Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sahabat. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 September 2013

Dumay to Duta : Ketika Pertama Kali Aku Bertemu Mereka

Banyak hal yang mungkin terjadi dalam dunia maya. Internet dengan berbagai media sosialnya memungkinkan kita untuk bertemu dengan beragam orang dari berbagai tempat. Sampai sekarang, jejaring sosial seperti Facebook telah berhasil pula mempertemukan mereka yang sudah lama sekali tidak bertemu, atau sebaliknya, menjadi sarana untuk terus terhubung antar mereka yang kemudian harus terpisah jarak dan waktu.

Aku juga adalah salah satu bagian yang dari mereka yang sering berinteraksi di dunia maya. Dunia maya mulanya mempertemukan aku dengan beberapa orang yang belum aku kenal sebelumnya. Kami saling berkenalan salah satunya adalah karena kami memiliki satu atau beberapa kesamaan. Beberapa karena alasan hobi, beberapa yang lain, karena kegilaan yang sama. 

Diantara mereka ada yang kemudian aku kenal dan hilang hanya dalam hitungan hari. Ada yang aku kenal, mulanya biasa, kemudian bertemu dan menjadi teman baik. Teman baik yang sampai seperti saudara. Yah, walau sebagian lain juga harus kembali menghilang dengan berbagai alasan. Beberapa pergi dengan perlahan seperti angin yang berlalu, tapi sebagian yang lain pergi setelah sembilu tertikam. Well, semua bisa terjadi aku kira.

Diantara mereka itu, ada beberapa orang yang meninggalkan kesan mendalam dan menjadi bagian tak terpisahkan akhirnya dalam kehidupanku. Mereka sahabat baikku sekarang. Sahabat yang bahkan seperti saudara dalam perantauan. Walkers, kali ini aku ingin memperkenalkan mereka kepada kalian. Sahabat dunia maya yang kemudian menjadi sahabat baik di dunia nyata. Siapa saja mereka?





Bunda Lahfy

Siapa dia? Seorang ibu rumah tangga biasa yang doyan berlama lama di depan komputer. Berkaca mata besar dengan kerudung yang besar. Pertama kali bertemu dengan beliau, aku mengira ada tokoh si Nida yang menjadi icon majalah Annida menjelma dalam dunia nyata. Orangnya menyenangkan saat diajak ngobrol, sama ramainya dengan saat kami bercakap cakap lewat dunia maya.

Bunda Lahfy adalah seorang blogger juga. Tinggal di Jakarta Barat. Posting pada blognya selalu menjadi acuan bagi mereka yang mencari referensi untuk menjalani hidup, mendidik anak, sampai berbagi kisah romantis tentang mantan pacarnya yang sekarang menjadi suaminya.

Pertama kail bertemu, aku tidak menyangka kalau aku bisa mengenalinya dari jarak yang cukup jauh. Saat itu tengah hari sekitar jam makan siang. Aku sedang berdiri menanti jemputan bersama seorang teman kantorku di depan pos satpam kompleks. Di depan kami, berbaur kendaraan roda dua dan roda empat yang sedang menjemput anak anak yang baru pulang dari sekolahnya. Namun aneh bin ajaib, dari jarak sekian puluh meter, aku bisa mengenali sosok beliau diantara ratusan orang yang menyemut di depanku. Ternyata, walau kami selama ini hanya kenal lewat tulisan tanpa suara dan foto tanpa sapa, memori otakku sudah menyimpan sosoknya untuk ditandai sebagai orang yang patut di kenang dan dipatri sebagai seorang sahabat.




Insan Robbani

Kecelakaan yang aku alami pada 15 Oktober 2010 menyisakan satu bekas luka yang akhirnya menjadi cirikhas di kepalaku. Pada saat pertama kali aku bertemu dengan kang Insan, bekas luka itu masih terlihat begitu jelas, memanjang dari alis keatas sampai menghilang tertutup rambut hitamku. 

Siang itu, aku baru saja keluar dari tempat cetak banner di daerah Ngagel Surabaya. Di tempat parkir yang berada tepat di depan percetakan itu, aku dicegat seseorang. Aku berfikir keras, siapa orang ini. Aku meresa tidak pernah mengenal dia.

“Ridwan ya?”

“Ya,” jawabku sambil berusaha mengingat dan mengenali siapa orang ini. “Siapa?” tanyaku lebih lanjut.

“Insan, Insan Rabbani…”

Aku gembira sekali siang itu disapa oleh seorang teman dari dunia maya. Hanya saja, yang membuat aku bingung, bagaimana dia begitu yakin kalau aku adalah Ridwan yang berteman dengannya di Facebook.

“Dari itu,” jawabnya sambil menunjuk kearah bekas luka di dahiku. Ah, bekas luka ini ternyata membawa berkah. Andai aku tidak memiliki ciri itu di kepalaku, munkin saat itu kang Insan akan ragu untuk menyapaku. Saat itu aku juga tidak mengenal kang Insan karena dia tidak pernah memajang foto dirinya di Facebook. Seingatku dulu, foto profilnya kebanyakan bergambar bunga. Cowok kok foto profilnya bunga. Jiagagagagagaga….

Kang Insan memang salah satu teman di dunia maya, tapi sekarang dia sudah menjadi sahabat yang selalu memberiku semangat, nasihat, masukan dan ide yang aku butuhkan. 

Kang Insan adalah salah satu blogger juga. Blognya, Media Robbani, menjadi salah satu blog bertema religi yang aku suka. Kang Insan tak hanya piawai dalam menulis blog yang berbau islami. Kebanyakan mungkin blogger yang menulis blog dengan tema yang sama adalah hasil dari pemikiran dangkalnya sendiri berdasarkan hukum agama yang masih abu abu baginya. Kang Insan berbeda. Ilmu agamanya sangat mendalam. Itu yang aku kagumi dari dia. Dia menulis apayang dia pahami betul. Maka itu, seorang teman menyebutnya sebagai orang yang “menulis dengan hati.”

Terus berkarya ya kang. Wujudkan inpianku untuk bisa membaca buku yang pada sampulnya tertulis nama kang Insan sebagai penulisnya.




Estin Putri


Aku memanggilnya bunda walau usia kami terpaut hanya beberapa tahun saja. Wanita cantik yang tidak bisa diam. Awalnya aku mengenal dia lewat ‘grup orang orang aneh’ (bukan nama grup sebenarnya) di facebook. Lewat Facebook itulah kami sering ngobrol lewat media pesan pribadi. Dari saling berbalas komen dan status, sampai akhirnya bertukar nomor hp, dari sekedar sms sampai bertelepon ria. Aku masih ingat betul saat dia menghubungiku pertama kali lewat telepon. Sang bunda sedang berada diatas roda duanya di jalanan siang yang menyengat di jalanan Surabaya yang bising. Aku juga masih ingat apa yang ditawarkan saat itu. Nasi goreng! Salah satu makanan favoritku.

Pertama kali bertemu dengannya, dia mengaku kalau sosokku tidak seperti apa yang dia bayangkan selama ini. Dikiranya aku tinggi besar, tapi nyatanya…, beginilah aku apa adanya… (. Pertemuan pertama kami juga ditempat yang istimewa. Di kompleks makam dan masjid Sunan Ampel Surabaya. Pada kopdar pertama itu, ada aku, bunda Estin, Om Willy, teman Om Willy (aku lupa namanya), Leela, Niken dan Firman. Saat itu aku benar benar untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di kompleks Sunan Ampel dan bertemu dengan mereka. Tak disangka, sampai sekarangpun hubungan kami tetap baik.

Bunda sudah seperti saudara sendiri bagiku. Aku sering curhat padanya kalau ada masalah. Usianya yang lebih dewasa, bisa memberiku masukan yang baik. Aku sering berkunjung ke rumahnya dengan berbagai alasan. Mulai dari sekedar berkunjung sampai untuk saling curhat tentang masalah masing masing. Pulang dari sana sering kali aku membawa makanan yang secara sengaja disediakan untukku. Ibu dan bapak dari bunda Estin juga memberikan perhatian yang lebih padaku. Pernah suatu ketika, aku diminta untuk menunggu beberapa lama dirumahnya hanya untuk menanti makanan yang beliau masak matang. Pulangnya, satu rantang lengkap beliau sodorkan padaku untuk disantap di tempat kos. Terharu sekali rasanya. Pernah juga suatu  saat, bunda Estin datang sendiri ke rumah kontrakanku untuk memasak kerang untuk makan siangku. Dia bukan keluarga bagiku, tapi perhatian yang diberikannya, melampaui apa yang bisa diberikan seorang saudara sekalipun.

Terimakasih untuk semuanya salama ini. Ada Allah yang akan membalasnya.




Indra Capunx

Namanya unik. Bahkan saat pertama kali aku berkenalan dengannya di Facebook, namanya lebih unik lagi, malah aneh!

Temanku yang satu ini hobi sekali basket. Dulu, sering dia bawa bola basket ke tempatku bekerja. Maklumlah, studio tempatku bekerja terletak di depan sebuah taman yang dilengkapi dengan lapangan basket. Sampai akhirnya, bola basketnya ‘menetap’ di studio itu dan tak pernah kembali.

Indra adalah salah satu sabahabat baikku. Dari makan, jalan, sampai tidur kami pernah bersama (tolong hilangkan pikiran kotor itu, kami masih normal :D). Bahkan saat aku terluntang lantung tanpa pekerjaan di Surabaya, Indra dan keluarganyalah yang menyediakan tempat untukku bernaung. Aku di terima di sana layaknya keluarga sendiri. Mulai dari makan sampai tidur disediakan dengan gratis. Entah dengan apa aku bisa membalas semua kebaikannya. 

Sampai sekarang, saat statusnya sudah berganti menjadi seorang ayah untuk bayi yang baru dilahirkan istrinya, persahabatan kami tetap kental. Aku masih sering berkunjung kerumahnya (kalau posisiku di Surabaya). Aku juga masih dianggapnya sebagai keluarga. Makan dan tidur di sana seperti sedang berada di rumah sendiri.

Ada sebaris doa yang selalu aku panjatkan. Berharap Allah akan memberikan kemudahan melebihi kemudahan yang pernah dia berikan padaku dan persahabatan ini akan langgeng selamanya.





Tak selamanya dunia maya membawa keburukan. Kalau kita pandai mengelolanya, banyak hal baik yang bisa kita dapatkan. Empat sahabatku itu adalah sebagian kecil contohnya.  Sebenarnya bukan hanya mereka sahabat yang aku dapat dari dunia maya. Masih banyak yang lainnya lagi. Banyak lagi kisah yang bisa dibagikan sebenarnya, tapi biarlah menjadi kenanganku sendiri. 












Bagaimana dengan kalian walkers, apakah kalian punya teman dari dunia maya yang menjadi teman dunia nyata seperti yang aku punya?



READ MORE - Dumay to Duta : Ketika Pertama Kali Aku Bertemu Mereka

Jumat, 28 Desember 2012

Postcard Fiction : Dear Laura

Dear Laura.
Mungkin ini adalah sepucuk surat edisi spesial untuk persahabatan kita. Kamu tahu
mengapa? Karena untuk pertama kalinya aku mengirimi kamu surat dalam bahasa
Indonesia di selembar kartu pos. Laura, aku tahu selama ini kamu sudah begitu giat
belajar bahasa Indonesia agar bahasa Indonesiamu selancar bahasa Inggrisku. Kamu
ingin untuk bisa menawar langsung harga gelang-gelang kayu itu bukan? Aku yakin
kamu bisa saat kamu berkunjung ke sini nanti.

Laura,
Tak banyak yang bisa aku ceritakan di selembar kartu pos. Hanya mungkin, aku sedang
ingin bercerita kepadamu tentang hadiah sederhana yang baru saja aku berikan kepada
adikku. Walau sederhana, tapi aku tahu dia suka sekali menerimanya.

Hadiah dariku itu berupa sebuah handphone SmartFren tipe lama, sebuah handphone online
pertama yang dikeluarkan oleh SmartFren. Memang sebuah handphone lama dengan fitur
yang sederhana juga, Laura. Tapi adikku luar biasa bahagianya. Dia sekarang bisa online
dengan fasilitas handphone lamaku itu. Sangat membantu baginya mencari bahan bahan
pelajaran secara online, Laura. Apalagi sinyal SmartFren mencakup daerah yabg luas.
Dimanapun adikku berada, dia bisa langsung online tanpa hambatan sinyal. Sekarang
kami bisa bertukar foto, sampai chating di Facebook dengan lebih lancar.

Laura,
Aku masih berharap bisa memberinya SmartFren Andromax agar dia bisa lebih terbantu
lagi untuk terus belajar. Itu akan jadi hadiah terindah buat dia, Laura, seindah pertemuan
kita nantinya.

Sampai jumpa di kopdar perdana kita Laura, di puncak Ijen, seperti gambar pada postcard
ini.





sumber gambar  dari sini
READ MORE - Postcard Fiction : Dear Laura

Jumat, 12 Oktober 2012

Teman Pedas


Pernahkah walkers menjadi teman yang pedas? Atau punya teman yang pedas? Atau ada yang tahu gak lirik lagu Friend or Foe-nya Tatu? Lagu yang sangat terkenal karena penyanyinya yang fenomenal, iramanya yang enak di dengar dan juga isi liriknya yang ‘kita banget’ itu?

Di dalam lagu ini dipertanyakan tentang kedudukan seseorang bagi teman dekatnya. Apakah dia benar-benar teman atau malah dia seorang musuh? Are you friend or foe? Dalam satu liriknya dituliskan, We used to love one another, Give to each other, Lie under covers so, are you friend or foe, Love one another, Live for each other, So, are you friend or foe, Cause I used to know.

Ok walkers, itu tadi sekilas masalah Tatu dan temannya yang gak jelas. Sekarang kita kembali kepada judul tulisan ini, teman pedas. Apa maksudku menggangkat judul ini? Sebenarnya juga masih gak jauh-jauh amat sama lagunya Tatu itu. Tapi bedanya, yang aku maksud di sini adalah teman yang bagaimana sebenarnya yang bisa kita sebut teman?

Banyak definisi mungkin buat walkers di sini apa itu sebenarnya teman sejati, sahabat jiwa. Banyak pula pepatah dan ungkapan yang berusaha menggambarkan definisi teman sejati ini. Misal sebut saja, “ketika kamu berhasil, temanmu akan tahu siapa dirimu, tapi ketika kamu gagal, kamu akan tahu siapa temanmu.” Atau ungkapan lain yang selama ini sangat aku gemari, “kebahagiaan mendatangkan teman, tapi kesedihan akan menunjukkan siapa teman kita sebenarnya.”

Masih ada sisi lain sebenarnya menurutku siapa teman sejati itu sebenarnya. Salah satunya adalah bukan orang yang “yes-man”. Seorang teman yang yes-man menurutku sebenarnya bukan orang yang patut kita jadikan teman dekat. Dia akan selalu berkata “ya” untuk setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil. Tidak pernah perduli apakah keputusan yang kita ambil itu benar atau salah, dia akan selalu mendukung kita asalkan kita senang.

Kalau dipikir secara sekilas, sepertinya teman seperti ini adalah teman yang asik, yang ada selalu untuk mendukung kita. Tapi coba kita telaah lebih jauh tentang teman macam ini. Karena sifatnya yang selalu ingin membiarkan kita bahagia, teman macam ini justru patut dicurigai. Apa motifasi dia berteman dengan kita? Apakah sebuah ketulusan? Atau hanya ada maksud tertentu di balik itu? Bisa jadi kita adalah orang yang lebih dari beberapa teman kita. Kelebihan yang kita miliki itu, misal dalam hal kepandaian, harta, atau semacamnya bisa menjadi daya tarik kita untuk punya banyak teman. Ingat, kebahagiaan (dalam hal ini juga kelebihan pribadi) membuat banyak teman, bukan?

Dari maksud tersembunyi itu bisa menjadi motifasi buat dia untuk berteman dengan kita dan mendukung semua tindakan kita. Dia mungkin saja akan mendukung kita walaupun yang kita lalukan itu salah. Misalnya, saat kita frustasi dan memutuskan untuk mencoba narkoba, dia justru mendukung. Atau saat kita sedang membutuhkan sesuatu dan kita nekad mencuri untuk mendapatkan barang yang kita butuhkan itu, dia juga mendukung. Atau juga hal kecil yang jarang kita sadari. Contohnya, saat kita membenci sesuatu atau seseorang tanpa alasan yang jelas, dia juga mendukung. Lalu apa jadinya kita? Kita akan semakin membenci lebih dalam pada hal yang kita benci itu. Padahal, bisa jadi kebencian kita itu tidak beralasan sama sekali. Contoh yang lain adalah, karena kita tidak bisa mengendalikan hawa nafsu kita, kita jatuh pada liang perzinaan, naudzubillah. Teman dengan tipe ‘yes-man’ ini akan tetap memandang apa yang kita lakukan itu sebagai tindakan yang benar. Yah…, asal kita senang saja. Apakah itu teman yang layak buat kita?

Menurutku, walkers, bukan teman yang seperti itu yang kita butuhkan. Sekali lagi bukan. Orang semacam itu hanya untuk kita kenal saja, bukan untuk kita jadikan teman apalagi seorang sahabat. Jauh –jauh deh rasanya.

Teman yang kita butuhkan, sahabat yang kita perlukan sebenarnya adalah sahabat yang pedas. Dia yang mampu berkata ‘tidak’ untuk setiap hal buruk yang kita lakukan. Dia yang mampu memberi kita masukan untuk setiap tindakan yang kita ambil. Seorang sahabat yang baik adalah sahabat yang mampu mengkritik kita dan mampu menyadarkan kita dari jalan ‘nikmat tapi sesat’ yang kita pilih. Dia seorang teman yang pedas mungkin bagi kita. Tapi ingatlah, dibalik rasa pedasnya, justru dia bisa mampu mendukung langkah kita untuk menjadi lebih baik. Kalau ada yang suka film Harry Poter, pasti tahu kalau di salah satu film Dombledore pernah memberikan skor tambahan untuk asrama Harry karena tindakan teman semacam ini. Ucapannya yang sampai sekarang kadang masih terngiang adalah “butuh banyak keberanian untuk menghadapai musuh, tapi butuh lebih banyak lagi keberanian untuk menghadapi teman yang akan berbuat salah”

Nah, walkers, jadi sekarang silahkan renungkan, apakah seorang ‘yes-man’ atau teman yang pedas yang kita butuhkan untuk menjadi seorang sahabat? Putuskan juga, kepada siapa kita akan menjadi teman yang pedas dan menjadi sahabatnya selamanya. Pikirkan juga, apakah kita akan menjadi seorang ‘yes-man’ dan siap untuk mendapat julukan ‘si penjilat’ untuk teman teman kita. Keputusan ada di tangan kita, walkers.

Yap, walaupun nantinya kita memutuskan untuk berteman dengan teman yang pedas ini, atau kita sendiri yang berusaha menjadi teman yang pedas itu, jangan lupa satu hal : persahabatan itu abadi bila masih ada ruang pribadi antara keduanya. Kapan-kapan kita bahas tentang ini juga, Ok?


“ Jadilah seorang ‘yes-man’ dan jangan pernah sebut aku sahabatmu. “




sumber gambar dari sini
READ MORE - Teman Pedas

Rabu, 09 Maret 2011

Tipe Teman Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, dan haram, siapa saja mereka?


Teman teman di sekitar kita sebenarnya dapat di golongkan seperti penggolongan hukum dalam agama. Ada teman yang “wajib”, ada yang “sunnah”, ada teman yang “mubah”, ada yang “makruh” bahkan ada teman yang “haram”.

Tapi, tunggu dulu, sebelum membaca lebih jauh lagi, sebelum berfikir diluar jalur pikiran penulis, perlu di ketahui dulu bahwa pengistilahan wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram di sini hanya sekedar meminjam istilah saja. Bukan dengan maksud mengadakan hukum itu secara mutlak kepada teman teman di sekitar kita. Maka itu, penulis memberikan tanda petik untuk mengapit nama hukum-hukum itu. Karena memang, tidak ada yang benar benar teman yang wajib, yang sunnah, yang makruh, yang mubah, dan yang haram. Semua hanya pengandaian saja. Jadi, selamat membaca dan menikmati alam pikiran penulis yang terkadang nyeleneh ini....…



Teman yang “Wajib”.

Tipe teman yang pertama di ibaratkan seperti teman yang “wajib” adanya. Kata iklan, gak ada lo gak rame!

Teman yang seperti ini bukan hanya harus baik. Tapi lebih dari itu, teman tipe ini adalah mereka yang selalu di nantikan kehadirannya di manapun. Dia dibutuhkan bukan karena pembawaanya yang selalu menghibur, tetapi juga bisa mengubah setidaknya rasa jemu menjadi lebih menyenangkan. Teman tipe ini bisa di jadikan sandaran saat kita membutuhkan bantuan. Kita akan berusaha mencarinya saat kita membutuhkan atau dia tidak ada di sekitar kita.

Teman tipe ini bisa dibaratkan sebagai penjual minyak wangi atau sang juara kelas yang santun. Teman tipe ini, secara tidak langsung akan mempengaruhi kita untuk menjadi lebih baik. Atau setidaknya, kita bisa dianggap lebih baik oleh orang orang di sekitar kita bila kita dekat dengan tipe teman yang “wajib” ini.



Teman yang “Sunnah”.

Teman tipe “sunnah” ini adalah teman yang keberadaannya sebenarnya tidak begitu penting dalam kehidupan kita. Tapi kehadirannya di sekitar kita akan membawa dampak yang lebih baik buat kita dan orang orang di sekitarnya. Teman tipe ini adalah tipe teman pelengkap kebahagiaan. Tapi ketidakadaanya di sekitar kita tidak akan mempengaruhi kebahagiaan itu sendiri. Dia ada untuk membuat kebahagiaan kita kian terasa. Dia ada, untuk membuat dunia di sekitarnya lebih berwarna. Bila kia punya banyak teman tipe ini dalam hidup kita, kemungkinan besar hidup ini akan terasa makin indah. Maka itu, selain kita harus memiliki teman yang “wajib”, kita harus mencari juga teman yang “sunnah” ini sebanyak mungkin. Karena teman tipe ini memang lebih mudah di temukan daripada teman yang bertipe “wajib”.

Teman yang “Mubah”

Teman yang “Mubah” adalah teman yang keberadaannya atau ketidak adaannya di sekitar kita bernilai sama. Teman tipe ini adalah teman yang kita butuhkan karena kita hanya butuh berteman saja. Kita hanya tau dia dan dia tau tentang kita. Itu saja, dia tidak membawa kebahagiaan atau meninggalkan kesedihan buat kita. Teman yang baru kita kenal bisa di masukkan tipe yang satu ini. Bisa dikatakan setiap teman yang masuk dalam kehidupan kita, awalnya adalah teman jenis ini. Sehingga nantinya, sesuai berjalannya waktu, teman dari tipe ini akan bermetamorfosis menjadi tipe yang lain, atau tetap saja di dalam tipe “mubah” ini selamanya.


Teman yang “Makruh”

Teman yang makruh adalah teman yang keberadaanya tidak kita harapkan. Teman tipe ini bisa kita terima keberadaannya di sekitar kita. Tapi ketidakadaannya akan membuat kita merasa lebih baik. Bila dia ada di sekitar kita, setidaknya kita masih bisa menikmati kehidupan, tetapi terlalu dekat dengannya bisa mendatangkan cibiran dan hal negatif bagi kita. Ingat jengkol dan rokok bukan? Teman tipe ini bisa diibaratkan seperti rokok atau jengkol itu sendiri. Keduanya juga mempunyai hukum makruh, yang diartikan “boleh, tapi lebih baik ditinggalkan”. Teman tipe ini mungkin saja tidak berusaha membawa kita pada keburukan, tapi efek “bau” yang ditebarkan membuat kita bisa dijauhi orang lain. 


Teman yang “Haram”

Tipe teman yang terakhir ini adalah tipe teman yang sangat di anjurkan untuk dihindari. Teman yang bertipe “haram” adalah tipe teman yang mana kita akan merasa bahagia bila dia tidak ada di sekitar kita. Dan sebaliknya, bila dia ada di sekitar kita kita akan merasa sangat terganggu. Teman tipe ini bisa dikatakan sangat parah pengaruhnya dalam hidup kita. Teman yang wajib di jauhi, teman yang menjadi penyebab tidak beresnya kehidupan kita. Tapi teman seperti ini bisa hadir dalam penampilan yang menyenangkan dan tawaran yang menggiurkan. Tetapi dia menusuk dari belakang.

Teman seperti ini adalah seperti pecandu narkoba yang datang pada kita untuk menawarkan bantuan. Tapi ketika kita sadar dan menyesali apa yang terjadi, semua sudah bergitu terlambat. Dia mencari teman untuk masuk dalam kelamnya dunianya.


Itulah tadi lima tipe teman yang bisa kita jumpai dalam kehidupan kita. Coba perhatikan, kemungkinan besar orang orang di sekeliling kita bisa di golongkan kedalam golongan golongan ini. Ada teman “wajib”, “sunnah”, “mubah”, “makruh” dan “haram” dilingkungan rumah kita. Begitu juga teman teman di kantor kita, bisa juga digolongkan dalam golongan golongan ini.

Tapi ada satu hal yang lebih penting dari penggolongan penggolongan teman teman itu. Hal itu adalah pertanyaan balik pada diri kita sendiri. Bagi orang orang di sekeliling kita, kita ini sebenarnya masuk golongan yang mana? Yang “wajib”, “sunnah”, “mubah”, “makruh” atau “haram”kah? Sangat penting bagi kita untuk bisa mengetahui hal ini. Sangat penting bagi kita untuk mengoreksi diri kita sendiri sebelum berpusing pusing ria menggolong golongkan teman teman di sekeliling kita ke dalam golongan golongan itu. Sebisa mungkin, mari menjadi teman yang “wajib” untuk semua orang, di manapun kita berada.

Tapi dari golongan yang manapun teman kita itu berasal, tidak akan terjadi masalah besar bila kita bisa menerima teman kita apa adanya. Seorang teman yang baik tidak akan mengubah temannya dengan cara yang ekstrim. Bila kita memang ingin mengubah teman kita ke arah yang lebih baik, maka perbaikilah diri kita sendiri. Jadikan diri kita ini contoh dan inspirasi bagi perubahan orang lain kearah yang lebih baik. kecuali untuk teman dari golongan teman yang “haram”. Sangat berhati hatilah ketika kita mau berteman dekat dengan tipe ini. Berhati hatilah karena mereka terkadang datang pada kita dengan topeng yang baik, tampil dengan tempilan yang baik baik namun dengan pisau belati yang siap menikam dengan lembut.


Sahabat

Nah lo, apa lagi ini? kenapa ada pembahasan tentang ‘sahabat’ di sini. Bukankah hukum seperti itu cuma ada lima? Wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Lalu sahabat masuk yang mana?

Sahabat itu sebenarnya adalah bentuk hiperbola dari teman yang masuk dalam golongan “wajib”. Ya! Seorang sahabat lebih dari itu.

Seorang teman yang “wajib” membuat kita bahagia karena kebaradaanya. Tapi seorang sahabat mampu membuat kita bahagia dengan kehadiarannya, dan bahkan seorang sahabat bisa membuat kita bahagia hanya dengan mengingatnya saja. Dia mampu memberikan kita warna hari yang berbeda hanya dengan menyebut dan mengingat namanya. Sahabat itu tidak pernah menjadi sinar matahari dalam kehidupan kita. Tapi lebih dari itu, sahabat itu bagaikan kedua lengan kita.

Dia ada, kapanpun untuk kita. Saat kita menangis, dia ada untuk menghapus air mata kita. Saat kita terawa, dia ada untuk menutupi mulut kita dari lalat yang jahil. Saat kita merasa kesakitan, dia ada untuk berbagi rasa sakit itu. Saat kita jadi sang juara, dia akan ada buat kita untuk mengangkat tinggi tinggi piala kita dan menunjukkan pada dunia, betapa bangganya dia pada kita. Betapa indahnya dia, betapa berharganya dia bagi jiwa kita.

Sahabat adalah dia, yang mampu menampung segala curahan hati kita tanpa harus bocor ke hati yang tidak seharusnya tahu. Sahabat mampu berkata tidak untuk setiap hal bodoh yang akan kita lakukan. Sahabat mampu mendampingi kita melewati hari tanpa makan disaat kantong kita dan dia sama sama tidak lagi berisi.

Bukan sahabat dia yang selalu berkata ‘ya’ untuk setiap hal yang kita lakukan. Dia bukan yes man yang selalu menyetujui keputusan kita. Bukan sahabat yang bisanya selalu ikut apa yang kita mau. Sahabat adalah tempat berbagi, tempat mencari rasa aman, tempat mengadu, tempat di mana kita bisa bersandar saat kita menangis.

Dan taukah teman teman siapa sesungguhnya yang bisa kita jadikan sahabat sejati itu? Kalau teman teman mau, jadikanlah Muhammad bin Abdullah sebagai sahabat baik teman teman semua. Jadikan Beliau sebagai teman yang selalu kita ingat saat kita sedih, sebut namanya saat kita merasa gundah. Kirimkan sholawat salam kepadanya saat kita duduk, saat kita berbaring, saat kita berjalan, bahkan saat kita sendiri ataupun saat di tempat yang hingar bingar. Jadikan namanya pembuat damai di hati kita. Jadikan beliau sahabat. Dimana walaupun beliau tidak ada di sekitar kita, tapi beliau hidup di hati kita, memberikan kita kebahagiaan walau hanya dengan menyebut namanya.



Sahabat terbaik.

Dan inilah yang berada di puncak urutannya. Kalau sahabat sudah lebih tinggi tingkatannya dari teman yang “wajib” maka inilah sahabat yang tak akan pernah ada tandingannya. Dia adalah tempat mangadu yang tak pernah meminta kita untuk mendengar keluh kesahNya. Dia adalah tempat meminta pertolongan tanpa pernah meminta kita untuk menolongNya.

Dia ada jauh lebih dekat dengan urat nadi kita. Dia mengerti kita lebih dari kita mengerti diri kita sendiri. Dia bisa memaafkan kita, sebanyak apapun kesalahan kita bila kita mau menyadari dan meminta maaf. Dia bisa menerima penghianatan kita saat kita menjadikan yang lain sebagai sahabat kita. Dia mau menerima kita kembali, kapanpun kita kembali. Dia, sebaik baiknya pendengar, sebaik baiknya tempat meminta petunjuk, sebaik baik tempat untuk bersandar saat kita rapuh.

Dia, sahabat terbaik kita itu adalah TUHAN, Dia adalah ALLAH. Yang mengasihi dengan Rahman dan Rahimnya pada setiap mahluknya. Entah mahluknya itu taat atau pembangkang. Dia tempat kembali semuanya. Dia, yang mempu memafkan dan menerima siapa saja, tak perduli sebanyak apapun kesalahan kita. Teman teman, sudahkah kita menyadari itu………
READ MORE - Tipe Teman Wajib, Sunnah, Mubah, Makruh, dan haram, siapa saja mereka?

Selasa, 08 Maret 2011

I Need A Friend

Sebuah puisi untuk mereka yang merindukan sahabat sejati......





Aku butuh seorang sahabat
Aku butuh seroang sahabat yang bisa kupercaya
Seorang sahabat tempat aku bisa bercerita tentang segalanya

Aku butuh seorang sahabat
Aku butuh seorang sahabat untuk membantuku
Seorang sahabat yang akan membantuku melewati saat2 terburuk

Aku butuh seorang sahabat
Aku butuh seorang sahabat untuk menangis bersama
Diatas segala hal2 bodoh

Aku butuh seorang sahabat
Sahabat terbaik
Untuk tinggal bersamaku sampai akhir
Sahabat terbaik
Untuk tinggal bersamaku sampai saat paling akhir
.......


versi Fb dapat di lihat di 
http://www.facebook.com/photo.php?fbid=1292031359250&set=a.1057465095240.8312.1784256847


ket :
puisi ini aku dapat dari sebuah gambar yang tidak tercantum nama pengarangnya. isi puisi tidak berubah, background sudah diubah
READ MORE - I Need A Friend

Selasa, 01 Februari 2011

Tukar Link Blog

Bagi teman teman yang ingin bertukar link, silahkan tinggalkan komentar di sini. Sebelumnya, silahkan tambahkan link Laranta di blog teman teman. Link teman teman nantinya akan muncul di halaman tukar link




READ MORE - Tukar Link Blog

Senin, 24 Januari 2011

The smallest, the strongest, the conqueror

Malam itu, pertengahan Desember 2009 pukul 00.02 ketika aku memutuskan pulang dari rumah nenek. Bukan tanpa alasan sebenarnya aku nekad pulang jam segitu. Tapi sungguh, rumah nenek bukan tempat di mana aku bisa tidur dengan nyenyak. Udara dinginnya yang menusuk tulang itu yang membuat aku selalu terjaga sepanjang malam. Walaupun sudah merangkap selimut dan jaket, tapi rasa dingin itu tetap saja seolah olah merasuk dalam tulangku. Lagi pula tidak bebas rasanya kalau harus tidur dengan pakaian setebal ini. Maka itu, pulang mungkin adalah keputusan terbaik buat aku malam ini.

Untunglah ada temanku yang juga hendak pulang dari tempat kerjanya malam itu. Kebetulan juga dia biasanya melintas di depan rumah nenek sekitar tengah malam seperti ini. Jadi aku gak perlu buat pinjam sepeda motor paman untuk pulang, cukup membonceng aja di belakang temanku itu. Badannya yang lebih tinggi dan lebih besar dari aku, bisa jadi tameng buat sedikit menetralkan dinginnya udara malam ini. Ditambah jaket tebal yang aku pinjam dari paman, dan sepeda motor yang di pacu dalam kecepatan tinggi, malam ini jadi sebuah petualangan seru buat aku.

Sepanjang jalan, udara dingin, dan kabut yang turun menambah serunya perjalanan malam ini. Di kanan kiri jalan, jarang ada lampu penerang jalan. Yang ada cuma kegelapan sempurna yang seolah membutakan mata. Jarak antar sekumpulan rumah dan rumah yang lain juga sangat jauh. Dalam perjalanan dengan kecepatan tinggi seperti ini saja, butuh waktu sekitar 3-5 menit untuk menemukan sekumpulan rumah lagi setelah melewati sekumpulan rumah yang lain. Hanya ada satu dua kendaraan yang melintas di kiri kanan jalan malam itu. Di tambah lebar jalan yang memadai, jadilah malam ini kami seolah sedang dalam road race malam yang menantang dan mendebarkan. Naluri lelaki yang mana yang tidak akan tertantang dalam suasana seperti ini! Adrenalin seolah mengucur seperti darah yang terus mengalir dari jantungku yang berdegup kencang.

Motor yang kami tunggangi benar benar seperti kuda besi yang menderu mendesing memecah kesunyian malam. Seperti anak panah yang melesat dari busurnya. Jalanan yang selalu berbelok belok, memaksa sesekali motor ini seperti hendak rebah ke tanah ketika kami melewati tikungan. Benar benar sebuah sensasi liar luar biasa yang seperti menyentak alam bawah sadarku untuk terus terjaga menikmati seluruh perjalanan ini. Benar benar seperti pertandingan road race yang dengan sensasi luar biasa. Dalam medan yang yang super ekstrim.

Tapi seluruh sensasi itu tiba tiba saja sirna ketika kami memasuki sebuah perkampungan penduduk. Tiba tiba saja temanku itu membelokkan motornya dengan sangat sangat mendadak. Tiba tiba saja malam yang tadinya sepi sunyi, dengan hanya suara motor inilah satu satunya yang mampu memecah kesunyian itu, jadi hingar bingar dengan puluhan orang tumpah ruah di jalan. Malam itu tiba tiba saja berwarna merah kelam. Malam itu, dinginnya entah bagaimana tiba tiba berubah jadi sangat panas, panas sekali. Malam itu, gelapnya tiba tiba sirna, tergantikan dengan dengan ribuan nyala api yang datang dalam jumlah besar!

Sebenarnya aku bingung dengan semua perubahan ini. Tapi ketika aku bisa meraih kesadaranku lagi, semua di sekitarku terlihat putih. Putih dan pucat. Dan ketika aku bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mereka semua menangis pilu…..

***

Subuh menjelang siang ketika aku duduk merenung di musolah kecil itu seorang diri. Dalam keremangan hari yang belum juga sempurna merekah ini, aku berusaha memikirkan kembali apa yang sebenarnya terjadi. Flash back ingatanku, membuat aku meneskan air mata penuh penyesalan.

“tiga hari kamu gak sadarkan diri,” kata ibuku di sela sela tangisannya pagi itu. Ibu bercerita kalau malam itu aku di tolong penduduk desa yang aku lintasi ketika motor yang kami kendari tiba tiba oleng tanpa sebab. Mereka bercerita pada ibuku kalau kami beruda terseret setidaknya 20 meter lebih, sebelum sebuah pohon di pinggir jalan menghentikan laju motor kami.

“tapi kenapa?” tanyaku,

“seekor serangga kecil masuk di mata temanmu. Dia kehilangan matanya sekarang,” ibuku menangis sesenggukan. Aku tahu, dia bukan sekedar temanku, tapi dia sahabatku, sahabat dari masa kecil, dia tetangga kami, anak satu satunya dari keluarga sederhana itu.

Hatiku menangis pilu, air mataku menetes dan terus mengalir. Pilu rasanya seluruh jiwaku. Badanku seperti melayang entah kemana. Yang terbayang di pelupuk mataku, hanyalah raut wajah temanku yang sangat aku sayangi itu. Tapi hanya raut wajah penuh kesedihan, pucat dan pilu tanpa masa depan.

Aku berusaha beristighfar. Menenangkan pikiranku. Aku mengingat Tuhanku. Meminta dalam batinku dengan sangat untuk memberiku sebuah ketabahan, ketabahan buat kami semua. Ketabahan dan kebesaran hati buat temanku, buat keluarganya, buat ibuku, dan hati yang lapang untuk bisa menerima ini.

Tuhan seolah sedang berbicara pada kami semua dengan caranya sendiri. Dia seolah menegur kami dengan kesombongan kami selama ini. Dia seolah ingin berbicara pada kami kalau kami bukanlah mahluknya yang terkuat. Masih ada yang lain yang lebih kuat walaupun mereka di ciptakan tidak sesempurna kami. Serangga kecil yang masuk kedalam mata temanku itu adalah contohnya. Bagaimana dia yang gagah, tampan, dan sehat bisa berubah seketika hanya oleh serangga malam yang tidak pernah di perhitungkan di peradaban manapun itu.

Tuhan sudah berbicara pada kita bahkan lewat ciptaannya yang paling sederhana. Kita menyebut ciptaan tuhan yang setengah hidup itu ‘virus’. Mahluk yang hanya hidup dengan menumpang di kehidupan yang lain.

Tapi bisakah kita mengalahkan mahluk terkecil itu dengan ilmu yang kita miliki sekarang? Bahkan dengan tekhnologi tercanggih sekalipun, kita belum bisa benar benar terbebas dari HIV. Bahkan perlu diingat ketika kita membakar sesama kita hanya untuk menghilangkan virus ebola. Lalu di mana kekuatan dan kesombongan manusia kalau untuk mengalahkan ciptaanNYA saja tidak mampu. Lalu di manakah akal sehat kita ketika kita dengan beraninya menantang Sang Pemberi Kehidupan?

Hatiku kacau, air mataku berderai derai mengingat segala dosa yang sudah aku lakukan. Dalam sesenggukan yang mendalam, kuutarakan kenginginanku pada ibuku, “ bu, aku masih punya dua mata, bolehkah aku berbagi mata dengan dia kalau dokter bisa mengusahakannya? Aku ingin memberikan mata kananku buat dia, yang kiri, aku masih membutuhkannnya.”

Tak ada jawaban dari ibuku. Selain hanya pelukan dan raungannya yang semakin menjadi….

Hari ini, satu bulan setelah kejadian itu, aku beringsut meninggalkan musola kecil ini ketika matahari mulai beranjak meninggi. Aku siap menemui dokter ahli yang bisa memindahkan mata kananku, buat sahabatku yang baik…….


Hikmah :
  1. Kesombongan itu hanya milik Tuhan, sama sekali tidak alasan bagi kita untuk menyombongkan diri, kalau untuk mengalahkan makhluk serendah virus aja gak bisa, bagaimana kita bisa menyombongkan diri?
  2. Persahabatan itu bukan cuma di kala senang saja. Penderitaan akan jadi ujian bagi ketulusan sebuah persahabatan.
  3. Relalah berkorban, untuk siapapun, selama itu berkorban untuk kebaikan….

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.

READ MORE - The smallest, the strongest, the conqueror