Rabu, 28 November 2012

Ketika Doa si Dekil Dikabulkan Tuhan



Artikel sebelumnya bisa di baca disini

Si korban akhirnya bisa kami jumpai dan minta datang ke polsek tempat masalah itu akan di selesaikan. Tapi pembicaraan sepertinya tidak semulus apa  yang ada dalam bayanganku. Benturan-benturan kepentingan bercampur dengan egoisme yang menyengat, membuat semua jalan sepertinya buntu. Hari itu, kami tidak bisa mendapatkan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah yang kami hadapi.

Beban dalam pikiranku bertambah. Bukan hanya tentang bagaimana menyelesaikan masalah ini dengan baik, tapi bagaimana caranya kami bisa menepati amanah dari custumer kami untuk mengantarkan Fair Lady tepat waktu. Karena dengan berlarut larutnya masalah ini, berarti semakin lama juga Fair Lady dan unit towing kami tertahan disini. Sementara itu, deadline waktu pengantaran Fair Lady sudah semakin dekat pula. Pameran yang akan melibatkannya, tinggal hitungan jam saja. Aku resah, semua terasa serba mendesak, sedang di sini tidak ada perkembangan yang berarti.

Seandainya Fair Lady tidak bisa kami antarkan tepat waktu, bukan hanya kerugian secara finansial yang akan kami alami, tapi juga nama baik perusahaan yang sudah kami bangun bertahun tahun lamanya akan tercoreng hanya dalam hitungan jam saja. Koordinasi dengan kantor pusat terus aku usahakan. Mencari kemungkinan kemungkinan terbaik yang bisa kami lakukan untuk memperkecil kerugian yang mungkin akan kami alami. Sementara itu, custumer mulai mengendus ada yang tidak beres dengan pengiriman mobilnya. Mereka mulai menelpon kami hampir setiap jam, dan setiap itu pula kami harus berusaha mencari alasan untuk menenangkan mereka. tapi sampai kapan kami bisa bertahan dalam keadaan begini? Rasa frustasi mulai menghinggapi dadaku. Begitu berat.

Dalam bayangan cermin, aku bisa dengan jelas melihat wajahku yang semakin saat semakin layu saja. Aku sadar aku butuh sesuatu untuk menyegarkan pikiranku lagi. Tapi dengan apa? Yang ada adalah keadaan yang semakin menekan saja. Aku tak bisa mandi selama ini, tidak ada air untuk menyegarkan badan, tidak ada satupun yang bisa meringankan pikiranku kecuali aku masih yakin bagaimanapun, seberat apapun, masalah pasti akan berlalu. Kata pepatah, saat satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka. ALLAH berfirman bahwa tidak akan di bebankan sebuah masalah kepada hambanya yang melebihi batas kemampuan hambanya itu.


***


Hari berikutnya satu kabar baik kembali aku terima. Satu unit towing kami yang lain sedang mengarah ke tempat kami dan akan tiba dengan waktu yang secepat cepatnya. Aku bisa bernafas sedikit lega. Setidaknya, akan ada harapan bahwa Fair Lady akan tiba di tempat tujuannya tepat waktu. Sementara itu juga, satu beban lagi untuk menggu Fair Lady 24 jam akan berkurang.

Custumer kami yang sudah tahu keadaan yang sebenarnya, tiba pada dini hari yang masih gelap tepat di hari di mana harusnya towing bantuan datang. Semua seperti sudah diatur dengan rapi oleh yang Maha Pengatur. Aku mendesah bersukur. Satu demi satu akhirnya beban yang ada di pundakku berkurang.

Siang yang terik bantuan itu datang. Fair Lady pindah dari towing lama ke towing bantuan. Dua jam kemudan, Fair Lady berlalu, membawa sebagian penat ini bersamanya.

“Fair Lady sudah di berangkatkan ke Jakarta, bu. Kalau tepat waktu, Fair Lady akan tiba dini hari sebelum pameran di mulai.” Aku laporkan keadaan yang melegakan itu pada manajer utama kami. Kami semua berucap sukur pada semua pertolonganNYA. Aku semakin yakin, bahwa sebenarnya pertolonganNYA itu begitu dekat, kadang tanpa dimintapun pertologan itu akan datang dengan cara yang unik sekalipun. Semua kemudian kembali pada kita, apakah kita akan bersukur atau tidak atas segala kemurahanNYA itu. Sekali lagi, semua kembali pada pribadi kita masing masing.

Lalu, apakah semua masalah berakhir di sini?


***

Fair Lady memang sudah diamankan, tapi bukan berarti masalah sudah sepenuhnya berakhir. Unit towing kami masih ada di sini, masih tertahan sebagai barang bukti di kantor polsek. Beban berat masih menggantung di pundakku ketika sekali lagi pembicaraan kami berakhir di jalan buntu.

Keadaan memang sudah tidak sepenuhnya lagi semencekam kemarin. Aku tidak lagi tinggal di musolah polsek, kami menyewa satu kamar hotel kecil di pinggiran kota untuk sekedar bernaung, berfikir, dan yang lebih penting lagi, kami bisa membersihkan tubuh kami yang sudah beberapa hari ini tidak tersentuh air sedikitpun. Hanya pakaian kami yang sama sekali tidak bisa kami ganti. Satu-satunya baju yang aku bawa adalah baju yang saat itu melekat di tubuhku. Bisa dibayangkan betapa gatal dan lengketnya.

Hari masih terus berlalu, usaha masih terus kami upayakan. Hingga hari itu, di satu Jum’at yang terik, aku melangkahkan kaki ke arah masjid untuk menunaikan kewajibanku sebagai lekaki muslim. Walau belum pernah aku membayangkan sekalipun dalam hidupku, kalau aku akan melangkahkan kakiku sekalipun ke ‘rumahNYA’ dalam keadaan seperti ini. Dekil, jorok, dengan baju yang sudah hampir seminggu tidak ternganti dengan yang lebih bersih. Aku tidak lagi perduli bagaimana tanggapan orang orang di sekelilingku, yang ada dalam pikiranku adalah bahwa aku harus melaksanakan kewajibanku. Itu saja. Tak ada yang lain selain memenuhi panggilanNYA.

Dalam hati ini aku merasa begitu kotor. Bukan hanya kotor oleh semua kotoran yang melekat di pakaian dan badanku, tapi juga kotor rasanya seluruh jiwa ini. Begitu hina rasanya aku saat itu, hingga Tuhanpun menjalankan aku ke ‘rumahNYA’ dalam keadaan sehina ini. Dengan bau yang mengusik orang di sekelilingku, dengan tubuh letih dan kuyu serta beban berat yang terus menggelayut di pundakku, menekan letih jiwa itu terus bertambah. Aku mendesah, aku menghela nafas panjang yang berat mengingat semua yang terjadi. Sempat terlintas dalam pikiranku, apakah ini teguran keras dariNYA atas segela yang aku lakukan selama ini?

Usai solat Jum’at, aku sempatkan sejenak bermunajad kepadaNYA. Meminta maaf atas segala ketololan yang pernah aku lakukan, memohon ampun untuk setiap saat yang aku lalui di lumpur kehinaan. Tak lupa juga aku mohon dengan sangat  kepadaNYA untuk membantu kami menghadapi masa masa sulit ini. Aku berkata kepadaNYA kalau aku ingin pulang, ingin segera membersihkan diri ini, bukan hanya dari kotoran yang melekat di badan, tapi juga dari seluruh lumpur kehinaan yang telah lama berkubang dalam jiwa lusuh ini. Aku memohon kepadaNYA dengan sangat, dengan ketulusan hati yang aku bisa, dengan menghadirkan seluruh pengharapan yang aku mampu, dan aku yakin, ALLAH tidak pernah tidur, ALLAH akan selalu mengabulkan doa hambanya.

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي. وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي. 

RABBISYAH LII SHADRII, WAYASSIRLII AMRII, WAHLUL ‘UQDATAN MILLISAANI YAFQAHUU QAULI.

 “Ya Allah ya Tuhanku! Lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mengerti perkataanku”. (Doa Nabi Musa AS dalam QS. Thaha 25-28)





***

Jum’at malam, tiba tiba saja semua pintu yang awalnya tertutup itu seakan membuka dengan mudahnya. Seperti mudahnya daun kering yang gugur oleh angin yang berhembuh perlahan. Tiba-tiba saja negoisasi berjalan seperti kereta di atas rel, seperti air dalam selang. Lancar tanpa hambatan.

Sabtu pagi kami bertemu lagi, membicarakan masalah ini untuk penyelesaiannya. Aku heran ketika semua berjalan begitu lancar. Sampai akhirnya di sabtu siang, nota kesepemahaman penyelesaian masalah itu kami tanda tangani dan kami bisa pulang dengan tenang.

Tubuhku bergidik di sepanjang jalan yang aku lalui dalam perjalanan pulang menuju Surabaya. Pikiranku seakan tidak pernah menjangkau apa yang telah terjadi. Mulanya masalah ini berjalan begitu sulitnya, butuh beberapa hari hingga Jum’at siang tapi semua berjalan seperti tidak akan pernah berakhir. Tapi mengapa di Jum’at malam dan Sabtu siang semua masalah ini berakhir dengan cepat seperti tidak ada apa apa sebelumnya? Apakah ini jawaban atas doa yang aku panjatkan? Doa yang aku panjatkan dalam keadaan yang begitu dekil? Aku begidik, hati ini sahdu bertasbih memujinya, mengucapkan segala terimakasih yang tak terhingga kehadiratNYA atas segala pertolongan yang telah ALLAH berikan.

Bukan diri ini aku merasa begitu bersih setelahnya, tapi merasa semakin kotor mengingat semua yang terjadi. Aku semakin sadar kalau Tuhan itu begitu dekat dengan kita, begitu mengerti kita, selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Tapi mengapa setiap saat kita selalu berbuat nista yang tak lain hanya menambahkan kenistaan diri sendiri dan tidak pernah sekalipun akan mengurangi kemulianNYA. Doaku yang aku panjatkan dalam keadaan sedekil itupun dikabulkanNYA, bagaimana lagi kalau aku berdoa dalam keadaan yang di sukai ALLAH?

Aku bergidik saat aku sadar, sampai saat ini aku masih dalam kubangan maksiat. Ya ALLAH, maafkan dosa kami ….


sumber gambar :dari sini

19 komentar:

  1. KEREN !!!! :))
    bintang lima deh kak...

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih sudah berkunjung dan menyimak .... :)

      Hapus
  2. Dedikasi mas Ridwan pada pekerjaan mantep deh. Itu artinya menjalankan tanggung jawab dengan baik. Berada di polsek berhari2 dengan tanpa perbekalan pasti amat meresahkan.

    Ketakwaan pada Allah dan yakin akan pertolongan Allah akhirnya membawa ke sebuah penyelesaian yang memuaskan kedua belah pihak. Luar biasa Tangan Allah Bekerja ya mas...

    Komen disini dulu ah baru mundur ke belakang...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga tanggung jawab bund, bagaimanapun harus diselesaikan bukan? :)

      Memang pertolonganNYA begitu dekat bund ...

      Hapus
  3. pada Hakekatnya orang yang merasa dirinya bersih adalah orang yang benar2 kotor.
    tapi orang yang merasa dirinya kotor dan nista di mata Allah maka akan diangkat derajadnya dan dibersihkan hatinya...

    tetap jaga hati kang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. naaahh... komen begini kan enak... pinter....:)

      Hapus
    2. Kang Insan : bener banget kang. Semoga kita termasuk orang2 yang bisa menjaga hati yak ....

      Bunda : kang Insan udah pinyer dari dulu kali .... :D

      Hapus
    3. Aslinya memang begitu... sudah pinter dari dulu... cuma suka belaga ga pinternya itu lho yang nyebelin..

      Hapus
    4. Wagagagagagagaga, gakk ikut-ikutan, takut kena jitak ....

      Hapus
    5. datang sambil siul-siul....

      Hapus
  4. Balasan
    1. makasih sudah berkunjung, menyimak dan meninggalkan jejak di sini .... :)

      Hapus
  5. subhanalloh.... T_T
    bukannya aku cengeng.. tapi serpihan kisah nyata kehidupan yang dilaui bang ridwan ini sangat mengharukan. bukan atas kesulitannya melalui cobaan, tapi atas ketegaran dan keberanian melakukan hal yang benar. bermula dari mencari yang jadi korban... hingga akhirnya berkorban demi hal tersebut.
    terimakasih telah membagikan kisah ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. tak ada kekuatan dan pertolongan selain dari ALLAH semata. Dialah tempat bergantung semua mahluk yang lemah seperti aku ini. makasih juga sudah mau berkunjung, menyimak dan meninggalkan jejak ....

      Hapus
  6. Allah Swt telah berjanji untuk mengabulkan doa hamba_NYA yang sungguh-sungguh penuh harap dan tak tergesa-gesa.Pengabulan doa itu bisa persis sama yang kita minta atau dalam bentuk lain yang pas untuk kebaikan kita, sekarang juga atau ditunda.

    Namun sebaiknya kita juga introspeksi agar jangan hanya minta melulu sementara perintahNYA tak dilaksanakan, larangan-NYA tak dipatuhi serta jauh dari NYA.

    Semoga kita semakin hari semakin baik.

    Terima kasih kisahnya yang bermanfaat

    Salam hangat dari Galaxi

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener sekali kata pak dhe. moga kita makin baik dari hari kehari ya pak dhe....

      Hapus
  7. Abis baca kisah ini..ampe susah komen saya kang... campur aduk rasanya..anatara takjub sama tulisan nya kang ridwan, merenung dengan hikmah ceritanya..pokoe campur aduk kaya gado-gado deket stasiun gubeng #ehh..

    aniwei...ajarin saya nulis kang :D #simple request kan ? :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. saja sependapatan mas *saking bingungnya mau komentar apa* :D

      Hapus
    2. @kang ratodi : wah, enak tuh makan gado gado kang... :)
      kalau aku ngajari kang ratodi nulis itu sama saja namanya aku menggarami samudra. mana bisa kang.... :)

      @banyu : nah itu sudah berkomentar....

      Hapus

.
..
Buktikan kunjungan kamu ke blog ini dengan meninggalkan komentar sebagai jejak kunjungan.
..
.

Ada kesalahan di dalam gadget ini