Jumat, 27 September 2013

Mengapa Bukan Muhammad




“What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.”
(Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi)

Indah sekali, dan memang itu benar adanya menurutku. Shakespeare tidak salah dalam pernyataannya. Toh ketika kenyataannya kita menyebut mawar dan orang inggris menyebutnya rose, dia tetap bunga yang indah dan menawan. Tak pernah ada dia berubah karena penyebutan nama yang berbeda. Seperti melati, jasmine, malateh atau apapun untuk menyebutkan bunga kecil berwarna putih yang memikat. Dia akan tetap begitu, akan tetap bermahkota bintang dengan aroma yang menggoda.

Walaupun begitu, mungkin Shakespeare melupakan satu hal mendasar yang lain. Nama yang melekat pada sutu benda, kemudian menjadi identitas untuk benda tersebut. Sebut saja seperti mawar yang kemudian disebut bangkai. Apa yang kemudian terkesan dalam diri kita? Kita tidak dapat menerimanya bukan? Ya, menurutku, karena saat kata itu dibentuk, sebuah nama diciptakan untuk pertama kaliya oleh pembentuk bahasa pertama kali, maka nama itu akan  melekat pada benda tersebut sampai kapanpun.

Contoh yang lain adalah sampai sekarang tidak ada orang yang rela menamai anaknya Firaun, Latta, Uzza, atau Qorun. Nama nama itu mungkin juga nama manusia, tapi apa yang terkandung di balik nama itulah yang membuat tak seroangpun yang rela memakainya. Jadi, berarti atau tidakkah sebuah nama itu?

Aku bersyukur diberi nama yang indah oleh kedua orang tuaku. Seperti yang pernah aku kisahkan pada posting yang lain, salah satu nama ‘resmi’ yang pernah diberikan kedua orang tuaku adalah Muhammad Ridwan. Aku suka menggunakan nama itu. Nama yang mempunyai arti yang sangat indah. Dalam beberapa literatur Muhammad sendiri berarti orang yang terpuji, sedangkan Ridwan diartikan sebagai keridhaan atau kerelaan. Ridwan dalam ajaran Islam juga dikenal sebagai malaikat penjaga surga, salah satu ciptaanNya yang diberi keistimewaan untuk dekat dengan orang orang beriman kelak. Betapa bangganya aku mempunyai nama seindah itu.

Saat berkenalan dengan orang lain, aku terbiasa menggunakan namaku yang umum dikenal di tempat aku tinggal. Pada suatu tempat, aku mungkin akan memperkenalkan diri sebagai Ridwan, atau namaku yang lain. Tak jadi masalah. Bagiku sama saja. Namun sampai saat ini aku belum pernah memperkenalkan diriku dengan nama Muhammad.

Mengapa?

Karena aku merasa belum pantas untuk menggunakannya. Nama itu bagiku terlalu agung untuk disematkan dipundakku. Terlalu tinggi untuk menandai aku yang masih diliputi dengan banyak dosa dan kehinaan.

Muhammad. Nama itu mengacu pada sesosok manusia yang waskita. Manusia agung pilihan Tuhan. Manusia yang dimuliakan oleh Tuhan sendiri. Nama itu, disematkan pada manusia yang dipilih Tuhan karena kemuliaan akhlaknya. Manusia yang tiada tandingannya. Sedangkan aku?

Aku bahkan tak berani membandingkan diri dengan Beliau yang agung. Maka itu aku tak pernah memperkenalkan diri sebagai Muhammad. Aku merasa aku belum bisa menjadi orang yang terpuji itu. Aku masih belajar untuk menjadi seorang Ridwan, yang ridha dan rela. Belajar untuk menerima dan rela dengan segala yang ditetapkanNya atas garis nasibku.

Ketika ada orang yang memanggilku dengan nama lengkapku, Muhammad Ridwan, dalam hati aku selalu berdoa. Semoga suatu saat nanti aku diizinkanNya untuk bisa menjadi refleksi dari namaku sendiri. Menjadi orang yang terpuji bukan saja dimata manusia, tapi juga di hadapannya. Menjadi orang yang rela atas segala yang ditetapkanNya dalam hidupku. Bukan juga maksud hati untuk  memuliakan diri sendiri, tapi berusaha kearah yang lebih baik adalah sebuah keharusan, bukan?

Walkers, aku yakin dalam setiap nama yang disematkan pada diri kita punya makna yang luar biasa. Sadarkah kita kalau setiap kali nama kita disebut ada doa yang ditujukan pada kita? 


READ MORE - Mengapa Bukan Muhammad

Senin, 23 September 2013

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita : Namun Kejujuran Adalah Cinta








Miris!

Itu kata pertama yang ingin aku ungkapkan tentang film ini. Sepanjang film berdurasi lebih dari satu jam ini tak henti hentinya aku merasa geram, kemudian sedih, bercampur kemudian dengan keharuan. Aku jarang sekali membuat poting (bahkan hampir tak pernah) untuk sebuah film yang aku tonton. Kali ini rasanya beda. Ada satu hal dalam diriku yang memintaku untuk menuliskan ini di La-RanTa dan berbagi dengan kalian. Meskipun ini adalah film lawas, tapi tidak ada salahnya mengupasnya disini.

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita  adalah Film apik yang menggambarkan seorang tokoh sentral beranama dr. Kartini (Jajag C. Noer). Dia adalah seorang dokter kandungan yang mau tidak mau harus juga larut dalam kisah hidup enam pasiennya. Dengan latar belakang berbeda yang kental sekali untuk setiap karakternya, menjadikan film ini penuh warna. Namun begitu, dengan satu nuansa yang sama, wanita dengan pemahaman cintanya masing masing. Sebenarnya karakter dr. Kartini sendiri bukan karakter tanpa masalah. Dia yang menjadi tokoh sentral disini juga punya segudang masalah yang bahkan tidak mampu untuk dia selesaikan sendiri. Masalah yang general memang, tapi tetap patut untuk direnungkan.

Pasien pertama adalah wanita obesitas yang baru saja menikah. Lastri namanya. Radia memerankan karakter ini dengan cara yang pas dan unik. Karakter wanita gemuk yang bahagia dalam pernikahannya. Dalam film ini, suaminya yang sangat mencintainya selalu setia untuk menemaninya berkunjung ke dr. Kartini. Suaminya juga selalu mengekspresikan rasa cintanya dengan menyukai masakan yang setiap hari dibuat oleh Lastri. Ketika akhirnya Lastri tahu kalau suaminya dalah aktor yang handal, maka semua kebahagiaan itu berubah menjadi api yang membara. Itukah cinta? Miris adanya!

Ningsih (Patty Sandya) adalah karakter selanjutnya. Dia digambarkan sebagai sosok wanita karier dengan pekerjaan mapan yang mengharapkan anak dalam kandungan pertamanya adalah seorang bayi lelaki. Tak seperti film lainnya yang pada umumnya tuntutan untuk memiliki anak pertama dengan gender tertentu datang dari keluarga besarnya, dalam film ini tuntutan itu bahkan datang dari dalam diri Ningsih sediri. Dia bahkan sampai berencana menggugurkan kandungannya bila anaknya nanti diketahui seorang wanita. Karakter Ningsih ini hanya muncul beberapa kali sepanjang film ini, tapi perannya di akhir cerita mampu membuat ending yang mengesankan. Ningsih adalah wanita yang kecewa pada suaminya, tapi tidak pernah bermaksud untuk meminta cerai. Kalau begitu, itukah yang disebut cinta?

Olga Lydia memerankan seorang wanita hamil bernama Lili dalam film ini. Seorang wanita keturunan Tionghoa di Indonesia. Dia adalah seorang wanita yang begitu mencitai suaminya. Luka lebam yang didapatkan karena karakter seksual yang menyimpang dari suaminya diterimanya bukan sebagai siksaan, tapi malah sebagai pembuktian cinta yang tulus. Kalau jiwa wanita mampu untuk menerima dan memaklumi sakit yang diterima raganya dengan tulus ikhlas seperti yang Lili mampu, itukah namanya cinta? Bagiku itu cinta yang sakit.

Karakter Yanti  yang diperankan oleh Happy Salma adalah karakter yang beberapa kali diangkat kelayar lebar dengan berbagai gejolak hidupnya. Yanti adalah seorang pelacur yang setiap malam mangkal untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan untuk bertahan hidup untuk melawan penyakit yang meggerogoti tubuhnya. Yanti punya seorang yang mencintainya dengan tulus. Lelaki yang disebutnya anjelo ini setia menemaninya kemana saja. Anjelo itu bukan nama sang pria, anjelo adalah singkatan dari antar jemput lonte. Nama indah dengan arti yang menyeramkan. Karakternya boleh saja begitu hina dalam pandangan masyarakat kita, tapi di dalam film ini, ending kisah Yanti adalah ending kisah yang indah. Aku tahu ini adalah cinta. Sebuah cinta yang tulus.

Rara (Tamara Tyasmara) punya jalan cerita lain lagi. Gadis kecil yang masih duduk di bangku sekolah tingkat pertama ini  begitu lepas saat menceritakan tentang hubungan pertamanya dengan sang pacar kepada dr. Kartini. Hubungan pertama yang membuatnya hamil! Miris memang saat membayangkan bahwa peristiwa ini bukan hanya terjadi dalam film, tapi juga benar-benar terjadi di dunia nyata di sekitar kita. Hubungannya dengan Ratna membuat cerita ini mengharu biru pada bagian akhirnya.

Ratna (Intan Kieflie) adalah seorang wanita berjilbab yang solehah. Dia adalah seorang buruh garmen yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Jujur, karakter Ratna ini yang paling aku suka dari semua karakter yang ada. Karakter wanita yang sejak lama aku harapkan bisa mendampingiku kelak. Bukan untuk bisa meniru apa yang diperbuat suaminya, tapi siapa yang mampu menolak kesetiaan wanita solehah seperti dia?

Dalam film ini, Ratna diceritakan tengah hamil tua. Suaminya yang setiap hari sibuk dengan ‘pekerjaannya’ tetap dia layani dengan sebaik mungkin. Ketika akhirnya Ratna harus mengucapkan kata ‘bangsat’ dengan cara yang tetap lembut pada suaminya, hatiku benar-benar tersentuh. Sebegitu perihnya, pikirku, perasaan wanita saat dia dikhianati. Sampai-sampai seorang yang bagai bunga indah yang tenang seperti Ratna akhirnya bisa mengumpatkan sumpah serapah juga. Adegan mengharu biru diending cerita berasama Rara, membuat film ini meninggalkan kesan yang medalam dihatiku.

Dalam film ini ada juga percakapan yang bukan dilakukan oleh karakter utamanya yang membuat aku menghambuskan nafas kesal. Percakapan itu adalah sebuah permintaan dari seorang kakek yang menginginkan cucunya untuk lahir pada jam, tanggal, bulan dan tahun tertentu. Walaupun sudah dijelaskan resikonya oleh para dokter di rumah sakit itu, toh akhirnya bayi dalam kandungan menantunya itu dikeluarkan secara paksa sesuai dengan permintaan sang kakek. Apakah ini yang dimaksud dengan emansipasi wanita? Atau malah emansipasi pria? Pertanyaan yang dilontarkan oleh dokter Kartini ini mengena sekali untuk mempertanyakan keadaan itu.

Film ini layak sekali ditonton. Bukan karena ketegangan yang disajikan dalam setiap adegannya, tapi karena begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil di dalamnya. Realita hidup yang terjadi di sekitar kita yang selama ini berusaha ditutupi dengan rapi, disini semua di ceritakan dengan fulgar.


Seperti jarum jam yang hanya bisa berdiri diantara pilihannya, ada hati yang terluka dan tersakiti,
Namun Kejujuran Adalah Cinta
(1:28:33)





Bagi yang berminat menonton film ini bisa ditonton secara online via youtube di link berikut :
http://www.youtube.com/watch?v=MNZ_1snZP28


READ MORE - 7 Hati 7 Cinta 7 Wanita : Namun Kejujuran Adalah Cinta

Sabtu, 14 September 2013

I-1 : Raungan Tak Terjelaskan



I-1 tersenyum saja saat membaca dua posting pertama tentang dia yang aku posting di sini dan di sini. Bukan tentang apa yang aku tuliskan tentang dia sebenarnya, tapi lebih pada komentar-komentar yang menyertainya. Katanya, ternyata ada juga orang yang begitu antusias untuk tahu tentang dia. Padahal, dia sendiri adalah orang yang tidak yakin kalau kisah seperti itu pernah benar-benar terjadi. Apa lagi, dia sendiri yang mengalaminya.

“Benar kan apa aku bilang, mereka hanya akan menganggap semua ini kisah yang dibuat-buat. Gak ada yang akan percaya kalau ini real, Rd,” selorohnya.

“Lalu?”

“Berhentilah…!”

“Sudah terlambat, I-1…”

***

Teriakan keras itu membangunkan seisi sekolah. Derap langkah terdengar jelas diluar sana. Hanya butuh beberapa menit sebelum sebuah suara keras yang memekakakkan telinga membahana mengalahkan raungan i-1.

Pintu UKS terjelembab membuka. Beberapa orang guru berdiri dengan bingung di ambang pintu. Mereka terpana dengan apa yang sedang terjadi. I-1 sedang berguling dengan teriakan penuh kengerian di lantai ruangan, sedangkan satu teriakan lain yang meningkahinya berasal dari mulut siswi yang sejak tadi bersamanya di ruang UKS. Siswi itu rupanya ketakutan melihat apa yang terjadi. Ketika kesadaran mulai menguasai mereka kembali, seorang guru berhambur masuk memeluk siswi yang histeris itu dan membawanya keluar. Satu lagi masuk untuk membopong I-1 dari lantai. Entah energi besar dari mana, guru yang bertubuh besar itu tidak mampu mengangkat tubuh  I-1 yang kecil seorang diri.

“Bantu aku…!!” pintanya. Seorang guru lelaki yang lain datang untuk membantunya. Mereka berdua membopong I-1 yang masih saja dengan teriakannya yang menghentak itu.

“Ada apa?”

“Apa yang terjadi?”

“Sadar, sadar i-1, sadar…!”

Semua benar-benar kacau saat itu. Banyak guru dan siswa lain yang berkerumun di luar ruang UKS yang sempit itu. I-1 masih sempat melihat beberapa teman sekelasnya yang sedang memandangnya dengan wajah sedih penuh kebingungan dari kaca jendela UKS. Beberapa diantara mereka bahkan menangis. I-1 tahu, dia sedang menghadapi saat-saat irasional, namun sejuh ini dia masih belum kehilangan kesadaran. I-1 tahu apa yang terjadi, apa yang dialakukan, dan apa yang sedang mereka kerjakan di sekililingnya. Hanya saja dia tak punya jawaban untuk menjelaskan apa yang terjadi pada dirinya. I-1 hanya tidak mampu untuk mengendalikan dirinya sendiri. Ada kekuatan lain di sana, jauh di dalam dirinya. Dibagian mana? I-1 tak tahu.

Yang dia tahu hanya ada yang sedang mencoba menguasainya, tanpa tahu itu baik atau tidak untuknya. I-1 hanya ingin terus berteriak untuk mencapai kesembangan. Tubuhnya terus mengejang, menerjang kesana kemari. Peluh dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ada energi luar biasa yang dia rasakan masuk. Ada energi luar biasa yang di rasakan keluar. Semua tak terjelaskan! Sementara itu tangan-tangan kekar para gurunya mencengkram seluruh tubuhnya. Menahan semua gerakan kacau yang dia perbuat.

***

“Berapa lama kamu meraung?” tanyaku.

I-1 tampak merenung mengenang bagian tak terjelaskan dalam kisah hidupnya itu. Tak ada jawaban yang aku dapatkan untuk beberapa saat. Dia tampak sedang sibuk dengan pikiran dan kenangannya. Aku biarkan dia dengan dirinya sendiri. Mungkin saat inipun, dia masih ingin mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi saat itu.

“I-1…”

I-1 mendesah. Sambil menggeser posisi duduknya, dia memandangku dengan kenangan itu masih melekat pada wajahnya. “Aku tak tahu,” jawabnya. “Tapi ketika semua berakhir, aku merasa lelah sekali…”


bersambung…>


READ MORE - I-1 : Raungan Tak Terjelaskan

Minggu, 08 September 2013

I-1 : The Beginning



Banyak yang bertanya siapa sebenarnya I-1, temanku yang berteman dengan peri itu. He or she? Cowok atau cewek? Lalu siapa peri yang menjadi temannya? Bagaimana bentuknya? Bagaimana kisah awalnya? Bukankah dalam Islam peri itu hanya jelmaan dari jin yang menyerupai suatu bentuk? Begitu banyak pertanyaan. Begitu banyak yang ingin tahu tentang dia, sosoknya dan kisahnya.

Tentang dia memang begitu banyak yang bisa diceritakan. Kalian boleh saja percaya atau tidak, itu terserah kalian. Kalian berhak berkata dia gila atau kerasukan, sudah tidak waras dan harus bertaubat. Yah, apapun itu, bagaimana hidup kadang bukan tentang hanya pilihan. Banyak, hidup itu komplit. Kadang kita tak bisa memilih. Pada tahap ini, apakah ini yang disebut sebagai ujian?

I-1, temanku itu tak ingin disebut siapa nama sebenarnya. Tak pula mempernenankan aku untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya. Dia hany a mengizinkan aku membagi kisah ajaibnya ini. Setelah perdebatan panjang yang tak berkesudahan, bahkan tentang bagian mana yang boleh dan tak boleh diceritakan.

Aku ingin semua bagian di tuliskan di sini dengan gamblang. Awalnya dia menolak. Dia begitu takut untuk dihakimi, takut untuk kembali pada masa lalunya yang di cap kafir (tapi dia juga takut pada kenyataan kalau saat ini dia bukan lagi orang beriman). Hidup dalam banyak ketakutan walau orang di sekelilingnya mengenalnya sebagai orang ‘normal’.

***

Hari itu adalah senin beberapa hari saja sebelum  puasa Ramadhan dimulai lebih dari sepuluh tahun silam. I-1 ada dalam barisan upacara bendera yang diadakan di sekolahnya. Saat itu dia masih seorang siswa lugu kelas dua sekolah menengah  atas.

Udara panas musim kemarau memanggang setiap kepala. I-1 sebenarnya bukan siswa yang bertubuh lemah. Sejauh dia bisa mengingat, dia tidak pernah jatuh pinsan dalam keadaan apapun. Hari itu, dia merasa berbeda. Kepalanya berdenyut saat upacara tengah berlangsung. Ada rasa gengsi yang menahan egonya untuk memanggil petugas PMR yang berbaris di bagian belakang. Kejadiannya yang dia rasa di kepala itu tak berlangsung lama, hanya sekejap saja. Sampai upacara selesai, tak ada apapun yang terjadi. I-1 tidak menyadari bahwa itulah awal dari semua kejadian ini, awal pertemannya dengan para peri, para raja, dan semua kejadian yang tak masuk akal yang dia alami.

Sakit kepala sejenak itulah yang menjadikan dia berubah. Dia bukan kemudian dia yang sebelumnya lagi. Kejadian sejenak yang membuatnya melarikan diri dari kenyataan hidupnya hingga lebih dari sepuluh tahun lamanya.

i-1 baru tahu itu setelah dia masuk kedalam kelas untuk pelajaran pertama. Pening kepalanya yang tadi dia rasakan, dia rasakan lagi dalam kelas. Ringan mulanya, kemudian bertambah berat. Kepalanya seakan berubah menjadi bentuk yang tidak dia kenali lagi. Dia meraba rambutnya, mencoba mencengkramnya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya itu, tapi tak ada hasil. Kepalanya makin berat, keseimbangannya makin hilang, kesadaran mulai menjauhinya.

Sadar ada yang tidak normal pada teman sebangkunya, Sukma yang duduk di sebelahnya menawarkan jasa untuk memapahnya ke ruang UKS. I-1 tidak menolak.

***

Sampai di ruang UKS, I-1 merebahkan tubuhnya di salah satu kasur yang ada. Di kasur yang lain, berbaring seorang siswi yang tidak dia kenal. Hanya seulas senyum yang menandakan keramah tamahan yang mereka perlihatkan. Sebelum meninggalkan teman baiknya di sana, Sukma memastikan kalau keadaan I-1 cukup kuat untuk ditinggal sendiri.

“Ada yang perlu aku siapkan?” tanyanya. I-1 hanya menggeleng seraya tersenyum untuk memastikan dia baik-baik saja.

Sukma baru saja berlalu saat tiba tiba i-1 merasa ada yang mendesak di dadanya. Dia sadar ada yang berubah dalam dirinya. I-1 berusaha menahannya. Menahan energi aneh yang menembus kedalam dadanya. Ada ketidak seimbangan aneh yang dia rasakan. Keringat dingin mulai keluar lewat pori porinya. I-1 sekuat tenaga berusaha bertahan, dia berusaha untuk tidak berteriak.

Tangannya kuat mencengkram sprai yang ada di bawah tubuhnya. Sesaat kemudian dia mulai mengejang. Ada kekuatan lain dalam tubuhnya yang tak mampu dia lawan. Nafasnya mulai tersengal. Ketika pertahanan terakhirnya jebol, I-1 berteriak sekuat tenaganya!

READ MORE - I-1 : The Beginning

Kamis, 05 September 2013

Nenek, Aku Iri Padamu

Sebagai orang yang sebagian hidupnya dihabiskan diatas perputaran roda, sering kali aku menemui hal-hal yang membuat otak untuk berfikir diluar kebiasaan. Saat menemui peristiwa yang sedikit 'berbeda' , walau hal itu sendiri sudah kita ketahui dan maklum akan keadaan tersebut.

Sebagai contoh, saat matahari terbenam, atau pada saat matahari akan terbit. Sering kali aku melihat sosok tua yang berjalan mantab di pinggir jalan melawan dinginnya udara dini hari. Kebanyakan memang mereka yang sudah berumur, jarang sekali aku temui anak muda yang berjalan bersama mereka. Dengan mukenah atau sarung, mereka melangkah kecil menuju masjid atau musolah terdekat. Ada sahdu yang aku rasa saat menyaksikan hal itu hampir setiap waktu subuh. Ada iri yang menyusup di hati ini.

Aku iri karena mereka diberi kemudahan dan ringan kaki untuk menyambut seruannya. Aku iri karena walau punya waktu yang sama, kondisi kami berbeda. Aku tak punya waktu sebebas mereka. Mungkin juga aku tak punya hati selembut mereka yang begitu indah menyambut panggilanNya sesegera mungkin.

Hidup di jalan, membuat waktu yang kami miliki tidak lagi sefleksible mereka yang menetap. Untuk melaksanakan solat, kami harus berhenti di tempat yang benar benar aman untuk parkir kendaraan. Tidak di setiap masjid kami bisa berhenti. Idealnya, masjid yang kami singgahi harus punya tempat parkir luas yang bisa menampung truk di dalamnya. Tidak juga bisa segera solat, harus membersihkan badan terlebih dahulu lalu mengganti pakaian yang kotor oleh debu jalanan dengan pakaian bersih yang dipersiapkan. Itu berarti butuh perjuangan lebih dari mereka yang menetap untuk 'sekedar' melaksanakan solat.

Kondisi seperti ini, kalau tidak kuat tekad di dada, bisa bisa menjadikan malas untuk melaksanakan solat. Kami harus berhenti lima kali dalam sehari, sedang waktu terus bergulir, deadline waktu tiba di tempat tujuan juga jadi pertimbangan. Kalau banyak berhenti di jalan, itu sama saja dengan mengulur ulur waktu. Pilihannya ada dua, sering berhenti tapi harus ngebut saat mesin menyala atau tidak sering berhenti. Kalau tidak sering berhenti, berarti kami tidak punya waktu untuk solat.

Menurutku mereka yang ada di rumah atau bekerja menetap di kantor, toko dsb, punya waktu yang lebih baik dari pada kami yang di jalanan. Mereka bisa solat tanpa harus banyak pertimbangan kemanan dan sebagainya. Tinggal meluangkan waktu sebentar, berwudhu lalu solat. Sangat disayangkan kalau mereka sampai lalai dalam melaksanakan solatnya, sedang tak sedikit dari supir supir truk yang rajin solatnya.
Begitulah, kadang aku iri pada nenek yang berjalan mantab diwaktu subuh menuju masjid atau musola. Iri pada kesempatan dan kelapangan hati yang mereka miliki, sedangkan aku harus bergulat demi sesuap nasi dalam kabin truk yang melaju kencang. Kadang, ada sebersit doa dan tanya padaNya, kapan kehidupan seperti ini akan berakhir. Kapan kira-kira aku bisa seperti mereka, yang bisa mencari nafkah tapi juga punya kelonggaran waktu untuk ibadah.
READ MORE - Nenek, Aku Iri Padamu

Senin, 02 September 2013

I-1, Sahabat yang Berteman dengan Peri

Sebenarnya sudah lama aku ingin memperkenalkan sahabatku yang satu ini. Lama juga buat menimbang-nimbang dan berdiskusi sebelum memutuskan untuk menghadirkan sosoknya di blog ini. Satu syarat yang kami sepakati bersama adalah aku tidak akan pernah menyebut nama aslinya juga data pribadinya. Lah, kok? Katanya tadi mau dikenalin, tapi kenapa gak boleh sebut nama dan identitas? Lalu apa yang mau diceritakan?

Tenang, walkers, banyak hal yang bisa diceritakan dari sosoknya. Terutama tentang pertemanannya dengan para peri, sosok ajaib dari dunia tak terjamah itu.

Mungkin beberapa diantara kita beranggapan kalau peri itu tak pernah ada. Sosoknya yang gaib dan tak bisa dibuktikan dengan bukti yang nyata membuat banyak kontroversi. Di sini, teman baru kita itu akan banyak bercerita tentang peri dan banyak pengalaman supranaturalnya.

Kita setuju untuk memanggilnya I-1. I-1 adalah seorang yang 'dikaruniai' kelebihan (?) untuk bisa berinteraksi dengan dunia selain dunia kita (?). Kata banyak orang, dia adalah salah satu orang yang punya six sense. Yah..., penuh kontroversi hidupnya. Maka itulah kenapa sering aku bubuhkan tanda tanya. Karena pada pernyataan yang di belakanya di bubuhi tanda tanya itulah sering terjadinya kontroversi itu.
Ok walker, nantikan kisah I-1 pada posting berikutnya....

READ MORE - I-1, Sahabat yang Berteman dengan Peri

Sabtu, 18 Mei 2013

Maaf, Aku Belum Bisa Berkomitmen

Ternyata berkomitmen itu bukan suatu hal yang mudah. Buktinya sekrang aku tidak bisa memegang dengan teguh apa yang pernah aku ucapkan dan ingin aku kerjakan. Masih baru saja bulan lalu aku membuat postingan yang berjudul “Setelah Sekian Bulan Lamanya” di La-Ramta, tapi sekarang rasanya aku tidak bisa memenuhi apa yang ingin aku capai. Apa lagi, kalau ingat apa yang pernah aku sampaikan pada posting yang berjudul “La-RanTa is back”. Apa yang terjadi sekarang rasanya jauh dari yang aku tulis di sana. 

Dulu aku berkomitmen untuk menulis setiap hari, setiap ada kesempatan, tapi nyatanya sekarang, jangankan menulis sesuatu yang lebih serius, blog ini dan blog Fiksiku saja sudah lama terlantar. Ada komitmen pada diri sendiri dulu untuk meluangkan waktu setidaknya dua jam perhari untuk menulis. Sekarang itu semua tinggal janji yang terucapkan. Ada beberapa janji lain yang belum juga bisa aku tuntaskan. Aku minta maaf untuk hal ini pada kalian yang pernah aku janjikan suatu hal. 

Aku ingin memberikan alasan yang mungkin bisa aku sampaikan, tapi aku yakin, yang kalian butuhkan, bukan sekedar alasan, bukan? Janji dan komitmen yang pernah aku ucapkan butuh realisasi yang nyata, bukan sekedar alasan. Aku tahu. 

Kejadian yang terjadi di dunia nyata membutuhkan begitu banyak perhatian ekstra akhir akhir ini. Tentang pekerjaan, keluarga (walau masih singgle), orang orang di sekelilingku, semua meminta hal yang lebih dari yang biasa aku kerjakan. Banyak urusan urusan ‘baru’ yang muncul silih berganti. Satu hal selesai, satu datang tak jauh setelahnya. Aku bahkan tak punya waktu untuk mengurusi gigiku sendiri yang sudah waktunya untuk bertemu dengan dokter spesialisnya. Aku tak ingin mengeluh, hanya ingin menjalanis semua apa adanya hingga akhir. Untuk kalian yang sedang menunggu komitmen dariku, apapun bentuknya itu, aku mohon maaf sekali lagi, dan lagi, atas kelemahanku sebagai seorang manusia biasa. Semoga kalian bisa mengerti… 

sumber gambar dari sini
READ MORE - Maaf, Aku Belum Bisa Berkomitmen