Minggu, 08 September 2013

I-1 : The Beginning



Banyak yang bertanya siapa sebenarnya I-1, temanku yang berteman dengan peri itu. He or she? Cowok atau cewek? Lalu siapa peri yang menjadi temannya? Bagaimana bentuknya? Bagaimana kisah awalnya? Bukankah dalam Islam peri itu hanya jelmaan dari jin yang menyerupai suatu bentuk? Begitu banyak pertanyaan. Begitu banyak yang ingin tahu tentang dia, sosoknya dan kisahnya.

Tentang dia memang begitu banyak yang bisa diceritakan. Kalian boleh saja percaya atau tidak, itu terserah kalian. Kalian berhak berkata dia gila atau kerasukan, sudah tidak waras dan harus bertaubat. Yah, apapun itu, bagaimana hidup kadang bukan tentang hanya pilihan. Banyak, hidup itu komplit. Kadang kita tak bisa memilih. Pada tahap ini, apakah ini yang disebut sebagai ujian?

I-1, temanku itu tak ingin disebut siapa nama sebenarnya. Tak pula mempernenankan aku untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya. Dia hany a mengizinkan aku membagi kisah ajaibnya ini. Setelah perdebatan panjang yang tak berkesudahan, bahkan tentang bagian mana yang boleh dan tak boleh diceritakan.

Aku ingin semua bagian di tuliskan di sini dengan gamblang. Awalnya dia menolak. Dia begitu takut untuk dihakimi, takut untuk kembali pada masa lalunya yang di cap kafir (tapi dia juga takut pada kenyataan kalau saat ini dia bukan lagi orang beriman). Hidup dalam banyak ketakutan walau orang di sekelilingnya mengenalnya sebagai orang ‘normal’.

***

Hari itu adalah senin beberapa hari saja sebelum  puasa Ramadhan dimulai lebih dari sepuluh tahun silam. I-1 ada dalam barisan upacara bendera yang diadakan di sekolahnya. Saat itu dia masih seorang siswa lugu kelas dua sekolah menengah  atas.

Udara panas musim kemarau memanggang setiap kepala. I-1 sebenarnya bukan siswa yang bertubuh lemah. Sejauh dia bisa mengingat, dia tidak pernah jatuh pinsan dalam keadaan apapun. Hari itu, dia merasa berbeda. Kepalanya berdenyut saat upacara tengah berlangsung. Ada rasa gengsi yang menahan egonya untuk memanggil petugas PMR yang berbaris di bagian belakang. Kejadiannya yang dia rasa di kepala itu tak berlangsung lama, hanya sekejap saja. Sampai upacara selesai, tak ada apapun yang terjadi. I-1 tidak menyadari bahwa itulah awal dari semua kejadian ini, awal pertemannya dengan para peri, para raja, dan semua kejadian yang tak masuk akal yang dia alami.

Sakit kepala sejenak itulah yang menjadikan dia berubah. Dia bukan kemudian dia yang sebelumnya lagi. Kejadian sejenak yang membuatnya melarikan diri dari kenyataan hidupnya hingga lebih dari sepuluh tahun lamanya.

i-1 baru tahu itu setelah dia masuk kedalam kelas untuk pelajaran pertama. Pening kepalanya yang tadi dia rasakan, dia rasakan lagi dalam kelas. Ringan mulanya, kemudian bertambah berat. Kepalanya seakan berubah menjadi bentuk yang tidak dia kenali lagi. Dia meraba rambutnya, mencoba mencengkramnya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya itu, tapi tak ada hasil. Kepalanya makin berat, keseimbangannya makin hilang, kesadaran mulai menjauhinya.

Sadar ada yang tidak normal pada teman sebangkunya, Sukma yang duduk di sebelahnya menawarkan jasa untuk memapahnya ke ruang UKS. I-1 tidak menolak.

***

Sampai di ruang UKS, I-1 merebahkan tubuhnya di salah satu kasur yang ada. Di kasur yang lain, berbaring seorang siswi yang tidak dia kenal. Hanya seulas senyum yang menandakan keramah tamahan yang mereka perlihatkan. Sebelum meninggalkan teman baiknya di sana, Sukma memastikan kalau keadaan I-1 cukup kuat untuk ditinggal sendiri.

“Ada yang perlu aku siapkan?” tanyanya. I-1 hanya menggeleng seraya tersenyum untuk memastikan dia baik-baik saja.

Sukma baru saja berlalu saat tiba tiba i-1 merasa ada yang mendesak di dadanya. Dia sadar ada yang berubah dalam dirinya. I-1 berusaha menahannya. Menahan energi aneh yang menembus kedalam dadanya. Ada ketidak seimbangan aneh yang dia rasakan. Keringat dingin mulai keluar lewat pori porinya. I-1 sekuat tenaga berusaha bertahan, dia berusaha untuk tidak berteriak.

Tangannya kuat mencengkram sprai yang ada di bawah tubuhnya. Sesaat kemudian dia mulai mengejang. Ada kekuatan lain dalam tubuhnya yang tak mampu dia lawan. Nafasnya mulai tersengal. Ketika pertahanan terakhirnya jebol, I-1 berteriak sekuat tenaganya!

READ MORE - I-1 : The Beginning

Kamis, 05 September 2013

Nenek, Aku Iri Padamu

Sebagai orang yang sebagian hidupnya dihabiskan diatas perputaran roda, sering kali aku menemui hal-hal yang membuat otak untuk berfikir diluar kebiasaan. Saat menemui peristiwa yang sedikit 'berbeda' , walau hal itu sendiri sudah kita ketahui dan maklum akan keadaan tersebut.

Sebagai contoh, saat matahari terbenam, atau pada saat matahari akan terbit. Sering kali aku melihat sosok tua yang berjalan mantab di pinggir jalan melawan dinginnya udara dini hari. Kebanyakan memang mereka yang sudah berumur, jarang sekali aku temui anak muda yang berjalan bersama mereka. Dengan mukenah atau sarung, mereka melangkah kecil menuju masjid atau musolah terdekat. Ada sahdu yang aku rasa saat menyaksikan hal itu hampir setiap waktu subuh. Ada iri yang menyusup di hati ini.

Aku iri karena mereka diberi kemudahan dan ringan kaki untuk menyambut seruannya. Aku iri karena walau punya waktu yang sama, kondisi kami berbeda. Aku tak punya waktu sebebas mereka. Mungkin juga aku tak punya hati selembut mereka yang begitu indah menyambut panggilanNya sesegera mungkin.

Hidup di jalan, membuat waktu yang kami miliki tidak lagi sefleksible mereka yang menetap. Untuk melaksanakan solat, kami harus berhenti di tempat yang benar benar aman untuk parkir kendaraan. Tidak di setiap masjid kami bisa berhenti. Idealnya, masjid yang kami singgahi harus punya tempat parkir luas yang bisa menampung truk di dalamnya. Tidak juga bisa segera solat, harus membersihkan badan terlebih dahulu lalu mengganti pakaian yang kotor oleh debu jalanan dengan pakaian bersih yang dipersiapkan. Itu berarti butuh perjuangan lebih dari mereka yang menetap untuk 'sekedar' melaksanakan solat.

Kondisi seperti ini, kalau tidak kuat tekad di dada, bisa bisa menjadikan malas untuk melaksanakan solat. Kami harus berhenti lima kali dalam sehari, sedang waktu terus bergulir, deadline waktu tiba di tempat tujuan juga jadi pertimbangan. Kalau banyak berhenti di jalan, itu sama saja dengan mengulur ulur waktu. Pilihannya ada dua, sering berhenti tapi harus ngebut saat mesin menyala atau tidak sering berhenti. Kalau tidak sering berhenti, berarti kami tidak punya waktu untuk solat.

Menurutku mereka yang ada di rumah atau bekerja menetap di kantor, toko dsb, punya waktu yang lebih baik dari pada kami yang di jalanan. Mereka bisa solat tanpa harus banyak pertimbangan kemanan dan sebagainya. Tinggal meluangkan waktu sebentar, berwudhu lalu solat. Sangat disayangkan kalau mereka sampai lalai dalam melaksanakan solatnya, sedang tak sedikit dari supir supir truk yang rajin solatnya.
Begitulah, kadang aku iri pada nenek yang berjalan mantab diwaktu subuh menuju masjid atau musola. Iri pada kesempatan dan kelapangan hati yang mereka miliki, sedangkan aku harus bergulat demi sesuap nasi dalam kabin truk yang melaju kencang. Kadang, ada sebersit doa dan tanya padaNya, kapan kehidupan seperti ini akan berakhir. Kapan kira-kira aku bisa seperti mereka, yang bisa mencari nafkah tapi juga punya kelonggaran waktu untuk ibadah.
READ MORE - Nenek, Aku Iri Padamu

Senin, 02 September 2013

I-1, Sahabat yang Berteman dengan Peri

Sebenarnya sudah lama aku ingin memperkenalkan sahabatku yang satu ini. Lama juga buat menimbang-nimbang dan berdiskusi sebelum memutuskan untuk menghadirkan sosoknya di blog ini. Satu syarat yang kami sepakati bersama adalah aku tidak akan pernah menyebut nama aslinya juga data pribadinya. Lah, kok? Katanya tadi mau dikenalin, tapi kenapa gak boleh sebut nama dan identitas? Lalu apa yang mau diceritakan?

Tenang, walkers, banyak hal yang bisa diceritakan dari sosoknya. Terutama tentang pertemanannya dengan para peri, sosok ajaib dari dunia tak terjamah itu.

Mungkin beberapa diantara kita beranggapan kalau peri itu tak pernah ada. Sosoknya yang gaib dan tak bisa dibuktikan dengan bukti yang nyata membuat banyak kontroversi. Di sini, teman baru kita itu akan banyak bercerita tentang peri dan banyak pengalaman supranaturalnya.

Kita setuju untuk memanggilnya I-1. I-1 adalah seorang yang 'dikaruniai' kelebihan (?) untuk bisa berinteraksi dengan dunia selain dunia kita (?). Kata banyak orang, dia adalah salah satu orang yang punya six sense. Yah..., penuh kontroversi hidupnya. Maka itulah kenapa sering aku bubuhkan tanda tanya. Karena pada pernyataan yang di belakanya di bubuhi tanda tanya itulah sering terjadinya kontroversi itu.
Ok walker, nantikan kisah I-1 pada posting berikutnya....

READ MORE - I-1, Sahabat yang Berteman dengan Peri

Sabtu, 18 Mei 2013

Maaf, Aku Belum Bisa Berkomitmen

Ternyata berkomitmen itu bukan suatu hal yang mudah. Buktinya sekrang aku tidak bisa memegang dengan teguh apa yang pernah aku ucapkan dan ingin aku kerjakan. Masih baru saja bulan lalu aku membuat postingan yang berjudul “Setelah Sekian Bulan Lamanya” di La-Ramta, tapi sekarang rasanya aku tidak bisa memenuhi apa yang ingin aku capai. Apa lagi, kalau ingat apa yang pernah aku sampaikan pada posting yang berjudul “La-RanTa is back”. Apa yang terjadi sekarang rasanya jauh dari yang aku tulis di sana. 

Dulu aku berkomitmen untuk menulis setiap hari, setiap ada kesempatan, tapi nyatanya sekarang, jangankan menulis sesuatu yang lebih serius, blog ini dan blog Fiksiku saja sudah lama terlantar. Ada komitmen pada diri sendiri dulu untuk meluangkan waktu setidaknya dua jam perhari untuk menulis. Sekarang itu semua tinggal janji yang terucapkan. Ada beberapa janji lain yang belum juga bisa aku tuntaskan. Aku minta maaf untuk hal ini pada kalian yang pernah aku janjikan suatu hal. 

Aku ingin memberikan alasan yang mungkin bisa aku sampaikan, tapi aku yakin, yang kalian butuhkan, bukan sekedar alasan, bukan? Janji dan komitmen yang pernah aku ucapkan butuh realisasi yang nyata, bukan sekedar alasan. Aku tahu. 

Kejadian yang terjadi di dunia nyata membutuhkan begitu banyak perhatian ekstra akhir akhir ini. Tentang pekerjaan, keluarga (walau masih singgle), orang orang di sekelilingku, semua meminta hal yang lebih dari yang biasa aku kerjakan. Banyak urusan urusan ‘baru’ yang muncul silih berganti. Satu hal selesai, satu datang tak jauh setelahnya. Aku bahkan tak punya waktu untuk mengurusi gigiku sendiri yang sudah waktunya untuk bertemu dengan dokter spesialisnya. Aku tak ingin mengeluh, hanya ingin menjalanis semua apa adanya hingga akhir. Untuk kalian yang sedang menunggu komitmen dariku, apapun bentuknya itu, aku mohon maaf sekali lagi, dan lagi, atas kelemahanku sebagai seorang manusia biasa. Semoga kalian bisa mengerti… 

sumber gambar dari sini
READ MORE - Maaf, Aku Belum Bisa Berkomitmen

Minggu, 12 Mei 2013

Racun dan Kesepian Gie, Soeharto dan Spiderman



Adalah satu sifat dasar manusia untuk berhasrat bisa duduk dalam kasta tertinggi dalam peradaban. Adalah salah satu sifat dasar manusia untuk dikenal, dihormati dan disanjung orang lain. Sementara yang lain, berdiri sebagai antagonis yang merentangkan kakinya di depan jalan sang penguasa. Apa  guna semua kalau akhirnya apa yang mereka rasakan adalah sama? Tapi dunia adalah panggung sandiwara kehidupan, maka ketika semua peranan menjadi sama, drama apa yang akan berjalan? Tak ada. Dunia hanya akan kelabu tanpa nada.

Antagonis dunia, bukan selalu mereka yang jahat bagai dongen Putri Salju. Tidak selalu bersifat seperti Green Goblin di film Spiderman. Dia, bisa saja sosok seperti Gie dalam sejarah bangsa ini. Atau mereka yang kemudian hilang pada peristiwa Mei 1998. Antagonis, atau protagonis dunia ini tak selalu hitam putih. Mereka bisa saja kelabu. Hitam dan putih itu tergantung siapa yang memandang, dari sudut sejarah mana mereka di ceritakan. Htiler mungkin adalah seorang yang paling di benci sejarah, kalau yang menceritakan adalah orang tak sejalan dengannya. Tapi bagaimana bila Eva Braun yang bekisah? Bisa jadi dia akan jadi pria yang paling tepat untuk di kagumi.

Dalam satu artikel lama yang pernah aku baca, Soeharto pernah bilang dia kesepian dalam puncak kekuasaannya. Seperti Gie yang kemudian harus menjauhi semua orang yang pernah ada di dekatnya karena dia dianggap berbahaya, tak punya masa depan, dan seperti tanaman beracun yang menularkan racunnya pada semua tanaman di sekitarnya. Spiderman harus memutuskan untuk berdusta kepada MJ. Dia mengingkari cintanya dan meminta MJ menjauhinya. Mengapa? Karena dia sadar kalau saat itu, dia sendiri adalah tanaman beracun itu, dan dia tak ingin menularkan racunnya yang mematikan itu pada kekasihnya.

Bila akhirnya semua orang yang bisa mencapai puncak ketenaran dan kejayaannya, baik sebagai protagonis ataupun antagonis bernasib sama : kesepian, maka mengapa banyak orang yang berlomba mencapai fase itu? Aku yakin mereka punya jawabannya masing-masing, dan kita boleh menerkanya dengan bebas. Mereka kemudian sama sama menjadi beracun, mereacuni dan berbahaya dengan caranya sendiri. Kehidupan yang mungkin tak pernah akan kita bayangkan, tapi begitulah konsekuensi. Kalau kita tak siap dengan konsekuensi apapun, maka jadilah orang biasa yang berbuat hanya untuk hidupnya sendiri, dan kita benar-benar tidak akan pernah jadi apa-apa.

“Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan”
Soe Hok Gie
READ MORE - Racun dan Kesepian Gie, Soeharto dan Spiderman

Senin, 06 Mei 2013

Yang Indah di Tepian Barat Suramadu



Pemandangan di depan rumah kontrakan.

Kebenarannya adalah, di tempat yang awal itu aku tidak kos. Lho?

Ya. Aku tidak kos di sana. Aku menempati rumah kontrakan. Beda bukan, antara kos dan kontrak? Kalau kos itu sewa satu kamar untuk tempat tinggal yang pembayannya di hitung perbulan. Beda dengan kontrak yang pembayarannya di hitung pertahun. Kalau kos, biasanya hanya sepetak kamar saja, tapi kontrak bisa sampai satu rumah. Begitu bukan?

Yang bayar kontrak bukan aku. Seseorang. Seseorang itulah yang kemudian mempercayakan apa yang dia kontrak untuk aku tempati dan kelola. Rumah kontrakan yang aku tempati itu punya dua lantai (baca posting sebelumnya, klik di sini). Aku menempati lantai duanya.

Pemiik asli rumah yang kontrakan yang aku tempati itu tinggal bersebelahan dengan rumah yang aku kontrak. Jadilah aku dan pemiliknya sebagai tetangga. Sebut saja namanya bu Suti. Bu Suti ini berprofesi sebagai guru konseling di sebuah sekolah menengah di Surabaya. Bu Suti punya empat anak, tiga diantarnya punya wajah dan nama yang nyaris sama. Entahlan, mengapa anak terakhirnya punya postur dan nama yang jauh berbeda dengan kakak-kakanya, padahal mereka berempat sama-sama cowok.

Bu Suti punya suami. Sebut saja namanya pak Tok. Orang yang ramah dan suka bernyanyi. Setiap malam, aku berkunjung kesana. Biasanya selepas isyak. Ngobrol bareng pak Tok, pak dhe, dan om. Pak dhe adalah saudara bu Suti, om juga sarudara mereka, tapi dari kerabat jauh. Kadang pula, ada pak dhe lain yang datang ikutan nimbrung besama kami. Malam demi malam, aku dan mereka semakin akrab. Ada saja yang di perbincangkan. Mulai dari maasalah kuliner sampai berdebat masalah nama jalan. Kalau ingat itu, kadang aku merasa aneh sendiri. Membayangkan beberapa pria dewasa, nimbrung malam-malam, yang di bahas hanya masalah nama jalan di kota ini. Hahaha…, maklumlah, profesi kami hampir sama. Pak Tok adalah supir perusahaan, pak dhe supir pribadi, sedangkan aku seles. Klop bukan?

Satu lagi tokoh penting yang setidaknya harus aku ceritakan adalah pak Mujar. Dia adalah orang yang dulu mempertemukan antara pengontrak rumah dan bu Suti ini. Awalnya, hubungan aku dan pak Mujar ini berjalan baik. Seperti layaknya tetangga, aku juga masih sering ngobrol dengan dia. Orang lain lagi yang mungkin harus aku sebut adalah pak Jaf. Pak jaf ini adalah orang yang punya rumah tepat di jalan masuk ke tempat kontrakanku. Katanya, dia adalah ketua preman di tempat ini. Pak Jaf adalah salah atu orang terlama yang mendiami pemukiman ini, bahkan keluarganya sudah di sana, jauh sebelum akses suramadu di bangun.

***

Kehidupanku di tepian barat surmadu berjalan indah. Sangat indah malah. Aku punya kehidupan yang selama ini aku inginkan. Rumah yang sudah seperti rumah sendiri, pergulan yang baik dengan tetangga sekitar, tempat yang mendukung untuk menulis. Semuanya!

Aku merasa aku punya segala impian kecil tentang tempat yang layak huni yang selama ini ada dalam pikiranku. Apa lagi, lima kamar dilantai satu dikoskan. Banyak orang yang tiggal di lantai satu itu. Kalua aku suntuk di lantai dua, aku bisa turun untuk sekedar mengobrol dengan mereka. Aku juga punya satu dapur kecil tepat di bawah tangga. Kebutuhan kebutuhan kecil seperti masak nasi, bikin mie instran, buat the atau kopi, bisa aku sediakan sendiri tanpa harus keluar ke warung.

Bulan demi bulan berlalu. Tak ada tanda tanda awal kalau aku harus pergi dari sana dalam waktu yang begitu mendadak dan dengan cara yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Bahkan menerkapun aku tidak.

Sudah siang, walker. Aku harus keluar dulu untuk mengisi perut yang sudah bernyanyi sejak pagi. Sambung ke posting berikutnya ya. Semoga sabar menanti….

Salah satu pemandangan di tepian timur Suramadu

Tepat di tepi barat Suramadu

Pemandangan saat hujan dari jendela lantai 2 rumah nontrakan

Jalan Kedung Cowek saat senja dilihat dari lantai 2 rumah kontrakan

Saat senja yang kelabu di depan rumah kontrakan


Salah satu view di depan rumah kontrakan



READ MORE - Yang Indah di Tepian Barat Suramadu

Selasa, 30 April 2013

Satu Detik yang Berharga Jutaan Rupiah


Orang bilang, waktu itu sangat berharga. Ada pepatah barat berkata kalau waktu itu adalah uang. Seperti juga pepatah dari arab yang menggambarkan waktu itu semisal pedang, Yup! Pedang dan uang. Waktu diibaratkan dengan banyak hal. Seperti kita tahu, waktu yang sudah berlalu tak bisa di ulang lagi. Sedetikpun tidak.

Orang arab bilang waktu itu adalah pedang. Artinya, waktu itu tergantung kita mau menggunakannya untuk apa. Begitu kira-kira, walkers. Kalau kita mau dan bisa menggunakan waktu itu untuk hal yang positif, semuanya akan jadi baik. Kalau kita menggunakan waktu itu untuk hal yang negatif, maka tunggu saja sampai kita menerima akibatnya. Seperti pedang. Mau kita buat apa pedang itu. Kalau kita gunakan untuk memotong hewan, memotong bambu, kita bisa mendapatkan manfaat yang besar darinya. Begitupun kalau kita menggunakan pedang itu untuk membunuh tanpa sebab yang diperbolehkan. Maka tunggulah sampai kita mendapatkan keadilan atas apa yang kita lakukan.

Bagi orang barat, waktu itu adalah uang. Mereka menghitung setiap detiknya dengan ukuran uang. Ini dari kaca mata mereka, walkers. Orang-orang barat yang mengukur segala sesuatunya dari berapa banyak materi yang mereka dapatkan. Ada pekerja yang dibayar lebih untuk setiap waktu lembur yang mereka habiskan untuk mengerjakan pekerjaan tambahan. Kalau kita ke warnet misal, maka setiap detik nyata dihitung dengan ukuran berapa banyak uang yang harus kita keluarkan. Seperti juga di taksi atau saat kita menyewa barang yang  dihitung bianyanya berdasarkan baerapa lama waktu yang kita habiskan bersama barang itu. Nyata sekali bukan kalau waktu itu sesuatu yang berharga?

Orang kita bilang, penyesalan tak ada gunanya. Itu artinya, apa yang sudah kita lakukan, dan ternyata itu adalah kesalahan, maka tak ada lagi waktu yang bisa kita putar untuk bisa kembali  kemasa lalu untuk memperbaikinya. Tak juga sedetikpun. Nyata sekali, walkers, kalau waktu itu sesuatu yang sangat berharga. Dimanapun dan kapanpun semua bangsa setuju akan hal itu. Pertanyaannya adalah, seberapa mahal sebenarnya harga waktu itu? Yuk mari kita bahas disini.

Kasus pertama yang bisa kita ambil sebagai telaah untuk bisa tahu seberapa mahal harga waktu itu, aku ceritakan pada kalian tentang pak Pung (bukan nama sebenarnya). Pagi tiu, pak Pung diminta oleh bosnya untuk mengantarkan kunci mobil temannya yang secara kebetulan terbawa ke dalam tas si bos. Teman si bos itu tinggal di Surabaya, sedangkan si bos sendiri tinggal di Jakarta. Sewaktu si bos berkunjung ke Surabaya, secara tak sengaja dia lupa untuk mengembalikan kunci mobil berikut STNK yang si bos pinjam dari temannya. Singkat cerita, berangkatlah pak Pung ke Surabaya dengan mengendarai mobil si bos dari Jakarta. Tak di sangka, di jalan, saaat pak Pung sedang beristirahat di sebuah rumah makan yang lumayan besar, kunci yang harusnya dia antarkan ke Surabaya raib bersama tas tempat di mana kunci itu ditempakan. Malangnya lagi, pak Pung tidak ingat di mana terakhir dia memegang kunci itu. Apa benar kunci dan tasnya itu hilang dirumah makan, atau di toilet sebuah SPBU, atukah di warung pinggir jalan tempat dia membeli rokok? Pak Pung tak ingat sama sekali. Akibat keteledoran ini, pak Pung di jatuhi sangsi oleh si bos untuk mengganti kunci yang hilang itu. Kalian tahu berapa harga kunci yang hilang itu, walkers? Perkunci harganya 6,5jt. Sedangkan kunci yang hilang sebanyak dua buah. Berarti minimal pak Pung harus mengeluarkan uang sebesar 13juta rupiah untuk mengganti kunci yang hilang itu. Kunci mobil apa semahal itu? Kalau walkers mau tahu, itu adalah kunci mobil Mercedes Benz s-class. Pak Pung menyesal. Andai waktu bisa di kembalikan, maka dia tak akan membuat kelalaian itu dan dia tidak akan kehilangan 13 juta rupiah yang harus dia banyar dengan susah payah.

Lain lagi dengan yang dialami pak Yus. Sewaktu dia mengemudikan mobilnya di jalur pantura jawa, dia harus kehilangan uang 40 juta rupiah. Apa yang terjadi? Malam itu pak Yus berencana pulang ke semarang. Tak di sangka, di salah satu ruas jalan pantura mobil yang dia kemudikan menabrak mobil yang tengah akan putar balik di depannya. Menurut pengakuan pak Yus, saat itu dia sedang mengantuk. Andai saja dia punya satu detik saja kesempatan untuk menginjak pedal rem, kecelakaan itu tak akan pernah terjadi. Waktu satu detik di mana pak Yus hilang kesadaran karena mengantuk itu harus dia bayar dengan 40 juta rupiah perbaikan mobil yang dia tabrak. Belum lagi biaya yang harus dia keluarkan untuk memperbaiki mobilnya sendiri.

Terakhir adalah kisah pak Muali. Suatu hari, saat dia akan menjemput istrinya yang sedang berada di rumah mertuanya, tanpa sengaja dia mengalami kecelakaan motor tunggal. Menurut saksi mata yang ada di lokasi, katanya pak Muali berusaha menghindari orang tua yang sedang melintas jalan. Dalam keadaan kurang fit, pak Muali terlambat untuk menghindar. Pilihan yang dia punya dalam detik-detik terakhir itu benar-benar seperti buah simala kama. Menabrak orang di depannya, banting stir atau menarik tuas rem cakram. Semua berakibat fatal. Kalau dia menabrak orang di depannya, kemungkinan untuk jatuh korban makin banyak. Mungkin saja dia tidak mengalami luka yang cukup serius dari pada harus memilih dua pilihan yang lain, tapi urusan akan makin panjang. Pertanggungjawaban semakin berat. Kalau dia memilih banting stir atau menarik tuas rem cakram, kemungkinan menabrak orang di depannya akan kecil, tapi akan berakibat fatal untuk dia. Tak banyak waktu, tak banyak pilihan, pak Muali memilih opsi terakhir. Dia menarik tuas rem cakram kuat-kuat. Detik itu juga pak Muali terpental, membentur aspal dan kehilangan kesadaran untuk selamanya. Dia mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan orang tua yang renta itu.

Tujuh bulan lamanya dia harus dirawat, antara sadar dan koma bergantian dia alami. Puluhan juta uang dihamburkan untuk kesembuhannya. Kabar terakhir, sudah menembus angka ratusan juta yang harus di keluarkan keluarganya untuk biaya pengobatan. Setelah tujuh kali operasi pada tulang tengkoraknya ditambah dua operasi pada bagian perutnya, pak Muali tak tertolong. Satu detik terakhir dia mengambil keputusan berhaga ratusan juga dan nyawanya. Andai saja waktu bisa diulang….

Ya, andai saja waktu bisa diulang, apa yang akan kalian lakukan, walkers? Berapa banyak yang bisa kalian perbaiki? Berapa uang yang bisa kalian hemat? Sayangnya, sedetikpun waktu tak bisa diulang, dan sekarang setelah merenung, mungkin kita menjari tahu, berapa harga satu detik waktu kita yang terbuang itu. Mahal sekali, bukan? Maka itu, mari kita gunakan waktu kita sebaik-baiknya mulai detik ini.


sumber gambar 1
sumber gambar 2

READ MORE - Satu Detik yang Berharga Jutaan Rupiah

Jumat, 19 April 2013

Pindah... Pindah... Pindah Koooosss....



Banyak yang bertanya : kemana saja aku beberapa bulan ini.

Well, walkers, aku gak kemana mana. Masih tetep di sini. Di surabaya, kota perantauanku selama ini. Kalian tahu? Pertanyaan sederhana yang kalian sampaikan padaku itu mungkin terlihat seperle, tapi bagiku pertanyaan itu mengandung makna yang berbeda. Ada perhatian seorang teman di sana. Teman maya yang bingung ketika temannnya itu, yang tak pernah tahu bagaimana wajahnya yang sebenarnya, yang cuma dikenalnya lewat tulisan tulisannya, tak ada kabar dalam waktu yang lama. Ada letupan semangat yang aku rasakan di dada ini saat pesan pesan singkat itu masuk ke nomor pribadiku. Maka itu aku ucapkan terimakasih untuk mereka yang merindukan aku (pede banget yak? Gegegegegegegegege).

Aku gak kemana mana, walkers. Aku hanya pindah kos. Yup. 2x pindah kos. Kenapa? Tentu ada alasannnya. Semua  akan aku bagikan di sini bersama kalian, karena kalian adalah teman teman yang mau mendengarkan (membaca) apa yang ingin aku bagikan dengan orang-orang yang aku kenal.  Perpindahan kos kali ini cukup menyita waktuku. Menyita perhatian yang lumayan besar. Apa pasal? Bukankah hanya masalah pindah kos saja? Yup memang benar. Masalah sepele yang dipicu oleh masalah lain yang cukup serius.

Kalian sudah siap untuk menyimak kisah ini, walkers?

Ok. Aku akan coba bercerita secara urutan waktu.Tempat kos awal yang aku tempati ada di daerah Tambak Wedi, Surabaya. Tempat kosku ini ada di lantai dua. Lantai dua ini hanya sepertiga luasnya dari luas keseluruhan bangunan di lantai satu. Satu ruangan yang disekat menjadi empat bilik dan satu tempat terbuka di tengah tempat aku dan teman-teman yang berkunjung ke tempat kosku itu ngobrol, nonton tv, atau berselancar ria di komputer. Tempat kosku ini punya satu jendela yang menhadap ke arah timur dan satu lagi yang lebih besar menghadap kearah selatan. Dari jendela yang menghadap ke timur itulah aku bisa melihat jalan Kedung Cowek yang berhubungan langsung dengan jembatan Suramadu. Kalau malam, deretan lampu kuning yang memanjang sejauh lebih dari 3km dengan latar belakang langit malam yang hitam bertabur bintang dan deretan rumah serta pohon menyajikan pemandangan yang tak biasa. Perpaduan pemandangan kota besar dan daerah pinggiran yang masih belum tersentuh pembangunan. Kalian bisa bayangkan indahnya?

Kalau dari arah jendela selatan, pemandangan lebih indah lagi. Dari sana, aku seolah sedang duduk di atas genteng rumah kosku. Ada pohon keres di ujung genteng, dan setelah itu, hamparan sawah dan kolam pemancingan yang cukup luas. Air mengalir, padi bergoyang mengikuti irama angin, ditambah lagi degan latar belakang jalan kedung cowek yang serupa jalan tol. Buatku, suasana itu sangat menginspiirasi untuk terus menulis, apa lagi saat hujan turun. Suasana bertambah eksotis di sana. Apa lagi yang diharapkan seorang blogger selain tempat yang ‘sempurna’ untuk menulis?

Pepatah bilang, ada pertemuan, ada juga perpisahan. Perpisahan itu datang lebih cepat dari apa yang aku bayangkan, walkers. Masalah kecil yang semula terlihat sepele kemudian menjadi masalah besar yang mengancam jiwa dan keselamatan. Di sana aku menyaksikan bagaimana brutalnya bangsa ini. Kalau dulu aku ragu, bahkan sangsi kalau bangsa ini masih menyimpan sifat barbarnya yang kejam, hari itu aku tak ragu lagi untuk bilang kalau semua itu nyata. Manusia bisa berubah dengan cepat. Mereka bisa berubah mudah membalikkan telapak tangan. Mereka yang kemarin tertawa dan tersenyum pada kita, hari ini atau besok bisa saja menjadi orang yang paling kita cari untuk ditonjok wajahnya.

Alasan perpindahan kosku yang pertama ini ceritanya panjang, walkers. Berlangsung sekitar hampir satu tahun lamanya sebelum meledak dan membuatku menjadi orang yang terusir. Insyallah, aku akan membuat posting khusus untuk ini.

Waktunya siap-siap untuk jumatan rupanya, walkers. Aku sambung lagi nanti ya, untuk lanjutan kisah ini. Salam hangat buat kaian semua.



READ MORE - Pindah... Pindah... Pindah Koooosss....

Senin, 15 April 2013

Setelah Sekian Bulan Lamanya



Wew….
Kembali lagi setelah libur yang panjang, walkers. Apa kabar kalan semua? Semoga semua baik baik saja. Lama tak pernah ada posting dari blog ini. La-RanTa mati suri selama beberapa bulan. Apakah kalian merindukan satu posting baru dari blog ini? J

Walkers,begitu banyak yang terjadi selama blog ini mati suri. Banyak yang ingin aku ceritakan pada kalian. Ya…. Begitu banyak. Aku tak tahu bagian mana yang menurut kalian bisa menarik dan berharap untuk di dengar kisahnya. Atau justru semua itu tak lebih dari kisah yang seharusnya dilupakan saja?

Walkers. Sekarang aku ada di tempat baru yang insyallah lebih kondusif untuk meluangkan waktu untuk bercerita lagi seperti dulu. Satu yang pasti, aku rindu kebersamaan kita. Saat kita saling berkunjung untuk sekedar membaca posting terbaru dan menunda untuk komentar sampai kita bisa untuk itu. Saling komentar di status facebook masing masing. Aku masih ingat itu, aku rindu, dan insyalallah semua akan kembali seperti semua.

Salam hangat untuk kalian semua….


READ MORE - Setelah Sekian Bulan Lamanya