Minggu, 04 Januari 2015

Griya Lahfy, Syar'i dan Amanah

Kenal orangnya dulu baru kenal jualannya. Itu yang terjadi pada kami. Aku dan pemilik akun dan toko online Griya Lahfy. Aku kenal mereka berdua, buda Niken dan mbak Noorma. Dua orang wanita yang insyaallah istiqomah dengan cara berpakaian yang dikehendaki oleh Allah SWT. 

Bermula dari niat baik untuk mempermudah wanita muslim berpakaian sesuai dengan tuntunan yang benar, Griya Lahfy dibuat. Toko online ini awalnya di bina dengan dukungan penuh dari sang suami tercinta untuk mengisi waktu luang oleh bunda Niken. Iseng yang kemudian menjadi berkelanjuatan dan serius bersama seriusnya niat beliau untuk berdakwah dengan caranya sendiri. Keisengan yang berlanjut dengan keseriusan sejalan dengan makin banyaknya peminat dan pembeli yang kemudian manjadi langanan toko online beliau. Tak lama berselang, mbak Noorma juga ikut bergabung untuk memasarkan produk yang syar’i ini. Seorang dosen yang periang dan tegar. Itu kesan  yang aku dapat saat aku bertemu langsung dengan sosoknya. 

Kadang terbesit keraguan di hati para customer untuk bertransaksi secara online. Tapi percarayalah, Griya Lahfy insyaallah jauh dari usaha tipu tipu. Maka itu bertransaksi secara online di Griya Lahfy aman seratus persen. Sudah banyak yang membuktikan. Sudah banyak juga yang merasa puas dengan pelayanan yang diberikan. Seperti aku yang pernah menjadi customer Griya Lahfy. Barang yang aku pesan, sesuai dengan apa yang aku harapkan. Waktu itu aku membelikan beberapa potong pakaian untuk keluarga di rumah. Aku tidak pernah melihat barang yang aku beli sebelumnya. Permintaanku untuk langsung mengirimkan barang yang aku beli ke rumah dipenuhi oleh sang pemilik online shop. Barang sampai dan keluarga di sana merasa puas. Jadi aku tinggal duduk diam di Jakarta, pesan online ke Griya Lahfy, barang sampai sesuai dengan harapan. Siapa yang tidak senang coba. Apa lagi saat aku berkesempatan pulang ke Bondosowoso, saat melihat langsung barang yang aku pesan, kepuasan itu berlipat ganda. Pasalnya, barang yang aku beli dengan harga yang miring, ternyata memiliki kualitas yang sangat memuaskan. Apa lagi saat akhirnya aku mendapatkan bonus satu sejadah bercorak etnis dari pemilik online shop. Senang bukan kepalang.

Terimakasih atas semua pelayanan dan kejutan yang tak terduga itu. Semoga Griya Lahfy semakin bersinar kedepannya. Buat kalian yang juga ingin merasakan rasa puas yang aku dapatkan dari pelayanan Griya lahfy, langsung saja hubungi si empunya di www.griyalahfy.com, atau fb “Griya Lahfy” .
Selamat berbelanja, dapatkan rasa puasnya, jadilah muslimah yang syar’i.





READ MORE - Griya Lahfy, Syar'i dan Amanah

Senin, 20 Oktober 2014

Tuhan, Aku Minta Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah Tunai

Suatu malam, seorang teman memintaku datang menemuinya di 'tempat biasa'. 

"Ada yang ingin aku bicarakan," katanya. "Ini penting. Makanya kamu harus datang."

Apa yang sekiranya begitu penting dan belum pernah dia ceritakan padaku? Sahabat baiknya yang hampir tiap malam bertemu? Itulah yang membuat aku penasaran. Dia mungkin seorang pemendam rahasia yang ulung, tapi biasanya tidak padaku. Apa yang terjadi padanya, seperti lebaran buku harian yang selalu terbuka untuk aku baca.

"Jadi ada apa?" Tanyaku, penasaran.

"Ini tentang keimanan, tentang seberapa kamu yakin akan doamu. Seberapa yakin kamu sedang berbicara padaNya saat berdoa."

Aku memandangnya lurus pada kedua bola matanya.  Mencari teka teki yang dia sembunyikan di sana. biasanya, bila dia berbohong, aku akan segera menemukan kejanggalan itu. Namun kali ini tidak, dia sedang serius.

"Oke," jawabku. "Jadi apa yang mau kamu ceritakan?"

"Kamu ingat saat dua bulan yang lalu aku bilang ke kamu kalau aku pengen sepeda motor baru?"

"Ya, terus?"

"Aku sudah dapat. Diam dan dengarkan saja sampai aku selesai. Setelah itu kamu baru boleh komen."

Aku mengangguk mengiyakan.

"Dua bulan yang lalu aku berencana untuk ambil kredit sepeda motor baru. Kamu tahu  itu. Kamu juga pasti masih ingat saat aku mondar mandir kesana ke sini cari info tentang kredit sepeda motor. Semua jawaban sama. Uang muka rata-rata dua juta rupiah dengan angsuran perbulan sekitar lima ratus lima puluh ribu rupiah. Setelah aku hitung hitung, ternyata aku baru bisa angsur motor itu awal bulan ini. benar? Kamu juga pasti ingat kalau alasannya adalah uangku masih ada di orang. Ada sejumlah satu juta tiga ratus ribu rupiah uangku yang sedang dipinjam orang. Kalau semua uang itu bisa aku tarik, maka aku masih punya kekurangan tujuh ratus ribu rupiah untuk uang mukanya. Itu bisa aku tutup dengan gajianku bulan berikutnya.
Oke, kawan. Kamu tahu itu rencana yang sempurna.

Rencana yang sempurna. Ya, untuk ukuran kepala manusia itu sempurna. Secara matematika itu sempurna. Tapi apakah Tuhan juga memberikan jalan agar rencana sempurna itu bisa berjalan? Akui tidak melupakanNya. Aku ajukan proposal rencana sempurnaku itu padaNya saat aku berdoa. Memohon kepadaNya untuk kelancaran kembalinya uangku dan meminta padaNya tujuh ratus ribu rupiah untuk menggenapinya. Begitu kira kira.

Apakah Dia mengiakan proposal sempurnaku?

Ternyata tidak. Dia berkehendak beda, kawan. Rencana sempurnaku hanya jadi rencana sempurna di atas kertas. Ketika aku tagih di orang pertama, dia hanya mampu mencicil yang separuhnya. Yang separuhnya lagi dia akan bayarkan bulan depannya. Oke. Aku bisa terima. Toh kita memberi pinjaman bukan untuk menambah berat beban peminjamnya bukan? Aku bisa tolerir, dengan konsekwensi aku harus mengundur jadwal pengambilan kreditku. Bukan masalah besar.

Orang kedua memberi berita yang mengejutkan. Kamu pasti tahu siapa dia. Dia teman kita juga. Kamu tahu kan dia baru saja kena PHK? Bagaimana aku bisa menagih hutangnya? Untuk makan saja dia masih harus berfikir keras sekarang. Bukan masalahnya pada dia teman kita, kawan, kamu pasti tahu itu. Tapi lebih pada masalah kemanusiaan. Memberi kesempatan kedua pada seorang manusia aku pikir adalah cara yang sangat manusiawi untuk memanusiakan seorang manusia. Halah! Bahasaku sudah seperti pujangga saja.

Hanya itu intinya. Bagaimana kita akan menagih hutang pada orang yang belum tahu besok akan makan apa. Oke kawan. Satu harapan pupus. Itu berarti satu bulan lebih lama lagi untuk menggumpullkan uang buat uang muka. Oke, aku terima. Aku pasrah.

Kabar beda lagi aku dapat dari orang ketiga. Yang terakhir. Kamu tahu? dia sudah menghilang entah kemana. Bagaimana uangku itu bisa aku tagih kalau empunya saja aku tak tahu ada di mana. Saat itu aku berteriak. OKE...!! AKU PASRAH...!!

Aku pasrah pada keadaan. Aku pasrah pada pembuat hidup dan pembuat skenario kehidupan ini. Dan seperti biasa, seperti awalnya dulu, aku kebalikan semuanya padaNya. Aku kembalikan keputusan dan skenario hidup ini padaNya. Proposalku yang sempurna ternyata tidak sempurna bagiNya. Saat itu, aku hanya bisa berkata lirih dalam hatiku.

Oke, Tuhan, aku pasrah, aku ikut semua skenariomu. Engkaulah yang lebih tahu apa yang lebih baik untukku saat ini. Tapi sungguh, aku ingin motor baru.

Dan kamu tahu bagaimana Tuhan menjawab doaku? Aku di pertemukannya dengan kawan lama, tak lama setelahnya. Teman lama kita itu. Lewat obrolan menjelang tengah malamlah jalan itu dibuka. Berawal dari dia, kemudian diteruskan pada temannya lagi. Kemudian pada temannya lagi dan pada orang yang bahkan belum aku kenal. Tahu wajahnya saja aku tidak.

Lewat mereka itu aku di perkenankan untuk bisa kredit motor baru dengan uang muka yang super ringan. Hanya tujuh ratus lima puluh ribu rupiah saja. Kamu dengar? Kredit motor baruku itu cuma tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Dengan uang cicilan perbulan lebih ringan dari lima ratus lima puluh ribu rupiah. Kalau tujuh ratus lima puluh ribu rupiah saja, bisa aku sisihkan dari gajianku satu bulan. Kamu tahu itu.

Jadi begitulah kawan. Malam ini motor itu sudah ditanganku. Dengan dimudahkan juga proses administrasinya. Awalnya aku memang merasa aku sudah punya satu juta tiga ratus ribu rupiah untuk uang muka motor. Akan genap dua juta bila ditambahkan tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Kemudian aku putus asa dengan semua keadaan ini. Saat aku serahkan semua kembali padaNya. Jalan lain yang bahkan tidak pernah aku bayangkan terbuka lebar.

Oke. Itu ceritaku. Mungkin kamu anggap ini lebay. Tapi aku tidak. Aku yakin, kejadian sekecil apapun pasti ada hikmahnya. Ada peranNya."

Dia mengakhiri ceritanya di sana. Aku hanya bisa diam di sampingnya. Mencerna ceritanya. Kemudian, dalam hati terkecilku aku bisikkan sebaris doa, sebaris harapan yang aku ucapkan dari lubuk hati terdalam. Di telingaku, masih bening terdengar sebaris kalimat itu.

Ini tentang keimanan, tentang seberapa kamu yakin akan doamu. Seberapa yakin kamu sedang berbicara padaNya saat berdoa.


Terimakasih Tuhan, Engkau perkenankan aku untuk mendengar satu kisah sederhana ini.

READ MORE - Tuhan, Aku Minta Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah Tunai

Sabtu, 26 Juli 2014

Pulang (2) : Naik Apa

Setelah berpamitan untuk resign, hal selanjutnya adalah memikirkan bagaimana aku pulang. Ada beberapa moda transportasi yang bisa aku gunakan. Bisa dengan pesawat, kereta api, atau bus. Hmmm, tahukah kalian bagaimana melafalkan nama moda transportasi yang satu ini? "Bus" dibaca "bis", "bes", "bas", atau "bus"?

Aku sudah pernah pulang kampung dengan kereta api. Tiketnya lumayan untuk kereta kelas eksekutif. Waktu itu, aku ingat saat mencari tiket kereta api secara online untuk pulang kampung harganya tidak jauh berbeda dengan tiket pesawat terbang yang paling murah. Jadi apa salahnya kalau sekarang aku mencoba bagaimana enaknya naik pesawat terbang.

Di bulan maret aku mulai browsing mencari tiket untuk keberangkatan paling cepat tanggal 20 juli. Betapa terkejutnya aku saat itu. Tiket pesawat untuk semua jurusan pada tanggal diatas 20 Juli naik dua kali lipat dari hari biasanya! Padahal untuk tiket dihari sebelumnya, tanggal 19 dan sebelumnya, tiket masih berkisar di harga normal. Aku mencoba semua maskapai dan hasilnya sama. Ini gila!

Oke, untuk meredakan keterkejutanku aku memcoba untuk melirik tiket kereta. Sayangnya tiket kereta untuk tanggal 20 Juli dan setelahnya belum bisa aku akses. Hal ini karena pemesanan tiket kereta baru bisa dilakukan h-90. Itu berarti aku baru bisa melihat daftar harga sekaligus melakukan pemesanan bulan depan. Ok, tidak masalah. Aku bisa menunggu. Setidaknya aku juga mendapatkan informasi dari jalur resmi kereta api bahwa harga tiket tidak ada kenaikan saat mendekati lebaran. Ini cukup melegakan.

Kalian pasti bertanya mengapa aku tidak mencoba mencari tiket bus untuk pulang kampung. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa aku tidak suka naik bus. Yang pertama adalah karena diantara ketiga moda transportasi itu, buslah yang paling lama perjalanannya. Pesawat terbang bisa sampai ke Surabaya dalam waktu satu jam, kereta api maksimal sepuluh jam, sedangkan bus memerlukan waktu minimal delapan belas jam. Hal ini diperparah dengan alasan kedua. Kalau macet, bus bisa memerlukan waktu lebih lama lagi. Bisa sampai tiga puluh jam. Kalian bisa bayangkan itu?

Alasan ketiga adalah bus yang dimataku seperti kapsul pembunuh. Kalian pernah lihat bus antar profinsi yang bergerak cepat seperti anak panah yang dilepas dari busurnya? Bus juga salah satu alat transportasi yang sering mengalami kecelakaan. Kecelakaan bus biasanya disebabkan oleh kelalaian supirnya. Mulai dari supir mengantuk, tidak taat rambu-rambu lalu lintas, sampai mengebut karena berbagai alasan. Jadi aku katakan tidak untuk bus.

Alasan selanjutnya adalah karena banyak PO yang bermasalah. Masalah itu bisa dari unit kendaraan yang memang tidak layak untuk perjalanan jauh, pelayanan yang tidak memuaskan untuk perjalanan jauh, sampai adanya tiket yang dipalsukan. Jadi, sekali lagi tidak untuk bus.

Saat aku punya banyak alasan untuk menolak bus untuk perjalanan jarak jauh, dan tiket pesawat yang melambung tinggi, maka kereta api jadi pilihan satu satunya. Aku akan bersabar selama satu bulan untuk menunggu H-90 itu hadir.

O ya. Kalau kalian mau tahu, "bus" tetap dibaca "bus". Karena bahasa Indonesia itu menganut ejaan yang sama pengucapannya dengan penulisannya. Seperti "masjid" yang tetap dibaca "masjid", bukan "mesjid". Seperti juga "Indonesia" yang tetap dibaca sebagaimana tulisannya. Bukan "Endonesah" atau yang sejenisnya.

Bersambung....

READ MORE - Pulang (2) : Naik Apa

Jumat, 25 Juli 2014

Pulang (1)

Januari adalah saat dimana resah itu semakin memuncak. Padahal di bulan sebelumnya, Desember, aku sudah pulang kampung. Karena itu, di Januari aku begitu yakin kalau resah itu bukan karena home sickness. Bukan! Tapi karena hal lain.

Aku tak pernah merasa kalah oleh resah, tapi yang ini selalu menguat setiap hari. Aku sudah merantau sejak 2004. Aku sudah lama bisa mengatasi rindu. Sudah terbiasa dengan deraannya yang mengikat hati. Aku sudah terbiasa mengenang rumah hanya dalam ingatan dan doa, mengingat ibu melalui rasa yang ditinggalkannya di kulitku yang mulai menua ini. Sembilan tahun aku kuat menjalani semuanya. Jadi kalau resah ini karena rindu pulang kampung itu, aku rasa bukan.

Hari-hari berikutnya deraannya semakin nyata. Ada apa dengan rasa resah ini?
Aku menelisik tentang kerja. Pekerjaannku di Jakarta. Apa yang salah?

Aku menemukan jawabannya di awal Februari. Aku adalah manusia yang punya hati dan punya prinsip. Aku melihat sesuatu yang bertolak belakang dengan hati dan prinsipku di sini. Aku melihat sesuatu yang tidak sejalan denganku disini. Aku juga sadar kalau aku sudah lama berjuang untuk mengubahnya dan aku kalah. Posisi yang aku punya tidak cukup kuat untuk mengusahakan sebuah perubahan. Aku hanya punya mulut yang bisa berbicara tentang apa yang aku ingin, tapi aku tak punya tangan yang cukup kuat untuk melakukan perubahan itu.

Akhir Februari aku merasa semua ini sudah cukup. Aku cukup berusaha dan aku sadar aku tak bisa. Usaha ini sudah sampai pada batasnya. Resah ini sudah sampai pada garis akhirnya, di mana sabar, dan teriakan semangat rasanya sudah terlalu usang untuk diserukan.
Awal maret, aku mengundurkan diri.

"Saya pamit pulang." Kataku di hari itu. "Dan insyaallah untuk tidak kembali lagi."

Banyak orang yang menyayangkan keputusanku itu. Bahkan orang yang aku pamiti itu juga tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Tapi ini adalah keputusanku. Pantang bagiku untuk menjilat ludah sendiri. Keputusanku adalah pulang, dan aku mau pulang.

"Mulai kapan?"

"Ramadhan saya terakhir di sini."

"Itu masih tiga bulan lagi."

"Ya, saya tahu. Saya hanya memberi kesempatan pada perusahaan untuk mencari pengganti saya. Saya bersedia melatihnya selama tiga bulan sampai dia bisa."

"Baik, terimaksih atas itikad baik kamu. Tapi kamu kan belum ada batu loncatan?"

"Itu adalah resiko saya. Jangan khawatirkan saya. Insyaallah saya akan baik-baik saja."

Pembicaraan diakhiri dengan sederet wejangan. Wejangan tentang hidup dan segala sesuatu tentang masa depan. Wejangan yang masih dan akan selalu saya ingat. Terimakasih sudah meluangkan waktu dan energi itu itu.

Esok harinya, setelah matahari terbit untuk pertamakalinya setelah proses pamitan itu, ada kelegaan luar biasa di dadaku. Aku akan pulang, tiga bulan lagi...

Bersambung....

READ MORE - Pulang (1)

Minggu, 24 November 2013

Dia yang Sangat Merindukanmu

Pernahkah kita menyadari kalau kadang kita itu egois?

Pernahkah kita sadar kalau jauh di sana ada orang yang benar-benar tulus merindukan kita? Dia yang merindukan kita itu, terkadang hanya butuh mendengar suara kita untuk mengobati kerinduannya. Ya, walau tanpa percakapan panjang, hanya dengan kalimat “Aku baik baik saja.” Dia sudah puas. Terkadang kita tidak pernah benar-benar mengerti apa yang dia rasakan.

Walkers, dibawah ini adalah petikan percakapan tiga orang lewat BBM. Aku share disini, mungkin bisa jadi pelajaran untuk kita semua. Nama orang-orang yang terlibat serta id BBM di samarkan untuk menjaga privasi. Percakapan sengaja tidak diedit, sengaja dibiarkan banyak kesalahan ketiknya untuk menunjukkan keasliannya.


P:  Bunda

EMAK: Knp?

P: Udah berapa kali ibu minta ditelepon
P: Tapi aku gak telepom
P: Telepon

PICT : Telpom donk

EMAK: Kenapaa?

P: Kalau denger suaranya

PICT : Aq aja sering Nelpom

P: Kadang aku sering nyesek
P: Pengen pulang

PICT : ({})
PICT : Ooo

EMAK: Telpon lah mas. Membahagiakaan org tua dgn cara yg beliau inginkan.
EMAK: Bkn dgn yg kita pikirkan
EMAK: Akan lbh tepat dan mengena dihatinya

PICT : Oyi

P: :|
P: Aku egois ya bund

PICT : Ayoo telpon

EMAK: Kayaknya dl kita pernah ngobrol juga ya, bahwa org tua tidak mengharapkan materi sbg wujud perhatian anak.
EMAK: Was2 berjauhan
EMAK: Ingin yaakinkan diri bhw anaknya baik2 saja
EMAK: Butuh perhatian walau sekedar disapa apa kabar

P: Hhhhhh...

EMAK: Jarak, sll membutuhkan komunikasi intens
EMAK: Spt kalau kita berjauhan dgn kekasih, pasti ingin sll keep in touch
EMAK: Sama aja dgn ortu
EMAK: Jgn smp salah paham
EMAK: Tdk tlp nanti malah dikira tdk rindu/ tdk perduli
EMAK: Sbg bunda, aku suka kalau anakku bilang, kangen bunda
EMAK: Dulu, mas Yok juga suka gitu
EMAK: Ibuku protes
EMAK: Mas yok jawab, kalau masyok ga telp berarti mas yok baik2 aja
EMAK: Trus ibu blg, apa ibu nggak boleh dengar berita kamu baik2 aja? Apa hrs saat kamu punya mslh br ibu tau?

PICT : Ooo

EMAK: Hihihi
EMAK: Bawel ya mak ini

PICT : Ah ga

EMAK: Asik

PICT : Udah kakak telpon gih
PICT : Kalau nangis terus bobok yaa
PICT : Jangan lupa cuci kaki

P: Pernah ibu minta aku telepon

EMAK: Kalau nangis dengerin fatin dulu biar puas dl nangisnya :@
EMAK: :p

P: Di sms adik bilang penting
P: Waktu aku telepon dan tanya ada apa
P: Ibu cuma bilang
P: "Cuma ingin denger suaranya"
P: "Gimana kabarnya di sana?"

PICT : Itu artinya jarang banget telepon

P: Waktu aku bilang aku baik baik saja

PICT : Aq hampir tiap minggu
PICT : Ato semau ku

P: Ibu bilang, sudah tutup teleponnya kalau sibuk, ibu cuma pengen denger suaranya
P: Gimana gak mau tersentuh coba...
P: Bersukur tole bisa ada kesempatan telepon
P: Aku bukan gak punya kesempatan telepon
P: Cuma ya itu tadi
P: Kalau sudah telepon pengennya pulang

EMAK: Home sick nya jgn dipelihara ah
EMAK: Apalagi jd bikin takut tlp ibu
EMAK: Tlp aja, kalau jd sedih ya hibur hati
EMAK: Kapan lagi nyenengin org tua
EMAK: Baru menahan rindu aja udah terasa berat, bayangkan dgn apa yg dirasakan ibu.
EMAK: Come ooon...

P: Ya mak
P: Makasih ya mak....

EMAK: Kalau yg begini hrs dikerasin nih

PICT : Udah berubah mak ga bund

EMAK: Tak jewer aja kalo ga nelpon

PICT : Udah oke

P: :)

EMAK: Opo sih berubah mak ga bund?

PICT : Hahaha

P: Hanya wanita yang bisa memahami wanita, hanya dengan hati seorang ibu kita tahu apa yang ssorang ibu mau...
P: Sekali lai makasih mak





Walkers, sudahkah telepon ibu hari ini?
Beliu pasti sedang merindukanmu.
 


Sumber gambar dari sini




READ MORE - Dia yang Sangat Merindukanmu

Senin, 04 November 2013

Inilah Suka Duka Kami, Para Pekerja Jasa Lewat Tengah Malam



Sudah tengah malam ketika aku menuliskan posting ini, walkers. Tengah malam begini aku masih terjaga, dan memang harusnya aku terjaga. Pekerjaanku menuntut untuk bisa melek sepanjang malam. Dulu, aku pernah mendengar selentingan pendapat yang sudah menjadi kesepakatan umum. Seperti kesepakatan umum lain, yang mana seringnya mereka sebut adat, sopan santun, melekat pada suatu masyarakat seperti melekatnya kancing pada baju. Kemana harus dibawa dan dijaga oleh anggotanya. Kalau sampai menanggalkannya, berbagai sanksi adat yang akan diterima si pembangkang.

Perkerja malam sering identik dengan hal yang tabu. Penjaja tubuh di tengah malam bisa ditemukan dengan mudah di berbagai kota di negeri ini. Kalau kalian pernah berkunjung ke Jakarta atau Surabaya dan berkesempatan untuk berjalan jalan di malam hari, kalian akan dengan mudah menemukan mereka yang menjajakan diri sepanjang malam pada tempat tertentu. Mau tubuh pria atau wanita, kalian tinggal pilih. Mau bentuk yang bagaimana, kalian bisa pesan. Atau lewat media komunikasi yang canggih zaman ini, pilihan dapat kalian perluas.

Aku juga termasuk salah satu pekerja malam itu. Setelah sebelumnya, aku berprofesi sebagai pria panggilan. Pekerjaan malamku ini berbeda dengan apa yang kalian bayangkan sebelumnya mungkin. Aku tidak menjajakan tubuh. Pastinya. Aku menawarkan jasa yang lain. Jasa gendong menggendong.

Kalian yang butuh jasa untuk menggendong mobil kalian yang mogok, bisa menghubungi aku. Dua puluh empat jam sehari, tujuh hari seminggu perusahaan tempatku bekerja beroprasi. Jadi hilangkan bayangan negatif tentang diriku tadi, dan mulailah berfikir waras tentang diriku.

Seperti pekerjaan yang lain, pekerjaan yang aku geluti sekarang ini juga punya bagian yang menyenangkan juga bagian yang menyebalkan. Yah, hidup ini seimbang, walkers. Kalau kalian hanya mau bagian senangnya saja, seperti mau gajian saja tanpa mau bekerja, itu namanya bukan hidup. Kita hidup karena kita punya hal yang harus kita selesaikan. Kita hidup karena kita punya masalah buruk yang harus kita nikmati untuk menyadari keindahannya.

Kalau kalian bertanya apa dukanya pekerjaanku ini, aku mungkin akan menjawab banyak. Oya,kalau kalian mau tahu apa sebenarnya pekerjaanku sebelum aku bercerita lebih banyak lagi,  bolehlah aku beri bocorannya sekarang. Aku bekerja pada suatu perusahaan towing sebagai operator. Towing adalah kendaraan pengangkut kendaraan lain. Kendaraan yang diangkut bisa dalam berbagai kondisi. Baik mobil yang baru sampai mobil yang mengalami kecelakaan. Kebetulan, perusahaan tempatku bekerja mengkhususkan diri pada singgle towing. Yang mana maksudnya, satu kendaraan untuk menggendong satu kendaraan. Jenis towing yang lain, adalah kendaraan yang mengangkut lebih dari satu kendaaran lain diatasnya. Kalian yang tinggal di kota besar atau sepanjang pantura pasti sering melihat kendaraan semacam ini modar mandir.

Selama di Jakarta aku bertugas sebagai operator malam. Yang artinya, aku bertugas sebagai penerima order untuk malam hari. Pelanggan yang membutuhkan jasa towing, akan menghubungiku melalui nomor hotline yang tersedia. Jika terjadi kesepakatan, maka aku akan menugaskan petugas lapangan (sopir, kernet dan satu unit mobil towing) untuk mengeksekusi pesanan yang masuk.

Beberapa pengalaman yang tidak menyenangkan dalam profesiku ini diantaranya adalah aku harus bergadang nyaris tiap malam. Tugasku mengharuskan aku mengabaikan peringatan yang dilontarkan bang haji Roma Irama untuk tidak begadang bila tak ada perlunya (*** menyanyi dimulai… ). Namanya juga operator malam, jadi tugasnya ya malam. Kalau siang? Ya ganti oranglah, aku juga butuh istirahat bukan? <nyengir kuda>

Hal yang tidak menyenangkan yang lain adalah bila kami mendapatkan pelanggan yang sedang kebingungan di tengah jalan gara gara mobilnya mogok. Apalagi kalau itu seorang wanita. Bukan karena kami tidak suka melayani wanita malam hari, dengan senang hati akan kami layani (singkirkan pikiran kotor itu). Pelanggan yang sedang mogok mobilnya di jalan tengah malam, biasanya ingin dibantu secepatnya. Hal ini tentu saja tidak bisa dilakukan setiap saat. Ada berbagai hal yang bisa menghambat kami untuk bisa membantu dalam hitungan waktu yang sesingkat seingatnya.

Kemacetan, apa lagi di Jakarta, jalan yang rusak, cuaca yang tak bersahabat, dan jarak tempuh yang jauh bisa menjadi alasan utama mengapa kami tidak bisa datang secepatnya. Kami memiliki banyak armada, tapi tentu saja tidak sebanyak taksi yang menyebar dimana mana dengan berbagai merk dagang (abaikan bila ini termasuk lebaynisasi). Pelanggan yang tidak bisa kami bantu secepatnya biasanya akan terpancing emosinya. Hal ini bisa aku pahami. Keadaan bingung dipinggir jalan, kecemasan akan status kendaraan kesayangannya yang sedang tidak sehat bisa jadi pemicu yang paling mendominasi. Kekesalan ini bisa jadi dilampiaskan pada kami yang tidak bisa membantu sesuai harapan mereka. Terdengar tidak adil mungkin, tapi itulah kenyataannya. Sebagai operator yang berhubungan langsung dengan pelanggan, hanya kesabaran yang bisa jadi bentengnya.

Pergolakan hati lain yang dialami operator malam adalah masalah profesionalisme dari kru malam yang sedang bertugas. Ada kalanya pesanan towing sepi sejak sore, tapi tiba tiba banyak permintaan lewat tengah malam. Bukan hanya sekali dua kali, ini sudah kejadian yang wajar. Dalam keadaan seperti ini, kami biasanya sudah lelap tidur saat ada panggilan lewat tengah malam ini. Sebagai lelaki panggilan yang setia pada panggilan tugasnya, mau tidak mau kami harus bangun. Pelayanan terbaik untuk pelanggan, dimanapun, kapanpun harus tetap menjadi yang utama. 

Kadang ada rasa kasihan juga saat membangunkan mereka bahkan sebelum ayam berkokok. Disaat tidur pulas dengan wajahnya yang letih, aku harus membangunkan mereka. Sebagai sesama manusia, aku mengerti saat saat seperti ini mereka tidak ingin di ganggu. Kenikmatan tidur adalah salah satu hal yang tak ingin direnggut begitu saja. Tapi kembali lagi, tugas mengharuskan kami begini.

Itu mungkin sebagian dari hal yang kurang menyenangkan dalam tugas kami. masih banyak yang lain, mungkin suatu saat kalau ada kesempatan lagi, bisa kita bahas lagi, walkers.

Seperti yang aku bilang tadi, selain hal yang menyenangkan, ada yang hal hal yang membuat semua kekurang nyamanan itu terbayarkan. Salah satu diantarnya, adalah kesempatan untuk travelling. Perusahaan towing tempatku bekerja saat ini juga melayani pengantaran mobil antar kota bahkan antar pulau. Disinilah jiwa petualangku terpuaskan. Sering kali aku ditugaskan untuk mendampingi kru yang bertugas keluar kota. Tugas keluar kota berarti perjalanan jauh. 

Sebernarnya tergantung masih masing pribadi menanggapinya bagaimana. Perjalanan yang kami lakukan bisa jadi membosankan, bisa jadi menyenangkan. Tergantung bagaimana kita menyikapinya.. perjalanan tugas luar kotaku tidak seperti kebanyakan tugas luar kota yang dijalani kalian, walkers. Kalau kalian bisa menuju kota tujuan dengan bus, pesawat terbang, kapal laut, atau kereta api, aku malah harus menempuhnya menggunakan truk.

Perjalanan Jakarta – Surabaya bisa memakan waktu sampai dua hari lamanya. Jakarta – bali bisa tiga sampai empat hari. Lama ya? Hal ini karena truk tidak bisa bergerak secepat kendaraan pribadi. Truk tidak dibuat seperti bus. Kalau bus, mesinnya dibuat untuk menggerakkan kendaraan tersebut agar bisa bergerak secepat mungkin, sedangkan truk dibuat untuk bisa mengangkut muatan sebanyak mungkin. Jelas bedanya. Satu untuk kecepatan, satu untuk tenaga.

Hal menyenangkan lainnya adalah saat kami melihat wajah puas dari para pelanggan kami. Wajah yang penuh sukur karena apa yang kami perbuat dengan izin Yang Maha Kuasa. Rasa lelah karena harus bekerja di jam tidur, rasanya terbayarkan sudah. Tak ada yang lebih aku sukai daripada senyum tulus yang tersungging di bibir pelanggan kami. mungkin memang sudah kodrat manusia untuk ikut bahagia melihat orang lain bahagia. Apa lagi, itu karena perbuatan baiknya sendiri.

Aku sampai pernah berfikir, kalau menurut Dia Yang Maha Adil upah yang kami dapatkan dalam pekerjaan ini masih jauh dari seharusnya kami dapat, biarlah Yang Maha Kuasa yang menggantikannya dengan pahala. Untuk itulah kami selalu berusaha ikhlas, bagaimanapun keadaan mobil yang akan kami hadapi nanti.


Walkers. Sebenarnya hidup itu indah. Tergantung bagaimana kita memaknainya saja.



READ MORE - Inilah Suka Duka Kami, Para Pekerja Jasa Lewat Tengah Malam

Senin, 28 Oktober 2013

Menanti Sebuah Kisah

.
.
;
.
Kisah yang sampai sekarang masih jadi misteri buat diri ini
Kisah yang akan mengukir sejarah dalam hidup ini

Jangan patahkan sayap sayap cintamu
Biarlah dia mengembang
Mengepak diudara yang segersang sahara
Mengalir dimana bahkan air tak mampu merayap
Mesat ngapung luhur jauh di awang2
Biarkan dia menerpa wajahmu
Bersama pasir lembut yang diterbangkan angin sahara...

Wahai kisanak sudikan kau menjadi saksi akan kisahku?
Saksi?
Akan kusaksikan kisahmu
Seperti aku bersumpah pada bintang
Bahwa aku melihat keling matanya diantara mereka
Berkelip indah dihati yang gersang menanti kisah

Kisah oh kisah...
Akankah dia datang merayap dalam mimpiku yang gelisah malam ini....

Kan ku genggam bintang itu kan ku berikan pada kisah yang terpatri dalam hati ini
Menyinari gelapnya akan penantian kisah ini

Hingga malam hilang
Dan sinar mentari pagi
Menjadikan wujudmu nyata
Terbaring lembut dijiwaku
Jiwa jiwa yang kesepian akan kasih sayang
Berlari ke utara dan juga selatan
Wahai kisah kapankah kau datang





Puisi yang ditulis spontan oleh kami bertiga
Merah oleh kang Topics
Biru oleh Bunda Lahfy
Abu abu oleh saya sediri
READ MORE - Menanti Sebuah Kisah
Ada kesalahan di dalam gadget ini