Senin, 06 Mei 2013

Yang Indah di Tepian Barat Suramadu



Pemandangan di depan rumah kontrakan.

Kebenarannya adalah, di tempat yang awal itu aku tidak kos. Lho?

Ya. Aku tidak kos di sana. Aku menempati rumah kontrakan. Beda bukan, antara kos dan kontrak? Kalau kos itu sewa satu kamar untuk tempat tinggal yang pembayannya di hitung perbulan. Beda dengan kontrak yang pembayarannya di hitung pertahun. Kalau kos, biasanya hanya sepetak kamar saja, tapi kontrak bisa sampai satu rumah. Begitu bukan?

Yang bayar kontrak bukan aku. Seseorang. Seseorang itulah yang kemudian mempercayakan apa yang dia kontrak untuk aku tempati dan kelola. Rumah kontrakan yang aku tempati itu punya dua lantai (baca posting sebelumnya, klik di sini). Aku menempati lantai duanya.

Pemiik asli rumah yang kontrakan yang aku tempati itu tinggal bersebelahan dengan rumah yang aku kontrak. Jadilah aku dan pemiliknya sebagai tetangga. Sebut saja namanya bu Suti. Bu Suti ini berprofesi sebagai guru konseling di sebuah sekolah menengah di Surabaya. Bu Suti punya empat anak, tiga diantarnya punya wajah dan nama yang nyaris sama. Entahlan, mengapa anak terakhirnya punya postur dan nama yang jauh berbeda dengan kakak-kakanya, padahal mereka berempat sama-sama cowok.

Bu Suti punya suami. Sebut saja namanya pak Tok. Orang yang ramah dan suka bernyanyi. Setiap malam, aku berkunjung kesana. Biasanya selepas isyak. Ngobrol bareng pak Tok, pak dhe, dan om. Pak dhe adalah saudara bu Suti, om juga sarudara mereka, tapi dari kerabat jauh. Kadang pula, ada pak dhe lain yang datang ikutan nimbrung besama kami. Malam demi malam, aku dan mereka semakin akrab. Ada saja yang di perbincangkan. Mulai dari maasalah kuliner sampai berdebat masalah nama jalan. Kalau ingat itu, kadang aku merasa aneh sendiri. Membayangkan beberapa pria dewasa, nimbrung malam-malam, yang di bahas hanya masalah nama jalan di kota ini. Hahaha…, maklumlah, profesi kami hampir sama. Pak Tok adalah supir perusahaan, pak dhe supir pribadi, sedangkan aku seles. Klop bukan?

Satu lagi tokoh penting yang setidaknya harus aku ceritakan adalah pak Mujar. Dia adalah orang yang dulu mempertemukan antara pengontrak rumah dan bu Suti ini. Awalnya, hubungan aku dan pak Mujar ini berjalan baik. Seperti layaknya tetangga, aku juga masih sering ngobrol dengan dia. Orang lain lagi yang mungkin harus aku sebut adalah pak Jaf. Pak jaf ini adalah orang yang punya rumah tepat di jalan masuk ke tempat kontrakanku. Katanya, dia adalah ketua preman di tempat ini. Pak Jaf adalah salah atu orang terlama yang mendiami pemukiman ini, bahkan keluarganya sudah di sana, jauh sebelum akses suramadu di bangun.

***

Kehidupanku di tepian barat surmadu berjalan indah. Sangat indah malah. Aku punya kehidupan yang selama ini aku inginkan. Rumah yang sudah seperti rumah sendiri, pergulan yang baik dengan tetangga sekitar, tempat yang mendukung untuk menulis. Semuanya!

Aku merasa aku punya segala impian kecil tentang tempat yang layak huni yang selama ini ada dalam pikiranku. Apa lagi, lima kamar dilantai satu dikoskan. Banyak orang yang tiggal di lantai satu itu. Kalua aku suntuk di lantai dua, aku bisa turun untuk sekedar mengobrol dengan mereka. Aku juga punya satu dapur kecil tepat di bawah tangga. Kebutuhan kebutuhan kecil seperti masak nasi, bikin mie instran, buat the atau kopi, bisa aku sediakan sendiri tanpa harus keluar ke warung.

Bulan demi bulan berlalu. Tak ada tanda tanda awal kalau aku harus pergi dari sana dalam waktu yang begitu mendadak dan dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan menerkapun aku tidak.

Sudah siang, walker. Aku harus keluar dulu untuk mengisi perut yang sudah bernyanyi sejak pagi. Sambung ke posting berikutnya ya. Semoga sabar menanti….

Salah satu pemandangan di tepian timur Suramadu

Tepat di tepi barat Suramadu

Pemandangan saat hujan dari jendela lantai 2 rumah nontrakan

Jalan Kedung Cowek saat senja dilihat dari lantai 2 rumah kontrakan

Saat senja yang kelabu di depan rumah kontrakan


Salah satu view di depan rumah kontrakan



17 komentar:

  1. Tepok jidat! Masih bersambung!

    Lebih baik fokus sama foto2nya aja deh. Sesuatu yang belum terbayangkan sebelumnya. Indahnyaaaa...!
    Jadi mengerti kenapa semua ide tulisanmu waktu itu mengalir indah. Mengapa sapaan2mu waktu itu begitu riang. Ternyata, tempat tinggal mas Ridwan begitu nyaman ya. Terasa sekali perbedaannya begitu mas Ridwan terpaksa meninggalkan tempat itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. masih bersambung dong bund... makanya sedikit demi sedikit aja ceritanya, mencuri kesempatan dalam kesempitan.... wegegegegege...

      memang benar ya bund, apa yang ada di sekeliling kita bisa mempengaruhi bagaimana kita bersikap....

      Hapus
  2. Aku menunggu foto-foto berikutnya, kak.
    foto kedua dari terakhir adalah yang paling aku sukai.

    BalasHapus
    Balasan
    1. siap, ditunggu postingan berikutnya ya....

      Hapus
  3. senjanya baguuus bangeett, kak. suramadu ya. semoga suatu saat bisa ke sana. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin...
      semoga diberi kesmpatan....

      Hapus
  4. Sungguh beruntung mas bisa tinggal di lingkungan dengan pemandangan Suramadu

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar sekali, andai mereka menyadarinya...

      Hapus
  5. akeh iwake ora Cak? wah pingin mancing rasane saya hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. akeh lah cak, jenenge ae segoro..

      Hapus
  6. Yang masih sibuk sama pindahan kostnya, nah kalo pemandangannya kaya begitu bagus mas jadi ada pemandangan nya jadi gak bikin kita bosan di kosan

    BalasHapus
    Balasan
    1. sekarang sementara malah sudah pindah kota... :)

      Hapus
  7. Waaaaah Suramadu...saya belum pernah ke sana dan ke Surabaya hanya sekali hehehe

    BalasHapus
  8. suatu kisah cerita pengalaman yg menarik nih dan pemandanganya yg sangat indah.

    BalasHapus

.
..
Buktikan kunjungan kamu ke blog ini dengan meninggalkan komentar sebagai jejak kunjungan.
..
.

Ada kesalahan di dalam gadget ini