
Malam itu, pertengahan Desember 2009 pukul 00.02 ketika aku memutuskan pulang dari rumah nenek. Bukan tanpa alasan sebenarnya aku nekad pulang jam segitu. Tapi sungguh, rumah nenek bukan tempat di mana aku bisa tidur dengan nyenyak. Udara dinginnya yang menusuk tulang itu yang membuat aku selalu terjaga sepanjang malam. Walaupun sudah merangkap selimut dan jaket, tapi rasa dingin itu tetap saja seolah olah merasuk dalam tulangku. Lagi pula tidak bebas rasanya kalau harus tidur dengan pakaian setebal ini. Maka itu, pulang mungkin adalah keputusan terbaik buat aku malam ini.
Untunglah ada...