sampai detik ini adalah kemungkinan dalam otakku. Bukan hanya satu kemungkinan, tapi begitu banyak kemungkinan.

Sebenarnya buku yang ada padaku saat ini adalah milik seorang teman yang merelakan aku bawa bukunya ke kontrakan. Begitu inginnya aku untuk memiliki buku ini  sampai sampai tadi siang aku keluyuran di Kampung Ilmu jalan Semarang untuk memburu buku ini. Tapi hasilnya nihil. Jawaban paling mendekati yang aku dapat dari pemilik lapak disana adalah “itu memang buku yang di cari cari mas, banyak yang cari, tapi stok kosong.” Oh ya sudahlah, aku berlalu dari sana tanpa mendapatkan buku yang aku inginkan. Sebagai gantinya, aku membawa pulang dua buku karya A. Fuadi : Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna. Lumayan. Ya, walau tidak serta merta menghapus rasa inginku untuk memiliki buku Catatan Seorang Demonstran. Aku tetap ingin punya, satu saja. Jadi kalau ada walkers yang ingin membantuku untuk mendapatkan buku yang satu ini, aku akan berterimakasih sekali. Apa lagi kalau aku di kasi gratisan… <smile>



Walkers,

Semalam di tengah asik membaca buku Soe Hok Gie, sebuah pesan pendek masuk di hapeku. Dari Rizal. Dia ada di Ampel dan menanyakan apakah aku bisa menemaninya di sana. Tentu saja aku jawab aku bisa dan akan segera meluncur ke sana.

Ampel memang salah satu tempat favoritku. Salah satu tempat yang bisa membuatku tenang dan banyak berfikir, juga tempatku  bertemu dengan begitu banyak macam manusia. Di sana, aku bisa duduk berjam jam untuk merenung, berfikir dengan caraku sendiri. Membiarkan segala imaji yang ada dalam otakku ini untuk mencari jalannya sendiri. Di Ampel, segala imaji itu seraca lancar keluar, berkutat dan mencari jalannya sendiri pada semua simpulan simpulan yang aku buat sendiri.

Otakku ini seperti otak yang tak pernah tidur, otak yang selalu berputar dan berbicara pada dirinya sendiri setiap saat. Setiap apa yang aku lihat, bisa menjadi suatu bahan untuk aku pikirkan, menjadi sebuah bahan untuk wacana yang entah kepada siapa aku bisa membicarakannya. Aku ingin punya teman untuk berbagi, tentang jalan pikiran yang kusut ini, tentang segala yang aku rasakan dan segala yang aku lihat, apa yang manjadi kontroversi dalam otakku dan segala pendapat pendapat pribadiku. Tapi kepada siapa? Aku tak tahu.




READ MORE - RJK 2012 06 08, Jum'at : Berburu Gie