Jumat, 25 Juli 2014

Pulang (1)

Januari adalah saat dimana resah itu semakin memuncak. Padahal di bulan sebelumnya, Desember, aku sudah pulang kampung. Karena itu, di Januari aku begitu yakin kalau resah itu bukan karena home sickness. Bukan! Tapi karena hal lain.

Aku tak pernah merasa kalah oleh resah, tapi yang ini selalu menguat setiap hari. Aku sudah merantau sejak 2004. Aku sudah lama bisa mengatasi rindu. Sudah terbiasa dengan deraannya yang mengikat hati. Aku sudah terbiasa mengenang rumah hanya dalam ingatan dan doa, mengingat ibu melalui rasa yang ditinggalkannya di kulitku yang mulai menua ini. Sembilan tahun aku kuat menjalani semuanya. Jadi kalau resah ini karena rindu pulang kampung itu, aku rasa bukan.

Hari-hari berikutnya deraannya semakin nyata. Ada apa dengan rasa resah ini?
Aku menelisik tentang kerja. Pekerjaannku di Jakarta. Apa yang salah?

Aku menemukan jawabannya di awal Februari. Aku adalah manusia yang punya hati dan punya prinsip. Aku melihat sesuatu yang bertolak belakang dengan hati dan prinsipku di sini. Aku melihat sesuatu yang tidak sejalan denganku disini. Aku juga sadar kalau aku sudah lama berjuang untuk mengubahnya dan aku kalah. Posisi yang aku punya tidak cukup kuat untuk mengusahakan sebuah perubahan. Aku hanya punya mulut yang bisa berbicara tentang apa yang aku ingin, tapi aku tak punya tangan yang cukup kuat untuk melakukan perubahan itu.

Akhir Februari aku merasa semua ini sudah cukup. Aku cukup berusaha dan aku sadar aku tak bisa. Usaha ini sudah sampai pada batasnya. Resah ini sudah sampai pada garis akhirnya, di mana sabar, dan teriakan semangat rasanya sudah terlalu usang untuk diserukan.
Awal maret, aku mengundurkan diri.

"Saya pamit pulang." Kataku di hari itu. "Dan insyaallah untuk tidak kembali lagi."

Banyak orang yang menyayangkan keputusanku itu. Bahkan orang yang aku pamiti itu juga tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya. Tapi ini adalah keputusanku. Pantang bagiku untuk menjilat ludah sendiri. Keputusanku adalah pulang, dan aku mau pulang.

"Mulai kapan?"

"Ramadhan saya terakhir di sini."

"Itu masih tiga bulan lagi."

"Ya, saya tahu. Saya hanya memberi kesempatan pada perusahaan untuk mencari pengganti saya. Saya bersedia melatihnya selama tiga bulan sampai dia bisa."

"Baik, terimaksih atas itikad baik kamu. Tapi kamu kan belum ada batu loncatan?"

"Itu adalah resiko saya. Jangan khawatirkan saya. Insyaallah saya akan baik-baik saja."

Pembicaraan diakhiri dengan sederet wejangan. Wejangan tentang hidup dan segala sesuatu tentang masa depan. Wejangan yang masih dan akan selalu saya ingat. Terimakasih sudah meluangkan waktu dan energi itu itu.

Esok harinya, setelah matahari terbit untuk pertamakalinya setelah proses pamitan itu, ada kelegaan luar biasa di dadaku. Aku akan pulang, tiga bulan lagi...

Bersambung....

3 komentar:

  1. dan sayapun (jadi) kepengen pulang juga... tapi rumah saya disini..dimana sepasang kaki2 kecil nan lincah berpijak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalan-jalan saa kang. Kan sama sensasinya...

      Tapu setiap kita akan pulang juga kan, kang. Tinggal menunggu 'kapan'-nya

      Hapus
  2. Gimana kabarnya? Kox kayaknya lama bgt gk nggeblog?

    BalasHapus

.
..
Buktikan kunjungan kamu ke blog ini dengan meninggalkan komentar sebagai jejak kunjungan.
..
.

Ada kesalahan di dalam gadget ini