Rabu, 16 Februari 2011

Seorang nenek, dan Ilmu Tuhan

Cuma ada beberapa orang panitia dan undangan yang datang waktu aku tiba di lokasi, sebuah gedung perkuliahan universitas ternama di kota ini. mulanya semua berjalan lancar saja. Setiap undangan yang datang mengisi buku tamu yang disediakan oleh panitia. Sebagian dari mereka mengisi buku tamu akademisi, dan sisanya, mengisi buku tamu non akademisi. Memang tidak bisa langsung di bedakan secara kasat mata yang mana yang tamu akademisi,  mana yang tamu non akademisi. Karena umumnya mereka adalah orang orang berada yang bisa datang ke salon untuk mengubah penampilan mereka guna menghadiri acara pengukuhan gelar doktor seperti ini.

Tapi satu tamu yang hadir sekitar lima belas menit sebelum acara pengukuhan di mulai, menyita cukup banyak perhatianku. Tak seperti tamu tamu yang lain, tamu yang satu ini berpenampilan sangat biasa, sangat bersahaja seperti kebanyakan nenek yang biasa bergelut dengan bawang dan  cabai di dapur sederhananya. Tinggi badannya tak lebih dari 145 cm saja. Dengan pakaian kurung sederhana tanpa motif apapun di padu dengan kerudung hitam tanpa corak. Di tangannya, sebuah tas hitam sederhana berwarna hitam semakin menguatkan kesan kesederhanaannya.

Hal kedua yang membuat aku kagum pada sosoknya adalah ketika aku sadar kalau ruang pertemuan ini berada di lantai tiga. Di gedung ini hanya ada tangga, tanpa lift. Jadi tentu saja nenek yang ini sudah bersusah payah sendiri menaiki tangga sampai lantai tiga. Tapi si nenek  tidak tampak kelelahan sewaktu tiba di tempat pertemuan. Penampilan seorang nenek, tapi tenaga seorang gadis!

Hal berikutnya yang membuat jantungku berdegub adalah ketika salah seorang pentia menyambut dan memanggilnya ‘Prof’. aku berharap telingaku salah mendengar apa yang baru saja aku dengar watku itu. Mungkin yang aku dengar hanyalah panitia itu memanggil nama si nenek yang pelafalannya yang mirip dengan pelafalan suku kata ‘prof’ (yang berasal dari kependekan sebutan untuk profesor). Tapi degub jantungku sedikit memburu dan mataku sedikit membelalak ketika si nenek sederhana itu mengisi buku tamu akademisi, yang berarti beliau berasal dari golongan terpelajar. Kali ini, masihkah aku harus berharap kalau telinga dan mataku salah mendengar dan melihat?

Apa lagi setelah melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau nenek tua sederhana ini masuk ke ruangan 503, ruang di mana ujian terbuka untuk pengukuhan gelar doktor itu dilaksanakan. Sendangkan untuk tamu dari golongan non akademisi yang berasal dari keluarga dan orang dekat sang calon doktor ada di ruang aula A.

*** 

Semua membuat aku larut dalam renunganku. Manusia, seahli apapun, setinggi apapun ilmu dan kemampuannya, dia tetaplah seorang manusia. Manusia yang tingkatan tertinggi keahliannya hanyalah seorang spesialis. Dokter mungkin adalah bidang dengan sepesialisasi terbanyak. Spesialis anak, kandungan, neurologi, traumatologi dan orthopedi, urologi, dan mungkin masih banyak yang lain. Seorang ilmuan ternama kelas dunia, seperti Einstein misalnya, hanya akan menjadi ahli di satu bidang saja. Dia ‘hanya’ ahli dalam bidang fisika saja, tidak pernah dikabrkan kalau Einstein punya keahlian lebih di bidang biografi atau ketatanegaraan. Seorang Hitler di sisi lain adalah seorang negarawan, seperti halnya dia tidak pernah di beritakan membuat penemuan yang menakjubkan di bidang yang lain. Tidak di bidang fisika atau sastra.

Kalau kita mau mengurutkan kedalam sebuah daftar yang panjang tentang para ahli dan orang orang ternama yang pernah tercatat namanya dalam sejarah, rasanya tidak ada seorangpun yang akan punya tempat di seluruh bidang yang bisa di masukkan dalam daftar itu. Adakah seorang ahli matematika yang juga negarawan, kaligus filsuf, sekaligus ahli sastra, sekaligus ahli biologi, sekaligus seorang dokter, sekaligus seorang negarawan, sekaligus seorang arkeolog dan sekaligus sekaligus yang lain? Benar benar tidak ada rasanya.

Perenungan hari itu membuatku kembali pada sebuah kesimpulan bahwa betapa dahsyatnya ilmu Tuhan itu. Tuhan adalah maha segalanya. Dia adalah ahli di segala bidang. Tuhan yang menciptakan kehidupan yang dapat di telaah dari unsur fisika, yang menunjukkan kalau Tuhan adalah ahli dalam bidang fisika. Tuhan menciptakan isi alam raya yang dapat di jelaskan dalam teori teori matematika. Yang berarti Tuhan adalah seorang ahli matematika. Dalam bidang biologi, Tuhan juga adalah sang ahli. Tuhan juga ahli bukan hanya ahli dalam hal tatanegara, tetapi juga ahli dalam hal tata alam semesta.

Seperti kata pepatah yang hari itu juga aku ingat kembali, bahwa “ semakin tinggi ilmu seseorang, semakin sadar juga kalau dia semakin bodoh.” Seorang dokter spesialis saraf misalnya, seperti yang pernah aku tau saat aku berbicara dengan dia, kalau semakin hari dia semakin sadar, betapa minimnya ilmu yang dia tahu mengenai ginjal atau organ respirasi. Padahal syaraf dan ginjal serta organ respirasi itu masih berada dalam satu disiplin ilmu biologi, atau setidaknya kedokteran. Tapi mana pernah ada seorang ahli ginjal yang melakukan pengobatan sistim respirasi atau ginjal? Atau mana ada seorang guru fisika di smu yang bisa menjabarkan kesenian sebaik guru kesenian yang asli? Atau mana ada guru olahraga yang bisa mengerti detail tentang inti sel sebaik guru biologi? Kita bahkan tidak  pernah tau ada apa di dasar samudra terdalam, seperti kita juga tidak pernah tau berapa sebanarnya banyak bintang diangkasa. Kecuali dalam perkiraan menurut para ahli.

Bila kita mau sadar, betapa bodohnya kita, masihkah kita akan menghakimi seorang tua seperti pada awal tulisan ini dari sampul luarnya saja? Apa lagi, saat acara pengukuhan berlangsung, justru nenek tua yang bersahaja itu adalah salah satu pengujinya? Sungguh, hanya Tuhan yang berhak menilai kita dengan sebenarnya…..

13 komentar:

  1. old book but not an unusual old book..
    subhanallah sekali ceritanya.. betapa kita sangat tidak berhak untuk menilai seseorang dari luarnya saja. sangat menginspirasi sekali. terimakasih.. ^^

    salam kenal ^^

    BalasHapus
  2. @ hasbuloh : makasih atas kunjungn dan komentarnya, semoga pesan yang ingn di sampaikan bisa diterima banyak orang....

    BalasHapus
  3. dont judge a book from the cover...

    contoh yang baik dan perlu ditiru... andai ia nenekkku.. hehe..

    BalasHapus
  4. wow....nice message...thx bang....

    BalasHapus
  5. @ bunda azka : bener, jangan lihat orang dari luarnya saja. semoga kita bisa jadi orang tua seperti beliau.....

    @ blackbox : sama sama.... :)

    BalasHapus
  6. Selamat pagi, semangat pagi. sungguh cerita yang penuh inspirasi untuk memaknai sebuah kehidupan. seakan dalam cerita di atas menunjukkan pada kita bahwa, sikap low profil memang perlu di miliki. karena hakikatnya,, orang bijak adalah orang yang mampu mengendalikan ke 'Aku'-an'a.... dan nenek itu telah menunjukkan pada kita arti sebuah sikap 'kesahaajaan'

    BalasHapus
  7. @ zico : benar, itulah kadang beda antara orang yang benar benar bisa, yang setengah setengah dan yang hanya merasa bisa......

    BalasHapus
  8. seep..

    untung ya bang, bukan tampang gadis tenaga nenek ya.. (alias masih muda kok malas2 an..)

    :)

    BalasHapus
  9. @ chapunx : bener itu, mles liat cwek gadis kayak nenek2.... geggegegeeggeegge............ :))

    BalasHapus
  10. yang pasti diingat saja, gimana kita tua nantinya hehe.. thanks mas ridwan atas ceritanya yang penuh dengan ilmu , i like this

    BalasHapus
  11. @ auraman : bener itu, semoga nanti tua, kita bisa jadi lebih baik di mata masyarakat, keluarga dan Tuhan....., amin, makasih.... :)

    BalasHapus
  12. cerita yang bagus, semoga kita semua tetap jadi orang yang sderhana ya setinggi apapun ilmu dan pangkat kita. :)

    BalasHapus

.
..
Buktikan kunjungan kamu ke blog ini dengan meninggalkan komentar sebagai jejak kunjungan.
..
.

Ada kesalahan di dalam gadget ini