Tampilkan postingan dengan label solat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label solat. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 September 2013

Nenek, Aku Iri Padamu

Sebagai orang yang sebagian hidupnya dihabiskan diatas perputaran roda, sering kali aku menemui hal-hal yang membuat otak untuk berfikir diluar kebiasaan. Saat menemui peristiwa yang sedikit 'berbeda' , walau hal itu sendiri sudah kita ketahui dan maklum akan keadaan tersebut.

Sebagai contoh, saat matahari terbenam, atau pada saat matahari akan terbit. Sering kali aku melihat sosok tua yang berjalan mantab di pinggir jalan melawan dinginnya udara dini hari. Kebanyakan memang mereka yang sudah berumur, jarang sekali aku temui anak muda yang berjalan bersama mereka. Dengan mukenah atau sarung, mereka melangkah kecil menuju masjid atau musolah terdekat. Ada sahdu yang aku rasa saat menyaksikan hal itu hampir setiap waktu subuh. Ada iri yang menyusup di hati ini.

Aku iri karena mereka diberi kemudahan dan ringan kaki untuk menyambut seruannya. Aku iri karena walau punya waktu yang sama, kondisi kami berbeda. Aku tak punya waktu sebebas mereka. Mungkin juga aku tak punya hati selembut mereka yang begitu indah menyambut panggilanNya sesegera mungkin.

Hidup di jalan, membuat waktu yang kami miliki tidak lagi sefleksible mereka yang menetap. Untuk melaksanakan solat, kami harus berhenti di tempat yang benar benar aman untuk parkir kendaraan. Tidak di setiap masjid kami bisa berhenti. Idealnya, masjid yang kami singgahi harus punya tempat parkir luas yang bisa menampung truk di dalamnya. Tidak juga bisa segera solat, harus membersihkan badan terlebih dahulu lalu mengganti pakaian yang kotor oleh debu jalanan dengan pakaian bersih yang dipersiapkan. Itu berarti butuh perjuangan lebih dari mereka yang menetap untuk 'sekedar' melaksanakan solat.

Kondisi seperti ini, kalau tidak kuat tekad di dada, bisa bisa menjadikan malas untuk melaksanakan solat. Kami harus berhenti lima kali dalam sehari, sedang waktu terus bergulir, deadline waktu tiba di tempat tujuan juga jadi pertimbangan. Kalau banyak berhenti di jalan, itu sama saja dengan mengulur ulur waktu. Pilihannya ada dua, sering berhenti tapi harus ngebut saat mesin menyala atau tidak sering berhenti. Kalau tidak sering berhenti, berarti kami tidak punya waktu untuk solat.

Menurutku mereka yang ada di rumah atau bekerja menetap di kantor, toko dsb, punya waktu yang lebih baik dari pada kami yang di jalanan. Mereka bisa solat tanpa harus banyak pertimbangan kemanan dan sebagainya. Tinggal meluangkan waktu sebentar, berwudhu lalu solat. Sangat disayangkan kalau mereka sampai lalai dalam melaksanakan solatnya, sedang tak sedikit dari supir supir truk yang rajin solatnya.
Begitulah, kadang aku iri pada nenek yang berjalan mantab diwaktu subuh menuju masjid atau musola. Iri pada kesempatan dan kelapangan hati yang mereka miliki, sedangkan aku harus bergulat demi sesuap nasi dalam kabin truk yang melaju kencang. Kadang, ada sebersit doa dan tanya padaNya, kapan kehidupan seperti ini akan berakhir. Kapan kira-kira aku bisa seperti mereka, yang bisa mencari nafkah tapi juga punya kelonggaran waktu untuk ibadah.
READ MORE - Nenek, Aku Iri Padamu

Kamis, 30 Desember 2010

solat maghrib yang membuat aku merinding

Beberapa hari yang lalu aku sedang dalam perjalanan bersama seorang teman menuju satu tempat di daerah mojokerto. Dalam perjalanan itu, temanku bercerita tentang pembangunan musola di daerah perumahannya. Pembangunan musola itu dilakukan secara swadaya oleh masyarakat di kompleks perumahan itu. Mereka menyumbang sejumlah uang atau bahan bangunan seiklas mereka. Yang fantastis, pembangunan musola itu menelan dana sampai 300 juta rupiah. Aku jadi berfikir, kok bisa semahal itu ya untuk pembangunan sebuah musola saja. Padahal harga satu rumah di perumahan itu hanya berkisar 150-250 juta saja. Aku jadi penasaran ingin berkunjung kemusolah yang ‘mahal’ itu. Bagaimana jike mereka ingin membangun sebuah masjid di kompleks perumahan itu? Bisa bisa bilangannya sampai milyar rupiah biayanya. Tapi melihat siapa yang tinggal di perumahan itu, pantas juga kiranya musolah semahal itu. Pada umumnya mereka adalah orang orang kelas menengah keatas.


Tapi hal yang sesungguhnya mencengangkan dan membuat aku merinding adalah ketika kami sedang solat maghrib di sebuah masjid sepulang dari mojokerto. Masjid itu terletak di daerah Sepanjang. Jalan yang sangat padat penduduk dan ramai dilalui berbagai kendaraan dari berbagai arah. Muadzin masih mengumandangkan adzan maghrib ketika aku dan temanku masuk ke dalam masjid setelah selesai berwuduk. Kebetulan juga ada beberapa orang rombongan musafir yang masuk ke dalam masjid bersama kami. Kami berdiri menunggu muadzin muda itu selesai mengumandangkan adzan. Setelah adzan selesai di kumandangkan, aku dan temanku melaksanakan solat sunnah dua rokaat. Sedangkan sang muadzin langsung keluar meninggalakan masjid.


Aku dan teman aku duduk di dalam masjid menunggu jamaah lain yang akan solat magrib berjamaah di sana sambil berdzikir sebisa kami. Tapi semakin lama kami merasa semakin aneh. Anehnya, tidak ada satu pun warga yang datang kemasjid itu untuk melaksanakan solat magrib berjamaah. Muadzin yang tadi juga tidak menampakkan batang hidungnya. Hampir setengah jam kami kebingungan di dalam masjid itu, karena bagimanapun semua yang ada dalam masjid itu adalah pendatang (bukan orang asli sekitar masjid). Sampai akhirnya salah satu dari rombongan itu, melaksanakan solat magrib dengan imam dari mereka dan makmum yang seluruhnya adalah wanita. Aku dan temanku otomatis tidak bisa ikut melaksanakan solat berjamaah besama mereka karena sang imam berdiri di saf nomer dua dari belakang, dan seluruh jamaahnya berdiri di saf paling belakang. Otomatis aku dan teman aku makin kebingung. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk solat berjamaah berdua.


Selama solat hatiku miris bercampur aduk. Merinding rasanya bulu kudukku memikirkan semua yang terjadi. Baru kali ini aku berdiri untuk solat magrib berjamaah di sebuah masjid dengan lebih dari satu kelompok solat berjamaah. Bolehkah ini? inikah tanda akhir jaman? Benarkah aku sedang berada di akhir jaman? Dimana tempat ibadah (masjid) dibangun dengan mewah dan mereka berbangga bangga dengan itu, sedangkan mereka tidak lagi menghidupkan suasananya dengan solat berjamaah. Padahal tempat itu, adalah tempat yang padat penduduknya dan ramai lalu lintasnya. Terlebih, aku masih percaya bahwa mereka tercatat sebagai penduduk yang bergama islam


Teman teman, sungguh bulu kudukku berdiri sampai saat ini kalau aku lagi ingat kejadian hari itu…..


Inikah akhir jaman itu….
READ MORE - solat maghrib yang membuat aku merinding