Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cinta. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Oktober 2013

Menanti Sebuah Kisah

.
.
;
.
Kisah yang sampai sekarang masih jadi misteri buat diri ini
Kisah yang akan mengukir sejarah dalam hidup ini

Jangan patahkan sayap sayap cintamu
Biarlah dia mengembang
Mengepak diudara yang segersang sahara
Mengalir dimana bahkan air tak mampu merayap
Mesat ngapung luhur jauh di awang2
Biarkan dia menerpa wajahmu
Bersama pasir lembut yang diterbangkan angin sahara...

Wahai kisanak sudikan kau menjadi saksi akan kisahku?
Saksi?
Akan kusaksikan kisahmu
Seperti aku bersumpah pada bintang
Bahwa aku melihat keling matanya diantara mereka
Berkelip indah dihati yang gersang menanti kisah

Kisah oh kisah...
Akankah dia datang merayap dalam mimpiku yang gelisah malam ini....

Kan ku genggam bintang itu kan ku berikan pada kisah yang terpatri dalam hati ini
Menyinari gelapnya akan penantian kisah ini

Hingga malam hilang
Dan sinar mentari pagi
Menjadikan wujudmu nyata
Terbaring lembut dijiwaku
Jiwa jiwa yang kesepian akan kasih sayang
Berlari ke utara dan juga selatan
Wahai kisah kapankah kau datang





Puisi yang ditulis spontan oleh kami bertiga
Merah oleh kang Topics
Biru oleh Bunda Lahfy
Abu abu oleh saya sediri
READ MORE - Menanti Sebuah Kisah

Senin, 23 September 2013

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita : Namun Kejujuran Adalah Cinta








Miris!

Itu kata pertama yang ingin aku ungkapkan tentang film ini. Sepanjang film berdurasi lebih dari satu jam ini tak henti hentinya aku merasa geram, kemudian sedih, bercampur kemudian dengan keharuan. Aku jarang sekali membuat poting (bahkan hampir tak pernah) untuk sebuah film yang aku tonton. Kali ini rasanya beda. Ada satu hal dalam diriku yang memintaku untuk menuliskan ini di La-RanTa dan berbagi dengan kalian. Meskipun ini adalah film lawas, tapi tidak ada salahnya mengupasnya disini.

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita  adalah Film apik yang menggambarkan seorang tokoh sentral beranama dr. Kartini (Jajag C. Noer). Dia adalah seorang dokter kandungan yang mau tidak mau harus juga larut dalam kisah hidup enam pasiennya. Dengan latar belakang berbeda yang kental sekali untuk setiap karakternya, menjadikan film ini penuh warna. Namun begitu, dengan satu nuansa yang sama, wanita dengan pemahaman cintanya masing masing. Sebenarnya karakter dr. Kartini sendiri bukan karakter tanpa masalah. Dia yang menjadi tokoh sentral disini juga punya segudang masalah yang bahkan tidak mampu untuk dia selesaikan sendiri. Masalah yang general memang, tapi tetap patut untuk direnungkan.

Pasien pertama adalah wanita obesitas yang baru saja menikah. Lastri namanya. Radia memerankan karakter ini dengan cara yang pas dan unik. Karakter wanita gemuk yang bahagia dalam pernikahannya. Dalam film ini, suaminya yang sangat mencintainya selalu setia untuk menemaninya berkunjung ke dr. Kartini. Suaminya juga selalu mengekspresikan rasa cintanya dengan menyukai masakan yang setiap hari dibuat oleh Lastri. Ketika akhirnya Lastri tahu kalau suaminya dalah aktor yang handal, maka semua kebahagiaan itu berubah menjadi api yang membara. Itukah cinta? Miris adanya!

Ningsih (Patty Sandya) adalah karakter selanjutnya. Dia digambarkan sebagai sosok wanita karier dengan pekerjaan mapan yang mengharapkan anak dalam kandungan pertamanya adalah seorang bayi lelaki. Tak seperti film lainnya yang pada umumnya tuntutan untuk memiliki anak pertama dengan gender tertentu datang dari keluarga besarnya, dalam film ini tuntutan itu bahkan datang dari dalam diri Ningsih sediri. Dia bahkan sampai berencana menggugurkan kandungannya bila anaknya nanti diketahui seorang wanita. Karakter Ningsih ini hanya muncul beberapa kali sepanjang film ini, tapi perannya di akhir cerita mampu membuat ending yang mengesankan. Ningsih adalah wanita yang kecewa pada suaminya, tapi tidak pernah bermaksud untuk meminta cerai. Kalau begitu, itukah yang disebut cinta?

Olga Lydia memerankan seorang wanita hamil bernama Lili dalam film ini. Seorang wanita keturunan Tionghoa di Indonesia. Dia adalah seorang wanita yang begitu mencitai suaminya. Luka lebam yang didapatkan karena karakter seksual yang menyimpang dari suaminya diterimanya bukan sebagai siksaan, tapi malah sebagai pembuktian cinta yang tulus. Kalau jiwa wanita mampu untuk menerima dan memaklumi sakit yang diterima raganya dengan tulus ikhlas seperti yang Lili mampu, itukah namanya cinta? Bagiku itu cinta yang sakit.

Karakter Yanti  yang diperankan oleh Happy Salma adalah karakter yang beberapa kali diangkat kelayar lebar dengan berbagai gejolak hidupnya. Yanti adalah seorang pelacur yang setiap malam mangkal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan untuk bertahan hidup untuk melawan penyakit yang meggerogoti tubuhnya. Yanti punya seorang yang mencintainya dengan tulus. Lelaki yang disebutnya anjelo ini setia menemaninya kemana saja. Anjelo itu bukan nama sang pria, anjelo adalah singkatan dari antar jemput lonte. Nama indah dengan arti yang menyeramkan. Karakternya boleh saja begitu hina dalam pandangan masyarakat kita, tapi di dalam film ini, ending kisah Yanti adalah ending kisah yang indah. Aku tahu ini adalah cinta. Sebuah cinta yang tulus.

Rara (Tamara Tyasmara) punya jalan cerita lain lagi. Gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah tingkat pertama ini  begitu lepas saat menceritakan tentang hubungan pertamanya dengan sang pacar kepada dr. Kartini. Hubungan pertama yang membuatnya hamil! Miris memang saat membayangkan bahwa peristiwa ini bukan hanya terjadi dalam film, tapi juga benar-benar terjadi di dunia nyata di sekitar kita. Hubungannya dengan Ratna membuat cerita ini mengharu biru pada bagian akhirnya.

Ratna (Intan Kieflie) adalah seorang wanita berjilbab yang solehah. Dia adalah seorang buruh garmen yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Jujur, karakter Ratna ini yang paling aku suka dari semua karakter yang ada. Karakter wanita yang sejak lama aku harapkan bisa mendampingiku kelak. Bukan untuk bisa meniru apa yang diperbuat suaminya, tapi siapa yang mampu menolak kesetiaan wanita solehah seperti dia?

Dalam film ini, Ratna diceritakan tengah hamil tua. Suaminya yang setiap hari sibuk dengan ‘pekerjaannya’ tetap dia layani dengan sebaik mungkin. Ketika akhirnya Ratna harus mengucapkan kata ‘bangsat’ dengan cara yang tetap lembut pada suaminya, hatiku benar-benar tersentuh. Sebegitu perihnya, pikirku, perasaan wanita saat dia dikhianati. Sampai-sampai seorang yang bagai bunga indah yang tenang seperti Ratna akhirnya bisa mengumpatkan sumpah serapah juga. Adegan mengharu biru diending cerita berasama Rara, membuat film ini meninggalkan kesan yang medalam dihatiku.

Dalam film ini ada juga percakapan yang bukan dilakukan oleh karakter utamanya yang membuat aku menghambuskan nafas kesal. Percakapan itu adalah sebuah permintaan dari seorang kakek yang menginginkan cucunya untuk lahir pada jam, tanggal, bulan dan tahun tertentu. Walaupun sudah dijelaskan resikonya oleh para dokter di rumah sakit itu, toh akhirnya bayi dalam kandungan menantunya itu dikeluarkan secara paksa sesuai dengan permintaan sang kakek. Apakah ini yang dimaksud dengan emansipasi wanita? Atau malah emansipasi pria? Pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter Kartini ini mengena sekali untuk mempertanyakan keadaan itu.

Film ini layak sekali ditonton. Bukan karena ketegangan yang disajikan dalam setiap adegannya, tapi karena begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil di dalamnya. Realita hidup yang terjadi di sekitar kita yang selama ini berusaha ditutupi dengan rapi, disini semua di ceritakan dengan fulgar.


Seperti jarum jam yang hanya bisa berdiri diantara pilihannya, ada hati yang terluka dan tersakiti,
Namun Kejujuran Adalah Cinta
(1:28:33)





Bagi yang berminat menonton film ini bisa ditonton secara online via youtube di link berikut :
http://www.youtube.com/watch?v=MNZ_1snZP28


READ MORE - 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita : Namun Kejujuran Adalah Cinta

Jumat, 25 Februari 2011

Jika Aku Halal Bagimu

Sebenarnya penulis sendiri gak tau siapa sebenarnya penggubah puisi ini. Hanya saja, puisi yang indah ini pernah dikirim oleh seorang dari masa lalu penulis........


Andai aku halal bagimu
Aku ingin menggenngam dan digenggam tanganmu
Aku ingin menjadi pelipur lara hatimu


Jika aku halal bagimu
Aku ingin menjadi sandaran dan bersandar di bahumu
Aku ingin jadi penyemangat hidupmu


Jika aku halal bagimu
Akankah kau mengerti hati ini
Yang berdegup saat bersamamu 
Hingga panas memerahkan wajah ini


Jika aku halal bagimu
Akankah aku megerti hatimu
Saat duka mendalam mendera hidupmu
Hingga tak mampu untuk membaginya


Jika aku halal bagimu
Yang aku inginkan agar aku memilikimu
Dan kau memilikiku


Jika aku halal bagimu






kiriman yang sejenis, tentang cinta dan pernikahan, silahkan cek di sini
READ MORE - Jika Aku Halal Bagimu

Rabu, 23 Februari 2011

Plato, Cinta dan Pernikahan

Berikut ini adalah sebuah rangkaian slide show dari sebuat file power point. File ini dikirim lewat email oleh seorang yang penah jadi bagian dari hidup penulis. Hari ini penulis iseng iseng membuka email email lama. Tertegun sejenak waktu sampai pada email dengan attachment file ini. J, gak ada salahnya kan berbagi hal yang membahagiakan dengan teman teman…..




















Puisinya, bisa di cek disini.....
Jadi, apakah teman teman setuju dengan plato dan gurunya…….
silahkan sampaikan pendapat temen temen di kolom komentar di bawah ini......
READ MORE - Plato, Cinta dan Pernikahan

Jumat, 07 Januari 2011

Cinta terlarang

Dia adalah orang kelima yang datang ke dalam hidupku untuk menawarkan diri sebagai orang yang spesial bagiku. Dia, adalah orang kelima dalam hidupku yang datang untuk mengatakan aku pantas untuk dicintai. Atau mungkin hanya untuk sekedar bilang bahwa, aku patut untuk dipuaskan. Bahwa hasrat yang telah lama aku pendam ini, harus dipuaskan, dengan cintannya.

Seperti orang pertama yang datang dalam hidupku, diapun datang dari sebuah dunia yang tak nyata, dari dunia maya yang mereka namakan internet. Seperti orang pertama, dia juga datang padaku, ketika kami hanya sempat berbincang dalam beberapa baris kalimat saja. Dia juga seperti orang kedua, yang datang kedalam hidupku, seperti datangnya tikus kedalam liang gerombolannya, hanya karena memiliki satu hal yang sama : kami sama sama berbau busuk. Dan bahwa kami juga sama sama memiliki sebuah urusan yang perlu untuk dituntaskan, urusan yang hanya bisa dituntaskan dengan mengatas namakan ‘cinta’, Cinta yang terlarang!

Dia juga masih sama seperti orang ketiga yang hadir dalam hidupku. Hadir karena dia mencari pengganti orang yang bisa memberi dia apa yang dia butuhkan. Penganti orang yang di masa lalu sudah memberi mereka sebuah kepuasan, sebuah kedamaian, sebuah gengaman tangan yang erat. Pundak yang kokoh tempat mereka bersandar saat tiba tiba kepala meraka terasa begitu berat. Mereka membutuhkan dada yang bidang, tempat mereka meregut kehangatan di dalamnya. Yang dia kira, dada itu adalah dadaku. Ya, bahkan sebelum pertemuan pertama kami.

Dia datang, untuk hanya sekedar berkata kalau dia butuh seseorang yang sungguh setia, yang bisa mengerti dia apa adanya. Yang selama ini aku temui adalah orang yang hanya membutuhkan tubuhku, hartaku, padahal mereka tau aku tak berharta sesenpun, keluhmu di malam perkenalan kita. Malam dimana kita berbincang tanpa saling memandang. Berbicara tanpa saling menatap dan bersuara. Malam dimana kita bertukar informasi hanya dengan menarikan jemari kita diatas tombol tombol kibot. Bahkan sebelum dia tau, orang seperti apakah aku ini, dia sudah yakin kalau akulah yang sungguh mereka cari.

Dia masih juga sama saja seperti orang keempat yang hadir dalam hidupku. Yang hadir karena kita memiliki masa lalu yang sama, asal yang sama. Masa lalu dan asal yang sama sekali bukan untuk dibanggakan. Kami, sama sama dari lumbung buaya. Dari kubangan lumpur babi yang sama sekali tak indah untuk ditunjukkan pada orang lain. Kami berasal dari dunia hitam kelam yang bahkan para penghuninyapun takut untuk mengakui bahwa meraka adalah bagian dari dunia hitam kelam itu.

Dia datang malam ini, masih dengan alasan klise seperti alasan orang orang sebelumnya. Yang juga datang di malam hari untukku, dari tempat yang jauh di tepian kota ini hanya untuk memuaskan rasa penasarannya akan sosok tubuhku. Sosok yang hanya dia ketahui lewat seberapa tinggi aku, berapa berat badanku dan berapa usiaku. Sosok yang hanya dia tau lewat foto yang aku pasang di jejaring sosial. Foto yang sudah aku olah sedemikian rupa sehingga tampak menarik. Yang tentu saja, itu adalah perangkapku untuk menjebakmu, karena aku, tak seindah fotoku….

***

“ kamu di mana?” tanyaku setelah sekian lama aku menunggunya di dalam udara malam yang menusuk kulit.

“ aku masih di pertigaan keempat, kemana ini arahnya” terdengar suaranya di seberang sana, kecil dan lembut, namun tegas sekali rasanya.

“oh ya, belok ke kiri, nanti setelah perempatan kedua, belok kekanan lalu putar balik di depan restoran. Setelah pom bensin pertama, kamu belok kiri, aku tepat di kiri jalan di bawah lampu merah.”

“oh, ok, nanti aku hubungi kamu kalau aku bingung ya….”

“ya”

Hubungan telepon terputus, meninggalkan aku sendirian di sini, berteman dengan kesepian dan kepulan asap kenadaraan bermotor yang tak pernah tertidur di kota neraka ini.

Yah…, hatiku mendesah….

Ada perasaan berat yang mengantung di sana. Ada perasaan yang tidak bisa aku definisikan sebagai perasaan apa. Entahkah aku harus senang ataukah aku harus bersedih. Entahkah aku harus melompat tinggi tinggi untuk menyatakan kebahagiaaku ataukah aku harus bersujut menyesali keputusan ini.

Aku tau ini adalah keputusan yang terlarang. Aku tau ini adalah dosa besar yang mungkin tak termaafkan, karena akupun tak bisa memastikan bila aku sanggup untuk meninggalkan dosa ini. karena ketika kenikmatan itu sudah membuncah ke ubun ubun kepalaku, ketika kepuasan itu sudah membuncah mencengkram seluruh ragaku, sanggupkah aku untuk berpaling dan meninggakan kehidupan seperti ini selamanya? Aku tak yakin. Maka itulah akupun tak yakin kalau dosaku ini akan termaafkan. Karena aku tak yakin aku bisa bertaubat dengan taubat yang sebenarnya. Dan untuk itu, harusnya aku bersedih.

Tapi dalam waktu yang bersamaan, aku merasakan kebahagian yang tak terperikan. Betapa tidak, setelah orang ke empat, entah sudah berapa lama waktu berlalu. Sudah berapa malam yang aku lalui dengan kesendirian, sudah berapa hari aku buang waktuku untuk kuhabiskan tanpa seorang yang spesial di dekatku? Aku sudah tak mampu menghitung rasanya. 

Saat ini, ketika ada orang yang bersedia mengisi kekosongan ini, bukankah pantas kalau aku berbahagia? Bukankah pantas kalau hatiku berbunga bunga? Aku juga manusia yang butuh dan haus akan kasih sayang….

Tapi lamunanku bubar saat sebuah sepeda motor berhenti tak jauh dari tempat aku berdiri. Pengendaranya adalah seorang dengan gaya yang trendi, rambutnya pirang pendek dengan jaket kulit hitam yang memberi kesan mendalam pada penampilannya. Dia memandang sejenak padaku. Tapi aku tetap diam mematung. Inikah orang yang aku tunggu tunggu? Orang yang terlalu sempurna untuk aku!

Dia merogoh saku jaket kulitnya, mengeluarkan sebuah hape keluaran terbaru. Setelah menekan beberapa tombol, dia medekatkan hapenya ke arah telinganya. 

Ada yang bergetar di saku celanaku. Itu hapeku. Ada telepon masuk. Aku angkat. terdengar suara berat di seberang sana, suara yang orang yang aku tunggu tunggu.

“kamukah itu?” tanyanya. Seiring dengan gerakan bibir orang di depanku.

“ya ini aku,” jawabku. 

Kumatikan hapeku, kumasukkan kedalam kantung celanaku, lau mendekat kearahnya. Sambil mengulurkan tangan kusebutkan namaku. Dia menyambutnya dengan seulas senyuman hangat yang membuat hatiku berdesir. Ada kegairahan yang hangat menggelayut mesrah di nadiku,

“ayo, ketempatku,” 

“yap…” balasnya.

Hatiku, perasaanku, pikiranku kemudian melesat bersama laju sepeda motorku. Ada perasaan yang saling berkelebatan di sana. pesaan senang yang tak terperikan, juga perasaan bersalah yang mendalam. Aku bimbang, tapi aku tak berhenti untuk memintanya membatalkan perjanjian kita malam ini. sampai akhirnya, malam ini kami lalui sebagai malam terindah yang pernah kita lewati. Malam ini, satu kenyataan lagi aku sadari dari dirinya. Karena ternyata, dialah tipe orang yang aku cari selama ini

***

Sudah hampir seminggu dia tak ada kabar. Tak bisa aku hubungi dan dia tak membalas sms aku. Sudah aku coba bermalam malam, sudah aku harap hari demi hari kabar darinya, bahkan setiap pesan yang masuk dalam hapeku aku harap itulah kabar darinya.

Tapi ketika mejelang hari kesepuluh tak ada kabar darinya, keresahan dalam hati ini mulai menghilang secara ajaib. Ada perasaan pasrah dan hampa yang kemudian menyerang. Seperti sebuah perasaan tulus akan sebuah kehilangan. Ada perasaan ganjil dari keputusan untuk melupakan dia selamanya. Ya, aku mulai merasakan perasaan yang sama ketika aku tidak bisa menghubungi lagi orang orang sebelum dia.

Aku hanya ingin tidur aja malam ini. Cuma ingin meletakkan kepalaku sejenak di atas bantal kesayanganku. Memendam semua kesedihan ini di dunia mimpiku. Mengikatnya erat dan tak akan aku biarkan dia hadir lagi dalam kehidupan nyataku. Bagiku, malam itu adalah malam yang indah, malam yang harus aku sukuri dan aku sesali. Malam di mana seharusnya aku merasa manusia paling bodoh sekaligus paling beruntung telah berkenalan dengannya. 

Malam ini masih sama dengan seperti malam yang sebelum-sebelumnya. Masih juga sama dengan malam ketika aku belum bertemu dengannya, malam dimana aku bersanding bersamanya atau pun malam malam setelah itu. Malam ini masih juga malam yang gelap. Malam dengan bintang dan bulan yang sahdu di musim kemarau yang kering. 

Seperti juga yang aku lakukan di malam malam itu, malam inipun aku berusaha keras menutup mataku. Mengheningkan seluruh ciptaku. Berusaha untuk beralih dari dunia nyataku ke dalam dunia mimpiku. Dan juga tentunya masih sama bagiku, seperti setiap detik jam yang terbuang berlalu dalam malam malam kesedirian aku. Aku masih saja sulit memejamkan mata. Insomnia tingkat tinggi!

Bayangan malam, banyangan kesedihan, banyangan kerinduan silih berganti menghampiri alam sadar dan alam bawah sadarku. Ada bayangan setiap orang yang hadir di sana. ada banyangan orang pertama yang pendek dan tambun. Tapi mampu mengerti aku apa adanya. Ada selintas siluet gambaran orang kedua, yang berkulit hitam dengan tubuh yang tangguh. Dengan tenaganya yang seperti selalu terpacu. Kemudian orang ketiga hadir dalam mimpiku. Orang yang kurus dengan postur yang tinggi dan wajah yang bersih. Dia selalu tersenyum dengan bentuk bibirnya yang begitu manis. Lalu orang keempat yang bertubuh besar, yang bergumam dengan dialek yang sama degan dialekku. Dia datang dengan kata yang berapi api dan pergi dengan kabar yang segelap malam yang muram.

Lau hadirlah dia, orang kelimaku. Orang termanis dalam hidupku. Orang terindah dalam mimpiku. Orang yang ada dalam anganku. Dia, ya hanya dia yang bisa mengimbangi aku di setiap malam basahku. Malam malam terkutuk yang selalu aku runtuki. Malam bernoda kelam yang selalu aku sesali pernah aku lalui dalam hidupku. Tapi bersama dia, malam itupun benar benar aku sukuri. Manusia pujaan setiap insan ada di sampingku. Menempelkan bahunya di bahuku. Meneteskan setiap tetes air matanya di dadaku, menguburkan setiap asanya di dalam damainya hatiku. Dia, ya, dia adalah yang aku cari selama ini. dia adalah hal terindah yang pantas saku kagumi. 

Aku mengaguminya setiap jengkal lukisan wajahnya. Lukisan alam yang maha kaya. Pahatan yang membuat setiap detak jantung insan manusia yang memandangnnya berhenti berdetak, untuk kemudian bernyanyi indah memujinya. Aku menghayati setiap inci dari lekukan tubuhnya. Tubuh yang seperti porselen yang indah, indah terpahat dengan kokohnya. Aku memuja setiap detail dari kakinya, dari tangannya, dari setiap goresan halus di kuku kukunya. Aku memujanya, ya, aku memujanya malam itu. Aku menelannya dalam sukmaku sampai tak bersisa di kala fajar datang dan dia minta aku untuk mengantarkannya pergi.

“aku akan kembali, aku janji….” Ucapmu kala itu. matamu yang berbicara, tapi suaranya aku dengar dengan hati beningku.

“aku akan menunggumu, aku tidak akan mencari penggantimu sebelum kau benar benar ingin melupakan aku…..”

Ada sentuhan lembut perpisahan, ada goresan tajam awal kehilangan. Di pagi itu, pagi yang basah di wajah kita. Pagi yang harum oleh wewangian alami yang di ciptakan alam untuk setiap kita…..

Aku masih ingat, selekat ingatan yang kemaren, seulas senyum perpisahanmu yang aku lekatkan erat di hatiku. Inginku teriakkan kata aku sayang kamu sejak jejak pertama langkahmu pergi meninggalkan tempat terkutuk itu, tempat terindah yang pernah aku kunjungi.

Tapi, wahai manusia terindahku, kemanakah kau sampai sejauh ini? bagaimana kabarmu di hari kedua puluh ini? mungkin inilah saat yang tepat bagiku untuk melupakanmu, mengiklaskanmu dan mencari penggantimu untuk mengobati hatiku. Walau sebenarnya aku ragu, adakah yang lebih indah darimu untukku….?

Baru saja kuketikkan sebuah nickname di MIRC ketika sekelebat bayangmu tiba tiba kembali melintas di nadiku. Tapi aku harus tegar. Aku harus bisa melupakanmu. Aku harus dan akan bisa untuk mencari penggantimu…

Ada yang menyapaku di chatroom yang baru aku masuki ketika hapeku bergetar, lalu sebuah nada yang aku setting khusus untukmu berkumandang. Aku menoleh, memandang sorot sedih di layar hapeku. Hatiku, sekali lagi berdesir.

“ pa kbr ms, maf lm aq g mnghub ms. Hapeq yg lm kmaren bru aq ambil dr service center. ni jg bru aq pkai lgi, jdix slma bbrapa hr ni, aq pake hape cdngan. No ms da di hape yang di service i2 ms. Jdi s-X lg ma2f klau aq g da kbar bbrpa hr ni. Aq jg g mau trima tlpn msk dri orng g knal”

Aku mendesah, lalu masuk pesan kedua, masih dari dia

“ms, aq syang km. ms maukah ms jd milik aq slamanya? Kita bs menikh ms, wlau di negara ni cinta qt tak bsa ber1, tp di ngra lain, qt msh bsa mjdi spasang suami istri. Aq ingn jdi istrimu ms. Lz…”

Hatiku hancur rasanya. Aku ingin berteriak untuk melukiskan isi hatiku. Inikah anugrah? Atau inikah musibah. Inikah sanjungan ataukah aku sudah sedemikian terkutuk dicintai orang seperti dia setulus hatinya?

Pesan ketiga masuk sepuluh menit kemudian,

“ms, koq g da blesan? Dah tdurkah? Ms q dah b-X-x skt hti ms. Lau ms g bs menerima aq, aq mungkn dah gk bs hdup lebh lma lgi…..

Aq syng kmu mas….”

Nadiku mendidih, otakku menegang. Mataku terpejam, tubuhku bergetar. Aku sama sekali tidak mengira akan seperti ini jadinya. Akankah aku menerima permintaanya? Cinta ini, perasaan ini, aku tau adalah cinta dan perasaan terlarang. Aku harus menerima kenyataan kalau akhirnya aku jadi sampah masyarakat bila aku menerima cintanya dan menjadikan dia istriku. Tapi sungguh, sungguh lelaki sepertinyalah yang aku maui. Ya, dia adalah lelaki terindah untuk lelaki tangguh sepertiku! Cinta ini terlarang karena aku, mencintai sorang lelaki. Rinduku terlarang karena aku merindukan kemesraan dari orang yang sejenis. 

Inikah kutukan ataukah ini anugrah? Inikah berkah ataukah ini kutukan? Haruskah aku terima dan berbahagia hanya bersamanya walau dunia dan Tuhan sekalipun adalah musuhku? Atau haruskah aku tolak cintanya dan rela melihat jenazahnya tak lama setelah ini? padahal dialah orang yang benar benar aku cintai dan aku rindukan selama ini? 

rinduku telarang, cintaku tak terestui, hidupku adalah buah simalakama yang sebenarnya…..



http://www.facebook.com/note.php?note_id=414398717434
READ MORE - Cinta terlarang