Senin, 23 September 2013

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita : Namun Kejujuran Adalah Cinta








Miris!

Itu kata pertama yang ingin aku ungkapkan tentang film ini. Sepanjang film berdurasi lebih dari satu jam ini tak henti hentinya aku merasa geram, kemudian sedih, bercampur kemudian dengan keharuan. Aku jarang sekali membuat poting (bahkan hampir tak pernah) untuk sebuah film yang aku tonton. Kali ini rasanya beda. Ada satu hal dalam diriku yang memintaku untuk menuliskan ini di La-RanTa dan berbagi dengan kalian. Meskipun ini adalah film lawas, tapi tidak ada salahnya mengupasnya disini.

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita  adalah Film apik yang menggambarkan seorang tokoh sentral beranama dr. Kartini (Jajag C. Noer). Dia adalah seorang dokter kandungan yang mau tidak mau harus juga larut dalam kisah hidup enam pasiennya. Dengan latar belakang berbeda yang kental sekali untuk setiap karakternya, menjadikan film ini penuh warna. Namun begitu, dengan satu nuansa yang sama, wanita dengan pemahaman cintanya masing masing. Sebenarnya karakter dr. Kartini sendiri bukan karakter tanpa masalah. Dia yang menjadi tokoh sentral disini juga punya segudang masalah yang bahkan tidak mampu untuk dia selesaikan sendiri. Masalah yang general memang, tapi tetap patut untuk direnungkan.

Pasien pertama adalah wanita obesitas yang baru saja menikah. Lastri namanya. Radia memerankan karakter ini dengan cara yang pas dan unik. Karakter wanita gemuk yang bahagia dalam pernikahannya. Dalam film ini, suaminya yang sangat mencintainya selalu setia untuk menemaninya berkunjung ke dr. Kartini. Suaminya juga selalu mengekspresikan rasa cintanya dengan menyukai masakan yang setiap hari dibuat oleh Lastri. Ketika akhirnya Lastri tahu kalau suaminya dalah aktor yang handal, maka semua kebahagiaan itu berubah menjadi api yang membara. Itukah cinta? Miris adanya!

Ningsih (Patty Sandya) adalah karakter selanjutnya. Dia digambarkan sebagai sosok wanita karier dengan pekerjaan mapan yang mengharapkan anak dalam kandungan pertamanya adalah seorang bayi lelaki. Tak seperti film lainnya yang pada umumnya tuntutan untuk memiliki anak pertama dengan gender tertentu datang dari keluarga besarnya, dalam film ini tuntutan itu bahkan datang dari dalam diri Ningsih sediri. Dia bahkan sampai berencana menggugurkan kandungannya bila anaknya nanti diketahui seorang wanita. Karakter Ningsih ini hanya muncul beberapa kali sepanjang film ini, tapi perannya di akhir cerita mampu membuat ending yang mengesankan. Ningsih adalah wanita yang kecewa pada suaminya, tapi tidak pernah bermaksud untuk meminta cerai. Kalau begitu, itukah yang disebut cinta?

Olga Lydia memerankan seorang wanita hamil bernama Lili dalam film ini. Seorang wanita keturunan Tionghoa di Indonesia. Dia adalah seorang wanita yang begitu mencitai suaminya. Luka lebam yang didapatkan karena karakter seksual yang menyimpang dari suaminya diterimanya bukan sebagai siksaan, tapi malah sebagai pembuktian cinta yang tulus. Kalau jiwa wanita mampu untuk menerima dan memaklumi sakit yang diterima raganya dengan tulus ikhlas seperti yang Lili mampu, itukah namanya cinta? Bagiku itu cinta yang sakit.

Karakter Yanti  yang diperankan oleh Happy Salma adalah karakter yang beberapa kali diangkat kelayar lebar dengan berbagai gejolak hidupnya. Yanti adalah seorang pelacur yang setiap malam mangkal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan untuk bertahan hidup untuk melawan penyakit yang meggerogoti tubuhnya. Yanti punya seorang yang mencintainya dengan tulus. Lelaki yang disebutnya anjelo ini setia menemaninya kemana saja. Anjelo itu bukan nama sang pria, anjelo adalah singkatan dari antar jemput lonte. Nama indah dengan arti yang menyeramkan. Karakternya boleh saja begitu hina dalam pandangan masyarakat kita, tapi di dalam film ini, ending kisah Yanti adalah ending kisah yang indah. Aku tahu ini adalah cinta. Sebuah cinta yang tulus.

Rara (Tamara Tyasmara) punya jalan cerita lain lagi. Gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah tingkat pertama ini  begitu lepas saat menceritakan tentang hubungan pertamanya dengan sang pacar kepada dr. Kartini. Hubungan pertama yang membuatnya hamil! Miris memang saat membayangkan bahwa peristiwa ini bukan hanya terjadi dalam film, tapi juga benar-benar terjadi di dunia nyata di sekitar kita. Hubungannya dengan Ratna membuat cerita ini mengharu biru pada bagian akhirnya.

Ratna (Intan Kieflie) adalah seorang wanita berjilbab yang solehah. Dia adalah seorang buruh garmen yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Jujur, karakter Ratna ini yang paling aku suka dari semua karakter yang ada. Karakter wanita yang sejak lama aku harapkan bisa mendampingiku kelak. Bukan untuk bisa meniru apa yang diperbuat suaminya, tapi siapa yang mampu menolak kesetiaan wanita solehah seperti dia?

Dalam film ini, Ratna diceritakan tengah hamil tua. Suaminya yang setiap hari sibuk dengan ‘pekerjaannya’ tetap dia layani dengan sebaik mungkin. Ketika akhirnya Ratna harus mengucapkan kata ‘bangsat’ dengan cara yang tetap lembut pada suaminya, hatiku benar-benar tersentuh. Sebegitu perihnya, pikirku, perasaan wanita saat dia dikhianati. Sampai-sampai seorang yang bagai bunga indah yang tenang seperti Ratna akhirnya bisa mengumpatkan sumpah serapah juga. Adegan mengharu biru diending cerita berasama Rara, membuat film ini meninggalkan kesan yang medalam dihatiku.

Dalam film ini ada juga percakapan yang bukan dilakukan oleh karakter utamanya yang membuat aku menghambuskan nafas kesal. Percakapan itu adalah sebuah permintaan dari seorang kakek yang menginginkan cucunya untuk lahir pada jam, tanggal, bulan dan tahun tertentu. Walaupun sudah dijelaskan resikonya oleh para dokter di rumah sakit itu, toh akhirnya bayi dalam kandungan menantunya itu dikeluarkan secara paksa sesuai dengan permintaan sang kakek. Apakah ini yang dimaksud dengan emansipasi wanita? Atau malah emansipasi pria? Pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter Kartini ini mengena sekali untuk mempertanyakan keadaan itu.

Film ini layak sekali ditonton. Bukan karena ketegangan yang disajikan dalam setiap adegannya, tapi karena begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil di dalamnya. Realita hidup yang terjadi di sekitar kita yang selama ini berusaha ditutupi dengan rapi, disini semua di ceritakan dengan fulgar.


Seperti jarum jam yang hanya bisa berdiri diantara pilihannya, ada hati yang terluka dan tersakiti,
Namun Kejujuran Adalah Cinta
(1:28:33)





Bagi yang berminat menonton film ini bisa ditonton secara online via youtube di link berikut :
http://www.youtube.com/watch?v=MNZ_1snZP28


14 komentar:

  1. cinta itu Ce i eN Te A itu yang ku tau mas Rd...
    penuh drama..

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu kan lagu kang... :)

      penuh drama yang berkesan...

      Hapus
  2. Sudah lengkap diceritakan dengan apik di sini. Nggak kepingin nonton lagi jadinya. Hehehe...

    Semoga segera menemukan wanita idamannya ^-^

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya pengen nonton MBak, tapi utk sementara kudu break neh urusan lht pilem.

      #aamiin, semoga mas Ridwan segera dipersatukan dengan jodohnya

      Hapus
  3. aq juga belum nonton film ini,, hehhehee.....,, pengen nonton aaahh....:)

    BalasHapus
  4. Wahh boleh jg nih ditonton mas.. Tp aku kok udh bisa bayangin ekspresi ku nanti ya, atr sebel, jengkel, haru, miris, Moga2 endinfbya ga bikin keki ;-)

    BalasHapus
  5. ane pernah ni nonton ni film, pesan-pesan feminisme nya kental, tapi di beberapa part memang terkesan terlalu lebay berbicara tentang kesetaraan gender, terlalu dendam perempuan terhadap kesetaraan. hheu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. yap...
      setiap orang punya kesan spesifik yang berbeda...

      Hapus
  6. bang,lagu yang dbuat soundtrack pas pertama film main itu lagunya siapa ya ? judulnya apa?yg liriknya "jangan sia2kan karena aku wanita, ingin diperlakukan sama..perbedaan suara hati memisahkan kita aku terluka...ku menanti satu cinta untuk selamanya kesetiaaan"

    BalasHapus
  7. Film luar biasa dari Indonesia, kuat dari segi cerita dan tampil dengan drama yang dekat dengan pengalaman wanita

    BalasHapus

.
..
Buktikan kunjungan kamu ke blog ini dengan meninggalkan komentar sebagai jejak kunjungan.
..
.

Ada kesalahan di dalam gadget ini