Selasa, 30 April 2013

Satu Detik yang Berharga Jutaan Rupiah


Orang bilang, waktu itu sangat berharga. Ada pepatah barat berkata kalau waktu itu adalah uang. Seperti juga pepatah dari arab yang menggambarkan waktu itu semisal pedang, Yup! Pedang dan uang. Waktu diibaratkan dengan banyak hal. Seperti kita tahu, waktu yang sudah berlalu tak bisa di ulang lagi. Sedetikpun tidak.

Orang arab bilang waktu itu adalah pedang. Artinya, waktu itu tergantung kita mau menggunakannya untuk apa. Begitu kira-kira, walkers. Kalau kita mau dan bisa menggunakan waktu itu untuk hal yang positif, semuanya akan jadi baik. Kalau kita menggunakan waktu itu untuk hal yang negatif, maka tunggu saja sampai kita menerima akibatnya. Seperti pedang. Mau kita buat apa pedang itu. Kalau kita gunakan untuk memotong hewan, memotong bambu, kita bisa mendapatkan manfaat yang besar darinya. Begitupun kalau kita menggunakan pedang itu untuk membunuh tanpa sebab yang diperbolehkan. Maka tunggulah sampai kita mendapatkan keadilan atas apa yang kita lakukan.

Bagi orang barat, waktu itu adalah uang. Mereka menghitung setiap detiknya dengan ukuran uang. Ini dari kaca mata mereka, walkers. Orang-orang barat yang mengukur segala sesuatunya dari berapa banyak materi yang mereka dapatkan. Ada pekerja yang dibayar lebih untuk setiap waktu lembur yang mereka habiskan untuk mengerjakan pekerjaan tambahan. Kalau kita ke warnet misal, maka setiap detik nyata dihitung dengan ukuran berapa banyak uang yang harus kita keluarkan. Seperti juga di taksi atau saat kita menyewa barang yang  dihitung bianyanya berdasarkan baerapa lama waktu yang kita habiskan bersama barang itu. Nyata sekali bukan kalau waktu itu sesuatu yang berharga?

Orang kita bilang, penyesalan tak ada gunanya. Itu artinya, apa yang sudah kita lakukan, dan ternyata itu adalah kesalahan, maka tak ada lagi waktu yang bisa kita putar untuk bisa kembali  kemasa lalu untuk memperbaikinya. Tak juga sedetikpun. Nyata sekali, walkers, kalau waktu itu sesuatu yang sangat berharga. Dimanapun dan kapanpun semua bangsa setuju akan hal itu. Pertanyaannya adalah, seberapa mahal sebenarnya harga waktu itu? Yuk mari kita bahas disini.

Kasus pertama yang bisa kita ambil sebagai telaah untuk bisa tahu seberapa mahal harga waktu itu, aku ceritakan pada kalian tentang pak Pung (bukan nama sebenarnya). Pagi tiu, pak Pung diminta oleh bosnya untuk mengantarkan kunci mobil temannya yang secara kebetulan terbawa ke dalam tas si bos. Teman si bos itu tinggal di Surabaya, sedangkan si bos sendiri tinggal di Jakarta. Sewaktu si bos berkunjung ke Surabaya, secara tak sengaja dia lupa untuk mengembalikan kunci mobil berikut STNK yang si bos pinjam dari temannya. Singkat cerita, berangkatlah pak Pung ke Surabaya dengan mengendarai mobil si bos dari Jakarta. Tak di sangka, di jalan, saaat pak Pung sedang beristirahat di sebuah rumah makan yang lumayan besar, kunci yang harusnya dia antarkan ke Surabaya raib bersama tas tempat di mana kunci itu ditempakan. Malangnya lagi, pak Pung tidak ingat di mana terakhir dia memegang kunci itu. Apa benar kunci dan tasnya itu hilang dirumah makan, atau di toilet sebuah SPBU, atukah di warung pinggir jalan tempat dia membeli rokok? Pak Pung tak ingat sama sekali. Akibat keteledoran ini, pak Pung di jatuhi sangsi oleh si bos untuk mengganti kunci yang hilang itu. Kalian tahu berapa harga kunci yang hilang itu, walkers? Perkunci harganya 6,5jt. Sedangkan kunci yang hilang sebanyak dua buah. Berarti minimal pak Pung harus mengeluarkan uang sebesar 13juta rupiah untuk mengganti kunci yang hilang itu. Kunci mobil apa semahal itu? Kalau walkers mau tahu, itu adalah kunci mobil Mercedes Benz s-class. Pak Pung menyesal. Andai waktu bisa di kembalikan, maka dia tak akan membuat kelalaian itu dan dia tidak akan kehilangan 13 juta rupiah yang harus dia banyar dengan susah payah.

Lain lagi dengan yang dialami pak Yus. Sewaktu dia mengemudikan mobilnya di jalur pantura jawa, dia harus kehilangan uang 40 juta rupiah. Apa yang terjadi? Malam itu pak Yus berencana pulang ke semarang. Tak di sangka, di salah satu ruas jalan pantura mobil yang dia kemudikan menabrak mobil yang tengah akan putar balik di depannya. Menurut pengakuan pak Yus, saat itu dia sedang mengantuk. Andai saja dia punya satu detik saja kesempatan untuk menginjak pedal rem, kecelakaan itu tak akan pernah terjadi. Waktu satu detik di mana pak Yus hilang kesadaran karena mengantuk itu harus dia bayar dengan 40 juta rupiah perbaikan mobil yang dia tabrak. Belum lagi biaya yang harus dia keluarkan untuk memperbaiki mobilnya sendiri.

Terakhir adalah kisah pak Muali. Suatu hari, saat dia akan menjemput istrinya yang sedang berada di rumah mertuanya, tanpa sengaja dia mengalami kecelakaan motor tunggal. Menurut saksi mata yang ada di lokasi, katanya pak Muali berusaha menghindari orang tua yang sedang melintas jalan. Dalam keadaan kurang fit, pak Muali terlambat untuk menghindar. Pilihan yang dia punya dalam detik-detik terakhir itu benar-benar seperti buah simala kama. Menabrak orang di depannya, banting stir atau menarik tuas rem cakram. Semua berakibat fatal. Kalau dia menabrak orang di depannya, kemungkinan untuk jatuh korban makin banyak. Mungkin saja dia tidak mengalami luka yang cukup serius dari pada harus memilih dua pilihan yang lain, tapi urusan akan makin panjang. Pertanggungjawaban semakin berat. Kalau dia memilih banting stir atau menarik tuas rem cakram, kemungkinan menabrak orang di depannya akan kecil, tapi akan berakibat fatal untuk dia. Tak banyak waktu, tak banyak pilihan, pak Muali memilih opsi terakhir. Dia menarik tuas rem cakram kuat-kuat. Detik itu juga pak Muali terpental, membentur aspal dan kehilangan kesadaran untuk selamanya. Dia mengorbankan dirinya sendiri untuk menyelamatkan orang tua yang renta itu.

Tujuh bulan lamanya dia harus dirawat, antara sadar dan koma bergantian dia alami. Puluhan juta uang dihamburkan untuk kesembuhannya. Kabar terakhir, sudah menembus angka ratusan juta yang harus di keluarkan keluarganya untuk biaya pengobatan. Setelah tujuh kali operasi pada tulang tengkoraknya ditambah dua operasi pada bagian perutnya, pak Muali tak tertolong. Satu detik terakhir dia mengambil keputusan berhaga ratusan juga dan nyawanya. Andai saja waktu bisa diulang….

Ya, andai saja waktu bisa diulang, apa yang akan kalian lakukan, walkers? Berapa banyak yang bisa kalian perbaiki? Berapa uang yang bisa kalian hemat? Sayangnya, sedetikpun waktu tak bisa diulang, dan sekarang setelah merenung, mungkin kita menjari tahu, berapa harga satu detik waktu kita yang terbuang itu. Mahal sekali, bukan? Maka itu, mari kita gunakan waktu kita sebaik-baiknya mulai detik ini.


sumber gambar 1
sumber gambar 2

READ MORE - Satu Detik yang Berharga Jutaan Rupiah

Jumat, 19 April 2013

Pindah... Pindah... Pindah Koooosss....



Banyak yang bertanya : kemana saja aku beberapa bulan ini.

Well, walkers, aku gak kemana mana. Masih tetep di sini. Di surabaya, kota perantauanku selama ini. Kalian tahu? Pertanyaan sederhana yang kalian sampaikan padaku itu mungkin terlihat seperle, tapi bagiku pertanyaan itu mengandung makna yang berbeda. Ada perhatian seorang teman di sana. Teman maya yang bingung ketika temannnya itu, yang tak pernah tahu bagaimana wajahnya yang sebenarnya, yang cuma dikenalnya lewat tulisan tulisannya, tak ada kabar dalam waktu yang lama. Ada letupan semangat yang aku rasakan di dada ini saat pesan pesan singkat itu masuk ke nomor pribadiku. Maka itu aku ucapkan terimakasih untuk mereka yang merindukan aku (pede banget yak? Gegegegegegegegege).

Aku gak kemana mana, walkers. Aku hanya pindah kos. Yup. 2x pindah kos. Kenapa? Tentu ada alasannnya. Semua  akan aku bagikan di sini bersama kalian, karena kalian adalah teman teman yang mau mendengarkan (membaca) apa yang ingin aku bagikan dengan orang-orang yang aku kenal.  Perpindahan kos kali ini cukup menyita waktuku. Menyita perhatian yang lumayan besar. Apa pasal? Bukankah hanya masalah pindah kos saja? Yup memang benar. Masalah sepele yang dipicu oleh masalah lain yang cukup serius.

Kalian sudah siap untuk menyimak kisah ini, walkers?

Ok. Aku akan coba bercerita secara urutan waktu.Tempat kos awal yang aku tempati ada di daerah Tambak Wedi, Surabaya. Tempat kosku ini ada di lantai dua. Lantai dua ini hanya sepertiga luasnya dari luas keseluruhan bangunan di lantai satu. Satu ruangan yang disekat menjadi empat bilik dan satu tempat terbuka di tengah tempat aku dan teman-teman yang berkunjung ke tempat kosku itu ngobrol, nonton tv, atau berselancar ria di komputer. Tempat kosku ini punya satu jendela yang menhadap ke arah timur dan satu lagi yang lebih besar menghadap kearah selatan. Dari jendela yang menghadap ke timur itulah aku bisa melihat jalan Kedung Cowek yang berhubungan langsung dengan jembatan Suramadu. Kalau malam, deretan lampu kuning yang memanjang sejauh lebih dari 3km dengan latar belakang langit malam yang hitam bertabur bintang dan deretan rumah serta pohon menyajikan pemandangan yang tak biasa. Perpaduan pemandangan kota besar dan daerah pinggiran yang masih belum tersentuh pembangunan. Kalian bisa bayangkan indahnya?

Kalau dari arah jendela selatan, pemandangan lebih indah lagi. Dari sana, aku seolah sedang duduk di atas genteng rumah kosku. Ada pohon keres di ujung genteng, dan setelah itu, hamparan sawah dan kolam pemancingan yang cukup luas. Air mengalir, padi bergoyang mengikuti irama angin, ditambah lagi degan latar belakang jalan kedung cowek yang serupa jalan tol. Buatku, suasana itu sangat menginspiirasi untuk terus menulis, apa lagi saat hujan turun. Suasana bertambah eksotis di sana. Apa lagi yang diharapkan seorang blogger selain tempat yang ‘sempurna’ untuk menulis?

Pepatah bilang, ada pertemuan, ada juga perpisahan. Perpisahan itu datang lebih cepat dari apa yang aku bayangkan, walkers. Masalah kecil yang semula terlihat sepele kemudian menjadi masalah besar yang mengancam jiwa dan keselamatan. Di sana aku menyaksikan bagaimana brutalnya bangsa ini. Kalau dulu aku ragu, bahkan sangsi kalau bangsa ini masih menyimpan sifat barbarnya yang kejam, hari itu aku tak ragu lagi untuk bilang kalau semua itu nyata. Manusia bisa berubah dengan cepat. Mereka bisa berubah mudah membalikkan telapak tangan. Mereka yang kemarin tertawa dan tersenyum pada kita, hari ini atau besok bisa saja menjadi orang yang paling kita cari untuk ditonjok wajahnya.

Alasan perpindahan kosku yang pertama ini ceritanya panjang, walkers. Berlangsung sekitar hampir satu tahun lamanya sebelum meledak dan membuatku menjadi orang yang terusir. Insyallah, aku akan membuat posting khusus untuk ini.

Waktunya siap-siap untuk jumatan rupanya, walkers. Aku sambung lagi nanti ya, untuk lanjutan kisah ini. Salam hangat buat kaian semua.



READ MORE - Pindah... Pindah... Pindah Koooosss....

Senin, 15 April 2013

Setelah Sekian Bulan Lamanya



Wew….
Kembali lagi setelah libur yang panjang, walkers. Apa kabar kalan semua? Semoga semua baik baik saja. Lama tak pernah ada posting dari blog ini. La-RanTa mati suri selama beberapa bulan. Apakah kalian merindukan satu posting baru dari blog ini? J

Walkers,begitu banyak yang terjadi selama blog ini mati suri. Banyak yang ingin aku ceritakan pada kalian. Ya…. Begitu banyak. Aku tak tahu bagian mana yang menurut kalian bisa menarik dan berharap untuk di dengar kisahnya. Atau justru semua itu tak lebih dari kisah yang seharusnya dilupakan saja?

Walkers. Sekarang aku ada di tempat baru yang insyallah lebih kondusif untuk meluangkan waktu untuk bercerita lagi seperti dulu. Satu yang pasti, aku rindu kebersamaan kita. Saat kita saling berkunjung untuk sekedar membaca posting terbaru dan menunda untuk komentar sampai kita bisa untuk itu. Saling komentar di status facebook masing masing. Aku masih ingat itu, aku rindu, dan insyalallah semua akan kembali seperti semua.

Salam hangat untuk kalian semua….


READ MORE - Setelah Sekian Bulan Lamanya

Kamis, 24 Januari 2013

Hari Ini Aku Bertemu Slank, Ya Rosulullah


Kejadian ini sebenarnya sudah lewat beberapa waktu yang lalau. Tapi hari ini, saat nonton tayangan di salah satu stasiun tv berkaitan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW, kejadian ini seperti terputar ulang diotakku.
Saat itu, suatu sore yang sedikit mendung. Aku bermaksud untuk pulang ke kontrakanku di sekitar daerah jembatan Suramadu. Perjalanan dari arah Dukuh Kupang itu membawaku melewati daerah depan Balai Pemuda. Tidak mengherankan sebenarnya kalau tiba-tiba daerah ini terlihat begitu padat dibanding jalan-jalan yang lain. Di tempat ini ada beberapa tempat keramaian utama di Surabaya.

Seperti juga sore itu, jalan di depan Balai Pemuda terlihat padat merayap. Sirine polisi terdengar meraung-raung di depan sana. Aku jadi penasaran, ada apa sebenarnya?

Perlahan sepeda motor yang aku kendarai sampai pada pusat kerumunan. Tepat pada saat itulah aku baru tahu kalau sedang ada grup band Slank, SID dan beberapa lainnya sedang akan melakukan pawai menuju tempat konser mereka. Aku tidak tahu tepatnya dimana, tapi entah mengapa tiba-tiba hati ini jadi begitu berbunga2.

Mereka yang selama ini cuma bisa aku lihat di layar kaca, sekarang ada di depan mataku. Tak lebih dari lima puluh meter jarak antara aku dengan mereka. Dekat sekali. Hingga wajah- wajah mereka bisa aku lihat dengan jelas. Ada beberapa kali kelebatan rasa yang aneh, rasa bahagia dan bersemangat yang serentak aku rasakan dengan tiba-tiba. Begini rupanya rasanya bertemu dengan seorang yang kita idolakan. Campur aduk!

Semua tak berlangsung lama. Di persimpangan jalan, aku harus mengarah ke arah jalan yang berbeda dengan yang mereka lalui. Aku berbelok ke kanan, sedangkan mereka mengarah lurus melewati persimpangan jalan. Uforia pawai mereka perlahan pergi menjauh dariku. Anehnya, perasaan bahagia dan bersemangat itu masih aku rasakan sampai beberapa kilometer setelahnya.

Baru kali ini aku berada dalam situasi seperti ini. "Bertemu langsung" dengan artis yang diidolakan banyak orang. Bahagia dan bersemangat sekali rasanya. Lalu bagaimana kalau aku bertemu dengan Rasulullah? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul serta merta dalan otakku.

Merasakan sedemikian senang dan bersemangatnya bertemu dengan Slank, idola yang diangkat oleh manusia saja sudah begitu bahagianya. Bagaimana ketika kelak aku bertemu dengan Rasulullah? Manusia yang bahkan di sanjung oleh ALLAH, sang pencipta sendiri? Aku merinding membayangkan bila saat itu benar-benar terjadi.

Diatas sepeda motor yang aku kendarai, secara spontan hadir bayangan bagaimana aku berhadapan langsung dengan Nabi Muhammad SAW, manusia yang namanya tersemat juga untuk nama depanku. Aku bergidik, merinding sejadi jadinya. Aku bertanya, masih sanggupkah aku berdiri dihadapannya? Memandang wajahnya? Mengucap salam padanya? Bahkan untuk menyentuh dan merangkulnya? Dengan tubuh yang penuh noda dosa ini? Padahal dia adalah manusia suci pilihan ALLAH sendiri. Sedang aku? Siapa aku ini? Tak lebih dari hamba yang sering kali membangkang dan berlumuran dosa. Tak pantas rasanya. Bahkan untuk membandingkanpun aku tak berani. Hatiku mencelos, tumpah dalam kubangan perasaan yang tak tergambarkan.

Perlahan ada kerinduan yang aneh menjalari hatiku. Kerinduan yang dalam dan sangat amat dalam nadiku. Kerinduan pada sosok manusia sempurna. Perlahan mataku basah di balik kaca hitam helm yang aku pakai, mengaburkan pandanganku. Sampai-sampai aku memutuskan untuk berhenti sejenak di pinggir jalan, menikmati semua kerinduan yang membuncah ini secara rahasia. Membiarkan debaran-debaran halus rasa yang mengalir seperti udara segar yang melewati lubang sempit yang telah lama tak pernah dilalui udara. Dadaku kembang kempis sendiri, meresapi segalanya. Aku bertasbih, bertahmid dan bertahlil memujiNYA, bersolawat bersalam pada junjunganNYA. Ya Rosul, hari ini kami bertemu dengan Slank, kapan kami bisa memandang wajahmu wahai Kekasih Sang Pencipta? Sapalah kami wahai manusia utama, walau jiwa dan raga kami berlumuran dosa sepekat ini. Ya Rosul, kami rindu padamu. Solawat dan salam selalu untukmu. Sekali lagi ya Rosul, kami rindu, sapalah jiwa yang gersang ini ya Habibi ....

(Tulisan sejenis pernah aku buat di sini kumpulanfiksiku.blogspot.com/2012/02/aku-rindu.html?m=1. Bila suka tulisan ini silahkan bagikan di Fb atau twitter kamu dengan mengklik lambang fb/twitter dibawah ini. Terimakasih sudah berkunjung dan menyimak.)

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone


READ MORE - Hari Ini Aku Bertemu Slank, Ya Rosulullah

Jumat, 28 Desember 2012

Postcard Fiction : Dear Laura

Dear Laura.
Mungkin ini adalah sepucuk surat edisi spesial untuk persahabatan kita. Kamu tahu
mengapa? Karena untuk pertama kalinya aku mengirimi kamu surat dalam bahasa
Indonesia di selembar kartu pos. Laura, aku tahu selama ini kamu sudah begitu giat
belajar bahasa Indonesia agar bahasa Indonesiamu selancar bahasa Inggrisku. Kamu
ingin untuk bisa menawar langsung harga gelang-gelang kayu itu bukan? Aku yakin
kamu bisa saat kamu berkunjung ke sini nanti.

Laura,
Tak banyak yang bisa aku ceritakan di selembar kartu pos. Hanya mungkin, aku sedang
ingin bercerita kepadamu tentang hadiah sederhana yang baru saja aku berikan kepada
adikku. Walau sederhana, tapi aku tahu dia suka sekali menerimanya.

Hadiah dariku itu berupa sebuah handphone SmartFren tipe lama, sebuah handphone online
pertama yang dikeluarkan oleh SmartFren. Memang sebuah handphone lama dengan fitur
yang sederhana juga, Laura. Tapi adikku luar biasa bahagianya. Dia sekarang bisa online
dengan fasilitas handphone lamaku itu. Sangat membantu baginya mencari bahan bahan
pelajaran secara online, Laura. Apalagi sinyal SmartFren mencakup daerah yabg luas.
Dimanapun adikku berada, dia bisa langsung online tanpa hambatan sinyal. Sekarang
kami bisa bertukar foto, sampai chating di Facebook dengan lebih lancar.

Laura,
Aku masih berharap bisa memberinya SmartFren Andromax agar dia bisa lebih terbantu
lagi untuk terus belajar. Itu akan jadi hadiah terindah buat dia, Laura, seindah pertemuan
kita nantinya.

Sampai jumpa di kopdar perdana kita Laura, di puncak Ijen, seperti gambar pada postcard
ini.





sumber gambar  dari sini
READ MORE - Postcard Fiction : Dear Laura

Selasa, 25 Desember 2012

Kalau Aku Memang Ndeso, Masalah Buat Lho?

Perpindahan tempat kerja, berarti juga perubahan banyak hal. Seperti juga perpindahanku dari studio lama di Situbondo ke studio baru di Surabaya. Di tempat lama aku bertugas sebagai operator cetak mesin pencetak foto, merangkap bagian design dan fotografer pengganti. Kadang juga jadi pramuniaga kalau dibutuhkan. Hampir semua pekerjaan sepertinya yang bisa aku kerjakan di sana. Cuma jadi kasir saja mungkin yang tidak pernah aku pelajari.

Pindah ke tempat baru, berarti suasana baru juga. Di tempat yang baru aku bekerja sebagai fotografer. Kadang, aku bertugas untuk meliput acara seminar dan pertemuan-pertemuan lain. Kebanyakan acara yang aku liput itu diselenggarakan di hotel-hotel berbintang. Hotel sekelas Sheraton, Shangri-La, Hyat, sudah biasa aku datangi.

Keren bukan? Seorang udik dari daerah yang jauh dari ibu kota profensi ini bisa keluar masuk hotel berbintang seperti itu. Saat pertama aku dilibatkan untuk job semacam ini, aku begitu bangga. Membayangkan betapa ekslusifnya masuk ke hotel terkenal dan disambut dengan hormat oleh petugas-petugasnya. Apa lagi makanannya. Aku membayangkan hidangan hidangan kelas internasional yang di buat oleh chef handal. Hmmmm, betapa lezat aku bayangkan.

Benar saja. Saat acara cooffe break berlangsung, hidangan kue aneka macam langsung menggoda seleraku untuk mencicipinya. Lezat sekali rasanya. Dipadu dengan kopi kental yang manis, pahit dan gurihnya bercampur sempurna. Terus terang, kali pertama kue-kue cantik itu masuk ke mulutku, rasanya aku ingin menyimpan sebagian untuk aku bawa pulang. Wagagagagagagagag .... Tapi tentu saja aku urungkan. Aku memang orang udik, tapi setidaknya aku tidak ingin mempermalukan diri sendiri.

Suasana berbeda terjadi saat makan siang berlangsung. Sebelum antri untuk mengambil makan siang, aku sempatkan untuk memotret suasana makan siang itu. Aneka masakan yang belum pernah aku lihat tersaji di sana. Mulai dari yang beraneka warna dalam satu wadah sampai yang berwarna gelap kecoklatan. Wew! Aku tak sabar.

Aku ambil bagian dalam antrian. Kutambahkan sedikit sekali nasi dalam piringku yang terlihat begitu besar dari yang biasa aku pakai di rummah. Tujuannya, agar aku bisa meletakkan lebih banyak porsi dari setiap macam lauk yang disediakan oleh panitia. Maka jadilah piring yang aku bawa seperti gundukan lauk dan sayur saja. Dari sayuran beraneka warna sampai bagian besar potongan daging ayam dan sapi. Aku terlihat ndeso? Biarlah, yang penting aku puas .... [Nyengir]

Saat aku mulai menyuapkan beberapa potongan kecil dari aneka hidangan yang ada di piringku, satu kenaehan terjadi. Mulanya aku berfikir pasti ada yang tidak beres dengan lidahku. Masakan-masakan itu tidak seenak yang aku bayangkan. Apakah ini salah lidahku? Karena aku tahu, tidak mungkin chef yang ada di dapur sana sudah salah dalam memasukkan takaran bumbunya. Aku mulai kehilangan selera makan saat makanan di piringku tersisa separuhnya. Makanan itu rasanya benar-benar aneh. Hampir semua jenis yang ada tidak mampu menggugah selera makanku untuk menyantapnya sampai tandas. Apa yang salah?
Kejadian ini berulang lagi saat acara berlangsung di hotel yang lain. Aku kurang bisa merasakan dimana letak kelezatan makanan-makanan yang terhidang itu. Mungkin hanya karena rasa lapar yang benar-benar minta dipuaskanlah yang mendorongku untuk berusaha menikmmati hidangan yang ada. Selebihnya, yang ada hanya rasa hambar dan aneh.

Saat itu yang ada dalam benakku adalah betapa inginnya aku menyantap makanan-makanan yang biasa dihidangkan ibu di rummah. Tiba-tiba ada kerinduan yang mendalam akan campuran rempah sederhana dari bahan-bahan sederhana yang ibu racik. Sambal yang pedas, pepes yang harum asap, oseng kangkung yang segar, sop dengan lembaran daun kol, terong yang dimasak utuh, tiba-tiba mengisi dengan jelas ruang rinduku. Bahkan dengan membayangkan saja, selera makanku terbit.

Semua masalah di hotel itu ternyata bukan tentang kesalahan pada lidahku. Bolehlah makanan yang di sajikan disana sudah berkelas internasional, dibuat dengan chef handal dan harga selangit. Ternyata bukan itu yang aku maui untuk memanjakan lidahku. Aku sudah terbiasa dengan racikan bumbu yang ibuku biasa racik sejak aku kecil. Racikan yang sudah biasa aku kecap dan menjadikan karakter yang lezat di lidahku. Menjadikannya sebuah definisi 'lezat' menurut versiku sendiri.

Aku sekarang memang hidup di Surabaya, salah satu kota terbesar negeri ini. Tapi aku sama sekali tidak pernah merasa bersalah dengan selera makan yang aku punya. Selera makan yang boleh di bilang ndeso. Biarlah. Aku memang begitu. Aku justru bangga menjadi unik dan berbeda. Bukannya aku tidak mau makan makanan mewah itu, tapi makanan yang Indonesia banget itulah yang aku suka. Berpindah tempat hidup bukan berarti kita harus kehilangan jati diri bukan? Begitu juga dengan selera makan. Tidak juga harus berubah, menjadi latah dan ikut-ikutan hanya agar kita dibilang keren dan tidak ketinggalan zaman.


Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone









READ MORE - Kalau Aku Memang Ndeso, Masalah Buat Lho?

Jumat, 21 Desember 2012

Shirat! Novel yang Menggelincirkan Hati

"Aku beristghfar atas apa yang baru saja kudengar. Mereka menyelenggarakan tahlillan untukku. Menyelenggarakan tahlil untuk orang yang masih hidup...."
***
Akhirnya, terkabul juga keinginanku untuk bisa membaca novel yang satu ini. "Shirat! Meniti Titian yang Mudah Menggelincirkan". Dari judulnya saja, mampu untuk menggoda rasa penasaranku untuk menyimak keseluruhan isinya. Aroma relijiusnya terasa sekali hanya dengan melihat judulnya saja, pun kalau di sampul novel itu tidak tertulis kalau ini adalah sebuah novel religi.

Dalam benakku waktu itu, kalau memang benar shirat yang dimaksud oleh sang penulis adalah jembatan Shiratal Mustaqim, betapa beraninya sang penulis menjadikan kata ini sebagai judul novelnya. Bagaimana tidak, setiap umat Islam pastinya tahu apa itu jembatan Shiratal Mustaqim. Jembatan yang hanya ada saat pengadilan maha dahsyat kelak ini, tidak ada seorangpun yang tahu pasti bagaimana bentuknya, keadaanya, sifat- sifatnya, tapi sang penulis begitu berani menggunakan namanya, atau setidaknya kata yang mirip dengan namanya untuk dijadikan judul novelnya. Apa lagi saat melihat desain sampulnya yang menggambarkan seorang lelaki berpakaian biasa yang sedang hendak menyebrang jembatan. Rasa penasaranku makin bertambah. Apa sih yang bisa diceritakan penulisnya dalam novel ini? Toh dia juga manusia biasa bukan? Yang masih hidup dan belum pernah tentunya, melihat jembatan itu?
Novel ini diawali dengan keadaan sulit yang dihadapi oleh tokoh utamanya, seorang pria paruh usia berbadan tambun. Diceritakan dalam novel ini, pria tersebut adalah kader sebuah partai, anggota dewan yang terhormat negeri ini. Tokoh utamanya ini digambarkan sebagaimana kebanyakan penggambaran tokoh seorang anggota partai yang juga anggota dewan di negeri ini. Tak jauh dari agenda rapat, pergi kesana ke sini dan berusaha asyik dengan kehidupannya sendiri. Apa lagi, apapun yang dia mau, Rahmat, asisten pribadinya yang setia, selalu ada untuk melayaninya. Masalah terjadi saat tiba-tiba pesawat terbang yang ditumpangi Muhammad El Faridz, sang anggota dewan itu mengalami kecelakaan hebat. Seluruh penumpang dinyatakan tidak selamat, kecuali satu orang penumpang yang dinyatakan masih hidup.
Dokter memperkirakan kalau jasad gosong yang selamat itu adalah Muhammad El Faridz sendiri. Tapi tidak ada satupun tanda pengenal yang bisa memastikan kalau jasad itu adalah jasad milik sang anggota dewan yang terhormat. Mereka memang masih berspekulasi tetang siapa sebenarnya orang tersebut, tapi pengobatan dan pemulihan terus dilakukan untuk keselamatannya. Dokter-dokter terbaik didatangkan untuk hasil yang terbaik. Di sisi lain, tanpa ada seorangpun yang tahu, perjalanan lain sedang dimulai. Perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad El Faridz sendiri!
Begitu seru mengikuti alur cerita yang disajikan dalam novel ini. Penuh dengan drama, perenungan, cinta, persahabatan, persaudaraan, ketaatan dan kerja keras. Begitu memotifasi kita sebagai pembaca untuk terus berjuang melalui setiap cobaan yang ada dalam hidup ini. Penggambaran yang di sajikan oleh penulisnya tentang jungkir balik kehidupan terasa begitu logis dan nyata. Penulisnya berhasil memberi gambaran cerita dengan alur yang menawan untuk menggambarkan betapa mudahnya kehidupan itu berputar balik seperti berputar baliknya telapak tangan. Sekarang jaya, besok bisa jadi manusia yang dipandang sebelah mata. Kehilangan, sifat tamak, lupa daratan, dan banyak hal lain digambarkan dengan begitu manusiawi dalam novel ini. Yang aku suka juga adalah, sang tokoh utama digambarkan sebagai manusia biasa juga. Yang punya dua sisi : baik dan buruk. Aku suka penggambaran semacam ini. Karena memang, tak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Siapapun dia. Dengan karakter tokoh utama ang seperti itu juga, rasanya novel ini menjadi begitu dekat dengan realita kehidupan, dengan pembacanya sendiri.
Seperti penggambaran sang tokoh utama yang tak sempurna, maka tak lengkap rasanya kalau tidak membahas juga apa yang aku rasa kurang dari novel ini. Tak ada satupun yang sempurna bukan? Salah satunya adalah aku merasa jenuh saat membaca bagian yang menceritakan jalan cinta Faridz dengan wanita-wanita pujaan hatinya. Terlalu bertele-tele menurutku. Terlalu ditonjolkan. Aku kira, kalau bagian ini dipersingkat, dan lebih menonjolkan lagi bagian-bagian yang menggambarkan perjuangan hidupnya, novel ini akan semakin singkron antara judul dan alur ceritanya. Selebihnya, sulit rasanya mencari kelemahan dari novel ini. Rasanya apa yang ingin disampaikan oleh penulisnya bisa di sampaikan sengan baik.
Novel setebal 406 halama ini adalah salah satu novel yang bisa aku rekomendasikan untuk pembaca yang suka fiksi-fiksi islami, juga bagi mereka yang mencari pencari bacaan-bacaan pembangun jiwa. Novel yang cetakan pertamanya dilakukan di bulan Februari 2011 ini harusnya bisa menjadi koleksi pribadi yang membanggakan (sayangnya saya mendapat bukunya dari peminjaman di sebuah TBM, jadi belum bisa mengoleksinya secara pribadi). Jadi penasaran novel seperti apa lagi yang akan di sajikan seorang Riyanto el-Harist berikutnya.

Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone






READ MORE - Shirat! Novel yang Menggelincirkan Hati

Rabu, 28 November 2012

Ketika Doa si Dekil Dikabulkan Tuhan



Artikel sebelumnya bisa di baca disini

Si korban akhirnya bisa kami jumpai dan minta datang ke polsek tempat masalah itu akan di selesaikan. Tapi pembicaraan sepertinya tidak semulus apa  yang ada dalam bayanganku. Benturan-benturan kepentingan bercampur dengan egoisme yang menyengat, membuat semua jalan sepertinya buntu. Hari itu, kami tidak bisa mendapatkan jalan keluar untuk menyelesaikan masalah yang kami hadapi.

Beban dalam pikiranku bertambah. Bukan hanya tentang bagaimana menyelesaikan masalah ini dengan baik, tapi bagaimana caranya kami bisa menepati amanah dari custumer kami untuk mengantarkan Fair Lady tepat waktu. Karena dengan berlarut larutnya masalah ini, berarti semakin lama juga Fair Lady dan unit towing kami tertahan disini. Sementara itu, deadline waktu pengantaran Fair Lady sudah semakin dekat pula. Pameran yang akan melibatkannya, tinggal hitungan jam saja. Aku resah, semua terasa serba mendesak, sedang di sini tidak ada perkembangan yang berarti.

Seandainya Fair Lady tidak bisa kami antarkan tepat waktu, bukan hanya kerugian secara finansial yang akan kami alami, tapi juga nama baik perusahaan yang sudah kami bangun bertahun tahun lamanya akan tercoreng hanya dalam hitungan jam saja. Koordinasi dengan kantor pusat terus aku usahakan. Mencari kemungkinan kemungkinan terbaik yang bisa kami lakukan untuk memperkecil kerugian yang mungkin akan kami alami. Sementara itu, custumer mulai mengendus ada yang tidak beres dengan pengiriman mobilnya. Mereka mulai menelpon kami hampir setiap jam, dan setiap itu pula kami harus berusaha mencari alasan untuk menenangkan mereka. tapi sampai kapan kami bisa bertahan dalam keadaan begini? Rasa frustasi mulai menghinggapi dadaku. Begitu berat.

Dalam bayangan cermin, aku bisa dengan jelas melihat wajahku yang semakin saat semakin layu saja. Aku sadar aku butuh sesuatu untuk menyegarkan pikiranku lagi. Tapi dengan apa? Yang ada adalah keadaan yang semakin menekan saja. Aku tak bisa mandi selama ini, tidak ada air untuk menyegarkan badan, tidak ada satupun yang bisa meringankan pikiranku kecuali aku masih yakin bagaimanapun, seberat apapun, masalah pasti akan berlalu. Kata pepatah, saat satu pintu tertutup, pintu lain akan terbuka. ALLAH berfirman bahwa tidak akan di bebankan sebuah masalah kepada hambanya yang melebihi batas kemampuan hambanya itu.


***


Hari berikutnya satu kabar baik kembali aku terima. Satu unit towing kami yang lain sedang mengarah ke tempat kami dan akan tiba dengan waktu yang secepat cepatnya. Aku bisa bernafas sedikit lega. Setidaknya, akan ada harapan bahwa Fair Lady akan tiba di tempat tujuannya tepat waktu. Sementara itu juga, satu beban lagi untuk menggu Fair Lady 24 jam akan berkurang.

Custumer kami yang sudah tahu keadaan yang sebenarnya, tiba pada dini hari yang masih gelap tepat di hari di mana harusnya towing bantuan datang. Semua seperti sudah diatur dengan rapi oleh yang Maha Pengatur. Aku mendesah bersukur. Satu demi satu akhirnya beban yang ada di pundakku berkurang.

Siang yang terik bantuan itu datang. Fair Lady pindah dari towing lama ke towing bantuan. Dua jam kemudan, Fair Lady berlalu, membawa sebagian penat ini bersamanya.

“Fair Lady sudah di berangkatkan ke Jakarta, bu. Kalau tepat waktu, Fair Lady akan tiba dini hari sebelum pameran di mulai.” Aku laporkan keadaan yang melegakan itu pada manajer utama kami. Kami semua berucap sukur pada semua pertolonganNYA. Aku semakin yakin, bahwa sebenarnya pertolonganNYA itu begitu dekat, kadang tanpa dimintapun pertologan itu akan datang dengan cara yang unik sekalipun. Semua kemudian kembali pada kita, apakah kita akan bersukur atau tidak atas segala kemurahanNYA itu. Sekali lagi, semua kembali pada pribadi kita masing masing.

Lalu, apakah semua masalah berakhir di sini?


***

Fair Lady memang sudah diamankan, tapi bukan berarti masalah sudah sepenuhnya berakhir. Unit towing kami masih ada di sini, masih tertahan sebagai barang bukti di kantor polsek. Beban berat masih menggantung di pundakku ketika sekali lagi pembicaraan kami berakhir di jalan buntu.

Keadaan memang sudah tidak sepenuhnya lagi semencekam kemarin. Aku tidak lagi tinggal di musolah polsek, kami menyewa satu kamar hotel kecil di pinggiran kota untuk sekedar bernaung, berfikir, dan yang lebih penting lagi, kami bisa membersihkan tubuh kami yang sudah beberapa hari ini tidak tersentuh air sedikitpun. Hanya pakaian kami yang sama sekali tidak bisa kami ganti. Satu-satunya baju yang aku bawa adalah baju yang saat itu melekat di tubuhku. Bisa dibayangkan betapa gatal dan lengketnya.

Hari masih terus berlalu, usaha masih terus kami upayakan. Hingga hari itu, di satu Jum’at yang terik, aku melangkahkan kaki ke arah masjid untuk menunaikan kewajibanku sebagai lekaki muslim. Walau belum pernah aku membayangkan sekalipun dalam hidupku, kalau aku akan melangkahkan kakiku sekalipun ke ‘rumahNYA’ dalam keadaan seperti ini. Dekil, jorok, dengan baju yang sudah hampir seminggu tidak ternganti dengan yang lebih bersih. Aku tidak lagi perduli bagaimana tanggapan orang orang di sekelilingku, yang ada dalam pikiranku adalah bahwa aku harus melaksanakan kewajibanku. Itu saja. Tak ada yang lain selain memenuhi panggilanNYA.

Dalam hati ini aku merasa begitu kotor. Bukan hanya kotor oleh semua kotoran yang melekat di pakaian dan badanku, tapi juga kotor rasanya seluruh jiwa ini. Begitu hina rasanya aku saat itu, hingga Tuhanpun menjalankan aku ke ‘rumahNYA’ dalam keadaan sehina ini. Dengan bau yang mengusik orang di sekelilingku, dengan tubuh letih dan kuyu serta beban berat yang terus menggelayut di pundakku, menekan letih jiwa itu terus bertambah. Aku mendesah, aku menghela nafas panjang yang berat mengingat semua yang terjadi. Sempat terlintas dalam pikiranku, apakah ini teguran keras dariNYA atas segela yang aku lakukan selama ini?

Usai solat Jum’at, aku sempatkan sejenak bermunajad kepadaNYA. Meminta maaf atas segala ketololan yang pernah aku lakukan, memohon ampun untuk setiap saat yang aku lalui di lumpur kehinaan. Tak lupa juga aku mohon dengan sangat  kepadaNYA untuk membantu kami menghadapi masa masa sulit ini. Aku berkata kepadaNYA kalau aku ingin pulang, ingin segera membersihkan diri ini, bukan hanya dari kotoran yang melekat di badan, tapi juga dari seluruh lumpur kehinaan yang telah lama berkubang dalam jiwa lusuh ini. Aku memohon kepadaNYA dengan sangat, dengan ketulusan hati yang aku bisa, dengan menghadirkan seluruh pengharapan yang aku mampu, dan aku yakin, ALLAH tidak pernah tidur, ALLAH akan selalu mengabulkan doa hambanya.

قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي. وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي. وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي. يَفْقَهُوا قَوْلِي. 

RABBISYAH LII SHADRII, WAYASSIRLII AMRII, WAHLUL ‘UQDATAN MILLISAANI YAFQAHUU QAULI.

 “Ya Allah ya Tuhanku! Lapangkanlah untukku dadaku dan mudahkanlah untukku urusanku dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mengerti perkataanku”. (Doa Nabi Musa AS dalam QS. Thaha 25-28)





***

Jum’at malam, tiba tiba saja semua pintu yang awalnya tertutup itu seakan membuka dengan mudahnya. Seperti mudahnya daun kering yang gugur oleh angin yang berhembuh perlahan. Tiba-tiba saja negoisasi berjalan seperti kereta di atas rel, seperti air dalam selang. Lancar tanpa hambatan.

Sabtu pagi kami bertemu lagi, membicarakan masalah ini untuk penyelesaiannya. Aku heran ketika semua berjalan begitu lancar. Sampai akhirnya di sabtu siang, nota kesepemahaman penyelesaian masalah itu kami tanda tangani dan kami bisa pulang dengan tenang.

Tubuhku bergidik di sepanjang jalan yang aku lalui dalam perjalanan pulang menuju Surabaya. Pikiranku seakan tidak pernah menjangkau apa yang telah terjadi. Mulanya masalah ini berjalan begitu sulitnya, butuh beberapa hari hingga Jum’at siang tapi semua berjalan seperti tidak akan pernah berakhir. Tapi mengapa di Jum’at malam dan Sabtu siang semua masalah ini berakhir dengan cepat seperti tidak ada apa apa sebelumnya? Apakah ini jawaban atas doa yang aku panjatkan? Doa yang aku panjatkan dalam keadaan yang begitu dekil? Aku begidik, hati ini sahdu bertasbih memujinya, mengucapkan segala terimakasih yang tak terhingga kehadiratNYA atas segala pertolongan yang telah ALLAH berikan.

Bukan diri ini aku merasa begitu bersih setelahnya, tapi merasa semakin kotor mengingat semua yang terjadi. Aku semakin sadar kalau Tuhan itu begitu dekat dengan kita, begitu mengerti kita, selalu memberikan apa yang kita butuhkan. Tapi mengapa setiap saat kita selalu berbuat nista yang tak lain hanya menambahkan kenistaan diri sendiri dan tidak pernah sekalipun akan mengurangi kemulianNYA. Doaku yang aku panjatkan dalam keadaan sedekil itupun dikabulkanNYA, bagaimana lagi kalau aku berdoa dalam keadaan yang di sukai ALLAH?

Aku bergidik saat aku sadar, sampai saat ini aku masih dalam kubangan maksiat. Ya ALLAH, maafkan dosa kami ….


sumber gambar :dari sini
READ MORE - Ketika Doa si Dekil Dikabulkan Tuhan

Minggu, 25 November 2012

My Friend's Hero

Apa yang ada dalam pikiran kita bila kita berbicara tentang sosok seorang pahlawan? Dalam pikiran kita mungkin seorang pahlawan akan dibayangkan dalam bentuk dan sosok yang begitu sempurna. Dia baik hati, suka menolong, selalu ada saat kita butuh. Seorang pahlawan sangat mungkin akan kita gambarkan dalam sosok yang begitu gagah, tampan, atau cantik molek bila dia seorang wanita. Pahlawan punya keberanian yang lebih bila di bandingkan dengan orang orang kebanyakan. Yah, intinya, apapun gambaran kita, pahlawan hampir pasti adalah orang yang sempurna.

Walkers, posting ini memang tentang pahlawan, tapi bukan tentang pahlawan sempurna yang selama ini ada dalam pikiran kita itu. Pahlawan itu, kali ini hadir dalam bentuk yang jauh lebih sederhana dari apa yang ada dalam bayangan kita selama ini. Dia hadir, dari satu golongan yang selama ini mungkin kita pandang sebelah mata, atau bahkan mungkin saat dia menyapa kita di pinggir jalan, kita banyak mengacuhkannya. Alasannya sederhana : kita tidak butuh dia (saat itu).

Pahlawan kita itu hadir pada suatu siang yang terik di Bandara Internasional  Juanda Surabaya untuk menjumpai seorang teman kita yang sedang duduk termenung di emperan masjid bandara. Dengan langkahnya yang pelan tapi mantab, dia datang kearah teman kita awalnya dengan satu misi sama dengan apa yang dia lakukan pada orang orang lain yang dia temui di sana : menawarkan jasanya.

“Mau kemana, Mas?” sapanya pada teman kita.

“Mau ke Rungkut mas,”

Pembicaraan kemudian mengalir antara mereka berdua. Si tukang ojek, pahlawan kita kali ini itu menawarkan jasanya ojeknya kepada teman kita dengan pendekatan yang mantab. Tapi apa daya, teman kita itu baru saja kehilangan seluruh uang yang ada di dalam dompetnya. Dia baru saja kecopetan di bandara. Seluruh uangnya hilang, hanya dompet dan surat surat pentingnya saja yang tertinggal dalam dompetnya yang ada di ruang informasi. Batrai hapenya juga sudah habis tak bersisa. Apa yang bisa di lakukan orang dalam keadaan seperti itu? Tanpa uang, tanpa alat komunikasi sama sekali. Teman kita itu terlihat begitu putus asa.

Pembicaraan antara keduanya kemudian berlanjut. Kali ini bukan lagi tentang tawar menawar berapa harga jasa ojek dari bandara ke Rungkut, tapi tentang tawar menawar untuk jasa ojek gratis. Bukan teman kita itu yang mengiba untuk diantarkan ke Rungkut tanpa membayar, tapi justru tukan ojek yang baik hati itulah yang menawarkan jasanya dengan sangat kepada teman kita itu untuk mengantarkannya ke tempat yang dia mau. Semuanya gratis!

Teman kita itu tidak langsung mengiyakan tawaran menggiurkan yang di sampaikan si tukang ojek itu. Teman kita itu masih curiga, tanpa menuduh, apa motif sebenarnya orang itu menawarkan jasa ojeknya secara gratis. Zaman sekarang, kita dituntut lebih banyak hati hati dalam menerima tawaran dari orang lain, apa lagi orang itu baru saja kita kenal. Tapi setelah pembicaraan berlangsung lebih lama lagi, perlahan teman kita itu mulai yakin dengan tawaran yang di berikan oleh tukang ojek yang budiman itu. Maka, tak lama setelahnya, teman kita yang sedang putus asa itu diantarkan si tukang ojek ke tempat yang dia mau. Plus gratis satu gelas es jus pula!

***



Walkers, kisah nyata ini terlihat begitu sederhana. Tapi di balik kesederhanaannya, ada satu pelajaran berharga yang dapat kita petik. Di zaman sekarang ini, di mana egoisme individu sudah begitu tinggi, ternyata masih ada orang yang dengan begitu suka rela mau menjadi pahlawan bagi orang lain dengan mengorbankan apa yang dia punya. Dalam kisah ini, si tukang ojek yang budiman itu berkorban tenaga, waktu, dan harta (bensin dan sepeda) bahkan untuk orang yang baru saja dia kenal. Mereka itu seperti lilin, rela menerangi sekelilingnya dengan mengorbankan apa yang mereka punya.

Walkers, pertanyaannya bukan kapan kita bisa bertemu dengan orang yang budiman seperti itu, tapi sudahkah kita mampu untuk menjadi orang budiman seperti dia? Yang mampu menolong tanpa mengharapkan apapun selain dari keridoan sang Ilahi? Mari siapkan diri untuk menjadi orang yang tulus itu, walkers, sang pahlawan sejati itu. Kerena Tuhan sudah berjanji, Tuhan tidak akan membiarkan orang yang mau meringankan beban saudaranya hidup dalam gundah gulana.

Walkers, dua hari kemudian, teman kita itu memberi pahlawannya satu bingkisan yang istimewa. Sederhana tapi sangat mengesankan. Kalau kalian mau tahu apa yang dia berikan sebagai ungkapan terima kasihnya yang medalam, coba klik di sini.




gambar dari sini 



.
READ MORE - My Friend's Hero