Tampilkan postingan dengan label artis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artis. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 November 2012

Bukan Artis Itu yang Ibu Mau, Anakku


Waktu liburan kemarin, saat senggang aku bercerita pada ibu kalau beberapa saat yang lalu salah satu unit towing perusahaanku dipercaya untuk membawa satu unit Lamborghini dari Jakarta ke Surabaya. Mungkin ibuku tidak tahu apa itu mobil Lamborghini dan tidak tahu betapa hebatnya mobil ini. Beliau baru bedecak kagum saat aku menyebutkan nominal harga satu unit mobil itu. Harganya bisa sampai hitungan di atas lima milyar! Sebelumnya, unit towing kami yang lain juga pernah dipercaya untuk membawa mobil Ferrari yang harganya tidak kalah dengan satu unit Lamborghini. Yang lebih mengagumkan lagi, ternyata pemilik Ferrari itu tidak hanya punya satu unit mobil Ferrari di rumahnya. Dia punya dua sekaligus! Ibuku berdecak kagum membayangkan betapa kayanya pemilik mobil mobil itu.

Sepanjang jalan yang dilalui, tak jarang pengguna jalan lain yang rela mengimbangi kecepatan unit towing kami hanya untuk mendapatkan foto mobil yang kami angkut itu menggunakan kamera handphonenya. Sopir towing juga bercerita kalau saat dia berhenti di sebuah mini market untuk membeli beberapa botol minuman, tiba tiba hampir semua karyawan yang ada di sana, termasuk beberapa pengunjung berhamburan keluar hanya untuk berfoto bersama mobil mewah itu. Serasa bawa artis kata sopir perusahaan kami itu.


Tapi tak lama berselang ibuku terlihat begitu kecewa saat aku bercerita lebih jauh tentang mobil fantastis yang berlabel Ferrari itu. Apa pasal? Bukan karena kemudian ibu sadar kalau anak kesayangannya ini tidak akan mampu membelikannya satu unit mobil itu dalam waktu dekat. Bukan itu. Ibu kecewa karena dengan harga tinggi itu, mobil tersebut hanya punya dua seat di setiap unitnya. Satu tempat duduk untuk driver, satu lagi tempat duduk untuk orang yang duduk di sebelah drivernya.

“Tidak ada tempat duduk lain?” tanya ibuku berusaha meyakinkan.

“Tidak ada.” Tegasku.

“Lalu buat apa?”

“Untuk gengsi aja, bu.”

Ibu lebih tidak berminat lagi pada mobil mewah itu saat aku menjelaskan kalau mobil yang berlabel Ferrari itu kecil kemungkinan untuk bisa di bawa ke desa. Di jalan jalan desa, biasanya banyak polisi tidur yang sengaja di pasang untuk memperlambat laju kendaraan. Banyak debu juga di sana, banyak batu batu jalan yang bisa menghalangi mobil ini untuk melaju dengan mulus. Ferrari memiliki bentuk body yang ceper, yang mana itu artinya, jarak antara body mobil dan tempanya melintas kurang dari 20cm. kalau mobil ini dipaksa melewati jalan jalan yang penuh dengan polisi tidur dan batu batu lepas, itu akan berakibat buruk untuk mobil itu sendiri.

“Lalu untuk apa?” tanya ibuku penuh kecewa. Ibu berfikir untuk apa membeli barang barang yang begitu mahal hanya untuk kebutuhan gengsi pribadi semata. Bukan itu yang ibuku inginkan. Yang ibuku inginkan, mungkin juga seperti kebanyakan ibu ibu kita yang lain, bukan gengsi yang harus kita beli. Sesuatu yang bisa dinikmati bersama, sesuatu yang bisa di buat untuk kebahagiaan bersama, itulah yang beliau inginkan.

Ibu lalu bercerita kalau tetangga sebelah baru saja membeli mobil bekas yang bisa memuat hampir semua anggota keluarganya. Mobil keluarga besar keluaran hampir sepuluh tahun yang lalu. Harganya juga jauh sekali kalau di bandingkan dengan harga satu unit Ferrari. Tapi yang seperti itulah yang ibu mau kalau seandainya suatu saat nanti aku mampu untuk membeli satu unit mobil.

“Jadi jangan pernah bawa artis itu kerumah ini, nak, walau itu artis muda yang mempesona. Janda lama yang bisa membuat bahagia mungkin lebih bisa ibu terima di hati. Bukan duduk berdua bersamamu dalam satu mobil mewah yang ibu mau, tapi ibu ingin pergi bersama seluruh keluarga dalam satu mobil untuk menghabiskan satu hari yang indah.” Mungkin rangkaian kata itu yang ingin ibuku ucapkan kalau dia bisa sedikit berbahasa puitis.

Doakan saja aku bu, semoga Tuhan memberikan jalan yang mudah untukku.


READ MORE - Bukan Artis Itu yang Ibu Mau, Anakku