Selasa, 25 Desember 2012

Kalau Aku Memang Ndeso, Masalah Buat Lho?

Perpindahan tempat kerja, berarti juga perubahan banyak hal. Seperti juga perpindahanku dari studio lama di Situbondo ke studio baru di Surabaya. Di tempat lama aku bertugas sebagai operator cetak mesin pencetak foto, merangkap bagian design dan fotografer pengganti. Kadang juga jadi pramuniaga kalau dibutuhkan. Hampir semua pekerjaan sepertinya yang bisa aku kerjakan di sana. Cuma jadi kasir saja mungkin yang tidak pernah aku pelajari.

Pindah ke tempat baru, berarti suasana baru juga. Di tempat yang baru aku bekerja sebagai fotografer. Kadang, aku bertugas untuk meliput acara seminar dan pertemuan-pertemuan lain. Kebanyakan acara yang aku liput itu diselenggarakan di hotel-hotel berbintang. Hotel sekelas Sheraton, Shangri-La, Hyat, sudah biasa aku datangi.

Keren bukan? Seorang udik dari daerah yang jauh dari ibu kota profensi ini bisa keluar masuk hotel berbintang seperti itu. Saat pertama aku dilibatkan untuk job semacam ini, aku begitu bangga. Membayangkan betapa ekslusifnya masuk ke hotel terkenal dan disambut dengan hormat oleh petugas-petugasnya. Apa lagi makanannya. Aku membayangkan hidangan hidangan kelas internasional yang di buat oleh chef handal. Hmmmm, betapa lezat aku bayangkan.

Benar saja. Saat acara cooffe break berlangsung, hidangan kue aneka macam langsung menggoda seleraku untuk mencicipinya. Lezat sekali rasanya. Dipadu dengan kopi kental yang manis, pahit dan gurihnya bercampur sempurna. Terus terang, kali pertama kue-kue cantik itu masuk ke mulutku, rasanya aku ingin menyimpan sebagian untuk aku bawa pulang. Wagagagagagagagag .... Tapi tentu saja aku urungkan. Aku memang orang udik, tapi setidaknya aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri.

Suasana berbeda terjadi saat makan siang berlangsung. Sebelum antri untuk mengambil makan siang, aku sempatkan untuk memotret suasana makan siang itu. Aneka masakan yang belum pernah aku lihat tersaji di sana. Mulai dari yang beraneka warna dalam satu wadah sampai yang berwarna gelap kecoklatan. Wew! Aku tak sabar.

Aku ambil bagian dalam antrian. Kutambahkan sedikit sekali nasi dalam piringku yang terlihat begitu besar dari yang biasa aku pakai di rummah. Tujuannya, agar aku bisa meletakkan lebih banyak porsi dari setiap macam lauk yang disediakan oleh panitia. Maka jadilah piring yang aku bawa seperti gundukan lauk dan sayur saja. Dari sayuran beraneka warna sampai bagian besar potongan daging ayam dan sapi. Aku terlihat ndeso? Biarlah, yang penting aku puas .... [Nyengir]

Saat aku mulai menyuapkan beberapa potongan kecil dari aneka hidangan yang ada di piringku, satu kenaehan terjadi. Mulanya aku berfikir pasti ada yang tidak beres dengan lidahku. Masakan-masakan itu tidak seenak yang aku bayangkan. Apakah ini salah lidahku? Karena aku tahu, tidak mungkin chef yang ada di dapur sana sudah salah dalam memasukkan takaran bumbunya. Aku mulai kehilangan selera makan saat makanan di piringku tersisa separuhnya. Makanan itu rasanya benar-benar aneh. Hampir semua jenis yang ada tidak mampu menggugah selera makanku untuk menyantapnya sampai tandas. Apa yang salah?
Kejadian ini berulang lagi saat acara berlangsung di hotel yang lain. Aku kurang bisa merasakan dimana letak kelezatan makanan-makanan yang terhidang itu. Mungkin hanya karena rasa lapar yang benar-benar minta dipuaskanlah yang mendorongku untuk berusaha menikmmati hidangan yang ada. Selebihnya, yang ada hanya rasa hambar dan aneh.

Saat itu yang ada dalam benakku adalah betapa inginnya aku menyantap makanan-makanan yang biasa dihidangkan ibu di rummah. Tiba-tiba ada kerinduan yang mendalam akan campuran rempah sederhana dari bahan-bahan sederhana yang ibu racik. Sambal yang pedas, pepes yang harum asap, oseng kangkung yang segar, sop dengan lembaran daun kol, terong yang dimasak utuh, tiba-tiba mengisi dengan jelas ruang rinduku. Bahkan dengan membayangkan saja, selera makanku terbit.

Semua masalah di hotel itu ternyata bukan tentang kesalahan pada lidahku. Bolehlah makanan yang di sajikan disana sudah berkelas internasional, dibuat dengan chef handal dan harga selangit. Ternyata bukan itu yang aku maui untuk memanjakan lidahku. Aku sudah terbiasa dengan racikan bumbu yang ibuku biasa racik sejak aku kecil. Racikan yang sudah biasa aku kecap dan menjadikan karakter yang lezat di lidahku. Menjadikannya sebuah definisi 'lezat' menurut versiku sendiri.

Aku sekarang memang hidup di Surabaya, salah satu kota terbesar negeri ini. Tapi aku sama sekali tidak pernah merasa bersalah dengan selera makan yang aku punya. Selera makan yang boleh di bilang ndeso. Biarlah. Aku memang begitu. Aku justru bangga menjadi unik dan berbeda. Bukannya aku tidak mau makan makanan mewah itu, tapi makanan yang Indonesia banget itulah yang aku suka. Berpindah tempat hidup bukan berarti kita harus kehilangan jati diri bukan? Begitu juga dengan selera makan. Tidak juga harus berubah, menjadi latah dan ikut-ikutan hanya agar kita dibilang keren dan tidak ketinggalan zaman.


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone









9 komentar:

  1. wahahahaha....
    Biar ndeso mugo-mugo rejeki kutho...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayak Benyamin S. aja Cak hehe...

      Hapus
    2. Amin, kang insan ....
      Kang belalang, bukannya itu tukul? :)

      Hapus
  2. Sama dengan saya, Mas. Lidah saya juga cocok sama yang tradisional, kayak pecel Madiun, rawon, siomay, ketoprak, tahu campur, gudeg, garang asem, dan aneka seafood hehe...Yang penting kerja tetap profesional Mas, ga terpengaruh oleh makanan yang kita konsumsi.

    Biar ikan asin atau sego sambel juga maknyusss...yang penting bersyukur. Betul tak? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget kang, aku bangga punya selera yang 'Indonesia banget' ....

      Hapus
  3. Hasyaah.... berasa dapat tandingan tulisan niih... habis nulis ttg steak kok terus ketemu tulisan begini... qiqiqi...

    Sama aja mas Rd... saya juga lebih suka masakan buatan sendiri... (pede). Tapi krn saya ini dulu nomaden... pernah tinggal di yogya, pekanbaru, tegal, karawang, purwokerto.. makanya lidah ini terbiasa dgn berbagai jenis masakan. Akhirnya skrg selama masakan itu halal, saya doyan aja. Walau kadang hanya sekedar icip-icip aja.

    Hayooo main ke rumah kalau pas ke Daan mogot.... disiapin masakan ala ibu di rumah... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanan yang enak itu adalah yang pas dilidah kan bund? Bukan soal harga, apa lagi gengsinya ....

      Hapus
  4. Itu makanan kesukaanku juga
    Justru makanan yang enak enak banyak mengandung kolestelor :D
    lebih enak menikmati makanan ndeso meskipun sederhana tapi banyak gizinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanan ndeso biasanya lebih fres n seger bukan, jadi tentunya lebih sehat kang irfan,

      Hapus

.
..
Buktikan kunjungan kamu ke blog ini dengan meninggalkan komentar sebagai jejak kunjungan.
..
.

Ada kesalahan di dalam gadget ini