Kamis, 24 Januari 2013

Hari Ini Aku Bertemu Slank, Ya Rosulullah


Kejadian ini sebenarnya sudah lewat beberapa waktu yang lalau. Tapi hari ini, saat nonton tayangan di salah satu stasiun tv berkaitan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, kejadian ini seperti terputar ulang diotakku.
Saat itu, suatu sore yang sedikit mendung. Aku bermaksud untuk pulang ke kontrakanku di sekitar daerah jembatan Suramadu. Perjalanan dari arah Dukuh Kupang itu membawaku melewati daerah depan Balai Pemuda. Tidak mengherankan sebenarnya kalau tiba-tiba daerah ini terlihat begitu padat dibanding jalan-jalan yang lain. Di tempat ini ada beberapa tempat keramaian utama di Surabaya.

Seperti juga sore itu, jalan di depan Balai Pemuda terlihat padat merayap. Sirine polisi terdengar meraung-raung di depan sana. Aku jadi penasaran, ada apa sebenarnya?

Perlahan sepeda motor yang aku kendarai sampai pada pusat kerumunan. Tepat pada saat itulah aku baru tahu kalau sedang ada grup band Slank, SID dan beberapa lainnya sedang akan melakukan pawai menuju tempat konser mereka. Aku tidak tahu tepatnya dimana, tapi entah mengapa tiba-tiba hati ini jadi begitu berbunga2.

Mereka yang selama ini cuma bisa aku lihat di layar kaca, sekarang ada di depan mataku. Tak lebih dari lima puluh meter jarak antara aku dengan mereka. Dekat sekali. Hingga wajah- wajah mereka bisa aku lihat dengan jelas. Ada beberapa kali kelebatan rasa yang aneh, rasa bahagia dan bersemangat yang serentak aku rasakan dengan tiba-tiba. Begini rupanya rasanya bertemu dengan seorang yang kita idolakan. Campur aduk!

Semua tak berlangsung lama. Di persimpangan jalan, aku harus mengarah ke arah jalan yang berbeda dengan yang mereka lalui. Aku berbelok ke kanan, sedangkan mereka mengarah lurus melewati persimpangan jalan. Uforia pawai mereka perlahan pergi menjauh dariku. Anehnya, perasaan bahagia dan bersemangat itu masih aku rasakan sampai beberapa kilometer setelahnya.

Baru kali ini aku berada dalam situasi seperti ini. "Bertemu langsung" dengan artis yang diidolakan banyak orang. Bahagia dan bersemangat sekali rasanya. Lalu bagaimana kalau aku bertemu dengan Rasulullah? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul serta merta dalan otakku.

Merasakan sedemikian senang dan bersemangatnya bertemu dengan Slank, idola yang diangkat oleh manusia saja sudah begitu bahagianya. Bagaimana ketika kelak aku bertemu dengan Rasulullah? Manusia yang bahkan di sanjung oleh ALLAH, sang pencipta sendiri? Aku merinding membayangkan bila saat itu benar-benar terjadi.

Diatas sepeda motor yang aku kendarai, secara spontan hadir bayangan bagaimana aku berhadapan langsung dengan Nabi Muhammad SAW, manusia yang namanya tersemat juga untuk nama depanku. Aku bergidik, merinding sejadi jadinya. Aku bertanya, masih sanggupkah aku berdiri dihadapannya? Memandang wajahnya? Mengucap salam padanya? Bahkan untuk menyentuh dan merangkulnya? Dengan tubuh yang penuh noda dosa ini? Padahal dia adalah manusia suci pilihan ALLAH sendiri. Sedang aku? Siapa aku ini? Tak lebih dari hamba yang sering kali membangkang dan berlumuran dosa. Tak pantas rasanya. Bahkan untuk membandingkanpun aku tak berani. Hatiku mencelos, tumpah dalam kubangan perasaan yang tak tergambarkan.

Perlahan ada kerinduan yang aneh menjalari hatiku. Kerinduan yang dalam dan sangat amat dalam nadiku. Kerinduan pada sosok manusia sempurna. Perlahan mataku basah di balik kaca hitam helm yang aku pakai, mengaburkan pandanganku. Sampai-sampai aku memutuskan untuk berhenti sejenak di pinggir jalan, menikmati semua kerinduan yang membuncah ini secara rahasia. Membiarkan debaran-debaran halus rasa yang mengalir seperti udara segar yang melewati lubang sempit yang telah lama tak pernah dilalui udara. Dadaku kembang kempis sendiri, meresapi segalanya. Aku bertasbih, bertahmid dan bertahlil memujiNYA, bersolawat bersalam pada junjunganNYA. Ya Rosul, hari ini kami bertemu dengan Slank, kapan kami bisa memandang wajahmu wahai Kekasih Sang Pencipta? Sapalah kami wahai manusia utama, walau jiwa dan raga kami berlumuran dosa sepekat ini. Ya Rosul, kami rindu padamu. Solawat dan salam selalu untukmu. Sekali lagi ya Rosul, kami rindu, sapalah jiwa yang gersang ini ya Habibi ....

(Tulisan sejenis pernah aku buat di sini kumpulanfiksiku.blogspot.com/2012/02/aku-rindu.html?m=1. Bila suka tulisan ini silahkan bagikan di Fb atau twitter kamu dengan mengklik lambang fb/twitter dibawah ini. Terimakasih sudah berkunjung dan menyimak.)

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


14 komentar:

  1. Sukseess.... Bikin aku mrebes mili...
    Sebuah pertemuan yang amat kita rindukan. Bertemu Rasulullah. Membayangkannya saja sudah bergetar hati ini...

    BalasHapus
    Balasan
    1. moga kita punya kesempatan itu bund...

      Hapus
  2. analogi yang apik, mas Ridwan..

    jika bertemu dengan Rasulullah Saw..
    ah, menatap beliau-pun tak berani

    BalasHapus
    Balasan
    1. mari berharap untuk kesempatan itu, an... :)

      Hapus
  3. bertemu dengan Muhammad bin abdullah adalah dambaan setiap insan muslim yg beriman.....

    #salam buat Rosul muhammad SAW dan para slankers diseluruh Indonesia....PISS :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. amiin...
      mari selalu bersolawat salam kepada beliau....

      Hapus
  4. salam, apa kabarmu mas ridwan? lama tak berkunjung dirumahmu ini.
    salut mas, air mataku menetes membaca tulisannya.
    kami merindukan selalu, shalawat berserta salam selalu tercurah untuk beliau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. begitulah, mari kita perbanyak solawat.... :)

      Hapus
  5. Saya belum pernah bertemu Slank.
    Saya juga rindu Rasulullah saw
    Terima kasih artikelnya
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama sama pak dhe. salam hangat juga dari surabaya....

      Hapus
  6. salam kenal mas...
    walo kita tidak pernah bertemu Rosul tapi smoga selalu dihati

    BalasHapus
    Balasan
    1. salam kenal juga...
      bener sekali. dan semoga kesempatan itu akan datang nantinya...

      Hapus
  7. subhanalloh... si abang yang satu ini, memaaang..... ^_^

    Rosululloh... idola kita semua. mengidolakannya tentu saja tidak hanya sebatas lisan namun juga harus dibuktikan dengan mentauladani jejak beliau baik pribadi maupun perjuangannya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. emang aku kenapa?
      *** pasang tampang culun... :D

      bener sekali itu kalimat kamu yang terakhir. amin.... :)

      Hapus

.
..
Buktikan kunjungan kamu ke blog ini dengan meninggalkan komentar sebagai jejak kunjungan.
..
.

Ada kesalahan di dalam gadget ini