Senin, 21 Oktober 2013

Ekskul : Bunuh Mereka yang Membulimu!



Keren!

Itu kata yang aku teriakkan saat selesai menonton film ini. Ekskul. Sebenarnya ini film lama. Diproduksi tahun 2006 dan sempat menjadi pemenang dalam piala Citra FFI. Tapi sayangnya, satu tahun kemudian, kemenangan untuk film ini dibatalkan. Sebenarnya sedih juga saat tahu film sebagus ini harus dibatalkan kemenangannya. Tapi, semua itu pasti dengan alasan yang kuat.

Terlepas dari dibatalkannya film ini sebagai pemenang piala Citra, film ini tetap keren kok. Pembatalannya itu juga bukan karena kualitas film ini yang kemudian ternyata kalah dengan film yang lain di tahun itu, tapi lebih karena pelanggaran hak cipta yang dilakukan pembuatnya.



Ekskul bercerita tentang seorang anak SMA bernama Josua (Ramon Y. Tungka) yang kerap kali menjadi korban buli teman teman SMA-nya. Proses bulying yang sering kita lihat atau dengar digambarkan dengan apik dalam film ini. Josua sempat digantung di pagar sekolah, ‘dicelupkan’ kedalam toilet sekolah, sampai dihajar trio berandal sekolah itu. Selama proses itu, tak ada satupun yang menolongnya. Hampir semua orang menertawakannya, kecuali beberapa orang teman dekatnya, dan seorang cewek yang menjadi pacar dari pimpinan trio berandal itu.

Kepala sekolah juga tidak memihak kepadanya. Begitu juga psikiater yang dipercaya untuk merawatnya. Semua bukan menjadikan Josua membaik. Bahkan keadaan semakin memburuk akibat perbautan orang tuanya sendiri. Di sekolah dia mengalami bulying, di rumah tak jauh berbeda. Ayahnya sering memperlakukannya secara kasar. Tak hanya lewat kata-kata, tapi juga melukai secara fisik. Sang ibu juga tak jauh berbeda. Ada adegan yang menunjukkkan pembelaan sang ibu kepada Josua, tapi masih saja setengah hati.

Sejak awal sampai akhir film ini bernuansa gelap dalam arti yang sebenarnya. Suting dengan pencahayaan yang minim, suasana yang menegangkan sejak awal sampai akhir dan aroma kesedihan yang mendalam yang semakin menjadikan film ini memiliki nuansa yang khas. Setiap detailnya sayang untuk dilewatkan. Banyak detail detail kecil, seperti ekspresi, gerak tubuh, tata cahaya yang selalu memperkuat setiap bagiannya. Apa lagi lagu-lagu yang menjadi soundtrack film ini. Keren abis. Tak kalah juga backsound yang mengiringinya sejak awal sampai akhir. Irama yang diputar sepanjang film ini cocok sekali dengan suasana yang sedang berjalan.


Cerita yang dikemas dengan alur maju mundur menjadikan cerita dalam film ini bertambah kuat. Alasan dan jalan cerita yang dikemas apik, menyajikan cerita yang cukup logis. Hanya saja, aku tak bisa mengerti karakter asli Josua itu seperti apa. Dikatakan dengan gamblang bahwa dia anak pendiam yang berprestasi, tapi dalam banyak adegan, Josua terlihat begitu vokal di depan guru, kepada sekolah, sang psikiater bahkan orang tuanya sendiri. Karakter seperti dia mungkin ada, tapi sampai sekarang aku belum pernah menemukan anak pendiam dengan gejolak emosi yang begitu tinggi seperti josua.

Hal yang tidak bisa aku mengerti juga adalah, dalam film ini, dikatakan bahwa pistol yang dibeli dan dibawa Josua hanya memiliki satu peluru, tapi mengapa bisa meledak dua kali. Pertama dibagian awal cerita, kedua saat diujung cerita. Terlepas dari itu, secara keseluruhan film ini layak ditonton. Untuk anak yang masih dibangku sekolah dasar mungkin perlu bimbingan dan pendampingan orang tua saat menonton film ini. Baiknya bukan efek kekerasan yang digambarkan di sana yang dijadikan acuan utamanya, tapi hal hal positif yang bisa kita ambil.

Film ini membukakan mata kita. Bahwa kekerasan tidak akan membawa perubahan yang baik. Bagaimana itu bentuknya. Setiap orang yang bertanggungjawab untuk pembentukan karakter dan masa depan seseorang, harusnya bisa menjadi bagian dari orang tersebut, bukan justru  mengajarkan mereka dengan cara yang keras.



Josua ingin bunuh mami sama papi,
Tapi Josua gak ingin papi sama mami mati
Bagaimana caranya lagi Josua bisa ngungkapin isi hati tanpa harus gini terus
Papi inget waktu papi ajari Josua jadi kiper
Josua bisa nahan tiga tendangan langsung
Papi angkat Josua
Sampai semua orang dilapangan nyorakin kita
Papi inget?
Napa gak bisa seperti itu lagi, papi
…..
Makasih sudah dengerin Josua




lagu soundtrack yang juga kerena abis




Buat kalian yang suka baca, buku sejenis film ini yang bisa direkomendasikan adalah :




Insyallah dalam waktu dekat aku akan membuat reviewnya, buat yang penasaran sama Bleeding Survivor bisa ngintip disini. Atau hubungi langsung penulisnya lewat twitter @jacobjulian.



19 komentar:

  1. Aku paling gak bisa nonton film yang seperti ini. Buatku film jenis ini lebih horor dari pada film horor yang paling menakutkan. Membaca resensi ini saja, membuatku pengen memeluk anak-anakku. "There's no price I wont pay for them. Bunda ada, nak."

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah bunda, bunda memang salah satu ibu terbaik di dunia yang pernah aku temui....


      *** satu lagi ibuku sendiri :)

      Hapus
    2. kalo aq, salah satu teman terbaik yang pernah kau temui apa ga cak? :p

      Hapus
    3. ikuti bunda...
      *** abaikan kang Topek..

      Hapus
  2. ah ngeri.... tuh film.. asikan itu ya si doel anak sekolahan :p

    BalasHapus
  3. Hiiii.....filmnya mengenaskan sptnya.....

    BalasHapus
  4. Sejujurnya saya lebih suka cerita2 di Fiksiqu....
    tapi sayang, blog itu sudah mati suri...
    tulisanya di fiksiqu sangat berkelas...

    BalasHapus
    Balasan
    1. doakan yak,
      semoga Fiksiku bisa apdet lagi....

      Hapus
  5. sya gak pernah nonton film itu...
    lebih suka film2 motivasi,hehehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. saya juga suka film motivasi...
      ada yang rekomendasi gak?

      Hapus
  6. kenapa mengharukan?. mungkin karena mas Pur dulu juga pernah dibuli wkwkwkwk

    BalasHapus
  7. Maaf, bukan merasa pintar dan tanpa maksud apa-apa.
    Tembakan pertama itu hanyalah suara dan tekanan angin dari pistol. Kalau ga percaya silahkan tanya polisi.
    Pistol itu isi pelurunya 7, tapi pasti yang pertama kosong, karena cuma buat gertakan doang.
    Thanks.

    BalasHapus
  8. Kalo dipikir ini lumayan banyak kasus mirip tapi gak sampe penyanderaan. Kisah nyatanya jg gak segitu sadisnya, kalo gak udah seheboh tsunami Aceh (atau kemungkinan besar kejadian di luar Jawa kayak si Yuyun).

    Tuh, kasus Eno, kasus Yuyun, terus kenapa anak anak ada yg masuk pelatihan ISIS, kelompok santoso, abu abuan, sadis banget

    BalasHapus

.
..
Buktikan kunjungan kamu ke blog ini dengan meninggalkan komentar sebagai jejak kunjungan.
..
.

Ada kesalahan di dalam gadget ini