Jumat, 12 Oktober 2012

Teman Pedas


Pernahkah walkers menjadi teman yang pedas? Atau punya teman yang pedas? Atau ada yang tahu gak lirik lagu Friend or Foe-nya Tatu? Lagu yang sangat terkenal karena penyanyinya yang fenomenal, iramanya yang enak di dengar dan juga isi liriknya yang ‘kita banget’ itu?

Di dalam lagu ini dipertanyakan tentang kedudukan seseorang bagi teman dekatnya. Apakah dia benar-benar teman atau malah dia seorang musuh? Are you friend or foe? Dalam satu liriknya dituliskan, We used to love one another, Give to each other, Lie under covers so, are you friend or foe, Love one another, Live for each other, So, are you friend or foe, Cause I used to know.

Ok walkers, itu tadi sekilas masalah Tatu dan temannya yang gak jelas. Sekarang kita kembali kepada judul tulisan ini, teman pedas. Apa maksudku menggangkat judul ini? Sebenarnya juga masih gak jauh-jauh amat sama lagunya Tatu itu. Tapi bedanya, yang aku maksud di sini adalah teman yang bagaimana sebenarnya yang bisa kita sebut teman?

Banyak definisi mungkin buat walkers di sini apa itu sebenarnya teman sejati, sahabat jiwa. Banyak pula pepatah dan ungkapan yang berusaha menggambarkan definisi teman sejati ini. Misal sebut saja, “ketika kamu berhasil, temanmu akan tahu siapa dirimu, tapi ketika kamu gagal, kamu akan tahu siapa temanmu.” Atau ungkapan lain yang selama ini sangat aku gemari, “kebahagiaan mendatangkan teman, tapi kesedihan akan menunjukkan siapa teman kita sebenarnya.”

Masih ada sisi lain sebenarnya menurutku siapa teman sejati itu sebenarnya. Salah satunya adalah bukan orang yang “yes-man”. Seorang teman yang yes-man menurutku sebenarnya bukan orang yang patut kita jadikan teman dekat. Dia akan selalu berkata “ya” untuk setiap keputusan dan tindakan yang kita ambil. Tidak pernah perduli apakah keputusan yang kita ambil itu benar atau salah, dia akan selalu mendukung kita asalkan kita senang.

Kalau dipikir secara sekilas, sepertinya teman seperti ini adalah teman yang asik, yang ada selalu untuk mendukung kita. Tapi coba kita telaah lebih jauh tentang teman macam ini. Karena sifatnya yang selalu ingin membiarkan kita bahagia, teman macam ini justru patut dicurigai. Apa motifasi dia berteman dengan kita? Apakah sebuah ketulusan? Atau hanya ada maksud tertentu di balik itu? Bisa jadi kita adalah orang yang lebih dari beberapa teman kita. Kelebihan yang kita miliki itu, misal dalam hal kepandaian, harta, atau semacamnya bisa menjadi daya tarik kita untuk punya banyak teman. Ingat, kebahagiaan (dalam hal ini juga kelebihan pribadi) membuat banyak teman, bukan?

Dari maksud tersembunyi itu bisa menjadi motifasi buat dia untuk berteman dengan kita dan mendukung semua tindakan kita. Dia mungkin saja akan mendukung kita walaupun yang kita lalukan itu salah. Misalnya, saat kita frustasi dan memutuskan untuk mencoba narkoba, dia justru mendukung. Atau saat kita sedang membutuhkan sesuatu dan kita nekad mencuri untuk mendapatkan barang yang kita butuhkan itu, dia juga mendukung. Atau juga hal kecil yang jarang kita sadari. Contohnya, saat kita membenci sesuatu atau seseorang tanpa alasan yang jelas, dia juga mendukung. Lalu apa jadinya kita? Kita akan semakin membenci lebih dalam pada hal yang kita benci itu. Padahal, bisa jadi kebencian kita itu tidak beralasan sama sekali. Contoh yang lain adalah, karena kita tidak bisa mengendalikan hawa nafsu kita, kita jatuh pada liang perzinaan, naudzubillah. Teman dengan tipe ‘yes-man’ ini akan tetap memandang apa yang kita lakukan itu sebagai tindakan yang benar. Yah…, asal kita senang saja. Apakah itu teman yang layak buat kita?

Menurutku, walkers, bukan teman yang seperti itu yang kita butuhkan. Sekali lagi bukan. Orang semacam itu hanya untuk kita kenal saja, bukan untuk kita jadikan teman apalagi seorang sahabat. Jauh –jauh deh rasanya.

Teman yang kita butuhkan, sahabat yang kita perlukan sebenarnya adalah sahabat yang pedas. Dia yang mampu berkata ‘tidak’ untuk setiap hal buruk yang kita lakukan. Dia yang mampu memberi kita masukan untuk setiap tindakan yang kita ambil. Seorang sahabat yang baik adalah sahabat yang mampu mengkritik kita dan mampu menyadarkan kita dari jalan ‘nikmat tapi sesat’ yang kita pilih. Dia seorang teman yang pedas mungkin bagi kita. Tapi ingatlah, dibalik rasa pedasnya, justru dia bisa mampu mendukung langkah kita untuk menjadi lebih baik. Kalau ada yang suka film Harry Poter, pasti tahu kalau di salah satu film Dombledore pernah memberikan skor tambahan untuk asrama Harry karena tindakan teman semacam ini. Ucapannya yang sampai sekarang kadang masih terngiang adalah “butuh banyak keberanian untuk menghadapai musuh, tapi butuh lebih banyak lagi keberanian untuk menghadapi teman yang akan berbuat salah”

Nah, walkers, jadi sekarang silahkan renungkan, apakah seorang ‘yes-man’ atau teman yang pedas yang kita butuhkan untuk menjadi seorang sahabat? Putuskan juga, kepada siapa kita akan menjadi teman yang pedas dan menjadi sahabatnya selamanya. Pikirkan juga, apakah kita akan menjadi seorang ‘yes-man’ dan siap untuk mendapat julukan ‘si penjilat’ untuk teman teman kita. Keputusan ada di tangan kita, walkers.

Yap, walaupun nantinya kita memutuskan untuk berteman dengan teman yang pedas ini, atau kita sendiri yang berusaha menjadi teman yang pedas itu, jangan lupa satu hal : persahabatan itu abadi bila masih ada ruang pribadi antara keduanya. Kapan-kapan kita bahas tentang ini juga, Ok?


“ Jadilah seorang ‘yes-man’ dan jangan pernah sebut aku sahabatmu. “




sumber gambar dari sini
READ MORE - Teman Pedas

Selasa, 10 Juli 2012

RJK 2012 07 10, Selasa : Dari Kecelakaan Itulah Kisah Ini Berawal

Tafakur


 Handphone Saprud yang duduk di sebelahku berdering. Sejenak kemudian, dia tampak berbicara dengan orang di seberang sana. Entah siapa. Yang bisa aku lihat hanya perubahan ekspresi wajah Saprud. Perlahan-lahan, ekpresi wajahnya yang tadi ceria sekarang berubah menjadi lesu.

“Siapa?” Tanyaku penasaran.

“Pak Yus.”

“Ada apa?”

“Sebentar lagi Pak Yus telepon bapak.”

Selang beberapa detik kemudian, handphone kerjaku berdering. Yus ht memanggil.

“Halo …. “

“Halo … halo …” suara pak Yus di seberang sana tampak gelisah sekali. Membuat aku bertanya-tanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Pak Yus adalah tipe orang yang periang. Jarang sekali dia terlihat murung dan gelisah kalau tidak ada masalah besar yang sedang dihadapinya.

“Ada apa pak Yus?”

“Saya kecelakaan, pak.”

***

Aku bekerja di perusahaan towing sudah empat bulan terakhir ini. Towing adalah mobil pengangkut mobil untuk berbagai keperluan. Misalnya untuk memindahkan mobil dari satu bengkel ke bengkel yang lain, dari satu kota ke kota yang lain bahkan sampai mobil yang sedang mogok dimanapun. Towing ini adalah sistem pemindahan mobil baru yang akan menggantikan fungsi dari mobil penderek mobil.

Selama empat bulan aku bekerja di perusahaan ini, semua aktifitas berjalan lancar. Pengiriman mobil dalam dan luar kota berjalan lancar. Sampai akhirnya, di hari Senin, tanggal 2 Juli 2012 kemarin, sebuah kabar mengejutkan menyentak zona nyamanku itu. Satu unit towing kami yang sedang membawa muatan Nissan Fair Lady dari arah Malang menuju Jakarta mengalami kecelakaan. Ini adalah kecelakaan pertama dalam tujuh tahun beroprasinya perusahaan kami yang menimbulkan kerusakan material ‘cukup’ parah.

Aku sempat panik mendengar kabar ini. Sebagai operator towing daerah Surabaya dan sekitarnya, aku tahu ini kemudian akan menjadi tanggungjawabku untuk menyelesaikannya sampai tuntas. Apa lagi, kecelakaan itu terjadi masih di wilayah Jawa Timur. Aku tidak tahu bagaimana tepatnya kronologi kecelakaan itu terjadi. Yang jelas, mobil towing kamilah yang menabrak mobil di depannya. Sebuah keadaan yang tidak menguntungkan pihak kami.

Aku melupakan makan malamku hanya untuk secepatnya tiba di tempat kejadian. Tapi kemacetan panjang yang terjadi di jalan Dupak dan pintu keluar tol Kebomas di Gresik, membuat perjalanan kami ke tempat kejadian mejadi begitu lama. Ditambah lagi kami tersesat saat akan menuju ke polsek tempat mobil towing kami ditahan. Maka jadilah, perjalanan yang harusnya kami tempuh setidaknya dalam waktu dua jam, menjadi lebih dari empat jam lamanya. Pukul 10 malam lebih beberapa menit akhirnya untuk pertama kalinya aku bisa melihat keadaan mobil yang kecelakaan itu.

Nissan Fair Lady
Fair Lady yang kami angkut dalam keadaan baik baik saja. Ini poin pertama yang membuat aku setidaknya bisa bernafas lega. Bisa di bayangkan kalau sesuatu terjadi pada mobil rekanan kami itu. Nissan Fair Lady berharga sampai diatas 1 milyar rupiah. Siapa yang hendak bertanggungjawab apa bila satu goresan saja melintang di badan mobil ini? Apa lagi ini adalah mobil modifikasi milik salah satu perusahaan rokok yang akan ikut kontes mobil di Jakarta pada tanggal enam Juli.

Poin kedua yang sedikit melegakanku adalah mobil towing kami yang tidak mengalami kerusakan yang berarti. Mobil towing kami hanya mengalami pesok di bagian depan. Itupun tidak parah, hanya terlihat sedikit bergelombang saja. Aku pikir, tidak akan membutuhkan waktu lama untuk memperbaiki kerusakannya.

Hal ketiga yang masih membuatku sedikit senang adalah tidak ada korban jiwa dari pihak manapun. Bahkan patah tulang dan luka gores yang kecilpun tidak ada. Semua awak kedua mobil dalam keadaan sehat.

Kehadiran si masalah besar aku sadari saat aku melihat mobil yang ditabrak oleh towing kami. Honda CRV merah marun itu pesok cukup parah pintu belakannya. Kap mesin dan beberapa bagian mesin depan serta kaca rusak serius. Bererapa kaca juga pecah. Dalam pikiranku saat itu, ada satu pertanya besar : kapan ini akan selesai? Sepertinya tidak akan mudah jalan yang harus di tempuh untuk mencari titik temu antara dua pihak.

***

Saat itu malam sudah sangat  larut, sebentar lagi sudah akan berganti hari. Aku duduk tepekur di warung tak jauh dari polsek tempat mobil-mobil bermasalah itu di tahan. Di depanku, nasi goreng yang aku pesan tadi serasa hambar di lidahku. Malam ini, aku gagal menemui pemilik CRV yang mobilnya ditabrak kru kami. Entah di mana dia, padahal aku dan kru yang ada sebagai ‘tersangka’ sudah berusaha mencarinya kerumahnya dengan diantar seorang yang tahu duduk masalah ini. Tapi nihil. Dia tak di sana.

“Jadi bagaimana selanjutnya?” tanyaku. Tapi tak ada jawaban selain dari kata menunggu. Menunggu pemilik CRV itu datang dan membicarakan ini secara kekeluargaan. Aku hanya berharap kalau besok pagi pagi sekali dia akan datang dan masalah akan cepat selesai.

Sebenarnya keadaan ini cukup aneh bagi siapa saja yang mendengarnya. Dalam banyak kasus, bahkan hampir keseluruhan kasus yang ada, yang ada adalah istilah tabrak lari. Dimana yang menjadi ‘tersangka’ yang kabur meninggalkan lokasi kejadian. Tapi ini malah sebaliknya. ‘Korban’lah yang ‘melarikan diri’ dan ‘tersangka’ yang mencari ‘korban’ untuk menyelesaikan masalah ini. Entah apa yang ada dalam pikiran pemilik CRV itu.

Berbagai dugaan kemudian muncul. Salah satu yang paling kuat adalah mungkin mobil yang dikendarai korban adalah mobil curian yang tidak ada surat surat resminya. Sehingga dia takut untuk berurusan dengan kepolisian. Cukup masuk akal kalau di pikir-pikir. Tapi apa benar begitu? Karena kalau melihat rumah tempat tinggalnya yang kami datangi tadi, rumahnya termasuk dalam golongan rumah mewah walau berada di daerah yang jauh dari kota. Dugaan dugaan lain yang mencuat adalah dugaan yang berbau tahayul. Tidak masuk akal aku kira, tapi orang orang yang berhasil kami jumpai di kampungnya sepertinya begitu percaya hal tahayul itu. Entalah, yang pasti malam itu aku pusing sekali. Pusing menerka nerka apa yang akan terjadi besok. Satu yang pasti, besok akan menjadi hari yang melelahkan.

Hari sudah berganti menjadi selasa dengan cepatnya. Kami melangkah gontai kembali kearah polsek. Malam itu kami memutuskan untuk menumpang tidur di musolah polsek sambil menjaga Fair Lady yang anggun dan angkuh itu. Dalam hati kami masing masing, berbagai harapan dan doa mencuat. Berharap semoga ketika matahari terbit, sinar harapan juga akan terbit dan Tuhan berada di pihak kami.

***

Matahari bersinar dengan sangar di hari selasa tangal 3 Juli. Dari pagi, aku dan kru yang ada sudah menunggu kedatangan dari pihak korban. Harap harap cemas. Walau sebenarnya aku tidak tahu apa yang pertama kali harus aku katakan padanya, tapi keinginan untuk bertemu dengan dia begitu besar di dadaku ini. Aku hanya ingin masalah ini cepat selesai. Itu saja.

Dari pihak perusahaanku, menejer utama sudah berkali kali telepon kami. Beliau memberikan arahan-arahan akan tindakan-tindakan dan arah pembicaraan yang seharusnya kami ambil sebagai wakil perusahaan di lapangan. Cukup melegakan buatku yang awam sekali dalam urusan yang seperti ini. Karena sebagai warga negara yang baik, ini kali pertama aku barurusan dengan pihak kepolisian seperti ini.

Jam terus berdetak, menggantikan detik dengan detik berikutnya, menjadikannya menit, kemudian genap menjadi hitungan jam. Matahari bertambah tinggi, tapi yang kami tunggu tunggu belum juga datang. Aku harus bagaimana? Kemana harus aku cari dia? Aku ingin sekali lagi berkunjung kerumahnya. Tapi dengan apa? Disini aku tidak tahu arah. Tidak ada kendaraan pribadi yang bisa aku bawa kesana. Kalau harus naik angkot atau angkutan umum lainnya, aku juga tidak yakin akan sampai ke tempat tujuan dengan benar. Aku tidak tahu apa nama desa pemilik CRV itu tinggal, tapi aku tahu arah dan jalan menuju kesana.

Aku mendesah, berjalan bingung kesana kemari. Dalam hati aku berdoa, menanti sebuah keajaiban. Aku berdoa kepada Tuhan untuk segera mengirimkan si korban ke sini atau memperjalankan aku kesana. Entah bagaimana caranya. Yang aku tahu, Tuhan pasti tahu segala hal. Termasuk dalam urusan ini.

Tak perlu lama bagi Tuhan untuk menunjukkan kekuasaanNYA. Belum juga selesai hati ini berdoa padaNYA, jawaban atas doaku tiba tiba melintas begitu saja di depanku. Jawaban itu bernama Hanafi.

Mas Hanafi adalah teman akrabku di Surabaya. Dia adalah penjual bakwan yang setiap hari melintas di depan tempatku bekerja. Keakraban kami terjalin seiring dengan seringnya aku membeli bakwan dagangannya. Mulai dari hal kecil itu sampai hang out bersama di waktu waktu senggang kami. Pertemanan kami berubah menjadi persahabatan yang kental. Saling curhat dan saling memberi semangat satu sama lainnya layaknya sahabat yang sudah kenal bertahun tahun lamanya.

Hari ini, melalui dia pulalah Tuhan menjawab doaku. Secara ‘kebetulan’ dia lewat di depan polsek tempat aku menunggu si korban datang. Kami sempat sama sama terkejut ketika menyadari kami bertemu tidak pada tempat yang ‘seharusnya’. Ada apa dan mengapa?

“Aku asli daerah sini mas, tapi dari desa sebelah. Masih jauh dari sini sebenarnya,” jawabnya padaku waktu itu. “dan sekarang anakku sedang di rawat di rumah sakit.” Mendengarnya membuat hatiku terenyuh rasanya. Rumah sakit yang dia maksud hanya berjarak sekitar lima puluh meter dari polsek yang mengurusi masalahku ini. Betapa kuasanya Tuhan. Betapa Maha Pengaturnya Dia. Sewaktu aku balik menceritakan apa yang terjadi padaku dan apa yang aku butuhkan, mas Hanafi langsung menawarkan jasanya untuk mengantarkanku ke rumah si korban. Dengan berbekal ingatanku yang remang remang semalam, akhirnya aku meluncur juga ke rumah si korban.

Lihatlah walkers, betapa sebenarnya Tuhan itu ada tidak jauh dari kita. Tuhan itu ada dan selalu mendengarkan apa yang kita ungkapkan. Bagaimanapun caranya kita mengungkapkan itu. Dengan berteriak ataupun berbisik, bahkan ketika kita menggungkapkannya hanya dalam hati saja. Tuhan selalu hadir dan selalu akan menjawab apa yang kita butuhkan dengan caraNYA sendiri. Dengan keajaiban keajaiban kecil yang dipersiapkannnya untuk kita.

Masihkah kita akan mengingkarinya?


















READ MORE - RJK 2012 07 10, Selasa : Dari Kecelakaan Itulah Kisah Ini Berawal

Minggu, 01 Juli 2012

RJK 2012 07 01, Minggu : Sohibul Menara, Gie dan Segumpal Komitmen


Salmon




Hari ini aku baru saja selesai membaca novel Negeri 5 Menara karya A. Fuadi. Tapi buku Soe hok Gie : Catatan Seorang Demonstran yang lebih dulu mulai aku baca belum juga kelar. Ada satu daya hipnotis yang kuat yang bisa membuatku betah untuk menyelesaikan novel Negeri 5 Menara ini. Entahlah. Yang sudah pernah membacanya pasti tahu bagaimana rasanya terhipnotis oleh buku ini. Bahasanya yang mengalir, diksinya yang tepat, penjabarannya yang indah dan aliran semangatnya yang luar biasa itu, seolah mampu untuk membuatku menatapnya sampai di titik paling akhir.


Banyak buku dan karya yang ditulis dengan kalimat-kalimat yang luar biasa. Kalimat-kalimat yang kadang untuk memahaminya, kita harus membacanya berlulang kali. Menelaah lagi dan lagi. Kadang, bahkan kita harus membuka kamus yang tebal atau datang kepada om Google untuk mencari referensinya. Menurutku itu baik. Membuat kita jadi mau belajar dan mau berfikir lebih dalam. Tapi sejak aku membaca novel Negeri 5 Menara ini, aku malah semakin yakin akan pilihanku untuk menulis segala sesuatu dengan bahasa yang lebih ‘mudah’. Bahasa yang terlihat santai, mudah di cerna dan dengan kalimat kalimat yang sederhana. 

Menurutku bahasa bahasa seperti ini justru lebih bisa dinikmati oleh siapa saja. Mampu memberikan pengertian yang lebih mendalam kepada siapa saja. Seperti Negeri 5 Menara, atau novel novel karya Andrea Hirata, tak bisa dipungkiri kalau peminat dan pembacanya datang dari semua golongan. Dari mereka yang masih belia sekali, sampai ibu rumah tangga yang sibuk dengan urusan keluarganya seharian penuh. Aku kira tulisan jenis ini juga aku kira cocok buat mereka yang lelah seharian bekerja di kantor dan butuh sesuatu yang bisa menyegarkan pikiran mereka sembari pulang kantor dan menghadapi kemacetan di jalan. Aku ingin membacanya sekali lagi. Tapi Ranah 3 Warna, buku kedua dari trilogi menara sudah di tanganku dan sudah mengetuk ngetuk dinding nafsu membacaku untuk segera membuka halaman demi halamannya.

Lalu kapan giliran Gie untuk kusimak bagian akhirnya? Sekali lagi, entahlah. Mungkin setelah ini, atau mungkin setelah aku puas membaca Ranah 3 Warna sampai tamat. Ada satu perasaan yang janggal saat aku membaca bagian akhir dari catatan Gie. Rasanya aku tak ingin berhenti untuk terus membaca dan mengikuti rekam jejak hidupnya. Rasanya aku tidak pernah akan rela kalau catatan itu sampai pada akhir. Aku ingin catatan kehidupannya itu tidak pernah akan berakhir. Maka itu aku tidak ingin untuk menuntaskannya, karena membaca bagian akhir dan menutup sampul akhirnya, berarti aku sudah sampai pada bagian akhir dari perjalanan hidupnya. Dan setelah itu aku harus tahu kalau dia sudah mati. Sesuatu yang sampai saat ini belum bisa aku terima.

Orang seperti dia itu, adalah orang yang seperti disampaikan oleh khotib solat Jum’at kemarin. “Ada sebagian orang yang tetap hidup, padahal alangkah lebih baiknya kalau mereka mati. Tapi juga ada sebagian dari orang yang sudah mati, padahal seharusnya mereka itu masih ada ditengah tengah kita untuk menebarkan kebaikan”. Seperti cerpen Fase yang kutulis. Orang seperti Gie, walau dia bukan seorang muslim, adalah seekor kupu kupu dalam imajiku. Dia adalah salmon yang berani menentang arus sungai untuk satu tujuan mulia. Itulah sosok Gie di mataku. Besar dan akan tetap saja harum sampai kapanpun. Dia bukan hanya orang yang besar secara pemikiran, tapi juga orang yang besar karena dia berani bertindak.  Memperjuangkan apa yang menjadi keyakinan dalam hidupnya.

Satu pertanyaanku, apakah saat ini ada orang semacam dia yang masih hidup? Aku ingin tahu. Tapi lebih jauh lagi, aku ingin tahu, apa aku bisa menjadi orang yang, minimal, seperti dia. 

Ah, sudahlah. Aku tidak ingin larut dalam pengandaian andaian. Karena berandai andai itu datangnya dari setan yang ingin melenakan dan menjauhkan kita dari tujuan kita semula. Aku ingin mulai saat ini aku bisa berbuat lebih dari yang dilakukan oleh orang lain di sekitarku. Seperti nasihat Said kepada Sohibul Menara. Berbuat sedikit lebih banyak itu sepertinya tidak sulit. Aku hanya butuh untuk lebih disiplin lagi seperti apa yang ibuku ajarkan padaku sejak kecil. Menjadwalkan semuanya dan mematuhi jadwal yang aku buat itu. Tidak perlu jadwal secara tertulis. Hanya sebuah komitmen yang kuat yang aku butuhkan untuk itu.

“Novelmu kapan selesai? Pastikan aku jadi pembeli pertamanya.” Kata kata dari seorang teman itu terus terngiang di telingaku. Aku sudah mulai menuliskannya memang, tapi tanpa komitmen yang kuat dan kedisiplinan yang terus terjaga, kapan pertanyaan itu akan berhenti di pertanyakan kepadaku?

Dari dulu aku sudah yakin memang, kalau kesuksesan itu dapat diraih hanya dengan dua langkah mudah. Memulai dan berkomitmen sampai akhir. Tapi inilah yang sulit aku lakukan. Aku ingin melakukan apa yang dinasihatkan Kyai saat Alif di tahun pertamanya di PM. “Kalau kalian akan menyerah pada bulan pertama, cobalah bertahan sampai bulan kedua. Kalau kalian bosan pada tahun pertama, cobalah bertahan sampai tahun kedua. Kalau kalian ingin pulang di tahun ketiga, cobalah untuk bertahan sampai tahun keempat.” Kurang lebih begitu bunyinya. Sebuah percobaan yang sempurna istilahnya. Sebuah komitmen yang terus harus diperjuangkan. Semoga aku bisa.

Bang A. Fuadi, terimakasih sudah mau berbagi dengan kami tentang semangat Man Jadda Wa Jadda ini. Aku ingin tahu apa yang dia simpan untuk dibagikan di Ranah 3 Warna. Mari mulai membaca.

READ MORE - RJK 2012 07 01, Minggu : Sohibul Menara, Gie dan Segumpal Komitmen

Kamis, 21 Juni 2012

Amanah


Gambar Dari Sini
Amanah. Satu dari empat sifat wajib bagi seorang rasul ini adalah elemen yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah hal kecil dan remeh temeh. Tapi tahukah kita kalau sebenarnya amanah adalah satu hal yang sangat tidak bisa diabaikan?

Kalau kita lihat dilayar kaca, di media cetak, atau bahkan mungkin kita menyaksikan dengan mata kepala kita sendiri tentang demonstrasi yang dilakukan oleh sekelompok orang, kita pasti akan berfikir tentang apa yang sebenarnya terjadi dan diinginkan para demonstran itu. Tidak hanya demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa untuk satu tujuan yang bertingkat nasional, bahkan di desa, di kampung sekalipun, sering kita dengar sedang di gelar demonstrasi. Mereka yang sedang berdemonstrasi itu menyerukan berbagai tuntutan mereka. Mulai dari penurunan harga BBM, misalnya, sampai pada hal-hal lain seperti menuntut keadilan akan suatu peristiwa, bahkan pemaksaan kepada orang-orang yang berkuasa untuk turun. Nah, mengapa begitu? Bukankah para pemimpin itu, semisal presiden atau kepala desa, adalah orang yang dipilih oleh rakyatnya sendiri untuk menduduki jabatan itu? Lalu mengapa mereka harus di minta turun dengan paksa sementara masa jabatannya belum waktunya berakhir? Jawabnnya, ya, karena ‘amanah’ yang mereka ingkari.

Dulu sewaktu masa pemilihan, para calon pemimpin itu beryel-yel dan berseru-seru tentang program-program unggulan mereka. Begitu meyakinkan. Membuat yang mendengarnya begitu terpesona dan percaya penuh akan janji-janji manis mereka. Tapi setelah mereka memangku jabatan itu apa yang mereka lakukan? Mereka seakan lupa akan apa yang mereka janjikan dulu. Bukan lagi rahasia umum kalau sebagaian besar dari mereka berlomba-lomba untuk memperkaya diri sendiri dan melupakan rakyatnya. Mereka melupakan posisi mereka sebagai pemimpin. Mereka melupakan amanah yang sudah disematkan di pundak mereka.

Rakyat yang dipimpin mulai tidak puas. Mereka mulai resah dan menuntut, sampai terjadilah hal itu. Demonstrasi penurunan pemimpin dari tampuk kepemimpinannya. Lalu setelah itu mereka bisa apa? Apa mereka akan bertindak seperti Soeharto yang dengan terpaksa (?) menyerahkan kursi kepridenannya atau akan berbuat seperti Qadafi yang menyatakan itu tindakan makar dan memerangi raknyatnya sendiri? Apapun tindakan yang akan mereka lakukan, toh semua akan kembali lagi pada suatu kesimpulan : mereka bukan orang-orang yang memengang teguh amanah yang seharusnya mereka jaga. Lalu setelah itu apa jadinya mereka? mereka menjadi orang-orang yang dikutuki dan tidak lagi dipercaya oleh banyak orang.

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan:

أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْإِمَامُ الْأَعْظَمُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى أَهْلِ بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْؤُولَةٌ عَنْهُمْ، وَعَبْدُ الرَّجُلِ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْؤُولٌ عَنْهُ، أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia adalah ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Seorang lelaki/suami adalah ra’in bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli bait suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya."

(HR. Al-Bukhari no. 5200, 7138 dan Muslim no. 4701 dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu 'anhuma). Makna ra’in adalah seorang penjaga, yang diberi amanah, yang harus memegangi perkara yang dapat membaikkan amanah yang ada dalam penjagaannya. (sumber : http://www.ikhwanmuslim.or.id/?content=hadits_detail&idb=27)

Kalau merujuk pada hadits di atas, bahkan setiap diri adalah pemimpin bagi dirinya sendiri. Yang berarti setiap kita adalah pemengang amanah untuk diri kita sendiri. Mau di bawa kemana diri kita ini, adalah menjadi tanggungan kita kelak di hadapanNYA. Jangan sampai kita yang diberi kepercayaan oleh yang Maha Agung malah menghianati kepercayaan itu. Kalau sampai itu terjadi, adzab besar akan menanti kita disana kelak. Berat sesungguhnya menjadi seorang pemimpin yang diberi kepercayaan untuk memimpin ini. Kelak mereka akan dimintai pertangungjawabannya akan apa yang mereka pimpin. Apa lagi kalau sampai mereka berkhianat akan apa yang mereka pimpin. Tidak terbayangkan bertapa besarnya pertanggungjawaban yang harus mereka lakukan.

Ibuku sejak kecil sudah mendidikku dengan pendidikan tentang sifat amanah yang ketat. Pernah suatau ketika, seorang tetangga yang baru datang dari  Surabaya datang kerumah tanpa dia masuk dulu kerumahnya. Tujuannya hanya satu, yaitu menyampaikan titipan seorang keluarga jauhku di Surabaya untuk ibuku. Saat itu ibuku berkata, “Contohlah orang itu, begitu seharusnya orang yang memangang amanah dengan kuat.” Jadi jangan coba-coba aku pulang dengan keadaan masih memegang titipan dari orang lain untuk disampaikan kepada seseorang. Pernah juga ibuku menitipkan sepucuk surat untuk disampaikan kepada seseorang, dengan pesan untuk tidak sekali kali melihat apa yang tertulis di sana. Padahal amplop surat yang aku bawa itu sama sekali tidak bersegel. Tidak di lem atau direkatkan dengan cara apapun. Ibu mendidik kami untuk menjaga kepercayaan dari orang lain kepada kami dengan cara beliau sendiri. “Sekali kalian ketahauan tidak bisa dipercaya, maka akan selamanya orang tidak akan lagi percaya pada kalian. Mahal harga kepercayaan itu. Tidak bisa di beli, tidak di perjual belikan, tapi harus dibuktikan.”

Keluargaku memang bukan keluarga yang berkecukupan. Setiap ibu memasak sesuatu, pasti beliau sudah menghitunya dengan cermat. Misalnya saat beliau memasak dadar jagung. Dadar jagung itu pasti sudah di sesuaikan dengan jumlah anggota keluarga  yang ada. Kami, misalnya, hanya boleh mengambil dua dadar jagung untuk makan siang, dan dua lagi untuk makan malam. Maka jangan coba coba untuk berbuat curang. Ibu pasti tahu. Kalaupun ada yang berbuat curang, konsekuensinya adalah makan malam tanpa lauk sama sekali. Terdengar sedikit kejam mungkin untuk anak kecil. Tapi sungguh, ini adalah cara yang sangat efektif. Dari sana kami belajar untuk memengang amanah dari ibu . belajar jujur untuk diri sendiri. Belajar bagaimana untuk bisa menjaga kepercayaan yang disandangkan pada kami dengan baik. Bagiku ibuku adalah segalanya. Wanita terbaik yang pernah aku temui dalam mendidik kami, sebagai titipan Tuhan yang dipercayakan kepadanya. 

“Ujian untuk kejujuran itu seumur hidup, tapi ujian untuk sebuah dusta adalah sekali saja.”

Mari mulai untuk bisa menjadi pemimpin untuk diri sendiri, mari mulai belajar untuk menjadi orang yang bisa di percaya dari lingkungan yang kecil dulu. Mari berbenah mulai dari diri sendiri. Bukankah sesuatu yang besar itu dimuai dari sesuatu yang kecil? Kalau kita sudah berani berdusta pada diri sendiri, berani curang pada diri sendiri, berani tidak jujur pada diri sendiri, bagaimana lalu kita bisa berbuat baik kepada orang lain? Bagaimana lalu kita bisa dipercaya oleh orang lain?

Mari berbenah bersama kawan, mari jadikan diri kita orang yang pantas di percaya. Aku yakin kita bisa!



Artikel  ini untuk menanggapi artikel BlogCamp berjudul Kepercayaan itu Mahal 
tanggal 21 Juni 2012.


READ MORE - Amanah

Minggu, 17 Juni 2012

RJK 2012 06 17, Minggu : Ketika Dolly Menyentuh Hatiku

Gambar dari Sini
Siapa yang tidak kenal kawasan Dolly, Surabaya? Kawasan prostitusi yang konon katanya adalah yang terbesar di Asia Tenggara ini adalah kawasan ‘kelam’ Surabaya. Mungkin sebagian orang beranggapan kalau matahari tidak pernah terbit di kawasan ini. Dolly adalah kawasan ‘malam yang kelam’ bagi sejarah, masa kini dan masa depan Surabaya. Andai suatu saat nanti kawasan ini benar benar ditutup dan dinyatakan ilegal untuk segala kegiatan prostitusi, tapi aku kira nama Dolly sudah begitu melekat sebagai ‘icon’ Surabaya. Tidak terpisahkan.

Aku sebenarnya juga sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini. Entahlah, sudah tidak terhitung dengan jari berapa kali aku menginjakkan kaki ke sana, dan masuk ke salah satu tempat yang terletak berderet rapat dengan akuarium-akuarium kemaksiatan itu. Aku juga persetan dengan apa kata orang tentang keberadaanku di sana. Aku tidak pernah ambil pusing. Toh bagiku, apa yang aku lakukan adalah benar dan tidak dilarang agama. Jadi mengapa juga masih ambil pusing dengan mereka yang mencibir? Bahkan mereka yang menghujat itu, aku rasa mereka tidak lebih baik dengan aku dan teman-temanku yang hampir memiliki jadwal rutin untuk berkunjung ke sana.

Seperti juga hari ini, Minggu, 17 Juni 2012. Hari ini, sejak pukul sepuluh tadi pagi, sampai pukul dua siang tadi aku berada di sana. Berada di salah satu bagungan Dolly dan bercengkrama, berinteraksi serta saling memberi kesenangan dengan penghuninya. Aku datang tidak sendiri, tapi bersama seorang sahabat yang juga seniorku untuk acara kunjungan rutin kesana. Beliau adalah bunda Titie Surya. Datang juga kesana bersama kami beberapa anggota grup penulis, Bonektim.

Begitu aku masuk ke salah satu gang di sana, beberapa anak kecil yang sedang asyik bermain serentak berlarian kearah kami. Mereka meneriakkan nama bunda Titie dengan lantang. Melihat adegan ini, hati kecilku terharu sekali rasanya. Amat terasa kedekatan antara bunda Titie dan anak-anak Dolly ini. Bagi bunda, mereka tak ubahnya seperti anaknya sendiri. Anak-anak yang bunda sayangi dengan penuh hati. Bunda juga tampak sudah tidak asing lagi bagi warga gang itu. Di sepanjang jalan, banyak orang-orang yang bertegur sapa dengan beliau.

“Bunda, kami kemarin juara harapan dua lomba patrol, bund …,” kata mereka bersahut sahutan, riuh rendah.

“Ya bund, bener, juara bund …,” kata yang lain menimpali dengan bangganya.

“Wah…, hebat itu.” Timpal bunda. Mereka semua senang. Anak-anak kecil itu berlariang kian kemari sambil menyalami tangan bunda bergantian. “Tapi ini sudah pada mandi belom?” tanya bunda.

“Sudah bund.”

“Sudah tadi pagi.”

“Wah, bagus. Bener ya sudah pada mandi semua.”

“Sudah bund, sungguh ….”

Tak lama kemudian kami sampai di sebuah bangunan sederhana. Di bagian depan bangunan ini jelas tertulis “Taman Bacaan Masyarakat Kawan Kami”. Kesanalah biasanya aku, bunda Titie dan teman teman dari Bonektim menjadwalkan kunjungan seminggu sekali. Bangunan ini sebenarnya adalah rumah biasa yang disulap mejadi taman bacaan yang bisa dikunjungi oleh siapapun. Di sana ada dua ruangan khusus yang berisi buku-buku layaknya sebuah perpustakaan. Setiap hari minggu, bunda Titie dan teman teman Bonektim secara bergantian mengajar anak-anak disana untuk menulis puisi, membaca puisi dan berbagi hal-hal yang sifatnya mendidik.

Sejak pertama kali berkunjung kesana, hatiku ini rasanya terharu oleh ketulusan teman-teman Bonektim untuk secara sukarela mengajar mereka secara cuma-cuma. Mereka tidak mendapakan bayaran sedikitpun. Lebih-lebih saat aku menyaksikan antusiasme dari anak-anak kecil itu untuk belajar. Mulai dari membersihkan karpet yang digelar disana, mengambil dan menata bangku bangku kecil yang mereka gunakan untuk menulis sampai dengan penuh semangat mulai mencorat-coret kertas kosong dengan puisi yang melintas di kepala mereka. Di dalam ruangan itu, sama sekali aku lupa kalau aku sedang berada di dalam kawasan Dolly. Kawasan hitam Surabaya. Di sana tak ubahnya aku berada di sebuah tempat, dimana hanya ada keluguan anak-anak bersama semangat belajar mereka yang tinggi. Tidak ada kemaksiatan yang diperbuat, tidak ada norma yang dilanggar. Yang ada hanyalah keinginan untuk menjadi lebih baik, rasa kebersamaan dan saling berbagi. Indahnya!

Hal lain yang membuat aku benar-benar terharu adalah saat aku minta izin kepada pak Katono (pengurus TBM Kawan Kami) untuk mendirikan solat Duhur di sana. Tak di sangka, ternyata berbondong-bondong anak-anak  yang sejak tadi berlatih menulis dan baca puisi di ikut solat juga. Riuh rendah suara mereka berebut untuk berwudu, mengambil sarung, mukenah dan sejadah. Melihat mereka yang begitu antusias untuk mendirikan solat berjamaah, rasanya air mata ini tidak akan lagi bisa terbendung untuk menetes. Betapa benar kalau mereka itu adalah mahluk-mahluk Allah yang suci. Yang masih tidak bercampur dengan dosa sama sekali. Apa lagi saat beberapa yang kecil memintaku untuk memasangkan dan merapikan sarung  yang meraka kenakan. Subhanallah, hati ini rasanya berdenyut begitu sahdu. Aku tahu siapa orang tua mereka. Aku tahu dari uang macam apa mereka di besarkan. Aku bahkan mengerti dilingkungan seperti apa mereka di besarkan. Tapi lihatlah, betapa mereka adalah jiwa-jiwa yang bersih. Jiwa-jiwa yang masih seperti gelas yang kosong, yang siap diisi dengan apapun yang akan diisikan.

Bila matahari tak pernah terbit di kawasan Dolly, bila Dolly adalah sisi kelam dari sejarah Surabaya, bila Dolly ibaratkan malam, maka mereka bagiku ibaratkan bintang. Ya, mereka adalah bintang yang menghiasi malam itu. Bukankah malam yang gelap menjadi indah karena bintang-bintang yang bertaburan? Bahkan saat malam tiba, bintang-bintang itulah yang menjadi pemandu kita agar kita tidak pernah tersesat dilautan yang luas.

Sebersit harapan di hatiku, semoga mereka menjadi anak-anak yang terus terjaga hingga masa tua mereka. Semoga mereka tetap menjadi bintang yang indah dan mampu berbagi keindahannya itu. Semoga mereka tidak akan pernah menjadi pewaris dari kelamnya sejarah Surabaya. Aku beraharap suatu saat mereka bisa mejadi matahari yang bersinar terang untuk melenyapkan malam yang selalu menyelimuti Dolly. Hingga suatu saat, matahari benar-benar bisa bersinar dengan terang benderang di langit Dolly dan melenyapkan malam panjang bagi Dolly. Amin.

Sebenarnya masih banyak sisi lain dari kawasan Dolly yang ingin aku bagi dengan kalian semua, walkers. Tapi mungkin suatu saat nanti. Insyallah.

READ MORE - RJK 2012 06 17, Minggu : Ketika Dolly Menyentuh Hatiku